Pelayanan Profesional.com weblog

Khotbah Jangkep

Khotbah Jangkep

BULAN

Agustus – 2011

Daftar isi

Khotbah Jangkep Minggu, 7  Agustus  2011

Pekan Biasa Ke Sembilan Belas (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

BERFOKUS KEPADA TUHAN

Khotbah Jangkep Basa Jawa

eNering gesang anamung DHUMATENG  gUSTI

Oleh Pdt. Tanto Kristiono

Khotbah Jangkep Minggu, 14  Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Dua puluh

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

YESUS CINTA SEGALA BANGSA

Khotbah Jangkep Basa Jawa

Gusti YESUS TRESNA  sadaya BANGSA

Oleh Pdt. Kristi

Khotbah Jangkep Rabo, 17  Agustus 2011

Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Allah Sumber Pengharapan Segala Bangsa

Khotbah Jangkep Basa Jawa

Gusti Allah Punika tuking Pangajeng-ajeng sadaya Bangsa

Oleh Pdt. Raditiya Wisnu P

Khotbah Jangkep Minggu, 21  Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Dua puluh Satu (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Menjadi saksi mesias di tengah bangsa

Khotbah Jangkep Basa Jawa

GESANG MINANGKA SEKSINIPUN SANG MESIH ING SATENGAHING BANGSA

Oleh Pdt. Uri Christian Sakti Labeti

Khotbah Jangkep Minggu, 28  Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Dua

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

UJILAH AKU

Khotbah Jangkep Basa Jawa

Nampeni panetering jiwa

Oleh Pdt. Wahyu Nugroho

Khotbah Jangkep Minggu, 7 Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Sembilan Belas (Hijau)

Berfokus Kepada Tuhan

Bacaan I: I Raja-raja 19: 9-18; Tanggapan: Mazmur 85: 8 -14;

Bacaan II: Roma 10: 5 – 15; Bacaan III: Injil Matius 14:  22 – 33

Tujuan:

Jemaat memahami bahwa kehidupan yang dijalani meski penuh perjuangan, namun memiliki keberanian menjalaninya serta mengarahkan perhatiannya kepada Tuhan.

v   Dasar pemikiran:

Pengalaman batin yang kita miliki dibentuk dari realitas yang tidak sepi dari perjuangan hidup. Menjalani hidup berarti dengan keberanian menghadapi tantangan yang ada. Ada kalanya kita harus dibuat lelah, karena keadaan yang jujur dan manusiawi yang memang sebagaimana adanya membuat kelelahan, dan dengan tanggapan yang berbeda-beda. Ada yang berhasil mengatasi masalah namun ada juga yang gagal menghadapi masalah.

Ada hal yang tidak mungkin ditawar yakni manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa penyertaan  Tuhannya. Arah dan perhatian manusia dalam hidup ini tidak bagi dirinya sendiri,  akan tetapi bagi Tuhan Penciptanya. Dengan demikian, hidup yang dijalani manusia akan terasa lebih ringan.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan:

 

I Raja-raja 19: 9-18. Kembalilah ke jalanmu

Pengaruh Deuteronomis sangat terasa pada liputan perjuangan nabi Elia yang menjadi nabi agung pahlawan Allah, untuk memperjuangkan bangsa Israel agar tetap setia kepada Yahweh Allah mereka. Namun keagungan sang nabi disimpan dulu karena kita mau melihat liputan pelarian sang nabi seperti yang dituturkan oleh redaktor.

Setelah melintasi padang gurun Bersyeba dalam pelarian menghindari pembalasan dari Putri Izebel, nabi Elia sampailah pada sebuah gunung Horeb.  Di gunung itu, Elia bertemu dengan Tuhan Allah yang hadir di dalam angin sepoi-sepoi basa. Tidak di dalam gemuruh angin keras yang mampu memecahkan batu, atau dahsyatnya gempa dan api namun di dalam angin sepoi-sepoi basa, kondisi yang berlawanan dari sebelumnya, yang jika menurut pertimbangan manusia, Tuhan berada di dalam kedahsyatan itu, namun ternyata Tuhan berada di dalam angin sepoi-sepoi, angin yang tidak terasa kekuatannya. Dalam kondisi seperti itu Tuhan menyapa Elia dan memerintahkan Elia untuk kembali kepada umat Israel guna menata kehidupan sejarah Israel selanjutnya, apa yang diterima Elia ini berlawanan dengan niat hati Elia yang ingin mengakhiri hidupnya sewaktu berada di tengah gurun Bersyeba sembunyi dari pengejaran prajurit Izebel. Di gunung Horeb itu Elia justru menerima tugas besar dari Tuhan untuk kembali kepada panggilannya guna mempersiapkan kehidupan Israel di masa mendatang.  Pemberian titah kepada Elia ini mengulang kembali peristiwa spektakuler ketika Musa juga diperintahkan Tuhan menata kehidupan umat dengan memberikan hukum-hukum-Nya.  Kali ini Elia diutus dari tempat yang sama untuk mempersiapkan keberlangsungan sejarah umat dengan menetapkan raja baru dan seorang nabi muda  bernama Elisa pengganti Elia sendiri.

Mazmur 85:8-14  Tuhan memberi kebaikan, negeri memberi hasil

Pemazmur mengharapkan kehidupan ini berada di dalam suasana yang penuh keselamatan,  kemuliaan, kasih, kesetiaan,  keadilan dan damai sejahtera serta kebaikan. Kehidupan dalam suasana tersebut dirindukan oleh umat manusia. Hal-hal yang demikian itulah yang difirmankan Tuhan, Tuhan akan berbicara tentang kedamaian yang diterima dan dirasakan oleh manusia. Kondisi hidup yang sangat didamba oleh umat Israel, karena  -pemazmur mewakili umat Israel- kehidupan umat dirasakan dalam kondisi keprihatinan akibat dosa dan mohon pengampunan dari Tuhan.

Roma 10:5-15 Dengan hati orang percaya, dengan mulut orang mengaku

Pengakuan iman Rasul Paulus ini menegaskan bahwa Tuhan Yesus Sang Kebangkitan itu menjadi jaminan keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Karena keselamatan itu sudah ditentukan di dalam Kristus Yesus. Kesatuan hidup manusia dalam kemampuan yang bisa diungkapkan, akan menjadi legitimasi atas apa yang diyakini. Maka ketika kepercayaan manusia itu dideklarasikan, pastinya dengan mulut sebagai perantara isi hati, pengakuan dimediasi lewat mulut atas apa yang sesungguhnya terpendam di hati yakni kepercayaan. Dan kepercayaan itu adalah bagi Kristus.

