Pelayanan Profesional.com weblog

 

Selengkapnya mengenai bacaan Leksionari 2012 dapat dibaca pada link dibawah ini. dalam bentuk Pdf.     GBU

Bahan Bacaan Leksionari Lengkap 2012 ( Januari sampai Desember)

Dalam rangka 31th GKJ Bibisluhur Surakarta, Komisi Pemuda-Remaja akan mengadakan Festival Band Rohani Ekspresif yang akan dilaksanakan pada :

1. Audisi tgl 15 September 2012

2. Grand Final tgl 29 september 2012

Lomba terbuka untuk umum (se Eks Karesidenan Surakarta) memperebutkan Total hadiah Rp. 2.450.000 + Piagam + Trophy.

biaya pendaftaran Rp. 50.000

Hubungi : Sunu 085642061214 atau kantor Gereja (0271) 853931

“Worship In Your Arms”

Klik link dibawah ini untuk membaca Khotbah Jangkep Februari 2012.

Klik : Februari 2012

Gusti mberkahi

Khotbah Jangkep Januari 2012

bahan untuk khotbah JANUARI 2012 dapat dibaca dibawah ini.

Minggu tgl 4, 7, 14, 21 dan 28 klik aja dibawah ini

1 kj januari 2012

SELAMAT NATAL 2011 DAN SELAMAT TAHUN BARU 2012

Leksionari

apabila anda membutuhkan bahan bacaan leksionari , dari tahun A, B dan C ( juni 2010 sampai november 2013) dapat dibuka pada :

Klik : LEKSIONARI


Desain awal dekorasi Natal 2011 GKJ Bibisluhur ber-  gaya Romawi pada malam hari, yang menggambarkan kelahiran Yesus pada malam hari.

Tema natal 2011 dari PGI adala : “Bangsa yang Berjalan di dalam Kegelapan telah melihat Terang yang Besar” (yesaya 9 : 1a)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Khotbah Jangkep Oktober 2011

Khotbah Jangkep

BULAN

OKTOBER – 2011

 

 

Daftar isi

Khotbah Jangkep Minggu, 2  Oktober  2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tujuh  HPII/HPKD (Merah)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

MANISKAH BUAHMU? ———————————————- 162

Khotbah Jangkep Basa Jawa

Punapa manis woh gesang kita? ————————– 168

Oleh Pdt. R. Tyas Budi Legowo

Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

IDENTITAS KELUARGA KRISTEN : membutuhkan komunitas 173

Khotbah Jangkep Basa Jawa

titikaning brayat kristen: mbetahaken patunggilan 179

Oleh Pdt. R. Tyas Budi Legowo

Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua puluh Sembilan (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

keluarga kristen berhiaskan kekudusan —————- 184

Khotbah Jangkep Basa Jawa

brayat kristen  kang nengenaken gesang suci —– 190

Oleh Pdt. Kristi

Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober  2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

KELUARGA  YANG CANTIK BATIN DAN CANTIK PERILAKU — 194

Khotbah Jangkep Basa Jawa

BRAYAT ENGKANG MUJUDAKEN KAELOKANING GESANG – 201

Oleh Pdt. Oktavianus Heri Prasetya Nugroho

Khotbah Jangkep Minggu, 30  Oktober  2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh Satu (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Keluarga yang menghadirkan Pemimipin sejati—— 206

Khotbah Jangkep Basa Jawa

brayat ingkang nglairaken pemimpin sejati ———- 212

Oleh Pdt. Johan Kristantoro

Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tujuh (Merah)

HP I I & H P K D

MANISKAH BUAHMU?

Bacaan I: Yesaya 5:1-7, Tanggapan Mazmur 80:7-15

Bacaan II: Filipi 3:4b-14, Bacaan III: Injil Matius 21:33-46

v   Dasar Pemikiran

Kegiataan Pekabaran Injil dan Perjamuan Kudus bahkan perjamuan makan bersama warga gereja dengan tetangga sekitarnya bisa menjadi sebuah kesatuan yang saling terkait. Untuk itu perlu dilandasi kesediaan memilih hidup dalam keadilan dan kebenaran yang berpihak pada pengembangan kehidupan sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah.

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 5:1-7

Dalam Alkitab, Tuhan tidak digambarkan dengan menekankan kesucian, keabsolutan, dan sifat tak terbatas-Nya yang memperlebar jurang antara Tuhan dan manusia. Alkitab menggambarkan Tuhan berinteraksi dengan manusia seperti petani dengan kebun anggurnya. Dengan memilih bangsa Israel bukan berarti Tuhan merendahkan atau meniadakan bangsa-bangsa lain. Israel harus berbuat adil dan benar supaya kehadiran Tuhan nampak dan bisa disaksiakan oleh siapapun.

Mazmur 80:7-15

Tuhan adalah sahabat manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Manusia melibatkan Tuhan sehingga merasa perlu berbicara dengan-Nya. Yang dibicarakan bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan. Umat mengungkapkan uneg-uneg dan respon yang diharapkan dari Tuhan. Kedekatan pemasmur dengan Tuhan tampak melalui ungkapan yang termuat dalam ayat tujuh dan delapan.

 

Filipi 3:4b-14

Paulus berharap kedatangan Tuhan yang ke dua terjadi ketika dia masih hidup. Maka bagi Paulus yang terpenting adalah ”….mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (ayat 10-11). Banyak hal yang oleh Paulus semula dianggap penting menjadi kurang penting dibanding pengenalannya akan Kristus (ay. 4b-8).

Injil Matius 21:33-46

Bangsa Yahudi itu unik. Tuhan telah memilih bangsa Yahudi, bahkan Yesus diutus ke tengah-tengah mereka. Namun mereka menolak bahkan menyalibkan-Nya. Memang ada juga yang percaya dan menjadi cikal bakal gereja mula-mula. Keadaan ini justru menjadi dasar dikabarkannya Injil ke mana-mana. Meski Tuhan memilih bangsa Yahudi, tetapi mereka tetap sederajat dengan bangsa-bangsa lain. Panggilan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah adalah bagi semua bangsa.

Renungan atas Bacaan

“Selamat Ulang Tahun, ya.” Demikian kalimat yang biasa kita dengar atau ucapkan ketika ada seseorang yang berulang tahun. Mengapa kalimat itu diucapkan? Apakah karena prestasi, kehebatan, atau kebaikan orang yang berulang tahun? Tidak. Kita sedang merayakan kehidupan. Kita menerima hidup orang itu maupun hidup kita sendiri. Kita menerima keberadaan orang itu apa adanya. Kita juga ingin keberadaan kita diterima oleh orang itu apa adanya. Hidup itu sendiri merupakan anugerah yang patut dirayakan.

Ucapan selamat ulang tahun tidak terkait dengan prestasi atau kehebatan seseorang. ”Sebelumnya saya tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Sekarang karena bertepatan dengan ulang tahunmu kamu berprestasi dan berbuat baik padaku, maka saya ucapkan selamat ulang tahun, ya.” Sebuah kalimat yang aneh.

Sebaliknya ucapan selamat ulang tahun justru berdaya guna ketika ditujukan kepada orang yang sedang dalam kelemahan, keterbatasan, kekurangan, atau keterpinggiran. Ucapan itu menjadi sarana untuk berpihak kepada mereka yang membutuhkan persahabatan dan keadilan.

Orang yang relasinya sedang terganggu, bermusuhan, saling berolok-olok atau mencederai sulit mengucapkan selamat ulang tahun. Ucapan selamat ulang tahun adalah ungkapan pulihnya hubungan dalam kehidupan. Orang yang sedang bermasalah merindukan pemulihan itu. ”Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Maz. 80:7-8)

Minggu ini kita merayakan ulang tahun Hari Pekabaran Injil Indonesia dan Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Apa maknanya kalau kita merayakannya? Adakah peranan Pekabaran Injil dan Perjamuan Kudus dalam merayakan kehidupan? Atau malah menyebabkan persoalan atau rusaknya hubungan antar orang atau komunitas?

Harmonisasi/Benang Merah Bacaan Leksionari

Tuhan memilih bangsa Israel (Yes 5:7) bukan berarti memandang rendah bangsa lain (Mat 21:43). Bangsa Israel atau umat percaya dipanggil untuk hidup dalam relasi yang benar dengan sesamanya (Mzm 80:7-8), diawali dari kesadaran memilih membela kehidupan yang menampakkan diri dalam kelemahan dan penderitaan (Flp 3:10-11).

Pokok dan Arah pewartaan

Memahami Pekabaran Injil sebagai kesediaan bekerja sama dengan agama/komunitas lain dalam menghadapi problem kehidupan di dunia ini. Kesediaan itu merupakan tanda kehadiran Kerajaan Allah.

v   Khotbah Jangkep

Gereja sebagai komunitas terbuka

Orang Kristen terbiasa merayakan Paskah, Pentakosta, maupun Natal. Gereja-gereja tertentu merayakannya dengan mengundang tetangga yang berbeda agama atau budaya. Namun ada juga gereja yang tidak mengadakannya dengan pertimbangan ada orang berbeda agama yang tidak berkenan hadir. Akhirnya dipilih langkah alternatif, yaitu membagi berkat berupa makanan kepada tetangga.

Ada gereja yang mengundang tetangga makan bersama pada perayaan ulang tahun. Seusai ibadah syukur, dilanjutkan kenduri atau makan bersama di lingkungan gereja (di dalam gedung gereja, teras, atau halaman). Dalam kenduri itu, wakil gereja mengajak warga yang hadir memanjatkan doa untuk pelayanan gereja bersama masyarakat demi kesejahteraan bersama. Doa dilanjutkan makan bersama dan ramah tamah diiringi hiburan. Suasana demikian bisa terwujud jika orang Kristen atau gereja memandang dirinya sederajat dengan yang lain. Gereja menjadi komunitas yang terbuka. Ada perjamuan kudus khusus bagi warga gereja, tetapi juga ada perjamuan bersama tetangga sekitar. Gereja menjadi komunitas yang terbuka, tetapi bagaimana memaknai Pekabaran Injil?

Dalam hidup ini orang tidak bisa lepas dari kegiatan memilih. Ketika seseorang memilih baju biasanya sesuai warna favoritnya. Namun jika seseorang menyukai warna merah-jambu, tidak perlu membenci warna yang lain. Ketika sedang berada di warung makan, seseorang tidak mungkin memesan semua makanan dan minuman untuk dirinya sendiri. Dia akan memilih satu jenis makanan dan minuman, tetapi tidak perlu membuang yang lain. Memilih satu dari sekian banyak alternatif adalah sebuah keniscayaan. Tidak bijaksana mengharuskan seseorang memilih seperti pilihan kita atau meniadakan alternatif yang lain.

Tuhan memilih kebun anggur

Di dunia ini ada banyak bangsa. Mengapa Tuhan memilih Israel sebagai kebun anggur-Nya? Apa kehebatan atau keunggulan bangsa Israel dibanding bangsa lain? Alkitab tidak menjelaskannnya. Apakah dengan memilih Israel berarti Tuhan pilih kasih dan menganggap rendah bangsa lain? Tidak harus dimaknai seperti itu. Kita bisa memahami Tuhan seperti manusia, tidak lepas dari aktivitas memilih. Kita memahami keberadaan Tuhan tidak hanya secara sepihak dari sisi Tuhan yang mahasuci, absolut, dan tak terbatas. Keberadaan Tuhan kita pahami dalam kesediaan-Nya berinteraksi dengan manusia. Tuhan rendah hati, berkenan mengambil posisi sejajar dengan manusia, memilih bangsa Israel sebagai kebun anggur-Nya. Dengan demikian hubungan antara Tuhan dan manusia terjembatani.

Seperti seseorang yang memilih jodoh atau pasangan, bukan berarti orang yang tidak dipilih menjadi jodohnya dianggap lebih rendah. Suatu saat, pasangan itu bisa saja menghadapi berbagai persoalan atau tantangan dan memerlukan inspirasi serta pembelajaran dari orang lain yang tidak dipilih sebagai pasangan. Sebagai orang yang berpasangan tentu memiliki harapan. Tuhan telah menggarap dan merawat Israel tak ubahnya seseorang merawat kebun anggur milik sendiri. Tuhan berharap kebun anggur-Nya berbuah. Sayangnya harapan dan kenyataan berbeda. ”Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanaman-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.” (Yes. 5:7).

 

 

Keadilan dan kebenaran Tuhan

Buah yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya adalah keadilan dan kebenaran. Keduanya tidak bisa dipisahkan, bagaikan dua sisi keping uang logam. Namun keadilan dan kebenaran yang dijalankan manusia sering berpihak kepada yang kuat dan berpengaruh, bersifat prosedural, dan mengesampingkan rasa keadilan itu sendiri. Ada kesan untuk pelanggaran yang dilakukan oleh rakyat kecil dan miskin, hukum bersikap tegas. Sebaliknya untuk pelanggaran yang dilakukan oleh orang kuat dan berpengaruh, terkesan tumpul. Lebih cepat menjatuhkan vonis kepada orang miskin yang mencuri pisang, semangka, kakao, atau buah randu daripada mengadili para koruptor. Alasannya karena mematuhi prosedur. Keadilan dan kebenaran yang tidak berpihak kepada orang lemah hanya akan menghasilkan kelaliman dan keonaran.

Keadilan dan kebenaran Tuhan berpihak kepada yang lemah dan terluka. Tuhan bukan seperti dewi yang ditutup matanya dan menjaga timbangan tetap seimbang. Tuhan seperti dewi yang membawa timbangan dan matanya terbuka sedikit, tertuju kepada seekor burung kecil yang terluka sayapnya hingga tidak bisa terbang dan hinggap pada salah satu sisi timbangan. Tentu saja timbangan itu bergerak ke arah burung kecil yang terluka itu. Itulah gambaran keadilan dan kebenaran Tuhan yang berpihak kepada yang lemah dan terluka.

Lemah dan terluka adalah gambaran kehidupan. Kehidupan itu cenderung rapuh, tak berdaya, perlu dibela. Sedangkan kekuatan kematian tidak usah dibela seakan sudah berkembang dengan sendirinya. Lihatlah kerinduan Rasul Paulus. Dia ingin bersekutu dengan daya kehidupan, bukan daya kematian. Kehidupan sebagaimana dijalani Yesus Kristus adalah kehidupan yang akrab dengan kelemahan dan penderitaan. ”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3:10-11)

 

Pekabaran Injil itu membela siapa?

Memahami Pekabaran Injil juga mengenai pembelaan atau keberpihakan. Pekabaran Injil sering dipahami dimaksudkan menyelamatkan jiwa-jiwa. Agama, keyakinan atau budaya lain dianggap lebih rendah dan menghambat orang masuk surga. Apa yang akan terjadi jika kita mengundang orang lain menghadiri perayaan agama kita, sedangkan kita menganggap mereka lebih rendah dan calon penghuni neraka? Tidak heran mereka menganggap kita orang yang aneh. Mereka curiga kepada kita. Kita juga curiga pada mereka, menganggap mereka secara sistematis mempengaruhi orang Kristen pindah agama. Hidup dalam kecurigaan karena kesombongan yang menganggap yang lain lebih rendah perlu pertobatan. Kita diingatkan seruan pertobatan pemazmur. ”Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Maz. 80:7-8).