Injil Matius 14:22-33 Tuhan atau Hantu

Jika Yesus sedang berjalan di atas air, pada hakikatnya bukan sedang mendemonstrasikan kekuasaan-Nya, meskipun hal berjalan di atas air adalah wujud kuasa-Nya juga, akan tetapi ada bagian yang jauh lebih penting, iman kepercayaan manusia yang terhisab di dalam Kristus hendaknya kokoh tidak ada keraguan sedikitpun, tidak seperti keraguan Petrus yang meskipun sudah merasakan kekuasaan Yesus karena diijinkan berjalan di atas air seperti gurunya, namun karena lebih memperhatikan gelombang ia jadi takut dan akhirnya terperosok ke dalam air. Melalui kisah ini, iman kepada Yesus Kristus haruslah bulat dan sepenuh hati, kira-kira begitu logika berpikir penulis Injil ini.

Harmonisasi Bacaan:

Melintasi jalan kehidupan di dunia ini ada yang menggambarkan bagaikan melintasi padang gurun, kering dan tandus. Penggambaran itu mucul karena realita yang dijalaninya memang berat. Seperti Elia yang berjalan di padang gurun bersyeba. Jika manusia mungkin ada yang mengganggap tidak punya arah, tidak demikian bagi Elia, ia berjalan menuju suatu tempat yang pasti yakni gunung Horeb. Sesampainya di gunung Horeb, Elia menerima tugas baru dari Tuhan. Elia harus mempersiapkan kehidupan baru bagi umat Israel dengan melantik raja baru dan mempersiapkan pengganti Elia sendiri, dengan demikian akan tercipta hidup umat yang kembali dipulihkan untuk berbakti kepada Allah dan menikmati kedamaian, ketenteraman bahkan kemuliaannya sebagai bangsa pilihan.

Arah bagi keeyakinan hidup dalam keselamatan, ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus, bahwa keselamatan ditentukan di dalam Kristus Yesus, Ia menjadi jaminan keselamatan bagi tiap orang percaya. Hidup orang percaya menjadi jelas ada di dalam kekuatan jaminan itu. Tidak ada lagi keraguan bagi setiap orang yang menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

v   Khotbah Jangkep

Berfokus Kepada Tuhan

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

P

ernahkah saudara sekalian berpikir bahwa mengalami penderitaan itu menyenangkan? Pastinya pertanyaan ini dianggap tidak menarik, aneh-aneh, dan tidak masuk akal. Jikalau kita sedang memiliki hutang yang besar, dan dianggap sedang menderita, tapi kok ya diulangi lagi ya? Pernahkah kita berdoa untuk dapat mengalami penderitaan? Pasti tidak ada yang mau. “Selamat datang penderitaan, aku sudah lama menunggumu!” Ungkapan itu akan terasa aneh!

Sekarang biarkanlah hidup ini dengan apa adanya yang terjadi. Namun kita hari ini diajari oleh Tuhan dalam firman-Nya untuk mampu melihat bagaimana hidup itu perlu disikapi dengan arif dan bijak. Meskipun tidak ada orang yang berharap agar mengalami derita bagi dirinya sendiri, mungkin ia mengharap bagi orang lain, akan tetapi bahwa penderitaan itu toh dialami manusia.

Di saat mengalami derita, manusia membutuhkan kekuatan untuk dapat menahan derita itu, ketegaran hati dan keyakinan. Perjuangan yang dijalani tidak seperti ketika tidak mengalami beban derita, bandingkan dengan keadaan dengan beban derita. Pada kondisi seperti itulah sebenarnya manusia dihadapkan kepada keterbatasannya. Kondisi kelemahan manusiawi ini pun diungkapkan dengan jujur oleh Kitab Suci melalui lakon kehidupan para tokoh di dalam Kitab Suci itu.

Nabi Elia dikenal sebagai nabi agung pahlawan Allah, berkat kemampuannya memperjuangkan kesetiaan umat kepada Allah, ia membunuh empat ratus lima puluh nabi baal. Namun nabi Elia tidak serta merta puas dengan mengalahkan para nabi baal itu, ternyata putri Izebel istri raja Akhab tidak dapat menerima tindakan nabi Elia, nabi Elia pun mendapat ancaman pembalasan sehingga nabi Elia melarikan diri sejauh mungkin hingga memasuki kawasan padang gurun Beryeba di selatan otoritas  kerajaan Yehuda. Pelariannya sangat jauh ke tengah padang gurun itu, dan di situ pun Elia memilih dipanggil Tuhan atau dengan kata lain memilih mati, namun berkat pemeliharaan Tuhan, ia dimampukan berjalan sampai ke gurun Horeb. Puncak dari kisah nabi Elia ini adalah sang nabi diberi perintah baru untuk menata kehidupan umat pilihan Allah, penugasan ini mengingatkan orang pada penugasan kepada nabi Musa, pendahulunya,  untuk membawa bangsa Israel menikmati keberlangsungan hidupnya dengan diberikannya hukum-hukum Tuhan.

Sedikit berbeda dengan penyajian tokoh Kitab Suci lainnya yakni Petrus, yang walaupun di dekatnya ada Tuhan Yesus yang memastikan diri bukan hantu yang mengijinkan dan memberi kuasa kepada Petrus untuk berjalan di atas air, sesaat Petrus bisa seperti gurunya berjalan di atas air, akan tetapi Petrus kemudian lebih memberikan perhatiannya kepada gelombang yang besar, maka Petrus terperosok ke dalam air. Mungkin kita menyalahkan Petrus, karena ia tidak percaya, dan seperti teguran dari Tuhan Yesus kepada Petrus, kita juga ikut latah menegurnya, karena  bukankah sikap dan perilaku Petrus merupakan kesamaan sikap dan perilaku kita. Manakala kita menghadapi beban dan gelombang kehidupan ini kita kerap kali lebih memberikan perhatian kita kepada beban dan gelombang kehidupan itu. Suatu hal yang sesungguhnya merenggut energi yang banyak dari kita karena fokus perhatian kita lebih kepada beban itu. Inilah yang menyebabkan letih dan lelah karena beban berat. Kelelahan psikis kerap kali nampak dalam raut muka seseorang sehingga seseorang itu kelihatan tidak bersemangat, layu, bahkan menjadi lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Kelelahan demi kelelahan memang dirasakan manusia, hal itu hendak menunjukkan bahwa manusia memang amat terbatas. Keterbatasan ini tidak berarti menjadikan manusia tidak mampu mengalahkannya. Hidup dalam dinamika yang demikian memang tidak bisa dihindari. Pada intinya manusia tidak mungkin hidup tanpa segala kemungkinan perubahan yang ada. Oleh karenanya tidak tepat jika manusia memohon kepada penciptanya untuk dihindarkan dari masalah. Hal yang perlu lebih diperhatikan bahwa manusia perlu bergantung kepada Tuhannya. Namun sayangnya untuk hal seperti ini kerap kali Tuhan tidak diakui telah menghantarkan kepada keberhasilan hidup. Manusia akan mengklaim bahwa semua keberhasilan berkat usaha dan kepandaiannya sendiri. Dari perkara inilah maka manusia sulit berbagi dengan sesamanya. Yang berlaku selama ini urusan diri sendiri lebih dikedepankan sedangkan orang lain menjadi urusan orang lain.

Kehidupan ini memungkinkan adanya perubahan-perubahan. Manusia tidak mungkin dapat menduga kapan perubahan-perubahan itu terjadi. Sehingga makin nampaklah keterbatasan itu, apalagi jika membahas perihal kematian, manusia tidak mampu mengatasinya. Kesadaran akan relasi atau hubungan antara manusia dengan Tuhannya sangat dibutuhkan bagi manusia itu. Seperti yang terjadi pada hidup nabi agung Elia, atau pemazmur yang mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan segala sesuatunya bagi manusia, maka Tuhanlah pemilik sekaligus pemberi semua yang dibutuhkan manusia. Siapakah manusia sehingga ia tidak membutuhkan Tuhannya? Realitas hidup ini tidak bisa lepas dari kedaulatan kuasa Tuhan. Sangat tidak masuk akal jika manusia tidak berelasi dengan Tuhannya.

Sebagai jemaat Kristen, sudah diajari bagaimana kasih Tuhan Allah itu, lebih dalam lagi pemahaman jemaat akan Allah itu ada di dalam Yesus Kristus. Tuhan yang nyata dalam hidup ini, yang menyertai kita jemaat-Nya. Tuhan yang memampukan manusia berjalan dalam misteri hidup ini, Tuhan pula yang menjadi pusat perhatian kita. Jika Tuhan sudah dijadikan pusat perhatian kita, maka menjalani hidup ini adalah konsekuensi dari perhatian kita kepada Tuhan. Konsekuensi itu tidak merupakan derita, tetapi kemampuan untuk menjalani hidup ini. Kalau demikian, maka jalani hidup dengan penuh syukur dengan tetap mengarahkan perhatian kita kepada Tuhan. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       :  Kolose 1:  21-22

Petunjuk Hidup Baru : Kol 1: 23a

Persembahan            : Maleakhi 3: 10

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka  : KJ no. 10: 1,3, 4.

Nyanyian Penyesalan : KJ no.  24a: 1, 2

Nyanyian Kesanggupan        : KJ no. 240b: 1, 2

Nyanyian Persembahan         : KJ no.  302: 1, 2, 3

Nyanyian Penutup    : KJ no.  269: 1, 2, 3.

Khotbah Jangkep Minggu, 7 Agustus 2011

Pekan Biasa Kaping Sangalas  (Ijo)

Enering gesang anamung dhumateng Gusti

Waosan  I: I Para Raja 19: 9-18; Tanggapan: Jabur 85: 8 -14;

Waosan II: Rum 10: 5-15; Waosan III: Injil Mateus 14: 22-33

 

Tujuwan:

Pasamuwan saged ngraosaken bilih nglampahi gesang punika, winengku  ing kekendelan lan ngeneraken manahipun tumuju dhumateng Gusti.

v   Khotbah Jangkep:

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Sang Kristus,

P

unapa nate panjenengan menggalih bilih nampeni karibedan punika mbingahaken? Temtunipun pitakenan punika kaanggep aneh, boten pinanggih nalar.  Menawi kita gadhah sambetan ageng, asring kaanggep nembe ngraosaken reribed, ananging dene kok lajeng dipun wangsuli malih? Punapa nate panjenengan nyenyuwun mugi kaparingana karibedan? Temtu boten wonten ingkang purun. “Payo mrenea karibedan, aku wus suwe nunggu tekamu!” pratela punika badhe kaanggep nyleneh.

Samangke kita selehaken rumiyin  gesang punika akanthi punapa kemawon ingkang wonten. Ing dinten punika kita dipun-wulang lumantar pangandikanipun Gusti kangge saged nyumerepi kadospundi menggahing gesang punika kedah dipun-adhepi kanthi wicaksana.  Sanadyan boten wonten tiyang ingkang ngajeng-ajeng nampeni kasangsaran tumrap piyambakipun, ananging kasangsaran punika boten saged dipun-selaki dening manungsa.

Ing wekdal nalika ngalami kasangsaran, manungsa mbetahaken pakiyatan kangge nahanaken kasangsaran wau, tatag, tanggon lan pitados. Krodhaning tiyang sangsaya ketingal boten kados nalika nandhang kasangsaran, katandhingna menawi nandhang kasangsaran. Inggih ing kahanan ingkang makaten punika, kita manungsa dipun sumerepaken dhateng wewatesan kita. Kahanan ingkang ringkih punika ingkang dipun-pratelakaken kanthi jujur dening Kitab Suci lumantar lelampahaning gesangipun para abdinipun Gusti ing Kitab suci.