Pekabaran Injil perlu dilakukan tanpa meniadakan agama lain. Semua agama menghadapi persoalan ketidakadilan, penderitaan akibat bencana alam atau penyakit berat seperti HIV/AIDS dan ancaman narkoba, kerusakan alam semakin berat, kemiskinan semakin parah. Jika orang Kristen atau gereja tidak memilih untuk terlibat mengatasi masalah-masalah itu, sedangkan agama atau komunitas lain justru lebih peduli, jangan heran kalau ”Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Matius. 21:43)

Kerajaan Allah adalah mengenai membela pengembangan kehidupan saat ini. Kerajaan Allah, yang tadinya dibayangkan jauh di atas sana, telah dihadirkan Yesus di bumi ini. Mengabarkan Injil adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Tanda itu nampak ketika gereja menjadi komunitas yang terbuka. Tidak hanya melayani perjamuan kudus untuk warga gereja, tetapi juga mengadakan perjamuan bersama dengan siapa saja di luar batas tembok gereja. Kehidupan siapa saja dalam keragaman layak untuk dirayakan. Lalu saat gereja kita berulang tahun, tetangga kita dengan nyaring akan berucap, ”Selamat ulang tahun ya.” Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita anugerah          : Filipi 3:10-11

Petunjuk hidup baru    : Mazmur 80:7-8

Nats Persembahan       : Yesaya 5:7

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka  : KJ.   21:1,2

Nyanyian Penyesalan : KJ.   23:1,2,3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ.   39:1,2,3

Nyanyian Persembahan         : KJ. 428: 1-5

Nyanyian Penutup    : KJ. 338: 1-4


Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Pitu Likur (Abang)

Dinten Pakabaran Injil ing Indonesia; Dinten Bujana Suci Sajagad

PUNAPA MANIS WOH GESANG KITA?

 

Waosan I: Yesaya 5:1-7, Tanggapan: Jabur 80:7-15;

Waosan II: Filipi 3:4b-14, Waosan III: Injil Mateus 21:33-46

v   Khotbah Jangkep

 

Greja minangka patunggilan ingkang tinarbuka

S

ampun salimrahipun tiyang Kristen mahargya Paskah, Pentekosta punapa dene Natal. Greja-greja tertemtu mahargya kanthi ngulemi tangga tepalih ingkang beda agami lan kabudayan. Nanging wonten greja ingkang boten ngawontenaken kados kasebat jalaran panglimbangipun wonten tiyang beda agami ingkang boten karsa ngrawuhi ing pahargyan dinten riyaya Kristen. Tundhonipun dipun-tetepaken cara sanes inggih punika kanthi mbage berkah dhateng tangga-tepalih.

Wonten greja ingkang ngulemi tangga-tepalih kembul bujana ing wekdal pengetan tanggap warsa kadiwasanipun. Sasampunipun pangibadah ucap sokur kalajengaken kendhuren utawi kembul bujana ing wewengkon greja saged ing nglebet gedhong greja, wonten ing teras, wonten ing latar lan sapiturutipun. Ing adicara kendhuren kasebat, wakiling greja ngatag warga ingkang sami rawuh ngunjukaken pandonga kangge paladosaning greja sesarengan masyarakat murih kababaring karaharjan. Sasampunipun pandonga kalajengaken kembul bujana lan wekdal wawan rembag kanthi mardika sinegahan hiburan sawatawis. Kawontenan makaten punika kawujud menawi tiyang Kristen utawi greja mawas bilih dhirinipun punika tunggal drajat kaliyan tiyang sanes. Greja dados patunggilan utawi pepanthan ingkang tinarbuka. Wonten kembul bujana mirunggan kangge para warganing pasamuwan, nanging ugi wonten kembul bujana sesarengan kaliyan tangga tepalih ing sakiwa-tengening greja.  Greja dados patunggilan utawi pepanthan ingkang tinarbuka, nanging kados pundi anggenipun paring makna bab ngabaraken Injil?

Gesangipun boten saged dipun pethal saking tumindak milih. Nalika satunggaling tiyang milih rasukan limrahipun sami kaliyan werni ingkang dipun remeni. Nanging menawi wonten tiyang ingkang remen werni jambon, piyambakipun boten prelu sengit dhateng werni sanesipun. Nalika wonten ing warung, satunggaling tiyang boten badhe pesen sadaya tetedhan lan omben-omben kangge piyambakipun. Tiyang kasebat kedah milih setunggal jinis tetedhan lan omben-omben, lan boten prelu sengit dhateng jinising tetedhan lan omben-omben sanesipun. Miji satunggaling jinis utawi prakawis saking sawarnining jinis ingkang wonten punika prakawis limrah, nanging boten wicaksana menawi lajeng meksa tiyang sanes nampi pilihan kita lan ngicali pilihan sanesipun.

Gusti miji pakebonan anggur

Ing jagad punika kathah sanget jinising bangsa. Kenging punapa Gusti miji Israel dados pakebonan angguripun? Punapa ta kaunggulanipun Israel katandhingaken bangsa sanes? Kitab Suci pancen boten paring katrangan bab kasebat. Punapa kanthi miji Israel ateges Gusti ban cindhe ban ciladan lan ngremehaken bangsa sanes? Temtunipun sampun ngantos dipun-paringi makna ingkang makaten punika. Kita kedah saged mawang Gusti kadosdene manungsa, dene Panjenenganipun boten saged uwal saking tumindak milih utawi miji. Kita nyumerepi kawontenanipun Gusti boten saking satunggal pihak inggih punika Panjenenganipun mahasuci lan tanpa wates panguwaosipun. Kawontenanipun Gusti Allah kedah kita wawas dene Panjenenganipun karsa sesambetan kaliyan manungsa. Gusti karsa andhap asor manahipun, temah karsa nyami warni kaliyan manungsa utawi nyamekaken drajatipun kaliyan manungsa, miji Israel dados pakebonan angguripun Gusti. Kanthi makaten sesambetan antawisipun Gusti lan manungsa kaanyaraken.

Kados dene tiyang ingkang milih jodho utawi sisihan, boten ateges tiyang ingkang boten kapiji dados sisihanipun punika kaanggep remeh utawi asor. Satunggaling wekdal, tiyang sesemahan kasebat nemahi prakawis utawi ruwet renteng lan merlokaken pamawas saha piwulang saking tiyang sanes ingkang boten kapiji dados sisihanipun. Minangka tiyang ingkang sesemahan mesthinipun nggadhahi gegadhangan. Gusti sampun ngreksa lan ngrimati Israel kados dene satunggaling tiyang ngrimati pakebonan angguripun piyambak. Gusti ngajeng-ajeng pakebonan angguripun ngedalaken woh. Emanipun pangajeng-ajeng lan kasunyatan beda. ”Amarga pakebonane anggur Sang Yehuwah Gustine sarwa tumitah iku turune Israel, lan para wong Yehuda iku tetanduran kang diremeni; kang diajeng-ajeng kaadilan, nanging kang ana mung tindak ambek siya, kang diantos-antos kabeneran nanging, kang ana mung kaonaran” (Yes. 5:7).

Kaadilan lan kaleresanipun Gusti

Wohing gesang ingkang kinersakaken dening Gusti tumrap umatipun inggih punika kaadilan lan kaleresan. Kekalihipun boten saged kapethal, kados dene arta logam ingkang boten saged kapethal kalih sisihipun. Nanging kaadilan lan kaleresan ingkang katindakaken dening manungsa asring ngener dhateng ingkang gadhah panguwaos lan pangaribawa, sipatipun keras lan nyingkiraken raos kaadilan. Tuwuh pamawas, panerak ingkang dipun-tindakaken dening rakyat alit lan tiyang miskin kedah dipun-tanduki kanthi pranatan ingkang gumathok. Kosok wangsulipun panerak ingkang dipun-tindakaken dening tiyang kumawaos lan gadhah pangaribawa bab jejeging pranatan kethul. Langkung cepet ndhawahaken pidana dhateng tiyang miskin ingkang mandung gedhang, semangka lan woh randhu katimbang ngadili tiyang ingkang nylingkuhaken arta (utawi koruptor), pawadanipun netepi trap-trapaning pranatan. Kaadilan lan kaleresan ingkang boten mihak dhateng tiyang ringkih badhe nguwohaken ambek siya lan kaonaran.

Kaadilan lan kayektenipun Gusti mihak dhateng tiyang ringkih lan kesrakat. Gusti boten kados dewi ingkang nutup netra lan njagi timbangan supados tetep satimbang. Gusti kados dene dewi ingkang mbekta timbangan lan mripatipun binuka sekedhik, nuju dhateng peksi alit ingkang semplah elaripun temah boten saged mabur lan menclok ing salah satunggaling sisih timbangan kasebat. Temtunipun timbangan punika badhe obah nuju dhateng peksi alit ingkang sakit kasebat. Inggih makaten punika gambaraning kaadilan lan kayektenipun Gusti ingkang mihak dhateng tiyang ingkang ringkih lan nandhang.

Ringkih lan nandhang punika gambaraning gesang. Gesang punika condhong ringkih, boten gadhah daya lan prelu dipun-belani. Dene daya pepejah ingkang boten prelu dipun-belani malah ngrembaka. Mirsanana kangenipun Rasul Paulus. Piyambakipun kepengin makempal kanthi daya gesang, sanes daya pepejah. Gesang kados ingkang dipun lampahi dening Gusti Yesus punika gesang ingkang rumaket kaliyan kawontenan ringkih lan nandhang. ”Kang dakkarepake yaitu wanuh marang Panjenengane lan dayane wungune lan manunggil ing sajrone sangsarane, temahan aku dadi madha rupa lan Panjenengane ana ing sedane, supaya wekasane aku oleh patangen saka ing antarane wong mati” (Filipi 3:10-11).

Pakabaran Injil punika mbelani sinten?

Nyumerepi bab pakabaran Injil punika ugi magepokan kaliyan prakawis mbelani lan mihak. Pakabaran Injil asring dipun wawas milujengaken jiwa-jiwa. Agami, kayakinan utawi budaya sanes kaangep langkung ringkih lan damel randhating tiyang mlebet swarga. Punapa ingkang badhe kalampahan menawi kita ngulemi tiyang sanes ngrawuhi ing pahargyan agami kita, kamangka kita nganggep tiyang kasebat langkung asor drajatipun lan ing mangke badhe manggen ing naraka? Saged kemawon tiyang-tiyang kasebat badhe nganggep kita punika tiyang ingkang boten limrah. Saged kemawon tiyang-tiyang sanes cubriya dhateng kita. Kita ugi cubriya dhateng tiyang sanes, nganggep tiyang sanes ingkang njalari wontenipun tiyang Kristen pindhah agami utawi murtad. Gesang ing salebeting cubriya awit raos gumunggung ingkang nganggep tiyang sanes ingkang langkung asor kedah mratobat. Kita kaengetaken lumantar piwulangipun juru masmur. ”Paduka dadosaken rerebatanipun para tangga-tepalih, saha sami cinampahan ing mengsah-mengsah kawula. Dhuh Gusti Allahipun sarwa ingkang dumadi, kawula mugi sami Paduka pulihaken, mugi karsaa nyunaraken wadana Paduka, temah kawula sami manggih wilujeng” (Jabur Masmur 80:7-8).

Pakabaran Injil kedah dipun tindakaken tanpa nyengiti agami sanes. Sadaya agami ngadhepi wontenipun tumindak boten adil, panandhang awit bencana alam, sesakit kados dene HIV/AIDS lan pangancaming narkoba kangge nenemam, jagad ingkang sangsaya risak kawontenanipun, kamiskinan sangsaya kathah lan sapiturutipun. Menawi tiyang Kristen utawi greja boten milih ndherek tumut tumandang damel ngrampungi prakawis-prakawis kasebat, kamangka agami lan golongan sanes malah langkung migatosaken dhateng prakawis-prakawis kasebat sampun ngantos eram menawi ”Kratoning Allah bakal kapundhut saka ing kowe lan bakal kaparingake marang sawijining bangsa kang bakal metokake wohe” (Mateus 21:43).

Kratoning Allah punika magepokan kaliyan prakawis mbelani ngrembakaning gesang samangke. Kratoning Allah ingkang sakawit kagambaraken wonten ing nginggil ngrika, sampun dipun-rawuhaken Gusti Yesus ing jagad punika. Ngabaraken Injil punika mbabar tandha-tandha Kratoning Allah. Pratandha punika kababar nalika greja minangka patunggilan purun mbikak manahipun saha pamawasipun. Boten namung ngladosaken bujana suci tumrap warganing pasamuwan, nanging ugi mbabar kembul bujana sesarengan sok sintena ingkang wonten ing sanjawining wates tembok greja. Gesangipun tetiyang ing salebeting kawontenan ingkang beda-beda pantes dipun-regengaken. Temah nalika greja kita mengeti tanggap warsa kadiwasaning pasamuwan, tangga-tepalih kita kanthi suwanten nengsemaken ngucap: “Sugeng tanggap warsa nggih”. Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   : Filipi 3:10-11

Pitedah Gesang Anyar           : Jabur Masmur 80:7-8

Pangatag Pisungsung  : Yesaya 5:7

 

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pamuji           : KPK.   22:1,2

Kidung Panalangsa  : KPK.   49:1-3

Kidung Kasanggeman : KPK. 171:1,2

Kidung Pisungsung   : KPK. 319:1-3

Kidung Pangutusan   : KPK. 318:1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan/Pembukaan Bulan Keluarga

 

Identitas Keluarga Kristen: Membutuhkan Komunitas

 

Bacaan I: Yesaya 25:1-9, Tanggapan: Mazmur 106:1-6, 19-23;

Bacaan II: Filipi 4:1-9, Bacaan III: Injil Matius 22:1-14

v   Dasar Pemikiran

Salah satu kelemahan keluarga Kristen adalah tidak menyatu dengan komunitasnya. Sering terdengar keluarga Kristen merasa sendirian tanpa teman saat menghadapi masalah. Khotbah ini kiranya mengingatkan akan pentingnya komunitas bagi keluarga Kristen. Bahkan kebutuhan akan komunitas juga menjadi identitas keluarga Kristen.

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 25:1-9

Ada penggambaran yang paralel antara Tuhan, bangsa yang kuat, dan manusia yang lemah. Tuhan menyelamatkan suatu bangsa,  bangsa itu memuji Tuhan, Tuhan menjadi perlindungan bagi orang lemah dan miskin serta dari angin ribut dan panas terik. Sifat mementingkan kemampuan sendiri adalah kesombongan. Kehidupan pribadi, bangsa, dan Tuhan terjalin tak terpisahkan, selama manusia menempatkan Tuhan sebagai penyelamat yang meniadakan maut.

Mazmur 106:1-6, 19-23

Umat mengakui perjalanan komunitas mereka di sepanjang sejarah mengalami jatuh bangun. Nenek moyang mereka pernah tidak setia kepada Tuhan, lupa pada kebaikan Tuhan sehingga memilih menyembah berhala. Pengalaman masa lalu itu menjadi pelajaran berharga bagi komunitas umat selanjutnya. Dalam persekutuan, komunitas umat diajak besyukur dan mengingat kepada Tuhan, sekaligus memohon supaya Tuhan mengingat keberadaan mereka.

Filipi 4:1-9

Rasul Paulus menyebut beberapa nama beserta jasa-jasa mereka dalam pelayanannya. Hal itu berguna untuk menjaga supaya dia selalu sadar bahwa pelayanannya bisa berjalan karena dukungan komunitas. Dalam komunitas, orang percaya dimampukan untuk tidak mengandalkan pemikiran sendiri, tetapi terbuka pada damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Umat beroleh kesempatan menjaga pengetahuan iman yang telah diterima dalam kehidupan komunitas.