Nabi Elia kondhang dados nabi agung pahlawanipun Allah, lumantar pakaryanipun ngekahi ing bab kasetyanipun umat dhumateng Gusti Allah, piyambakipun mejahi kawan atus seket nabi baal.  Nanging nabi Elia boten lajeng rumaos bingah karana sampun mrajaya nabi-nabi baal wau, pranyata Sang Putri Izebel garwanipun Prabu Akhab boten saged nampi tumindakipun nabi Elia, sang nabi lajeng pikantuk pangancamipun Sang Putri Izebel, satemah keplajar ngungsi gesang ngantos plajaripun tebih sanget dumugi wewengkon pasamunan Bersyeba, inggih punika tlatah sisih kidul karajan Yehuda. Plajaripun tebih dumugi ing tengahing pasamunan wau, ing ngriku sang nabi nyuwun kapulunga nyawanipun, kanthi tembung sanes piyambakipun kepingin seda, ananging karana pangrimatipun Allah, sang nabi kaparingan daya kakiyatan mlampah tumuju dhateng redi Horeb. Pucaking cariyosipun nabi Elia, sang nabi kaparingan dhawuh kangge mranata gesangipun umat Israel. Dhawuh punika ngengetaken tiyang dhateng dhawuh ingkang katampi dening nabi Musa, duk ing uni wekdal ingkang sampun kapengker, kangge nuntun bangsa Israel nglajengaken gesang kanthi pepaken-pepakenipun Allah.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Beda sakedhik kaliyan cariyosabdinipun Gusti ing Kitab Suci inggih punika sekabatipun Gusti ingkang nami Petrus. Sanadyan ing sacelakipun Petrus punika Gusti Yesus piyambak, ingkang sampun ngyektosaken bilih sanes memedi, tuwin sampun maringi daya pakiyatan, utawi Petrus ingampilan panguwaosipun Gusti saged mlampah ing sanginggiling toya, ewa samanten karana Petrus langkung nggatosaken prahara, satemah Petrus ambles ing toya. Bok manawi kita badhe nglepataken Petrus, karana piyambakipun boten pitados,  kadosdene panyaruwenipun Gusti dhateng Petrus, kita inggih lajeng tumut nyaruwe Petrus, nanging patrapipun Petrus rak inggih sami kaliyan patrap kita. Nalika kita nahanaken momotaning gesang, kita asring nggatosaken dhateng momotan lan kasisahaning gesang wau. Satunggal bab ingkang yektinipun badhe nguras daya pakiyatan karana kita langkung migatosaken dhateng momotan wau. Punika ingkang njalari sayah lan lungkrah jalaran awrating momotan. Sayahing manah badhe numusi ing praupanipun tiyang, satemah tiyang ketingal tanpa lejar, alum, ketingal langkung sepuh katandhingaken kaliyan umuripun.

Sayah lan lungkrah pancen dipun alami dening manungsa, bab punika badhe nedahaken pancen manungsa punika winates. Nanging wewatesan wau boten ateges manungsa boten saged ngawonaken.  Gesang ing kawontenan ingkang makaten pancen boten saged dipun-singkiri.  Ingkang baku manungsa boten saged gesang tanpa wontenipun sadaya ewah-ewahan kahananing gesang.  Karana saking punika boten trep manawi manungsa ngunjukaken pandonga nyuwun supados dipun uwalaken saking prakawis. Ingkang prelu dipun-gatosaken dening manungsa inggih punika manungsa kedah nggumantungaken gesang dhumateng Gusti Allahipun. Emanipun bilih Gusti Allah asring boten dipun-akeni sampun nuntun dhateng karaharjaning gesangipun. Manungsa badhe ngaken bilih sadaya punika awit anggenipun ngupadi lan saking kapinteranipun piyambak. Ing perangan punika manungsa lajeng boten saged dundum dhateng sesaminipun.  Ingkang kalampahan engga dinten punika manungsa nengenaken dhateng kabetahanipun piyambak, dene tiyang sanes dados prakawisipun tiyang sanes.

Ing gesang punika cinawisan samukawis ewah-ewahan. Manungsa boten saged nduwa ewah-ewahan badhe kalampah. Satemah sangsaya melok wewatesaning manungsa, punapa malih bab pepejah, manungsa babar bisan boten darbe kawasa. Manungsa sanget anggenipun mbetahaken sesambetan kaliyan Gusti Allah. Kados ingkang kalampahan ing gesangipun nabi agung Elia, utawi juru mazmur ingkang ngakeni bilih Gusti Allah nitahaken samukawis kangge manungsa, pramila Gusti piyambak ingkang kagungan saha maringaken samukawis ingkang dipun-betahaken kangge manungsa. Sinten ta manungsa punika dene kok boten mbetahaken Gustinipun? Kasunyataning gesang punika boten saged uwal saking pangreksanipun Allah. Boten pinanggih nalar manawi manungsa boten sesambetan kaliyan Gustinipun.

Minangka pasamuwan Kristen, ingkang sampun ginulang ing bab kadospundi katresnanipun Allah, langkung lebet malih panampining pasamuwan ing bab Gusti Allah wonten ing Sang Kristus. Gusti ingkang nyata wonten ing gesang punika, ingkang nyarengi kita pasamuwanipun, Gusti ingkang nyagedaken manungsa mlampah ing sanginggiling prakawis ingkang sinamar lan wigati. Inggih namung Gusti piyambak dados enering gesang punika. Manawi Gusti sampun dados enering gesang kita,  mila ingkang nama nglampahi gesang punika pancen sampun samesthinipun yen kedah nanggel punapa kemawon salebeting kita ngenerakaken gesang dhateng Gusti.  Punapa ingkang kita tanggel boten ateges pinangka karibedan, ananging kasagedan kangge nglampahi gesang punika. Manawi makaten, inggih nglampahana gesang kanthi kebak panuwun lan tetep ngeneraken gesang lan manah kita dhumateng Gusti. Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih  Rahmat  :  Kolose 1:  21-22

Pitedah Gesang Enggal          : Kolose 1: 23a

Pangatag  Pisungsung : Maleakhi 3: 10

v   Rancangan Kidung Pamuji :

Kidung Pambuka      : KPK BMGJ 31: 1,2,3

Kidung Panalangsa  : KPK BMGJ 44: 1,2,3

Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ 174: 1, 2.

Kidung Pisungsung   : KPK BMGJ 110: 1,2,3

Kidung Panutup        : KPK BMGJ 125: 1, 3

Khotbah Jangkep Minggu, 14 Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh (Hijau)

 

Yesus Cinta Segala Bangsa

 

Bacaan I: Yesaya 56:1,6-8; Tanggapan: Mazmur 67

Bacaan II: Roma 11:1-2a,29-32; Bacaan III: Injil Matius 15:21-28

 

Tujuan:

Jemaat sadar bahwa ia hidup di tengah dunia yang plural. Dengan demikian selayaknya hidup dengan mewujudkan cinta Allah kepada semua bangsa dan bisa saling membagi berkat.

v   Dasar Pemikiran

Di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang plural, sikap eksklusif sangat berbahaya karena bisa memecah persatuan bangsa. Sikap eksklusif itu bisa dimulai dalam hidup beragama, tetapi juga sebaliknya bisa diurai dengan pemahaman akan kasih Tuhan yang universal.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 56:1,6-8

Puisi ini berisi mengenai keselamatan yang akan diberikan oleh Tuhan, yaitu saat ketika keadilan Tuhan berlaku dalam hidup manusia (ayat 1). Dalam pemberlakuan keselamatan itu Tuhan tidak hanya mengumpulkan kembali orang Israel, melainkan juga orang-orang asing yang menjadi hamba Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan Allah tidak dibatasi oleh ras atau bangsa.

 

Mazmur 67

Mazmur ini adalah mazmur pada waktu panen. Menurut kebiasaan, waktu panen adalah waktu untuk berkumpul. Oleh karena itu panen juga dipakai sebagai gambaran berkumpulnya orang-orang dari segala penjuru dan bangsa. Mazmur ini juga mengingatkan bahwa saat seseorang diberkati – seperti pada waktu panen – sebenarnya ia juga sedang dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama.

 

Roma 11:1-2a,29-32

Bagian dari surat Rasul Paulus ini menegaskan bahwa Allah tidak akan menolak atau melupakan umat pilihan-Nya. Namun di saat yang sama, seperti orang Israel menerima kemurahan keselamatan saat mereka tidak taat, orang-orang asing pun bisa menerima hal yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah untuk Israel dan orang asing juga.

 

Matius 15:21-28

Perempuan yang meminta tolong Yesus bukan sekadar orang asing, tetapi juga orang Kanaan yang adalah musuh bebuyutan Israel. Namun dalam dialog antara Yesus dan dia, perempuan itu menunjukkan kebesaran imannya. Ia menunjukkan bahwa orang asing pun layak menerima ‘remah roti’ dari Israel. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan yang diawali oleh Yesus di Israel akan berlaku pula bagi bangsa-bangsa lain.

 

Renungan atas Bacaan

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Suku, agama, adat istiadat, bahasa, dan pandangan politik tidak ada yang tunggal. Atas dasar keberagaman itulah bangsa ini didirikan, sehingga kita mengenal semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun dalam perkembangannya sampai saat ini, kita sering mendengar, melihat, menyaksikan keberagaman itu dicoreng oleh sikap rakyat Indonesia sendiri yang tidak mau menghargainya. Perselisihan, konflik, bahkan kekerasan hanya karena golongan yang satu berbeda dengan golongan yang lain, sering terjadi dan pada beberapa kasus sulit untuk dipadamkan atau diselesaikan.

Perselisihan, konflik, bahkan kekerasan itu bersumber dari pemahaman bahwa golongannyalah yang benar dan karenanya golongan yang lain harus dimusnahkan. Dalam hal ini pembacaan dan penafsiran terhadap teks suci masing-masing agama sering kali berperan besar.

Dalam Kekristenan sendiri, pembacaan teks-teks Alkitab mengenai bangsa atau umat yang terpilih bisa menjadi dasar sikap eksklusif yang meniadakan golongan lain. Namun bacaan-bacaan kita hari ini menunjukkan sisi lain dari keterpilihan itu. Tuhan tidak pernah bermaksud memberikan keselamatan hanya kepada ‘umat terpilih’. Tuhan melebarkan sayap keselamatan-Nya pada orang-orang asing, seperti tampak dalam Yesaya, Roma, dan Matius. Ketiga bacaan itu saling menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya akan menyelamatkan orang Israel, melainkan juga bangsa-bangsa asing, bahkan yang selama ini dikenal sebagai musuh Israel.

Lalu untuk apa penyelamatan itu diberikan? Mazmur menggambarkannya sebagai perayaan panen saat semua orang berkumpul dan membagi sukacita. Keselamatan mengajak semua bangsa bersatu dan saling membagi berkat. Saat Yesus cinta segala bangsa, umat-Nya pun diajak untuk mencintai segala bangsa dan berbagi berkat dalam hidup setiap hari. Indonesia pun bisa diharapkan pulih kembali.

 

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Teks dari Yesaya, Roma, dan Matius terkait melalui ide mengenai tercakupnya bangsa asing dalam karya penyelamatan Allah. Teks Mazmur memberi warna yang menunjukkan bahwa keselamatan yang universal itu harus bisa diwujudkan dalam bentuk saling membagi berkat.

 

Pokok dan Arah Pewartaan

Kasih Tuhan yang universal memampukan jemaat menerima perbedaan tanpa membeda-bedakan dan merayakan hidup bersama orang-orang yang berbeda.

 

 

v   Khotbah Jangkep

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,

H

ari ini adalah Hari Pramuka Indonesia. Mungkin sebagian di antara kita pernah atau masih mengalami menjadi Pramuka. Atau jika sebelum tahun 1961, dikenal sebagai Pandu. Umumnya Pramuka menjadi hal wajib di sekolah-sekolah, walau pelasanaannya di luar pelajaran sekolah, atau ekstra-kurikuler. Bagi sebagian siswa mungkin Pramuka menjadi beban berat, bagi yang lain menjadi hal yang dicintai. Namun terlepas dari disukai atau tidak, jika kita tilik dalam Dasa Dharma Pramuka yang wajib dihafal dan diwujudkan oleh semua anggota Pramuka, kita bisa melihat semangat yang baik dan sangat dibutuhkan oleh kita semua. Mari kita ingat kembali isi Dasa Dharma Pramuka itu.

Pramuka itu:

  1. Taqwa kepada Tuhan yang Mahaesa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, terampil, dan gembira
  7. Hemat, cermat, dan bersahaja
  8. Disiplin, berani, dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya

10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan

Jika saja kesepuluh darma tadi dihafal dan dilaksanakan oleh setiap anggota dan mantan anggota Pramuka, rasanya kehidupan sehari-hari akan bisa dihidupi dengan nyaman dan menyenangkan.

Apalagi jika diterapkan dalam hidup berbangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat keberagaman yang sangat besar. Rasanya di Indonesia ini segalanya beragam, tidak ada yang tunggal. Suku, bahasa, adat istiadat, agama, sampai pandangan politik, semuanya beragam. Itulah sebabnya bangsa ini memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika; Berbeda-beda tetapi tetap satu. Jika darma nomor dua dan empat saja dilaksanakan, niscaya keberagaman di Indonesia akan menjadi harta bangsa yang paling berharga.

Namun pada kenyataannya, keberagaman di Indonesia sering dijadikan masalah. Golongan-golongan tertentu kadang merasa hanya golongannyalah yang benar, sehingga golongan lain harus dimusnahkan. Sikap seperti ini disebut sebagai eksklusif. Hal ini menyebabkan timbulnya perselisihan, konflik, bahkan kekerasan antar golongan yang ada, baik suku, agama, politik, dan lain-lain.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Salah satu hal yang bisa menjadi dasar sikap eksklusif adalah pada pembacaan Teks Kitab Suci masing-masing agama. Misalnya, pada Kekristenan, pembacaan mengenai umat pilihan bisa menyebabkan sikap eksklusif yang menyebabkan pandangan merendahkan dan upaya menghancurkan pihak lain. Karena merasa diri adalah umat pilihan, orang dari agama lain, atau gereja lain, atau orang Kristen dari suku lain berada di luar umat pilihan sehingga harus ditiadakan.