Injil Mateus 22:1-14

Raja marah saat orang-orang yang diundangnya ke perjamuan kawin tidak mau datang dengan berbagai alasan. Namun raja juga marah saat ada orang yang ikut perjamuan, tetapi mengenakan pakaian yang tidak layak. Perumpamaan diakhiri dengan kalimat, ”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”. Hal ini membuat orang-orang yang merasa sudah terpanggil bertanya, ”Apa yang masih perlu saya benahi dalam menanggapi panggilan Tuhan?”

Renungan atas Bacaan

Hidup merupakan jalinan pola normal dan interupsi. Pola normal adalah kehidupan rutin yang biasa kita jalani dan kita kenal baik. Sedangkan interupsi adalah keadaan tidak terduga yang membawa kita ke wilayah yang tidak kita kenal. Sebagai contoh, sebuah keluarga kesehariannya bekerja, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga. Tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit dan perlu perawatan khusus dengan biaya mahal. Adanya anggota keluarga yang sakit adalah contoh interupsi itu.

Ada seorang rohaniwan bernama Henri Nouwen. Menjelang akhir hayatnya dia bersaksi bahwa hidup rohaninya justru berkembang dengan kesediaan menerima interupsi-interupsi. Suatu saat dia mendapat ancaman bom ketika melakukan aksi damai melawan kebijakan perang. Dia sangat takut, kemudian diajak seorang temannya beristirahat di tengah komunitas orang-orang terbelakang mental. Meski hidup dalam komunitas itu dirasakan berat, tetapi dia bisa belajar artinya menerima kelemahan, keringkihan, dan hanya berharap kepada Allah. Lain waktu dia terserempet mobil hingga harus menjalani operasi yang hampir merenggut nyawanya. Begitu dekat dengan kematian justru menjadikannya damai. Yang membuat hatinya tidak damai adalah rasa cemas jika dia mati tanpa terlebih dulu memaafkan dan dimaafkan orang lain. Berbagai interupsi itu menyadarkan dia untuk semakin membuka mata pada realita dipanggil sebagai anak Allah.

Alkitab menceritakan orang-orang yang sedang berjalan-jalan di tengah keramaian persimpangan jalan. Mereka asyik dengan dunianya sendiri, hingga muncul interupsi yang tidak terduga. Interupsi itu adalah undangan datang ke pesta nikah (Mat. 22:10-12). Bagaimana sikap mereka? Menerima interupsi itu atau menolaknya? Jika menerima interupsi itu, apakah pantas menyikapinya dengan asal-asalan tanpa menghormati pengundangnya? Siapakah pihak yang mengundang? Apa maksud undangan itu?

Harmonisasi Bacaan

Paulus memberi contoh bahwa pelayanannya membutuhkan dukungan komunitas (Fil. 4:2-3,7). Dalam komunitas, umat diajak untuk tidak melupakan Tuhan (Maz. 106:1) dan menghadirkan Tuhan melalui dukungan kepada yang lemah dan miskin (Yes. 25:4). Tuhan memanggil kita untuk mengembangkan kehudupan dalam komunitas (Mat. 22:14).

Pokok dan Arah pewartaan

Keluarga Kristen semakin menyadari bahwa kehidupannya tidak bisa dipisahkan dari komunitas. Komunitas juga terus memperbaharui diri sebagai komunitas pendoa dan penumbuh kembang kehidupan.

v   Khotbah Jangkep

Identitas Keluarga Kristen: Membutuhkan Komunitas

Apakah identitas keluarga Kristen? Setiap orang Kristen atau keluarga Kristen bisa memberi jawab, paling tidak berdasarkan pengalaman hidupnya. Melalui khotbah ini dibagikan salah satu sudut pandang pemaknaan mengenai identitas keluarga Kristen yang ditopang oleh tiga hal, yakni:

  1. Doa
  2. Perlawanan pada maut
  3. Komunitas

Untuk melihat ketiga hal itu, bisa beranjak dari cerita nyata berikut ini.

 

Keluarga membutuhkan komunitas

Suatu hari ada pendeta yang bertemu dengan warga gereja lain. Warga itu merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan pendeta itu. Dia yakin pertemuan itu tidak lepas dari tuntunan Tuhan. Dia pun bercerita tentang keadaan pasangannya yang sedang menderita sakit dan perlu segera dioperasi. Pasangannya tidak patah semangat, yakin bahwa Yesus adalah penyembuh, dan terbuka pada kemungkinan kesembuhan melalui upaya medis. Untuk keperluan persiapan operasi dengan segala kemungkinan termasuk pembiayaannya, warga itu mohon didoakan oleh pendeta. Mereka pun berdoa. Usai berdoa, percakapan dilanjutkan. Pendeta itu menanyakan sudah atau belumnya warga itu bercerita kepada majelis gerejanya mengenai kondisi yang dihadapi keluarganya. Warga itu menyampaikan bahwa ia belum bercerita kepada majelis gerejanya karena tidak merasa yakin akan beroleh jalan keluar. Selama ini dia justru lebih dekat dengan beberapa pemimpin gereja lain dan mendapat wawasan tentang jalan keluar yang dibutuhkan dari mereka. Dia memandang bahwa dia dan keluarganya adalah orang yang lemah dan merasa tidak diperhitungkan dalam komunitasnya, tetapi diterima oleh pemimpin gereja yang lain. Dalam hati, pendeta itu merasa terkejut karena warga yang sedang menghadapi pergumulan berat itu tidak menganggap penting bercerita kepada majelisnya.

Percakapan itu juga menggambarkan kecenderungan banyak orang maupun keluarga Kristen. Ketika menghadapi masalah berat tidak lupa berdoa secara pribadi, bersama keluarga, atau pendeta tetangga. Berdoa dalam keadaan demikian tentu lebih baik daripada sama sekali tidak berdoa. Namun kehidupan doa itu bisa dikembangkan lagi dengan berada atau melibatkan komunitas. Dengan melibatkan komunitas, kita tetap terjaga untuk tidak sombong dan menganggap keberhasilan sebagai perjuangan pribadi. Dengan melibatkan komunitas kita juga tidak menggantungkan pemecahan masalah kepada seseorang yang kita anggap menjadi pahlawan, tetapi jika persoalan teratasi kita bisa merasakan semua itu berkat dukungan komunitas. Kita perlu mencontoh Rasul Paulus. Dalam Filipi 4:2-3 dia mendorong agar setiap warga jemaat merasa perlu hidup sebagai komunitas yang saling mendukung.

Majelis dengan kelemahan manusiawinya adalah sosok yang kehadirannnya menggambarkan adanya komunitas. Tanpa komunitas tidak ada majelis. Sebaiknya tidak perlu menempatkan majelis sebagai pahlawan, melainkan sebagai jembatan antar anggota dalam komunitasnya. Majelis bersama dengan anggota komunitas akan mendukung dalam doa sebagai pembuka pintu pada ”Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7). Berada di dalam komunitas membuat kita terjaga agar tidak mengatasi persoalan dengan mengandalkan kekuatan sendiri atau membayangkan pengatasan masalah hanya seperti yang bisa dipikirkan sendiri.

Komunitas perlu terus diperbaharui

Di tempat lain ada seorang pendeta yang dimintai pertimbangan oleh seseorang yang bukan anggota gerejanya. Orang itu termasuk etnis yang dijadikan kambing hitam pada kerusuhan Mei 1998. Dia memiliki keponakan yang hamil karena pemerkosaan pada kerusuhan Mei 1998. Keponakan beserta keluarganya terpukul dengan keadaan itu. Mengandung janin yang tidak dikehendaki apalagi akibat perkosaan tentu sangat berat. Dengan pertimbangan demikian, orang itu bertanya mengenai bisa tidaknya diterima secara moral atau etis jika janin itu digugurkan. Menanggapi pertanyaan itu, pendeta balik bertanya mengenai kewargaan gereja orang itu. Yang ditanya tidak mau mengatakan kewargaan gerejanya. Dia hanya meminta jawaban boleh atau tidak. Pendeta tidak memberi jawaban.

Mengapa pendeta itu tidak memberi jawaban? Dia menyadari bahwa sebuah komunitas sangat mempengaruhi pertimbangan pengambailan keputusan etis seseorang. Jika komunitas itu tidak mau menerima kehadiran ibu dan bayi yang lahir karena perkosaan, tentu berat bagi calon ibu itu mempertahankan kehidupan. Sebaliknya jika komunitas mau menerima, calon ibu itu bisa mendapat dukungan dan diingatkan oleh komunitasnya untuk tidak mengambil keputusan yang salah. Komunitas yang sehat memilih mengatakan ”ya” kepada kehidupan. Kekuatan kematian yang melumpuhkan semangat hidup dilawan bersama-sama dengan anggota komunitas. Komunitas kita perlu terus kita perbaharui, sehingga menjadi komunitas yang mampu mendukung anggotanya untuk mengatakan ”ya” pada kehidupan. Buah dari komunitas yang terus diperbaharui adalah yang lemah dikuatkan, yang luka disembuhkan, seseorang tidak merasa sendirian menghadapi tantangan dalam hidupnya.

Sekarang kita semakin terbantu untuk memaknai, sabda ”Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.” (Matius 22:12). Ayat itu merupakan bagian cerita tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Kita bisa membayangkan andai raja itu adalah orang tua yang menikahkan anak perempuan semata wayangnya, sedangkan anak perempuannya itu adalah korban perkosaan kerusuhan Mei 1998. Orang yang datang tanpa pakaian pantas adalah gambaran orang yang datang ke pesta itu karena sungkan kalau tidak datang. Sedangkan dalam hati, sebenarnya mereka mencemooh dan menganggap rendah keluarga serta kondisi mempelai yang demikian itu.

Keluarga menemukan kekuatan dalam komunitas

Setiap keluarga tidak bisa memastikan bahwa yang terjadi dalam hidupnya selalu pola yang normal, nyaman dan berada di wilayah yang selama ini sudah dikenal. Suatu saat bisa terjadi interupsi. Interupsi itu tidak terduga, membuat tidak nyaman, dan membawa kita masuk ke dalam wilayah yang sama sekali belum diketahui. Sekali lagi, menghadapi berbagai kemungkinan interupsi itu keluarga membutuhkan komunitas.

Ada seorang warga gereja yang menderita AIDS. Biasanya jika seseorang menderita penyakit itu, dia akan menutup diri. Sakit itu dianggap aib yang menyebabkan penderita maupun keluarganya merasa berat atau malu bila sampai orang lain tahu. Namun warga gereja itu berbeda. Ketika mengetahui bahwa dia menderita AIDS, dia justru terbantu mengatasi kelemahannya itu dengan cara bercerita kepada komunitasnya. Kematian pasti akan mendatangi nya, tetapi dia bisa melawan agar kematian tidak mengalahkan semangat hidupnya. Dia terima kenyataan itu dengan pasrah kepada Tuhan. Keberadaan komunitas turut menjadi tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tidak mustahil warga gereja itu bisa berkata, ”Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan: marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya !” (Yes. 25:9)

Jika kita meragukan karya Allah dalam hidup keluarga kita, mari mencari Allah dalam kehidupan komunitas. Kita masuk dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh komunitas, baik dalam kelompok/blok/wilayah /pepantan/pasamuwan. Jangan sampai lupa kepada Tuhan seperti diingatkan oleh pemazmur, ”Jangan melupakan Allah yang telah menyelamatkan kita”. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita anugerah          : Yesaya 25:9

Petunjuk hidup baru    : Filipi 4:6-7

Nats Persembahan       : Matius 22:10-11

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka     : KJ. 393:1-3

Nyanyian Penyesalan            : KJ. 459:1-4

Nyanyian Kesanggupan                    : KJ. 561:1-5

Nyanyian Persembahan                     : KJ. 447:1-3

Nyanyian Penutup       : KJ. 461:1-3


Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Wolu Likur (Pambukaning Wulan Brayat)

 

Titikaning Brayat Kristen: Mbetahaken Patunggilan

 

Waosan I: Yesaya 25:1-9; Tanggapan: Jabur Masmur 106:1-6, 19-23;

Waosan II: Filipi 4:1-9; Waosan III: Injil Mateus 22:1-14

 

 

v   Khotbah Jangkep

Titikaning Brayat Kristen: Mbetahaken Papan Patunggilan

P

unapa ta titikaning brayat Kristen? Saben tiyang Kristen utawi brayat Kristen saged atur wangsulan, saboten-botenipun adhedhasar pangalaman gesangipun. Lumantar khotbah punika kaaturaken satunggaling pamawas magepokan kaliyan maknaning titikan brayat Kristen ingkang kasengkuyung dening tigang prakawis inggih punika:

  1. Pandonga
  2. Nglawan pepeteng
  3. Patunggilan

Magepokan tigang prakawis kasebat, kita gatosaken cariyos nyata punika.

Keluarga mbetahaken patunggilan

Satunggaling wekdal wonten Pandhita ingkang kapanggih kaliyan warga greja sanes. Warga sanes kasebat rumaos bingah lan pitados bilih pepanggihan punika awit saking panuntunipun Gusti. Warga kasebat nyariosaken kawontenan semahipun ingkang nembe nandhang sakit lan prelu enggal dipun-operasi. Semahipun wau boten semplah lan nglokro ananging pitados bilih Gusti Yesus punika ingkang kuwaos nyarasaken lan tinarbuka manahipun tumrap wekdal sarasing sesakit lumantar pambudidayanipun dokter utawi jururawat. Kangge kabetahaning operasi mirungganipun dana, warga kasebat nyuwun dipun-dongakaken dening pandhita. Lajeng kekalihipun sesarengan ndedonga. Sasampunipun ndedonga pirembagan kalajengaken. Pandhita wau ndangu punapa warga kasebat sampun nyariosaken momotanipun dhateng pradata grejanipun piyambak magepokan kaliyan prakawising brayatipun. Warga kasebat mangsuli bilih dereng nyariosaken prakawisipun dhateng pradata grejanipun awit rumaos boten yakin bilih tumindakipun kasebat badhe ndhatengaken margi tumrap karampunganing reruwetipun. Sadangunipun punika warga kasebat malah celak kaliyan para pamimpin greja sanes lan pikantuk wawasan tumrap karampunganing prakawisipun ingkang dipun-betahaken. Warga punika rumaos bilih piyambakipun lan brayatipun punika tiyang papa lan rumaos boten dipun-gatosaken dening patunggilanipun, nanging malah dipun tampi dening pamimpin greja sanesipun. Ing salebeting manahipun, pandhita kasebat rumaos eram awit warga ingkang nembe nemahi kahanan awrat kasebat nggadhahi pamawas bilih cariyos dhateng pradata grejanipun punika boten wonten paedahipun utawi muspra.

Pirembagan kasebat dados gambaran kawotenanipun tiyang utawi brayat Kristen. Nalika nemahi prakawis ingkang awrat boten kesupen ndedonga sacara pribadi, sesarengan brayat, utawi pandhita greja sanes. Pandonga makaten punika langkung prayogi katimbang babarpisan boten ndedonga. Nanging pandonga punika saged dipun-indhakaken kanthi nggandheng sadherek patunggilan. Kanthi ndedonga sesarengan para sadherek patunggilan kita tetep njagi sikeping manah sampun ngantos gumunggung lan gadhah panganggep kasiling sedya awit saking pambudidaya pribadi. Ndedonga sesarengan tiyang sanes punika ngawekani raosing manah bilih karampunganing prakawis gesang amargi satunggaling tiyang, nanging nalika prakawisipun karampungan jalaran pandonga  sesarengan ateges tiyang kasebat rumaos saha nglenggana bilih patunggilaning para sedherek anjalari kasembadaning pandonganipun. Kita prelu nuladha Rasul Paulus, dene wonten ing Filipi 4:2-3 Rasul Paulus mbereg supados saben warganing pasamuwan rumaos bilih dados gegelitaning patunggilan ingkang sami dene nyengkuyung.