Senada dengan hal itulah pemahaman umum yang ada dalam masyarakat Yahudi zaman Alkitab. Bangsa Yahudi atau Israel adalah bangsa yang sangat eksklusif. Orang yang berbeda dalam pelaksanaan ajaran agama, apalagi orang asing, dianggap sebagai orang yang najis, berada di luar keselamatan, dan itu berarti bisa dianggap bukan sesama manusia.

Namun dalam bacaan pertama dari Kitab Yesaya tadi kita mendengar bahwa Tuhan sendiri berfirman bahwa orang-orang asing juga mendapat tempat dalam keselamatan. Bukan hanya orang Yahudi/Israel, melainkan juga orang asing yang juga takut kepada Tuhan.

Hal ini juga mendapat penegasan dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Jika dahulu orang Yahudi menerima kemurahan keselamatan saat mereka tidak taat, orang asing juga bisa menerima hal yang sama. Hal ini menunjukkan pengajaran Rasul Paulus mengenai sifat keselamatan yang berlaku bagi semua orang.

Dengan lebih ekstrem, pengalaman Yesus dengan perempuan Kanaan menunjukkan kenyataan bahwa keselamatan juga bagi bangsa asing. Perempuan yang minta tolong pada Yesus bukan sekadar bangsa asing, tetapi termasuk bangsa Kanaan, yang adalah musuh bebuyutan orang Israel. Namun perempuan itu justru disebut sebagai memiliki iman yang besar. Tampaknya tidak ada orang lain yang disebut demikian oleh Tuhan Yesus. Kebesaran imannya tampak pada keyakinan perempuan itu bahwa kasih Tuhan tidak bisa dibatasi oleh bangsa. Orang-orang bukan Israel pun bisa menerima kasih yang sama dengan yang diterima oleh Israel, walau dalam dialog itu digambarkan seperti anjing memakan remah-remah roti anak-anak.

Ketiga bacaan tadi saling mendukung dan menegaskan bahwa keselamatan yang merupakan wujud kasih Tuhan kepada manusia tidak bisa dibatasi oleh apapun, termasuk suku atau bangsa yang membatasi hubungan antar manusia. Itu berarti secara lebih umum bisa dikatakan, kasih Tuhan tidak terbatas. Dengan bahasa sederhana yang sering menjadi nyanyian anak-anak sekolah Minggu, Yesus cinta segala bangsa.

Jika memang demikian ayat bacaan kita berbicara, sebenarnya sedang berbicara kepada kita yang hidup di tengah keberagaman ini. Jika kasih Tuhan tidak terbatas oleh perbedaan-perbedaan yang ada dalam hidup manusia, tentunya kita pun tidak selayaknya membeda-bedakan manusia hanya karena perbedaan yang ada. Perbedaan itu wajar, tetapi jika dibeda-bedakan, itu menjadi tidak wajar.

Namun jika kita sudah belajar untuk tidak membeda-bedakan berdasarkan perbedaan yang ada, apa yang selanjutnya harus kita lakukan? Apa yang seharusnya terwujud dalam hidup keseharian?

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Mazmur yang menjadi tanggapan bacaan tadi menggambarkan suasana panen. Dalam kebiasaan di Israel, dan di Jawa juga rasanya, panen adalah saat seluruh anggota keluarga dan masyarakat berkumpul untuk merayakan kegembiraan. Tua, muda, miskin, kaya, berkumpul menjadi satu, merayakan berkat Tuhan melalui hasil panen. Dan yang namanya pesta panen atau festival, tidak ada pembedaan antara golongan yang satu dengan yang lain. Semua membaur berbagi kebahagiaan yang dirasakan.

Saat hidup bersama tidak lagi saling membeda-bedakan karena perbedaan, sebenarnya seperti sedang berada dalam pesta atau festival. Semua berkumpul untuk bersama-sama merayakan hidup dan berbagi berkat yang telah diterima.

Merayakan hidup berarti menerima semua orang sebagai sesama manusia, apapun golongannya. Berarti pula saling menolong karena masing-masing telah merasa terberkati. Demikian pula bahu-membahu untuk membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bersama dengan segala potensi dan kemampuan masing-masing. Tidak perlu mempertentangkan dogma agama atau adat istiadat masing-masing suku, melainkan berkarya bersama demi kemanusiaan.

Asia, termasuk di dalamnya Indonesia, terkenal karena kondisi kemiskinannya yang parah. Maukah kita bersama berjuang untuk mengurangi jumlah orang miskin? Indonesia juga pernah dijuluki sebagai perusak hutan terbesar yang pasti berdampak juga pada pemanasan global. Maukah kita bersama berjuang memelihara alam kita? Indonesia berada di daerah yang rawan bencana alam. Maukah kita bersama-sama siaga untuk mengurangi resiko bencana alam dan bergotong-royong merehabilitasi saat telah terjadi bencana? Indonesia adalah negara yang rawan bencana sosial pula. Maukah kita saling merendahkan diri dan menghargai, sehingga hidup bisa dirayakan bersama dalam kebahagiaan?

Jika para Pramuka yang kita peringati hari ini sebagian sudah memulainya melalui Dasa Darma Pramuka yang menjadi tuntunan moralnya, saatnya kita sebagai umat dari Tuhan yang cinta segala bangsa melakukan hal yang senada. Amin.

 

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       : Kolose 2: 6-19

Petunjuk Hidup Baru : Hosea 1: 2-10

Dasar Persembahan : Mazmur 138

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka  :KJ 13: 1-4

Nyanyian Penyesalan :KJ 23: 1-3

Nyanyian  Kesanggupan       :KJ 375

Nyanyian Persembahan         :KJ 293: 1-

Nyanyian Penutup    :KJ 453: 1-3

 

Khotbah Jangkep Minggu, 14 Agustus 2011

Pekan Biasa Kaping Kalih Dasa (Ijo)

 

GUSTI YESUS TRESNA

SADAYA BANGSA

 

Waosan I: Yesaya 56:1,6-8; Tanggapan: Jabur 67

Waosan II: Rum 11:1-2a,29-32; Waosan III: Injil Mateus 15:21-28

 

Tujuan:

Pasamuwan sadhar bilih gesangipun wonten ing donya kaaben-ajengaken  kaliyan mawarni pemanggih, kapitadosan engkang benten (plural).  Warganipun pasamuwan  kasagedna gesang prasaja, kanthi tansah nengenaken gesang kebak ing sih, mbabaraken  berkah lan  mujudaken  sihing Allah   ing tengahing bangsa.