Pradata kanthi karingkihan kamanungsanipun punika dados pratelan wontenipun patunggilan. Tanpa patunggilan boten wonten pradata. Mila kita boten prelu mapanaken pradata minangka pahlawan, nanging mapanaken pradata minangka wot ing antawisipun warga pasamuwan ingkang katunggil ing satunggaling greja. Pradata sesarengan perangan patunggilan sanesipun badhe nyengkuyung ing pandonga minangka pambuka korining sih rahmat tumrap ”Tentrem rahayu kang saka ing Gusti Allah, kang ngungkuli saliring budi, bakal rumeksa marang ati lan pangangen-angenmu ana ing Sang Kristus” (Filipi 4:7). Wonten ing satunggaling pepanthan utawi patunggilan njalari kita sami dene njagi manah supados boten rumaos kuwagang ngrampungi prakawisipun piyambak utawi namung ngrerancang margining karampungan tanpa wonten asilipun.  

Patunggilan prelu tansah dipun anyaraken

Ing papan sanes wonten satunggaling pandhita ingkang dipun suwuni panglimbang dening warga greja sanes. Tiyang kasebat kalebet satunggaling suku bangsa ingkang dados banten nalika wonten ontran-ontran Mei taun 1998. Warga kasebat gadhah penakan ingkang ngandheg amargi dipun ruda-peksa nalika ontran-ontran Mei 1998. Penakan tiyang kasebat punapa dene brayatipun nyanggi momotan ingkang boten entheng. Ngandheg ponang jabang bayi ingkang boten dipun kajengaken punapa malih jalaran dipun ruda-peksa. Magepokan prakawis punika, tiyang kasebat nggadhahi panglimbang menawi jabang bayi ingkang wonten ing kandhetan dipun guguraken, punapa punika tumindak ingkang lepat? Nyalahi pranatan sosial lan nyalahi pranatan salimrahipun? Nanggapi pitakenan ingkang makaten punika, pandhita lajeng pitaken bab warga kasebat kalebet perangan greja punapa? Warga punika boten purun mangsuli greja asalipun. Piyambakipun namung nyuwun panjawab, dipun keparengaken punapa boten ngguguraken kandhetan penakanipun. Pandhita punika boten atur panjawab.

Kenging punapa pandhita kasebat boten mangsuli? Awit piyambakipun rumaos bilih satunggaling pepanthan utawi patunggilan ndayani panglimbang kangge damel pancasan prakawis satunggaling tiyang. Menawi patunggilan kasebat boten purun nampi ibu lan bayi jalaran pangruda-peksa, temtunipun awrat tumraping calon ibu kasebat kangge nglestantunaken gesangipun. Kosok wangsulipun menawi patunggilan punika purun nampi, calon ibu punika badhe pikantuk panyengkuyung, pambereg lan pangatag saking patunggilanipun supados boten milih pancasan ingkang lepat. Patunggilan ingkang prayogi punika menawi nyengkuyung satunggaling pancasan ingkang ngener dhateng kaleresan. Dayaning pepejah ingkang saged damel lumpuhing daya gesang kalawan sesarengan dening gegelitaning patunggilan. Patunggilan kita prelu dipun-anyaraken, temah dados patunggilan ingkang saged nyengkuyung gegelitanipun ngener dhateng kasaenan. Wohing patunggilan ingkang tansah kaanyaraken punika ingkang ringkih badhe kakiyataken, ingkang sakit kasarasaken, ingkang rumaos piyambak badhe dipun rencangi nemahi reridhu ing gesangipun.

Samangke kita kabiyantu nampeni pangandika: ”He, sedulur, kapriye dene sira lumebu ing kene ora nganggo sandhangan pesta? Wong mau meneng bae (Mateus 22:12). Ayat kasebat dados peranganing cariyos ngengingi satunggaling ratu ingkang ngawontenaken pahargyan mantu tumrap putrinipun. Kita saged nggambaraken saupami ratu kasebat putrinipun dados banten pangruda-peksa tiyang kathah wekdal ontran-ontran wulan Mei 1998. Tiyang ingkang sowan tanpa rasukan ingkang murwat punika gambaraning tiyang ingkang sowan ing pesta kasebat jalaran pakewuh menawi boten sowan. Kamangka ing salebeting manahipun, sejatosipun nyaruwe lan ngremehaken brayat saha kawontenan sang temanten ingkang makaten punika.

Brayat manggihaken kakiyatan ing salebeting patunggilan

Saben brayat boten saged mesthekaken bilih punapa ingkang kalampahan ing gesang lampahipun sami kemawon, sekeca lan ing kawontenan ingkang sampun dipun-sumerepi. Saged kalampahan bilih wekdal gesangipun wonten salebeting kahanan ingkang sinigeg. Wekdal ingkang kasigeg punika boten kanyana, boten damel sekeca lan mbekta pamawas kita dhateng kawontenan ingkang boten kita sumerepi. Sepisan malih, nemahi tantangan wekdal ingkang dumadakan kasigeg punika mila brayat perlu kabangun patunggilanipun.

Wonten satungaling warga pasamuwan ingkang ketaman sesakit AIDS. Padatanipun, menawi wonten tiyang ingkang nandhang sesakit makaten punika utawi tiyang ingkang ketaman AIDS ingkang nutup dhirinipun. Sesakit makaten punika dipun-anggep nglingsemi lan njalari ingkang sakit, punapa dene brayatipun nanggel momotan awrat, tumut  lingsem menawi kathah tiyang mangretosi kawontenanipun ingkang sakit kasebat. Nanging warga kasebat gadhahi pamawas ingkang beda. Nalika piyambakipun sakit AIDS piyambakipun malah kabiyantu ngawekani karingkihanipun punika kanthi cara cariyos dhateng rencang-rencang patunggilanipun. Pepejah mesthi badhe ndhatengi manungsa, nanging tiyang kasebat saged nglawan supados pepejah boten ngawonaken daya gesangipun. Piyambakipun nampi kasunyatan kanthi pasrah dhateng Gusti. Kawontenan patunggilan kados makaten punika ingkang sinebat tumut tumandang damel mbabar tandha-tandha rawuhipun Gusti ing satengahing gesang sesarengan. Kanthi makaten warga kasebat saged ngucap: ”Iki sanyata Gusti Allah kita, kang kita anti-anti, supaya kita kaganjar slamet. Iya iki Sang Yehuwah kang kita anti-anti; ayo kita padha surak-surak lan suka-suka marga saka pangluwaran kang kaparingake” (Yes. 25:9).

Menawi kita boten pitados pakaryaning Allah ing gesanging brayat kita, sumangga kita madosi Gusti Allah ingkang rawuh ing satengahing patunggilan kita. Kita lumebet lan dados gegelitan ing sawarnining kegiatan ingkang katindakaken dening patunggilan kita, dadosa ing kelompok, blok, wewengkon, pepanthan punapa dene pasamuwan kita. Sampun ngantos kita kesupen dhumateng Gusti Allah kados piwulangipun juru masmur ”Aja padha nglalekake Gusti Allah kang wus milujengake kita”.

Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   : Yesaya 25:9

Pitedah Gesang Enggal          : Filipi 4:6-7

Pangatag Pisungsung  : Injil Mateus 22:10-11

 

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka      : KPK BMGJ. 309:1-3

Kidung Panalangsa  : KPK BMGJ.   50:1,2

Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ. 129:1,2

Kidung Pisungsung   : KPK BMGJ. 300:1-4

Kidung Pangutusan   : KPK BMGJ. 312:1-4

Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan (Hijau)

 

Keluarga Kristen Berhiaskan Kekudusan

 

Bacaan I: Yesaya 45:1-7; Tanggapan: Mazmur 96:1-9

Bacaan II: I Tesalonika 1:1-10; Bacaan III: Injil Matius 22:15-22

 

Tujuan:

Jemaat sadar bahwa mereka hidup di tengah dunia, tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Salah satunya terwujud dalam kehidupan berkeluarga, yaitu mewujudkan kekudusan keluarga dalam hal kesediaan diri bersandar hanya kepada Tuhan.

 

v   Dasar Pemikiran

Keluarga Kristen hidup di tengah-tengah dunia, tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Satu hal yang perlu dijaga yaitu kekudusannya, yang terwujud salah satunya dalam kesediaannya mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya Allah.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 45:1-7

Ayat-ayat ini bagian dari Bagian Kedua Kitab Yesaya (Deutero Yesaya) yang berisi kabar baik bagi umat TUHAN di pembuangan. Koresh, sekalipun tidak mengenal Allah, dipilih menjadi alat Allah memberikan keselamatan bagi umat-Nya. Hal itu dilakukan untuk menyadarkan bahwa tidak ada ilah yang dapat mengatasi TUHAN. Ayat-ayat itu juga menggambarkan kehendak Allah untuk mengumpulkan kembali keluarga besar Israel dan beragam cara bisa Ia lakukan.

 

Mazmur 96:1-13

Nyanyian baru yang dimaksudkan di sini adalah perayaan atas pembebasan baru yang Tuhan lakukan, yaitu pembebasan dari krisis yang terjadi pada tahun 586 SM. Ayat 1-6 memanggil untuk mewartakan kemuliaan Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Ayat 7-9 memanggil bangsa-bangsa untuk menyembah Tuhan. Ayat 10-13 memanggil semua ciptaan untuk mengenal kuasa Tuhan. Ketiga bagian menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.

 

I Tesalonika 1:1-10

Bagian awal surat ini merupakan ucapan syukur Rasul Paulus atas kondisi jemaat di Tesalonika. Mereka pada awalnya adalah para penyembah berhala, tetapi menjadi percaya dan menjadi anggota keluarga Kristus. Dalam iman, mereka mewartakan Injil melalui segala perbuatan yang mereka lakukan. Hal itu menggembirakan Rasul Paulus dan menjadi bekal dalam mereka menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali.

 

Injil Matius 22:15-22

Pertanyaan jebakan pada Yesus ditanggapi dengan jawaban yang mengherankan. Jawaban Yesus ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada negara/penguasa tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan dengan ketaatan kepada Tuhan.

 

Renungan atas Bacaan

Ada apa dengan keluarga Kristen? Apa bedanya dengan keluarga-keluarga yang lain? Apakah harus berbeda?

Pertanyaan demikian bisa jadi muncul saat membaca judul perenungan kita hari ini. Hal yang pasti adalah, tentu keluarga Kristen berbeda dari keluarga-keluarga yang lain. Jika tidak berbeda, tidak perlu disebut sebagai keluarga Kristen. Cukuplah disebut dengan keluarga. Namun apa bedanya?

Mencari perbedaan – atau lebih tepat kekhasan – dari keluarga Kristen tidak bisa tidak bersumber dari Firman Tuhan yang menjadi pedoman dasar kehidupan orang percaya. Maka ayat-ayat kita hari ini menjadi dasarnya.

Bacaan Yesaya menggambarkan Tuhan yang berkarya dengan cara tak terduga untuk mengumpulkan kembali keluarga-Nya, yaitu orang-orang Israel. Karya Tuhan ini direspon dengan nyanyian baru yang diserukan pemazmur. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang percaya menerima karya (saat itu pembebasan) dan meresponnya dengan pemuliaan, penyembahan hanya kepada Tuhan Sang Pembebas.

Dalam I Tesalonika, Rasul Paulus menggambarkan hal yang senada. Jemaat Kristen telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga mereka merespon dengan iman dan pewartaan Injil melalui sikap hidup mereka.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan dengan ketaatan kepada penguasa/negara.

Semua ayat tadi menjadi pedoman bagi orang-orang Kristen, termasuk sebagai keluarga, untuk menjadi berbeda dari dunia. Ketaatan hanya kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan dengan diliputi rasa syukur kepada-Nya.

 

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Teks dari Yesaya, Mazmur, Tesalonika, dan Matius terkait melalui ide mengenai karya Tuhan. Karya itu terwujud dalam pembebasan atau pemeliharaan yang dilakukan-Nya dan harus direspon dengan ketaatan mutlak kepada-Nya sebagai satu-satunya Allah.

 

Pokok dan Arah Pewartaan

Hidup manusia dalam dunia tidak terlepas dari keluarga. Apapun posisi seseorang dalam keluarga, ia adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga itu. Demikian juga halnya dengan keluarga Kristen.

 

v   Khotbah Jangkep

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,

S

ekalipun jarang diketahui, hari ini adalah Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober, yaitu tanggal berdirinya Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada tahun 1945. Ide mengenai dirayakannya Hari Pangan Sedunia ini muncul pada tahun 1979 sebagai upaya untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap kemiskinan dan kelaparan. Tema-tema tahunan selalu muncul dan menjadi bahan perenungan seluruh negara anggota PBB. Di antara tema-tema yang ada, yang paling banyak muncul adalah mengenai ketahanan pangan. Hal itu berarti keprihatinan terhadap ketersediaan pangan bagi setiap orang adalah hal utama di dunia ini. Bisa dibayangkan kondisi saat tidak ada cukup makanan bagi setiap orang. Gambaran mengenai orang-orang yang tinggal tulang berbalut kulit, kerusuhan dan penjarahan karena kelaparan dan kemarahan. Yang jelas, akan terjadi peristiwa atau kondisi yang tidak menyenangkan jika kebutuhan akan pangan tidak terpenuhi. (Bisa dibantu dengan menampilkan gambar orang-orang kelaparan atau kerusuhan/penjarahan, baik melalui LCD atau gambar cetak.)

Bagaimana kalau orang-orang yang mengalami kesulitan makan itu membaca bacaan pertama kita dari Yesaya? Mereka mungkin akan berpikir dan berandai-andai, seandainya Tuhan mengirim pembebas seperti Koresh dalam hidup mereka. Seandainya Tuhan membebaskan mereka dari beban kelaparan yang sedang mereka derita. Mungkin sebagian dari orang-orang itu akan merasa bahagia karena merasa punya pengharapan setelah membacanya. Namun sebagian mungkin justru akan semakin marah, sebab Tuhan tidak bertindak seperti yang Dia lakukan kepada Israel melalui Koresh.

Lalu apakah kisah tentang pembebasan yang dilakukan oleh Tuhan hanya menjadi pelipur lara atau bahkan hanya menjadi iming-iming bagi orang yang menderita? Bagaimanakah supaya ayat-ayat bahagia mengenai Tuhan yang membebaskan dan juga nyanyian syukur seperti Mazmur bisa menjadi nyata bagi orang yang kelaparan?

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Jemaat di Tesalonika awalnya adalah penyembah-penyembah berhala. Namun setelah menerima pewartaan dari Rasul Paulus, dalam bimbingan Roh Kudus mereka beriman kepada Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Dalam pembukaan suratnya yang pertama, Rasul Paulus dengan sangat murah hati memuji-muji jemaat di Tesalonika. Pujian itu didasarkan pada kondisi nyata jemaat. Mereka menjadi beriman dan imannya itu tidak berhenti pada hati dan pikiran mereka saja. Mereka tidak hanya berubah dalam hal penyembahan kepada Yang Ilahi, melainkan juga dalam kehidupan keseharian. Rasul Paulus menyebut mereka menjadi teladan bagi jemaat-jemaat yang lain. Rasul Paulus juga menyebut-nyebut mengenai kondisi berat yang dialami oleh jemaat saat itu. Bisa jadi karena mereka berbalik dari berhala mereka dan segala kebiasaan yang ada, mereka mengalami pengucilan atau bahkan penindasan dari orang lain. Hal seperti itu dialami juga oleh banyak jemaat di tempat lain. Apalagi di daerah-daerah yang menjadi bagian kekaisaran yang menuntut Kaisar disembah sebagai allah. Namun dalam kondisi berat seperti itu, mereka tetap menjadi penurut Allah dan menjadi teladan. Jemaat-jemaat di tempat lain pun menjadi kuat pula karena mengetahui saudara-saudara mereka di Tesalonika juga kuat.