 

 

v   Khotbah Jangkep

 

Pasamuwan ingkang dipun kasihi dening Gusti,

D

inten punika pengetan Hari Pramuka Indonesia. Mbok bilih ing antawising kita wonten ingkang nate utawi taksih dados Pramuka. Saderengipun taun 1961, Pramuka dipun-sebat Pandu. Padatanipun ingkang ndherek Pramuka punika lare sekolah, dene pramuka wau kawontenaken ing sajawining wekdal sinau ing sekolah, utawi ekstra-kurikuler. Saperangan lare mbok bilih boten remen, nanging sanesipun iinggih wonten ingkang remen sanget. Sanadyan lare remen punapa boten dhateng Pramuka, ingkang nama Dasa Dharma Pramuka ingkang kedah dipun apalaken dening anggota Pramuka punika sae sanget kangge kita. Sumangga kita tingali isining Dasa Darma Pramuka punika wonten ing Bahasa Indonesia

Pramuka itu:

  1. Taqwa kepada Tuhan yang Mahaesa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, terampil, dan gembira
  7. Hemat, cermat, dan bersahaja
  8. Disiplin, berani, dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya

10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan

Menawi sadasa prakawis kala wau dipun-apalaken lan ugi dipun-estokaken dening anggota lan mantan anggota Pramuka, andayani  gesang punika badhe kraos ngremenaken.

Punapa malih ing satengahing gesangipun bangsa Indonesia ingkang maneka warni punika. Ing Indonesia punika ndarbeni samukawis wewernen. Suku, basa, adat tatacara, agami, lan golongan politik, sadaya warni-warni. Karana saking punika bangsa Indonesia lajeng gadhah sesanti, Bhinneka Tunggal Ika; sanadyan beda-beda nanging tetep satunggal lan manunggal. Menawi Dasa Darma Pramuka kala wau dipun-lampahi ingkang nomer kalih lan sekawan kemawon, badhe karaos beda-bedanipun bangsa Indonesia punika badhe dados bab ingkang aji sanget.

Nanging kasunyatanipun, beda-bedanipun bangsa Indonesia punika asring dipun dadosaken reribed. Saperangan golongan rumaos leres piyambak, mila pangangkahipun golongan sanes kedah dipun sirnakaken. Pamanggih ingkang makaten punika dipun-wastani eksklusif. Pamanggih kados makaten punika njalari crah utawi malah ngantos ngginakaken kekerasan, ing antawising golongan, sae suku, agami, punapa dene politik, lsp.

Pasamuwan ingkang dipun tresnani dening Gusti.

Satunggaling prakawis ingkang saged njalari tuwuhipun sikep eksklusif (boten saged nampi bab ingkang beda) inggih punika caranipun maos Kitab Sucinipun piyambak-piyambak. Upaminipun, ing agami Kristen, menawi sami maos bab umat prajanjian, lajeng saged nuwuhaken raos bilih piyambakipun langkung inggil lan leres piyambak. Dados tiyang ingkang beda agami, greja, lan tiyang Kristen ingkang boten nunggal bangsa kedah dipun sirnakaken.

Pamanggihipun bangsa Yahudi utawi Israel ing Kitab Suci inggih kados makaten. Sami rumaos bilih bangsa Israel dados bangsa pilihanipun Gusti, temahan bangsa sanes inganggep mapan ing sajawining kawilujengan lan ateges najis, kaanggep sanes sesamining manungsa.

Nanging waosan kapisan saking Kitab Yesaya kala wau, nelakaken bilih Gusti medhar sabda bab bangsa manca ingkang tumut mlebet dhateng kawilujengan. Boten namung tiyang Israel, nanging ugi bangsa manca ingkang ajrih asih dhateng Gusti.

Prakawis punika dipun-tandhesaken malih nalika kita maos seratipun Rasul Paulus kagem pasamuwan ing kitha Rum. Menawi rumiyin tiyang Yahudi nampeni kamirahaning Gusti arupi kawilujengan, sapunika tiyang manca ugi nampeni kanugrahan ingkang sami. Punika piwulangipun Rasul Paulus bilih sesipataning kawilujengan punika kangge sadaya tiyang.

Kanthi langkung tajem malih, pepanggihanipun Gusti Yesus kaliyan tiyang estri saking Kanaan wau, nelakaken bilih kawilujengan punika ugi kangge tiyang manca. Tiyang Kanaan kala samanten kaanggep  satrunipun bangsa Israel wiwit wiwitan mila. Nanging tiyang estri saking Kanaan wau malah dipun-sebat dening Gusti Yesus gadhah pangandel ingkang ageng. Ketingalipun boten wonten tiyang sanes ingkang dipun sebat makaten dening Gusti Yesus. Agenging pangandelipun punika ketawis saking anggenipun pitados bilih katresnanipun Gusti boten winates namung wonten ing satunggal  bangsa. Tiyang sajawining Israel inggih saged nampeni katresnan punika. Sanadyan namung dipun-gambaraken kados segawon ingkang nedha cuwil-cuwilaning roti ingkang dhawah saking meja.

Waosan ingkang kaping tiga kala wau, nelakaken ugi bilih kawilujengan punika wujuding katresnanipun Gusti dhateng manungsa lan boten saged dipun-watesi punapa kemawon, kalebet bangsa. Menawi lare sekolah minggu punika anggenipun sami tetembangan, “Yesus cinta s’gala bangsa… s’gala bangsa di dunia…”

Menawi ayat-ayat wau ngendikakaken bab punika, ateges kita boten pareng amemilah, bilih beda punika sampun limrah. Nanging patrap memilah punika klentu. Dene menawi sampun boten wonten patrap mbedak-bedakaken, lajeng punapa ingkang kedah kita lampahi salajengipun?

Pasamuwan ingkang dipun tresnani dening Gusti,

Kitab Jabur ingkang dados tanggapan, nggambaraken kawontenan panen. Padatanipun ing Israel, lan ugi ing Jawi, wekdal panen punika wekdalipun sadaya anggotaning brayat lan masyarakat ngempal, sami ngawontenaken pahargyan. Sae ingkang sepuh, anem, mlarat, sugih, sami ngempal, nunggil dados satunggal, boten wonten ingkang dipun bedak-bedakaken. Naminipun wekdal bingah, inggih lajeng pista, tipis tur rata. Sadaya pikantuk bageyan ingkang sami, boten dipun bedakaken. Sadaya ngaturaken panuwun awit berkahipun Gusti lumantar panen ingkang dipun-tampeni. Sadaya kabingahan kaesokaken temahan sadaya ugi ngraosaken kabingahan punika.