Hal seperti inilah, Saudara-saudara, yang bisa menjawab pertanyaan di depan tadi. Hal seperti yang dilakukan oleh jemaat di Tesalonika inilah yang bisa membuat orang melihat dengan nyata kasih dan karya Allah dalam hidup mereka. Hal seperti inilah yang membuat orang yang kelaparan melihat Koresh-koresh lain yang diutus oleh Tuhan. Selanjutnya mereka pun akan bisa menyanyikan nyanyian baru bersama dengan seluruh bangsa karena Tuhan membebaskan mereka, Tuhan berkarya dalam hidup mereka. Dan Koresh-koresh yang lain sedang dan masih terus dipanggil oleh Tuhan untuk bisa menjadi alat karya-Nya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kalau tadi yang kita lihat adalah pengalaman orang Israel, jemaat Tesalonika, dan orang-orang yang tampak jauh dari kita, sekarang bagaimana kondisi di sekitar kita sendiri?

Satu hal yang sangat dekat dengan pangan adalah keluarga. Di dalam keluargalah makanan diterima, dikelola, dan dinikmati bersama. Saat ada banyak makanan, semua merasa kenyang. Demikian pula saat hanya ada sedikit makanan, semua merasa lapar. Di dalam keluarga pula dikenal prioritas dalam hal makanan. Siapa yang harus mendapatkan makanan pertama kali, siapa yang harus menunggu. Siapa yang harus makan lebih banyak dan siapa yang lebih sedikit. Prioritas atau pembagian itu dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing anggota keluarga. Sebagai keluarga, semua saling tahu, sehingga tidak ada rasa iri atau cemburu. Namun siapakah keluarga itu?

Pengertian keluarga ada banyak. Ada orang yang memahami keluarga sebagai keluarga inti saja, yaitu bapak-ibu-anak. Ada juga yang memahaminya sebagai keluarga besar yang mencakup keluarga dari pihak bapak ibu sampai nenek. Namun jika mau berpikir lebih luas, sebenarnya keluarga kita adalah seluruh umat manusia. Semua orang yang dengannya kita berbagi tempat hidup dan sumber daya yang ada di bumi ini. Semua orang yang dengannya kita hidup bersama sebagai ciptaan Tuhan di bumi ini. Jadi, saat kita di sini makan kenyang dan bahkan berlebih, sedangkan di belahan dunia lain ada orang yang kelaparan, apakah itu wujud sebuah keluarga? Saat kita berpikir besok makan dengan sayur dan lauk apa, sedangkan tetangga kita berpikir besok makan atau tidak, apakah itu wujud dari kehidupan sebuah keluarga? Rasanya bukan.

Sebagai keluarga Kristen, sudah selayaknya kita tidak hanya berpikir mengenai diri kita sendiri. Sudah selayaknya kita pun peduli pada orang lain. Hal itulah yang bisa membuat orang-orang yang sedang dalam beban berat bisa memuji seperti Mazmur tanggapan tadi. Namun kadang-kadang orang merasa tidak mampu untuk peduli karena merasa tidak memiliki apa-apa.

Jawaban Yesus pada orang-orang Herodian menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak perlu takut. Ketaatan kepada Tuhanlah yang menjadi kuncinya. Ketaatan itu tidak perlu diperbandingkan aau dipertentangkan dengan ketaatan kepada penguasa negara. Saat orang Herodian menggunakan uang untuk bertanya menjebak Yesus, ada nilai mengenai keberlangsungan hidup dalamnya. Uang adalah alat yang dibutuhkan setiap orang untuk memperoleh kebutuhannya. Secara tersirat, pertanyaan dan jawaban dalam bacaan Injil tadi mengungkapkan sandaran hidup manusia. Haruskah hidup manusia yang membutuhkan uang disandarkan kepada kaisar atau Tuhan? Jawaban Yesus sederhana, tetapi dalam. Keduanya tidak perlu dipertentangkan sehingga ketaatan kepada Tuhan tetap menjadi hal yang mutlak. Tidak perlu merasa tidak memiliki apa-apa. Segala yang kita miliki berasal dari Allah dan harus digunakan semaksimal mungkin untuk menunjang kehidupan. Untuk menjadi Koresh baru di masa kini. Untuk membuat seluruh anggota keluarga kita turut makan bersama. Itulah kekudusan keluarga Kristen yang selalu penuh syukur. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       :  Kolose 2: 6-19

Petunjuk Hidup Baru :  Hosea 1: 2-10

Dasar Persembahan :  Mazmur 138

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka  : KJ 13: 1-4

Nyanyian Penyesalan : KJ 23: 1-3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ 375

Nyanyian Persembahan         : KJ 293: 1-

Nyanyian Penutup    : KJ 453: 1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Wolu Likur (Ijo)

 

BRAYAT Kristen KANG NENGENAKEN GESANG SUCI

 

Waosan  I: Yesaya 45:1-7; Tanggapan: Jabur 96:1-9

Waosan II: I Tesalonika 1:1-10; Waosan III: Injil Mateus 22:15-22

 

Tujuan:

Warganing pasamuwan sadhar, bilih gesang  ing donya boten kedah sami kaliyan donya. Wujud ipun kanthi gesang  sesemahan, kanthi gesang suci ing tengahing brayat kang tansah sumendhe namung wonten ing Gusti.

v   Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus,

S

anadyan awis-awis wonten tiyang ingkang pirsa, dinten punika Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia dipun pengeti saben tanggal 16 Oktober, inggih punika nalika Organisasi Pangan Dunia (FAO) madeg ing taun 1945. Hari Pangan Sedunia dipun pengeti wiwit taun 1979 minangka srana kangge muwuhi raos preduli dhateng kawontenanipun para sedherek ingkang mlarat lan ing salebeting pailan. Saben taun mesthi wonten bab ingkang dipun suraos. Ingkang paling kathah  inggih punika bab taksih cekap utawi botenipun tetedhan ing donya punika. Punika ateges, prakawis wonten lan boten wontenipun tetedhan punika dados prakawis ingkang wigati sanget. Saged dipun gambaraken, menawi sampun boten wonten tetedhan ingkang cekap malih. Kathah tiyang kantun balung-kulit lan mesthi inggih saged damel kawontenan rusuh lan penjarahan. Ingkang baken, kawontenan ingkang saestu boten ngremenake. (Saged dipun biyantu lumantar gambar-gambar tiyang ingkang ngalami pailan utawi kerusuhan/penjarahan)

Kados pundi menawi tiyang-tiyang ingkang sami boten kacekapan ing bab tetedhan punika sami maos waosan kita saking Yesaya kala wau? Mbok bilih sami ngajeng-ajeng, kapan anggenipun Gusti ngutus tiyang kados Koresh ingkang badhe ngluwari piyambakipun saking kawontenan ingkang boten ngremenaken punika. Mbok bilih sawetawis tiyang remen maos ayat-ayat punika amargi rumaos pikantuk pangajeng-ajeng. Nanging sawetawis sanesipun mbok bilih malah sami mangkel, amargi rumaos Gusti boten adil amargi boten ngutus tiyang ingkang kados Koresh.

Lajeng punapa inggih cariyos bab pangluwaran ingkang dipun tindakaken dening Gusti namung dados panglipur ingkang lamis utawi iming-iming kangge tiyang-tiyang ing salebeting momotan? Kados pundi supados tiyang-tiyang wau sami saged ngidungaken mazmur kados waosan kita, ingkang isinipun bab kekidungan anyar, pamuji dhateng Gusti ingkang paring pangluwaran?

Pasamuwan ingkang dipun-tresnani dening Gusti,

Ing pambukaning serat, Rasul Paulus atur pamuji awit kawontenaning pasamuwan Tesalonika. Pasamuwan ing Tesalonika suwau sami nyembah brahala. Nanging sasampunipun nampeni pawartos Injil saking Rasul Paulus, lumantar tuntunaning Sang Roh Suci lajeng sami pitados dhateng Gusti. Anggenipun pitados inggih boten namung lelamisan, nanging saestu kawujud ing tumindak nyata. Rasul Paulus mastani pasamuwan Tesalonika minangka tuladha kangge pasamuwan-pasamuwan sanesipun. Wekdal semanten pasamuwan ing Tesalonika ngraosaken kawontenan ingkang awrat.

Karana sampun ngrasuk kapitadosan dhumateng Gusti, nilar panyembahing brahala, tuwin nilar sakathahing pakulinan tata panembah ingkang lami, pasamuwan wau lajeng kasingkiraken lan nampeni panindhes. Bab punka inggih kalampahan ing pasamuwan sanesipun ing laladan ing pundi Kaisar kedah dipun sembah pinangka allah. Sanadyan makaten, kapitadosanipun boten ewah gingsir, tetep santosa. Pasamuwan-pasamuwan ing papan sanes lajeng tumut kasantosakaken amargi nulad dhateng pasamuwan Tesalonika.

Prakawis punika, para sedherek. Ingkang saged dados wangsulan tumrap pitakenan-pitakenan kala wau. Prakawis ingkang dipun tindakaken dening pasamuwan Tesalonika saged damel tiyang ningali pakaryanipun Gusti kanthi nyata. Lelampahan punika saged damel sadherek-sedherek ingkang ngalami pailan sumerep Koresh ingkang dipun utus dening Gusti. Salajengipun sami saged ngidungaken mazmur ingkang enggal ingkang misuwuraken kamulyaning Gusti ingkang tansah makarya.

Pasamuwan ingkang dipun-tresnani dening Gusti,

Menawi kala wau kita ningali pengalamanipun bangsa Israel, pasamuwan ing Tesalonika, lan tiyang-tiyang ingkang tebih, kados pundi kawontenan ing kiwa tengen kita?

Prakawis ingkang celak piyambak kaliyan bab tetedhan punika brayat. Tetedhan dipun-tampi, dipun olah, lan dipun tedha sesarengan ing salebeting brayat. Nalika wonten tetedhan kathah, inggih sedaya sami tuwuk. Nanging nalika namung wonten sekedhik, sadaya ngraosaken luwe. Ing satengahing brayat ugi wonten ingkang dipun tengenaken. Sinten ingkang kedah nampi tetedhan langkung rumiyin, lan sinten ingkang kantun. Sinten ingkang kedah nedha langkung kathah, lan sinten ingkang sekedhik. Sedaya dipun-dum wradin, miturut kabetahanipun piyambak-piyambak. Boten badhe wonten warganing brayat ingkang rumaos meri. Nanging, sinten ta brayat kita punika?

Brayat saged ngemu teges kathah. Wonten ingkang mastani brayat punika namung bapak, ibu, anak. Wonten ugi ingkang mastani brayat punika inggih ngantos simbah. Nanging menawi kita raos-raosaken kanthi saestu, sejatosipun brayat punika inggih sedaya tiyang ingkang gesang lan nedha sesarengan kaliyan kita. Punika ateges, inggih sedaya manungsa ing bumi. Amargi kita sami-sami mapan lan ngadeg ing bumi ingkang sami. Kita sami-sami nedha saking tetuwuhan ingkang tuwuh saking bumi ingkang sami. Dados sedaya tiyang ing bumi punika, brayat kita.

Pitakenanipun, menawi kita saged nedha ingkang eca, nanging sedherek ing pulo sanes boten saged nedha, punapa punika wujuding brayat ingkang sae? Menawi kita ngrancang-rancang punapa ingkang badhe kita tedha mbenjang-enjang, nanging sedherek ing benua sanes mikir mbenjang saged nedha utawi boten, punapa punika inggih mujudaken brayat? Raosipun kok boten.

Minangka brayat Kristen, sampun samesthinipun kita boten namung mikir bab dhiri kita piyambak. Sampun samesthinipun kita tumut migatosaken dhateng tiyang sanes. Prakawis punika ingkang saged damel tiyang-tiyang ingkang saweg kamomotan saged memuji kados dene Mazmur kita kala wau. Nanging kadhang-kala tiyang rumaos boten saged preduli amargi rumaos boten gadhah punapa-punapa.

Paring wangsulanipun Gusti Yesus dhateng para tiyang Herodian nelakaken bilih kita boten sisah kuwatos. Anggen kita mbangun turut dhateng Gusti boten kangge nandhingaken kaliyan anggen kita  mbangun turut dhateng pamarintah. Nalika tiyang Herodian ngginakaken arta kangge pitaken (ing sedya kangge mblithuk Gusti), wonten babagan ingkang wigati magepokan kaliyan gesang. Lumantar paring wangsulanipun Gusti, sampun nelakaken bab kadospundi prayoginipun manungsa sumarah, dhumateng Gusti Allah punapa Kaisar. Wangsulanipun Gusti prasaja, ananging lebet. Kekalihipun boten kepareng dipun dadosaken lelawanan, ananging kastyanipun manungsa dhateng Gusti punika ingkang wigati. Boten prelu rumaos boten anggadhahi punapa-punapa.  Sedaya ingkang kita gadhahi punika peparingipun Gusti lan kedah kita  ginakaken kangge ngrimat gesang. Supados saged dados Koresh ing wekdal sapunika. Kangge  dados jalaraning sedaya warga brayat saged nedha sesarengan. Punika wujuding kasucenipun brayat Kristen ingkang tansah kebak ing raos sokur. Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   :          Kolose 2: 6-19

Pitedah Gesang Enggal          :           Hosea 1: 2-10

Pangatak Pisungsung  :          Jabur 138

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka      : KPK BMGJ 7: 1-3

Kidung Panelangsa  : KPK BMGJ 46: 1, 2

Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ 70: 1,5

Kidung Pisungsung   : KPK BMGJ 186: 1-

Kidung Panutup        : KPK BMGJ 86: 1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh (Hijau)

KELUARGA YANG CANTIK BATIN DAN CANTIK PERILAKU

 

Bacaan I Imamat 19:1-2, 15-18, Tangapan: Mazmur 1

Bacaan II I Tesalonika 2:1-8, Bacaan III: Injil  Matius 22:34-46

 

Tujuan

Keluarga-keluarga Kristen terdorong untuk memiliki citra/gambar diri positif sehingga mampu mencintai sesama dengan tulus hati

v   Dasar Pemikiran

Mencintai sesama seperti diri sendiri terwujud saat kita memiliki citra diri positif. Perenungan mendalam akan sabda Tuhan mendorong kita memiliki citra diri positif serta menolong untuk menemukan caranya. Bersekutu intim dengan Tuhan dan mencintai titah-Nya adalah awal dari penemuan itu, sekaligus daya yang mengabadikannya.

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Imamat 19: 1-2, 15-18

Allah yang kudus menghendaki Israel hidup kudus, yang berarti memiliki keelokan batin (inner beauty) yang nyata dalam sikap etis yang baik kepada sesama. Hal itu terwujud dengan memandang positif insan sebangsa maupun orang asing (ay. 34), mencintai sesama bahkan saat disakiti, mengikis dendam dan benci, tidak membalas kejahatan, bersikap terbuka kepada sesama seraya mengupayakan kesepakatan damai, bersikap adil dan menghakimi dengan obyektif, berpatok pada kebenaran.

Mazmur 1

Kedalaman relasi pemazmur dengan Allah menggairahkannya untuk mencintai titah Allah dan memegangnya teguh (commitment of spirituality). Allah memurnikan hati dan memampukannya melakukan yang benar di mata-Nya. Meski di tengah tekanan dan celaan orang-orang fasik, Allah membuatnya mampu melakoni hidup jujur dan terpuji (commitment of morality), bertolak belakang dengan laku hidup orang fasik. Itulah bahagia sejati, bukan karena melimpahnya harta dunia.

 

I Tesalonika 2: 1-8

Rasul Paulus meyakinkan jemaat Tesalonika akan ketulusan pemberitaan Injil yang dilakukannya bersama rekan-rekannya. Mereka sungguh-sungguh mencintai dan mengayomi jemaat yang sedang berjuang menghadapi para penyesat. Rasul Paulus bukan hanya berbagi berita Injil, tetapi juga hidup. Pada saat sama-sama tertekan, mereka mampu saling menolong dan menguatkan (lih. Kis. 16:1-9). Itulah otentisitas hidup dalam cinta di mana mereka saling menopang dengan tulus.

Injil Matius 22: 34-46

Yesus memberi tuntunan untuk mempraktekkan mencinta sesama: seperti mencintai diri sendiri. Artinya, seperti umat memperlakukan diri sendiri, seperti itulah umat memperlakukan sesama. Oleh karena itu, umat perlu terlebih dulu memiliki citra diri (self-image) positif terhadap diri: memandang dan memperlakukan diri secara positif. Dengan demikian umat akan mampu mencintai sesama dengan baik. Namun bila citra diri buruk, buruk pula umat memperlakukan sesama.

Renungan atas Bacaan

Allah ingin agar keluarga Kristen memancarkan kasih kepada sekitar. Namun sungguh prihatin bila kita mendengar banyak keluarga Kristen yang laku hidupnya tidak menjadi berkat, tetapi malah menjadi batu sandungan di tengah masyarakat. Contohnya antara lain adalah pertengkaran antar anggota keluarga, perselisihan dengan tetangga, kinerja buruk dalam dunia kerja, hidup eksklusif dan tidak membaur serta larut dalam arus perilaku molimo: main, maling, mendem, madat lan madon. Hal demikian menjadikan citra keluarga Kristen buruk. Jika orang percaya tidak mampu merawat tubuh, mengolah batin, mengelola kebiasaan, waktu, keluarga, pekerjaan, dan relasinya, bagaimana mampu menunjukkan perhatian kepada sesama? Jika orang percaya tidak mampu mencintai komunitas internalnya, bagaimana bisa menjadi berkat bagi masyarakat?

Citra seperti apa yang seharusnya dibangun? Bagaimana cara memperbaiki citra yang rusak?

Refleksi terhadap bacaan Imamat dan I Tesalonika menyadarkan kita bahwa keluarga Kristen harus memiliki gambar diri positif: cantik batin dan cantik laku. Tulus dan terbuka dalam berelasi, sabar dan mengampuni orang yang menyakiti, rela dan ikhlas menopang sesama, serta tegas dan adil dalam menyatakan kebenaran. Otentik dari kejujuran hati dan tidak munafik, itulah motif yang mesti dipupuk.

Pemazmur mengajak kita untuk mulai dari cinta Allah. Membangun relasi intim dengan menyukai titah-Nya. Seperti akar pohon yang terus mendapat asupan makanan dari air sungai di tepinya, demikianlah orang percaya akan mampu berakar kuat pada titah-Nya. Seperti pohon yang terus mengeluarkan buah, demikianlah orang percaya akan memancarkan kecantikan batin dan laku hidup terpuji. Hanya dengan cinta Allah kita mampu cintai sesama.

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Mencintai sesama seperti diri sendiri dimulai dengan memiliki citra diri positif. Imamat menunjukkan citra diri positif yang harus dibangun. Rasul Paulus dan jemaat Tesalonika mewujudkannya dengan saling menopang dalam kesulitan. Bagi pemazmur, cantik laku dan batin dimulai dari cinta Allah. Cinta sesama tidak bisa dipisahkan dari cinta Allah.

Pokok dan Arah Pewartaan

Agar mampu mencintai sesama secara tulus dan otentik, citra diri positif perlu dipupuk. Persekutuan intim dengan Allah dan kecintaan pada titah-Nya memurnikan batin dan memampukan kita hidup kudus.

v   Khotbah Jangkep

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

M

ari kita simak dua cerita di bawah ini.

Bu Arif dan Bu Prihatin bersahabat. Suatu ketika Bu Prihatin mengeluh tentang keluarganya. Ia sedih karena setelah suaminya meninggal, keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Ia juga harus berperan sebagai kepala keluarga yang menopang kedua anaknya. Ia berjualan kue mengitari kampung, tetapi hasilnya tidak seberapa. Ia merasa sebagai orang paling malang sedunia. Ketika mendengar khotbah tentang mengasihi sesama, ia bertanya merasa tidak mungkin melakukannya karena keluarganya sendiri berada dalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Ia memohon saran Bu Arif agar keluarganya tidak selalu diterpa kesusahan. Bu Arif menyarankan untuk membawa sekantong kecil beras dan mendatangi setiap rumah, menanyakan ada tidaknya anggota keluarga di rumah tersebut yang tidak sedang mempunyai masalah. Jika ada, Bu Prihatin bisa memberikan sekantong kecil beras tersebut kepada orang itu. Bu Prihatin heran dan menanyakan maksudnya. Bu Arif hanya tersenyum dan mendorong Bu Prihatin untuk mencobanya. Akhirnya pergilah Bu Prihatin dari rumah ke rumah dan melakukan hal yang disarankan Bu Arif. Apa yang terjadi kemudian? Bu Prihatin kembali ke rumah Bu Arif dengan masih membawa sekantong kecil beras.

Pak Pongah selalu bicara panjang lebar dalam PA. Ia ingin orang lain mengakui bahwa ia pintar. Jika ada orang muda yang mengritisi pendapatnya, ia marah dan mendendam. Bahkan ia berusaha mencari cara untuk mempermalukan orang itu. Ia menghasut orang-orang dengan menyebarkan isu bahwa orang itu banyak hutang dan keluarganya tidak harmonis. Suatu ketika, saat ada PA yang bertema mengasihi sesama, Pak Pongah berpendapat bahwa mengasihi sesama berarti harus mendidik orang muda agar hormat dan mau belajar dari yang lebih tua, lebih tahu, dan lebih berpengalaman. Orang muda harus ditegur agar tidak nglunjak dengan mendebat pendapat orang yang lebih tua.

Bagaimana pendapat saudara tentang Bu Prihatin dan Pak Pongah? Apa yang menyebabkan mereka sulit mengasihi sesama? Mereka memiliki citra diri negatif. Bu Prihatin memandang dan memperlakukan dirinya sebagai orang susah dan perlu ditolong (inferior self-image). Pak Pongah memandang dan memperlakukan dirinya sebagai orang hebat yang mesti dipatuhi semua orang (superior self-image). Orientasi mereka hanya pada kebutuhan dan kepentingan diri (self-oriented). Akibatnya, mereka sulit membuka hati untuk memperhatikan orang lain.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Supaya bisa mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri, kita perlu terlebih dulu memandang dan memperlakukan diri dengan kasih. Kita perlu memiliki citra diri (self-image) positif. Dalam Imamat 19:1-2,15-18, Allah menunjukkan citra diri yang harus dipupuk umat Israel. Allah ingin umat terus menginternalisasikan dalam hatinya bahwa mereka adalah umat yang harus hidup kudus, yang diwujudkan dalam kebaikan hati dengan memandang positif sesama umat Israel maupun orang asing (ay. 34), bahkan juga siapapun yang menyakiti perasaan.

Dalam konteks keluarga dan pergaulan, umat harus menampakkan kebaikan hati itu. Umat harus belajar mengikis rasa dendam dan benci kepada sesama yang menyakiti hati. Umat harus belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Daripada di belakang menyebar fitnah dan melakukan pembunuhan karakter, lebih baik bersikap jujur dan terbuka untuk menyelesaikan perselisihan dan mengupayakan damai. Gentle dan ksatria. Umat harus belajar sabar dan mau memaafkan. Dalam konteks dunia peradilan, para penegak hukum harus mengadili dengan obyektivitas tinggi dan berpatok pada kebenaran, teguh pada prinsip, tidak bisa dipengaruhi siapapun, dan berani menghadapi resiko apapun demi kebenaran.

Itu semua adalah ekspresi dari citra diri umat Israel: umat kudus yang cantik batin dan lakunya.

Perilaku cantik terhadap sesama juga dinampakkan Rasul Paulus, rekan-rekan sepelayanannya, dan jemaat di Tesalonika. Kisah Para Rasul 16:1-9 menceritakan Rasul Paulus yang dituduh oleh para penyesat sebagai pengacau yang ingin mengambil keuntungan saat mengabarkan Injil. Inilah upaya pembunuhan karakter terhadap Rasul Paulus. Dalam suratnya, Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada motif uang atau ketenaran dalam memberitakan Injil. Penyelamatan oleh jemaat Tesalonika terhadap dirinya dari kejaran para penyesat, menggairahkan Rasul Paulus untuk berbagi hidup dengan jemaat. Kasih sayang yang tulus dan otentik mewarnai relasi Rasul Paulus dengan jemaat Tesalonika.

Refleksi di atas menolong kita untuk memahami bahwa citra diri bukan sekadar kemasan luar tanpa isi. Banyak orang membangun citra diri positif dengan pura-pura bersikap santun dan membantu orang lain, tetapi hatinya munafik. Motif popularitas, harta, dan kekuasaan menodai perilakunya. Umat Israel dan Rasul Paulus meneladankan sikap etis yang tulus, jujur, terbuka, dan otentik terhadap sesama, tanpa kemunafikan atau agenda tersembunyi di baliknya. Benar-benar tumbuh dari dalam hati dan muncul keluar dalam sikap nyata. Jadi benar-benar cantik batin dan cantik laku.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Pertanyaan yang mendasar adalah: Bagaimana caranya memiliki citra diri positif, cantik batin dan cantik laku? Citra diri positif tidak cukup dibangun dengan cara memikirkan dalam hati dan memunculkan dalam kata. Misalnya, ”Oh, kalau begitu aku harus berpikir terus-menerus bahwa aku adalah orang baik dan penolong. Dan aku harus menunjukkannya dalam sikap nyata.” Ini memang usaha yang baik. Para bijak yang sering muncul di TV juga menyarankan cara berpikir positif seperti itu agar citra diri kita positif dan mempengaruhi perilaku kita menjadi positif. Namun acapkali pondasinya rentan dan lemah. Ketika menerima perlakuan buruk dari orang lain kita tetap terbawa emosi, tersinggung, dan ingin membalas perlakuan itu.

Pemazmur membuka mata kita bahwa pondasi harus dibangun kuat melalui kedalaman relasi dengan Allah-sumber kekuatan-serta mencintai titah-Nya sebagai pegangan laku hidup. Laksana pohon yang terus mendapat asupan makanan dari air sungai, demikanlah pemazmur mendapat asupan titah dan kekuatan untuk melakukannya. Meski pemazmur dikelilingi orang-orang fasik yang mencelanya, tetapi Allah memampukannya untuk tidak memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukannya. Allah menjaga hatinya tetap tulus dan lembut. Dan bagi pemazmur, di situlah letak bahagia sejati.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Milikilah citra diri positif, agar kita memperlakukan sesama positif,

Gemakanlah terus bahwa hati dan laku kita harus cantik,

Mendekatlah pada Allah dan cintailah titahNya,

Karena hanya dengan kekuatanNya,

kita mampu memperlakukan sesama dengan cantik.

Mengakhiri khotbah, mari kita renungkan bersama puisi ini:

Di jalan aku melihat seorang gadis kecil

kedinginan dan menggigil dalam pakaiannya yang tipis,

dengan sedikit berharap akan makanan yang cukup.

Aku marah dan berkata kepada Tuhan:

’Mengapa Kau mengizinkan hal seperti ini?’

’Mengapa Kau tidak melakukan sesuatu?’

Untuk beberapa saat Allah diam.

Namun malam itu, tiba-tiba Dia menjawab:

‘Aku pasti melakukan sesuatu.

Aku menciptakan engkau.’

(Chicken Soup for The Christian Soul 2)

Selamat mencinta. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       : 1 Petrus 1: 18-19

Petunjuk Hidup Baru : 1 Petrus 3: 15-17

Dasar Persembahan : Ibrani 13: 15-16

v   Rancangan Nyanyian Ibadah:

Nyanyian Pembukaan            : KJ. 448: 1-4

Nyanyian Penyesalan : KJ. 467: 1-3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ. 434: 1-2

Nyanyian Persembahan         : KJ. 450: 1-4

Nyanyian Penutup    : KJ. 424: 1-3

Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Tigang Dasa (Ijo)

BRAYAT INGKANG MUJUDAKEN KAELOKANING GESANG

Waosan I: Kaimaman 19: 1-2, 15-18; Tanggapan: Jabur I;

Waosan II: 1 Tesalonika 2: 1-8; Waosan III: Injil Mateus 22: 34-46

 

Tujuan :

Brayatipun tiyang Kristen nggadhahi gambaran dhiri ingkang sae satemah kasagedna mujudaken katresnan dhateng sesami kanthi tulusing manah

 

 

v   Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih,

S

umangga kula aturi raos-raosaken cariyos ing ngandhap punika:

Bu Arif lan Bu Prihatin sampun dangu kekancan sae. Ing sawijining dinten, Bu Prihatin sesambat babagan kawontenan brayatipun ingkang nembe ngalami kesrakatan. Sasampunipun Pak Prihatin seda, piyambakipun kedah nyanggi kabetahaning brayat, kalebet lare-larenipun. Piyambakipun sadeyan roti ing dhusunipun nanging asilipun namung sakedhik. Piyambakipun rumaos minangka tiyang ingkang langkung rekaos tinimbang sedaya tiyang sanes ing alam donya. Nalika mirengaken kotbah babagan “Nresnani Sesami”, piyambakipun nggresula: “Apa mungkin aku bisa nindakake, wong aku dhewe nandhang kesusahan?” Piyambakipun lajeng nyuwun seserepan saking Bu Arif supados brayatipun saged uwal saking kasangsaran. Bu Arif ngaturi supados mbekta beras setunggal kanthong alit lan nyowani saben griya ing dhusunipun saperlu nyuwun pirsa punapa wonten tiyang ing griya-griya punika, ingkang saweg boten ngadhepi prakawis. Bu Prihatin radi bingung. Nanging Bu Arif namung mesem lan nyurung Bu Prihatin supados nyobi nindakaken. Ing salajengipun, Bu Prihatin nyowani saben griya lan nindakaken punapa ingkang dados pitedahipun Bu Arif wau. Punapa ingkang kedadosan ing salajengipun? Bu Prihatin wangsul malih dhateng griyanipun Bu Arif kanthi taksih mbekta berasipun!

Pak Pongah asring ngendikan kathah-kathah wonten ing PA-PA. Piyambakipun kepingin supados ketingal wasis. Menawi wonten tiyang anem ingkang beda pamanggih kaliyan piyambakipun, piyambakipun lajeng duka lan serik dhateng tiyang anem wau. Malah piyambakipun mbudidaya supados saged mirangaken tiyang anem wau. Piyambakipun nyebar warta dhateng tiyang-tiyang bilih tiyang anem wau utangipun kathah lan ing satengahing brayat tansah regejegan. Nalika wonten PA babagan “Nresnani Sesami”, Pak Pongah ngendikan bilih nresnani sesami punika kedah kawujudaken kanthi ndhidhik tiyang-tiyang anem supados ngajeni lan nggadahi suba-sita dhumateng para sepuh lan tiyang-tiyang ingkang langkung wasis. Miturut piyambakipun, boten prayogi menawi tiyang nem nyanggah pamanggihipun para sepuh!

Kados pundi pemanggih Pasamuwan tumrap tindak tandukipun Bu Prihatin lan Pak Pongah? Punapa ingkang ndadosaken Bu Prihatin lan Pak Pongah kangelan nresnani sesami? Wangsulanipun: awit tiyang kekalih wau nggadahi gambaran dhiri ingkang kirang sae! Bu Prihatin nggambaraken dhirinipun minangka ‘tiyang ingkang tansah sisah.’ Pak Pongah nggambaraken dhirinipun minangka ‘tiyang ingkang langkung wasis lan kedah dipun ajeni.’ Ingkang dipun tengenaken namung kabetahan lan kapentinganipun piyambak! Tembenipun, tiyang kekalih wau kangelan migatosaken tiyang sanes!

Pasamuwan ingkang kinasih,

Supados kita saged nresnani sesami kadosdene kita nresnani diri kita piyambak, kita kedah nggadahi gambaran dhiri ingkang sae. Wonten Kaimaman 19: 1-2, 15-18, Gusti Allah nedahaken gambaran dhiri ingkang kedah dipun-gadhahi tiyang Israel. Gusti Allah ngersakaken bangsa Israel supados nggambaraken dhiri minangka ‘bangsa ingkang suci, ingkang nggadahi manah lan tumindak sae dhateng sesami, kalebet dhateng bangsa sanes (ay, 34), ugi kalebet dhateng sedaya tiyang ingkang moyoki bangsa Israel!’  

Wonten satengahing gesang bebrayatan lan ing satengahing masyarakat, bangsa Israel kedah mbudidaya ngicalaken raos serik dhateng tiyang ingkang moyoki. Bangsa Israel boten pikantuk males piala kanthi piala! Tinimbang reraosan ing wingking lan nyebar fitnah, langkung prayogi menawi ngudhar raosing manah kanthi jujur lan tinarbuka sarta ngrampungaken prakawis kanthi aben ajengan kaliyan tiyang wau. Kanthi makaten, gesang tentrem rahayu saged kawujudaken! Bangsa Israel kedah sinau supados saged ngapunteni kalepataning tiyang sanes! Tumraping para hakim, Gusti Allah ngersakaken supados para hakim saged mutusaken prakawis kanthi adil, titis, lan boten kapilut dening pambujuking tiyang-tiyang ingkang saweg nggadhahi prakawis ing pengadilan.

Sedaya punika minangka wujuding gambaran dhiri tiyang Israel: ‘bangsa ingkang suci, elok budinipun lan elok tumindakipun!’

Paulus – sinarengan para mitranipun – lan pasamuwan ing Tesalonika ugi mujudaken kaelokaning gesang. Nalika martosaken Injil ing Tesalonika (kacariyosaken ing Lelakone Para Rasul 16: 1-9), Paulus kadakwa damel rerusuh lan ngudi kauntungan dening tiyang-tiyang ingkang serik dhateng pawartosing Injil. Mila wonten ing seratipun, Paulus negesaken bilih piyambakipun boten nggadhahi pangangkah ngudi rajabrana utawi pamujining tiyang sanes nalika martosaken Injil! Paulus rumaos bingah nalika pasamuwan ing Tesalonika pitados dhateng Paulus lan nulungi piyambakipun satemah saged kauwalaken saking pamoyoking tiyang-tiyang ingkang serik wau! Punika ingkang sangsaya ndadosaken Paulus kepingin sesambetan kaliyan pasamuwan kanthi raket lan kanthi tulusing manah, sami tulung tinulung ing bot-repot! Katresnan ingkang sayektos tuwuh ing antawisipun Paulus lan pasamuwan!

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Sangsaya cetha kangge kita  bilih gambaran dhiri punika boten namung ketingal sae ing njawi nanging tanpa isi! Kathah tiyang ingkang ngetingalaken gambaran diri minangka tiyang alus lan remen tetulung, nanging sejatosipun namung lamis. Ingkang dipun-angkah inggih punika pamuji saking tiyang sanes, rajabrana lan kadrajadan! Paulus lan bangsa Israel paring tuladha kadospundi nresnani sesami kanthi jujur lan tulusing manah, tanpa lamis! Anamung mijil saking lebeting manah lan kelair kanthi tumindak nyata! Saestu mujudaken kaelokaning gesang!

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Bok menawi ingkang dados pitakenan ing manah kita inggih punika: kadospundi patrapipun supados nggadahi gambaran dhiri ingkang sae, elok ing budi lan elok ing tumindak? Boten cekap menawi namung kandheg ing pamikir lan kaucap ing lathi. Contonipun: “Oh, yen ngono aku kudu tansah mikirake yen aku ki wong apik lan seneng tetulung. Lan aku kudu mujudake kanthi tumindak nyata.” Punika pancen pambudidaya ingkang sae! Tiyang-tiyang ingkang wicaksana ing TV asring paring seserepan supados kita nggadahi pikiran sae supados gambaran diri kita sae satemah tindak tanduk kita ugi sae! Namung menawi cekap makaten kemawon, pondhasinipun ringkih! Nalika dipun-poyoki utawi dipun-patrapi siya-siya dening tiyang sanes, kita asring lajeng nepsu, emosi, lan nggadahhi pepinginan males tumindakipun tiyang kadosdene ingkang kita sampun katandukaken dening tiyang sanes dhateng kita!

Juru Mazmur mulang muruk dhateng kita bilih pondhasi kaelokaning gesang kedah dipun-bangun kanthi sesambetan ingkang raket kaliyan Gusti Allah sarta nresnani titahipun Gusti. Kadosdene wit-witan ingkang wonten ing sapinggiring toya ingkang tansah kaparingan tetedhan saking toya punika, makaten ugi Juru Mazmur pinaringan sabdaning Gusti lan kasagedaken nindakaken pangandikanipun. Sinaosa piyambakipun dipun-poyoki dening tiyang duraka, nanging Gusti Allah ngiyataken piyambakipun supados boten males tumindakipun tiyang-tiyang wau kadosdene ingkang dipun-tampeni Juru Mazmur! Gusti Allah njageni supados manahipun tansah tulus lan tansah luhur budinipun! Lan, kangge Juru Mazmur, gesang ingkang kados makaten punika ingkang kasebat rahayu ingkang sejatos!

Para sedherek,

Sumangga kita nggadhahi gambaran dhiri ingkang sae

supados kita ugi saged tumindak sae dhateng sesami,

Sumangga tansah kita lairaken ing manah kita bilih manah lan tindak tanduk kita kedah elok,

Sumangga ngraketaken sesambetan kita kaliyan Gusti Allah lan nresnani titahipun Gusti,

Namung awit saking kekiyatanipun Gusti, kita kasagedaken nresnani sesami kanthi elok

Wasana, sumangga kita sami nggegilut geguritan ing ngandhap punika:

“Neng dalan aku weruh kenya alit

Kadhemen njedhindhil awit klambine kang tipis,

Ngarep-arep sethithik panganan lan omben.

Aku matur dhumateng Gusti:

“Kenging punapa Paduka mendel kemawon?

Kenging punapa Paduka boten tumindak punapa-punapa?”

Sawetara Gusti mendel.

Nanging ing wayah wengi, dumadakan Gusti mangsuli:

‘Aku uwis tumindak.’

Aku nitahake sira.”

(Kapendhet lan kasalin basanipun saking buku Chiken Soup for The Christian Soul 2)

Sugeng nresnani sesami.

Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih rahmat    : 1 Petrus 1: 18-19

Pitedhah Gesang Anyar                     : 1 Petrus 3: 15-17

Pangataking Pisungsung                    : Ibrani 13: 15-16

 

v   Rancanganing Kidung Pamuji:

Kidung Pamuji             :  KPK. 25: 1, 3

Kidung Panelangsa     : KPK. BMGJ. 50: 1-2

Kidung Kesanggeman            : KPK. BMGJ. 165: 1, 4-5

Kidung Pisungsung      : KPK. BMGJ. 185: 1-3

Kidung Panutup           : KPK. BMGJ. 304: 1-3

 

Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh Satu (Hijau)

KELUARGA YANG MENGHADIRKAN PEMIMPIN SEJATI

Bacaan I: Mikha 3:5-12; Tanggapan: Mazmur 43;

Bacaan II: I Tesalonika 2:9-13; Bacaan III: Injil Matius 23:1-12

v   Dasar Pemikiran

Dunia ini membutuhkan pemimpin sejati. Sudah terlalu banyak sosok pemimpin yang hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya-bahkan malah menindas orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan sejati bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan hadir melalui proses pembentukan. Keluargalah wadah yang tepat untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati.

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Mikha 3:5-12

Nabi Mikha menubuatkan peringatan Tuhan kepada para nabi yang korup dan pemimpin umat yang lalim. Tuhan akan mempermalukan para pemimpin yang menipu dan menindas umat demi mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tuhan akan meninggalkan pemimpin-pemimpin yang seperti itu, dan akan membiarkan mereka mengalami kegagalan.

Mazmur 43

Mazmur ini menggambarkan doa seorang yang mengalami kesesakan akibat penindasan, ketidakadilan, penipuan, dan kecurangan yang menimpanya. Di tengah kesesakannya yang dialaminya itu, ia mengharapkan kasih setia Tuhan mewujud untuk menuntun dan membawanya ke tempat kediaman Tuhan, menyatakan sukacita dan syukurnya.

I Tesalonika 2:9-13

Kesaksian Rasul Paulus tentang pelayanannya bukanlah untuk menyombongkan diri. Kendati pun memang Paulus bekerja keras menghidupi diri sekaligus membiayai pelayanannya, namun ia menyatakan kesalehan dan ketekunannya itu sebagai cara memberi teladan dan memotivasi umat untuk hidup sesuai kehendak Allah. Ia berharap, apa yang diajarkannya dapat diterima sebagai firman Allah.

Injil Matius 23:1-12

Kendati Yesus mengakui otoritas para ahli Taurat dan orang Farisi (“kursi Musa”), namun Ia menyadari, perilaku mereka tak bisa diteladani. Jadi, jalan keluar yang cerdaslah yang Yesus tawarkan: turuti ajarannya, tapi jangan contoh kelakuannya. Bagi Yesus, kepemimpinan bukanlah soal memerintah atau menguasai, melainkan keteladanan. Lebih jauh, Yesus menganjurkan hubungan kesetaraan (relasi egaliter) di antara para pengikut-Nya – layaknya sebuah keluarga. Pemimpin sejati adalah yang mau melayani.

Renungan Atas Bacaan

Siapa sih yang mau dipimpin oleh seorang yang bisanya hanya memerintah ini dan itu? Apalagi kalau yang diberi wewenang untuk memimpin itu hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya sendiri.

Nabi Mikha merasakan situasi yang tidak beres terjadi di tengah umat: para penguasa dan imam hanya mau bekerja dan mengajar kalau ada bayarannya. Bahkan para nabi menyampaikan pesan yang baik-baik hanya kepada mereka yang mau memberi imbalan. Atas pemimpin korup, menipu, dan menindas seperti itu, Nabi menyampaikan peringatan bahwa Tuhan takkan tinggal diam. Para pemimpin yang menipu umat akan dipermalukan, bahkan akan ditinggalkan Tuhan.

Kepemimpinan memiliki dua sisi yang sama penting: ajaran dan teladan. Keduanya harus sinkron. Kalau ajarannya bagus, tapi orang yang mengajarkan tak menunjukkan hidup baik sesuai apa yang diajarkannya, apakah pemimpin seperti itu bisa diteladani? Ajarannya sih boleh diamini dan dituruti, tapi sosok pemimpin seperti itu ya jangan ditiru. Pemimpin yang benar adalah yang tidak mengejar pujian, sanjungan, atau jabatan, melainkan yang mau melayani dan menjadi saudara. Sebagaimana Rasul Paulus, kendati pun hidupnya saleh dan tekun tak bercela, ia tak ingin dipandang sebagai pemimpin atau penguasa. Malahan, ia menerima umat sebagai keluarganya – sebagai anak-anaknya sendiri.

Bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah ada suasana saling melayani satu sama lain? Bukankah sebagai orang tua, sebagai pemimpin, kita justru harus lebih dulu melayani anak-anak kita? Dengan demikian, mereka akan meneladani sikap kita, hingga kelak bisa menjadi pemimpin yang baik di tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakatnya.

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Pemimpin adalah pelayan dan teladan, itulah ajaran Yesus. Orang yang disebut pemimpin  tapi tak mau melayani, atau hanya mau melayani kalau ada imbalannya, seperti kritik Nabi Mikha, bukanlah pemimpin sejati. Sosok Rasul Paulus yang mandiri, saleh, dan tekun adalah sosok pemimpin yang baik, kendati ia lebih suka disebut sebagai ‘bapa’.

Pokok dan Arah Pewartaan

Keluarga Kristen senantiasa menganut nilai-nilai kasih, keteladanan, dan pelayanan tanpa pamrih. Dengan demikian, sesungguhnya keluarga adalah wadah ideal untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati.

v   Khotbah Jangkep

Saudara-saudara terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

D

alam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar istilah “jarkoni” – kependekan dari “bisa ujar, nanging ora bisa nglakoni”. Bisa mengajarkan, tetapi tidak bisa menjalankan. Istilah ini biasanya muncul dalam obrolan kita tentang sosok orang yang senang memberikan nasehat atau pengajaran yang baik dan mulia, namun dalam kenyataan, hidupnya sendiri jauh dari apa yang dinasehatkan atau diajarkannya itu.

Apabila seorang yang mendapat predikat “jarkoni” itu menjadi seorang pemimpin, dapat diduga bahwa ia akan menjadi pemimpin yang senang memberi instruksi atau perintah, namun tak pandai menjalankan apa yang diinstruksikan atau diperintahkannya sendiri. Biasanya, pemimpin seperti itu malahan hanya akan menimbulkan kesusahan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jika ini terjadi di kantor, staf atau bawahannya akan merasa tertekan, karena mereka sering disuruh ini-itu, atau dilarang ini-itu, tapi sang pemimpin sendiri tidak melakukan atau mematuhi perintah dan larangannya.

Jemaat Tuhan yang terkasih,

Pada zaman Nabi Mikha, ada situasi yang sangat memprihatinkan terjadi di tengah-tengah umat. Para pemimpin berlaku tidak adil dan memutarbalikkan kebenaran demi mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. Digambarkan oleh Mikha, para imam hanya mau memberikan pengajaran, kalau ada imbalan atau bayarannya. Para nabi merekayasa nubuatan mereka-yang baik-baik disampaikan kepada yang bisa memberi uang, sementara yang jelek-jelek diberikan kepada mereka yang tidak mampu memberi imbalan.

Bisa dibayangkan, betapa kacaunya kehidupan keimanan umat Tuhan saat itu. Umat merasa diperlakukan tidak adil, dicurangi, dan ditindas. Mereka merasa tak berdaya, dan hanya dapat mengharapkan pertolongan dan kasih setia Tuhan. Atas kondisi kepemimpinan yang carut marut seperti itu, Nabi Mikha memberikan peringatan keras. Tuhan tidak akan tinggal diam. Para pemimpin yang korup dan menindas umat akan dipermalukan, bahkan akan ditinggalkan oleh Tuhan dan oleh umat.

Bukan tanpa alasan kalau umat meninggalkan pemimpin yang tak mampu menjadi teladan. Yesus sendiri mengajarkan bahwa antara ajaran dengan keteladanan adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Itulah sebabnya Yesus memperingatkan para murid tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Meskipun apa yang mereka ajarkan baik, namun itu semua tidaklah berguna kalau tidak diwujudkan dalam teladan hidup yang baik. Bahkan, Yesus mengkritik keras para pemimpin agama itu, yang suka mencari sanjungan dan pujian dengan memamerkan hal-hal lahiriah seperti pakaian sembahyang dan sebutan “rabi” atau “guru”.

Lebih jauh, Yesus mengajarkan bahwa suasana yang perlu dibangun di tengah kehidupan umat adalah suasana kekeluargaan dan persaudaraan, di mana ada kerendahan hati dan kesediaan untuk saling melayani. Dalam suasana seperti itulah kepemimpinan hadir melalui keteladanan. Siapa yang paling ikhlas melayani sesamanya, dialah yang layak disebut pemimpin.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasul Paulus kepada umat di kota Tesalonika. Rasul Paulus menyampaikan secara gamblang bahwa sebagai rasul, ia tak mengharapkan imbalan bagi pelayanan atau pengajarannya. Bahkan, walaupun ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan pribadi dan kebutuhan pelayanannya, sama sekali Paulus tak berharap untuk dipandang sebagai seorang pemimpin. Ia lebih suka memanggil umat Tuhan sebagai “saudara”. Bahkan Paulus lebih suka menyebut umat di kota Tesalonika sebagai anak-anaknya. Sebagai satu keluarga. Keluarga Tuhan!

Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Tuhan,

Tidak ada yang lebih kita dambakan dalam kehidupan masyarakat maupun persekutuan kita, selain memiliki pemimpin yang sejati. Pemimpin yang memberikan ajaran-ajaran yang baik, dan di saat yang sama juga menampilkan kehidupan sehari-hari yang baik, yang bisa dicontoh atau diteladani.

Namun, kualitas pemimpin yang demikian bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui proses pendidikan dan pembinaan yang tidak mudah. Ini berarti, kalau seorang pemimpin diharapkan untuk selalu melayani sesamanya, ia harus terlebih dulu terbiasa hidup dalam situasi dan kondisi di mana orang-orang saling melayani. Kalau seorang pemimpin diharapkan untuk bisa menjadi teladan, maka itu berarti ia pun perlu dibesarkan dalam suasana di mana orang-orang saling memberi teladan satu sama lain.

Saudaraku, kalau Yesus mengajarkan kita menjadi saudara satu sama lain, dan Rasul Paulus pun memberikan teladan kepemimpinan dengan menjadi bapak bagi umat di Tesalonika, saya kira kita bisa menyimpulkan, bahwa tak ada wadah lain yang lebih tepat untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati, selain keluarga. Dalam keluarga, khususnya keluarga Kristen, setiap anggota keluarga diajar untuk selalu mengamalkan nilai-nilai kasih, keteladanan, dan pelayanan tanpa pamrih: istri melayani suami dengan penuh kasih sayang, suami melindungi istri dengan sepenuh hati, anak pun dibiasakan untuk hormat, patuh, dan melayani kedua orang tuanya dengan penuh kerelaan dan sukacita.

Dalam hal keteladanan, sebagai pemimpin keluarga, ayah dan ibu hendaknya senantiasa memberikan pengajaran dan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Jangan sampai sebagai orang tua kita justru memberi contoh buruk, atau mengatakan kepada anak kita, “Le, aja melu-melu bapak-ibumu iki, bapak-ibumu ora isa dadi tulada.” Dalam keluarga, tidak bisa tidak, anak belajar dari perilaku orang tuanya. Ketika orang tua memberikan contoh perilaku yang tidak baik, maka anak pasti akan menirunya. Sebaliknya, kalau ayah dan ibu memperlihatkan tutur kata, sikap, dan perilaku yang baik, sopan, dan penuh kemurahan hati, maka anak pun juga akan meneladaninya. Dan kebiasaan anak meneladani yang baik dari orang tuanya inilah yang akan membentuk karakternya menjadi pemimpin yang baik kelak di masa depan.

Bapak, Ibu, dan Saudaraku yang terkasih,

Dunia ini membutuhkan pemimpin sejati. Sudah terlalu banyak sosok pemimpin yang hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya – bahkan malah menindas orang yang dipimpinnya. Kita merindukan pemimpin yang rendah hati, mau melayani, dan yang kehidupan sehari-harinya bisa kita teladani. Namun demikian, kita menyadari bahwa kepemimpinan sejati bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui proses pendidikan dan pembinaan yang baik.

Keluarga Kristen memiliki potensi untuk menghadirkan sosok pemimpin yang sejati yang kita dambakan bersama. Nah, bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah ada suasana saling melayani satu sama lain? Sebagai suami-isteri dan sebagai orang tua, sudahkah panjenengan dan saya melayani pasangan dan anak-anak kita dengan baik? Sebagai orang tua, sudahkah tutur kata, sikap, dan perilaku kita sehari-hari bisa diteladani oleh anak-anak kita?

Saudaraku, mari membangun keluarga yang Tuhan kehendaki – di mana ada kerelaan untuk saling melayani, di mana ada komitmen untuk saling memberi teladan yang baik. Keluarga yang menghadirkan sosok pemimpin yang sejati. Tuhan pasti memampukan kita. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       : I Yohanes 1:7-9

Petunjuk Hidup Baru : I Petrus 5:2-4

Dasar Persembahan : I Yohanes 3:16-18

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan            : KJ 338:1-3

Nyanyian Pengakuan : KJ 467:1-3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ 466a:1,2,4

Nyanyian Persembahan         : KJ 365b:1-… (secukupnya)

Nyanyian Penutup    : KJ 451:1-2

Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Tigang Dasa Setunggal (Ijo)

BRAYAT INGKANG NGLAIRAKEN PEMIMPIN SEJATI

Waosan I: Mikha 3:5-12; Tanggapan: Jabur 43;

Waosan II: I Tesalonika 2:9-13; Waosan III: Injil Mateus 23:1-12

v   Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus,

W

onten ing pasrawungan, asring kita pireng tembung: “jarkoni” cekakan saking “bisa ujar ora bisa nglakoni”. Saged mulangaken nanging boten saged nindakaken. Tembung punika asring pianggih nalika wontening rerembagan ing bab tiyang ingkang remenipun suka pitutur utawi piwulang ingkang sae lan mulya, ananging ing kasunyatan, gesangipun piyambak tebih saking pitutur lan piwulangipun wau.

Manawi tiyang ingkang pikantuk sebatan “jarkoni” wau dados pemimpin, saged kininten bilih piyambakipun badhe dados pemimpin ingkang namung wasis nyukani pitedah, nanging piyambakipun boten wasis nglampahi punapa ingkang dipun tedahaken piyambak. Padatan tiyang ingkang makaten punika badhe ndhatengaken kasisahan piyambak tumraping tiyang ingkang dipun pimpin. Manawi punika kalampahan ing kantor, andhahanipun badhe rumaos kapeteg, jalaran piyambakipun asring dipun dadosaken kengkenan kangge nindakaken maneka warni utawi dipun awisi ing bab ingkang warni-warni, nanging pemimpinipun boten nglampahi lan netepi pranatan lan awisanipun.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Ing jamanipun nabi Mikha, wonten kaprihatosan ingkang sinanggi dening umat Israel. Para pamimpinipun tumindak boten adil lan ngingeraken kautamen namung kangge mbujeng dhateng kauntunganing dhiri pribadi. Dipun gambaraken dening nabi Mikha, para imam purun memulang manawi wonten pamrihipun. Para nabi ngrekadaya pameca, pawarta ingkang sae kapratelakaken dhateng ingkang saged nyukani arta, dene pawarta ingkang awon utawi boten sae kaparingaken kangge ingkang boten saged nyukani arta.

Saged dipun-raosaken kados pundi risakipun kapitadosan umat kala samanten. Umat kapatrapan tumindak boten adil, dipun damel tuna tuwin katindhes. Umat lajeng rumaos tanpa daya, umat namung ngandelaken dhateng pitulunganipun Gusti. Tumrap kawontenan ingkang boten nengsemaken wau, nabi Mikha paring pepenget kanthi keras. Gusti boten badhe mendel. Pamimpin ingkang boten adil lan nindhes badhe kadamel kucem, lan katilaraken dening Gusti lan umat.

Boten tanpa pawadan yen umat nilaraken pamimpin ingkang boten saged dados patuladhan. Gusti Yesus mulangaken bilih piwulang kaliyan patuladhan punika kadosdene arta keping ingkang gadhah sisih satunggal anempel ing satunggalipun. Inggih punika sababipun Gusti Yesus ngengetaken para sakabat ing bab para ahli Toret lan tiyang-tiyang Parisi. Sanadyan ingkang kawulangaken punika sae, nanging badhe tanpa gina manawi boten kababar ing patuladhan ingkang sae. Gusti nyaruwe kanthi tajem dhateng para pangagenging agami Yahudi wau, ingkang remen nampi pangalembana kanthi mameraken gebyar tata lair kados ta ngagem ageman pandonga lan remen sinebat “rabi” utawi “guru”

Linangkung saking punika, Gusti mulang bilih swasana ingkang prelu kawangun ing tengahing gesangipun umat inggih punika swasananing brayat lan pasedherekan, ing ngriku wonten andhap asoring manah lan silih-angladosi. Inggih ing swasana ingkang makaten punika, sesipataning pamimpin saged kalairaken lumantar patuladhanipun.  Sinten ingkang tuhu iklas ngladosi, inggih punika ingkang pantes dados pamimpinipun.

Patrap ingkang kados makaten punika ingkang kapratelakaken dening Rasul Paul dhateng pasamuwan ing Tesalonika. Rasul Paul nguningakaken kanthi gamblang bilih anggenipun madeg dados rasul boten ngudi dhateng pamrih. Dene manawi piyambakipun leladi kanthi tumemen kangge kabetahanipun piyambak lan pakaryaning paladosanipun, punika kemawon boten kepingin dipun anggep pamimpin. Piyambakipun langkung remen nyebat umatipun Gusti minangka sadherek, dene tumrap pasamuwan ing Tesalonika sinebat para anakipun. Minangka satunggal brayat, inggih punika brayatipun Gusti.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Boten wonten ingkang saged langkung saking kita sesuwun wonten ing masyarakat utawi patunggilan kita, kejawi ndarbeni pamimpin ingkang sejati. Pamimpin ingkang mulangaken piwulang sae, ananging inggih sesarengan kababar kanthi sae ing gesang padintenanipun, ingkang saged tinuladha

Ananging patraping pamimpin ingkang kados makaten punika sanes sesipatan ingkang kabekta saking wiwit lairipun, nanging pinangka satunggaling wewangnan ingkang kawangun lumantar wekdal, panggulawenthah inkang boten gampil. Punapa nelakaken bilih satunggaling pamimpin ingajab saged ngladosi sesaminipun. Piyambakipun pancen kedah sampun kulina gesang ing tengahing kawontenan ing pundi sadaya tiyang sami dene kulina silih-angladosi. Manawi satunggaling pamimpin dipun gegadhang saged dados patuladhan, punika ateges piyambakipun prelu dipun agengaken wonten ing swasana ing pundi para tiyangipu sami suka patuladhan.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Manawi Gusti Yesus mulang dhateng kita supados samidene nganggep sadherek ing antawis kita, tuwin Rasul Paul paring patuladhan menggahing pamimpin kanthi dados bapakipun pasamuwan ing Tesalonika, kinten kula kita saged mendhet sarinipun, bilih boten wonten wadhah sanesipun ingkang trep kangge mbabaraken papmimpin sejati, kejawi brayat.  Wonten ing brayat, mirungga brayat Kristen, saben warganing brayat tansah ginulang lan mbabaraken aosing katresnan, patuladhan, lan paladosan tanpa pamrih. Samidene leladi ing antawising warga brayat, para lare kulina asung pakurmat, mituhu lan ngladosi tiyang sepuhipun kanthi sukarena.

Ing babagan patuladhan, pinangka pamimpining brayat, bapa lan ibu prayoginipun tansah paring piwulang lan patuladhan ingkang sae kangge para putra. Sampun ngantos kalampahan kita tiyang sepuh paring tuladha ingkang awon, utawi ngendika dhateng anak: “Le, aja-melu-melu bapak-ibumu iki, bapak-ibumu ora bisa dadi tuladha.” Wonten ing brayat purun boten purun si anak badhe niru patrap pandamelipun tiyang sepuh. Nalika tiyang sepuh paring tuladha patrap ingkang boten sae, temtu si lare badhe makaten niru wontenipun. Kosok wangsulipun, manawi bapak ibu nelakaken kedaling lesan ing tutur pangandikan, patrap, solah bawa, sopan santun, mbabar manah ingkang adil paramarta,  lare badhe nulad. Pakulinanipun anak nulad ingkang prayogi saking tiyang sepuhipun punika ingkang badhe mangun patraping anak dados satunggaling pamimpin ingkang sae benjing ing wekdal ngajeng.

Bapak, Ibu, lan Para Sadherek ingkang kinasih,

Donya punika mbetahaken pamimpin sejati. Sampun kekathahen cakriking pamimpin ingkang namun saged dhawuh, ananging boten saged nindakaken punapa ingkang dipun-dhawuhaken, kepara nindhes tiyang ingkang dipun pimpin. Kita ngajeng-ajeng dhateng pamimpin ingkang andhap asor, purun ngladosi, lan ingkang ing gesang padintenanipun saged tinuladha. Sandyan makaten, kita nglenggana bilih pamimpin sejati boten jumedhul saking lairipun, ananging satunggaling lakuning gesang ingkang kawangun lumantar panggulawenthahing brayat ingkang sae.

Brayat Kristen, ndarbeni wewengan kangge nglairaken stunggaling pamimpin ingkang sejati ingkang dipun ajeng-ajeng dening akathah. Lah, lajeng kadospundi menggahing brayat kita? Punapa sampun wonten sikep samidene lados-linadosan ing antwaising satunggal lan satunggalipun? Minangka tiyang ingkang jejodhoan, minangka tiyang sepuh, punapa sampun kita babar patuladhan ingkang sae lan prayogi? Minangka tiyang sepuh punapa sampun kanthi pangandikan, patrap lan tumindak ing padintenan yekti saged tinuladha dneing para anka kita?

Pasamuwan ingkang kinasih,

Sumangga kita amangun brayat ingkang dipun kersakaken dening Gusti, ing pundi wonten raos rila kangge silih-angladosi, wonten tetangsulaning sedya badhe tansah samidene suka patuladhan ingkang sae. Inggih brayat ingkang sumanggem nyawisaken pamimpin ingkang sejati.

Gusti temtu nyagedaken kita. Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat              :

Pitedah Gesang Enggal                      :

Nats Pisungsung           :

v   Rancangan Kidung Pamuji :

Kidung Pambuka         : KPK

Kidung Panelangsa     : KPK

Kidung Kesanggeman            : KPK

Kidung Pisungsung      : KPK

Kidung Penutup           : KPK

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.