Menawi ing salebeting gesang boten sami dipun-bedakaken malih, gesang punika ngemperi kados saweg wonten ing salebeting pista. Sadaya mahargya gesang, sadaya andum kabingahan lan berkah ingkang sampun dipun-tampeni.

Mahargya gesang ateges nampeni sadaya tiyang minangka sesami manungsa, boten gumantung kaliyan golonganipun. Ugi ateges sami tulung-tinulung amargi sadaya rumaos sampun binerkahan. Makaten ugi sami sesarengan mbekta karaharjan lan kabingahan lumantar kesagedan ingkang dipun paringaken dening Gusti. Boten sisah dredah bab piwulang agami utawi bab adat bangsanipun piyambak-piyambak. Sesarengan makarya kangge manungsa.

Asia, kalebet Indonesia, misuwur amargi kathah tiyang mlaratipun. Lan malih mlaratipun punika boten namung mlarat limrah, ananging mlarat ingkang sanget. Punapa kita sami purun sesarengan mbudidaya ngirangi cacahing tiyang ingkang mlarat sanget punika? Indonesia ugi nate dipun wastani negari ingkang paling kathah ngrisak wana, ingkang damel donya sangsaya benter. Punapa kita sami purun sesarengan njagi kawontenaning bumi kita punika? Indonesia mapan ing panggenan ingkang gampil kenging bencana alam. Punapa kita sami purun sesarengan siyaga temahan menawi wonten bencana boten kathah korban lan menawi sampun ketaman bencana, punapa kita purun gotong-royong mbiyantu mulihaken malih? Indonesia ugi gampil sanget ngalami bencana sosial. Punapa kita purun sami andhap asor lan ngajeni tiyang sanes, temahan gesang punika saged dipun-lampahi sesarengan ing salebeting kabingahan?

Dinten punika dinten Pramuka. Para Pramuka punika sampun miwiti kasaenan lumantar Dasa Darma Pramuka ingkang dados tuntunanipun. Sapunika wekdal kangge kita minangka umatipun Gusti ingkang tresna dhateng sadaya bangsa, katimbalan kangge leladi  ingkang sami. Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   :          Kolose 2: 6-19

Pitedah Gesang Enggal          :           Hosea 1: 2-10

Pangatag Pisungsung  :          Jabur  138

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka      : KPK BMGJ 7: 1-3

Kidung Panelangsa  : KPK BMGJ 7: 1-3

Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ 46: 1, 2

Kidung  Pisungsung  : KPK BMGJ 186: 1-

Kidung  Panutup       : KPK BMGJ 86: 1-3

Khotbah Jangkep Rabu, 17 Agustus 2011

Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66

 

ALLAH SUMBER PENGHARAPAN SEGALA BANGSA

 

Bacaan I: Yesaya 11:1-10; Tanggapan: Mazmur 117

Bacaan II: Roma 15:1-13; Bacaan III: Injil Matius 12:15b-21

 

Tujuan:

Jemaat dimampukan untuk dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain dan memaknai kepelbagaian bukan sebagai musuh, untuk membangun negeri hidup dalam damai sejahtera.

v   Dasar Pemikiran

Kemerdekaan berarti panggilan hidup bagi setiap warga negara untuk memperlihatkan baktinya, menghadirkan damai sejahtera. Rusaknya bangsa adalah rusaknya kehidupan dan spiritualitas. Jemaat diharapkan mampu memperlihatkan spiritualitas hidup berbagi dan bekerja sama dengan berbagai kelompok bagi pembangunan negeri.

v   Keterangan Tiap Bacaan

Yesaya 11:1-10 (Tuhan, Panji bagi segala Bangsa )

Kesaksian ini diberikan ketika umat hidup dalam keterancaman kehancuran, untuk memperlihatkan spiritualitas hidup yang benar. Ayat 1-5 berisi gambaran Ideal Seorang Raja yang akan memimpin negeri. Ayat 6-9 berisi misi Raja tadi, yaitu mengembalikan keadaan menjadi baik kembali. Ayat 10 berisi gerakan yang akan dilakukan oleh raja tadi, yaitu mengembalikan kemuliaan dan kewibawaan negeri.

Mazmur 117 (Pujilah Tuhan segala Bangsa)

Mazmur puji-pujian yang berisi tentang kasih Tuhan kepada segala bangsa, yaitu bangsa Yahudi maupun non Yahudi. Dengan kata: hebat atas kita, Pemazmur menyatakan bahwa tindakan kasih Tuhan diperuntukkan bagi kehidupan sejagad.

Roma 15:1-13 (Allah memberikan kerukunan)

Rasul Paulus menganjurkan umat hidup dalam kerukunan dengan siapapun meski berbeda latar belakang karena kasih Tuhan pun diberikan kepada semua umat manusia. Rasul Paulus menggemakan semangat egaliter, yakni kesamaan di hadapan Tuhan dan kesamaan dalam bertanggungjawab terhadap keutuhan negeri. Dengan demikian kita telah turut memperkenalkan bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan yang telah memberikan kasih dan kerukunan bagi setiap bangsa.

Injil Matius 12:15b-21 (Kepada-Nyalah semua bangsa berharap)

Orang Farisi sulit mengakui Yesus sebagai Mesias sehingga berniat menyingkirkan-Nya. Yesus tidak menanggapi dengan kekerasan, melainkan menunjukkan kasih-Nya kepada setiap orang, spiritualitas yang bersedia melayani. Padahal pada saat itu orang Yahudi berharap Mesias akan mengembalikan supremasi Raja Daud. Namun bagi Yesus spiritualitas yang bersedia mengasihi dan melayani menghantarkan setiap umat manusia kepada hidup berpengharapan.

Harmonisasi Bacaan

Perubahan paradigma tentang Allah dan karya-Nya penting dilakukan. Yesaya menghadirkan spiritualitas baru mengenai Raja yang akan mengembalikan hidup pada kebaikannya. Pemazmur mengakui bahwa kehadiran Raja adalah untuk semua bangsa. Surat Roma menegaskan bahwa Allah tidak boleh diproyeksikan bagi kepentingan diri atau golongan. Matius mengungkapkan Mesias menjadi Raja bukan dengan kekerasan, melainkan pelayanan.

Pokok dan Arah Pewartaan

Kesediaan untuk mengubah paradigma bahwa Tuhan adalah Mesias/Raja yang bukan sekadar unjuk kebolehan memampukan umat berkerjasama dengan umat lain dalam membangun negeri.

v   Khotbah Jangkep

Jemaat yang dikasihi Tuhan

H

ari ini adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia sebab tepat 66 tahun negara indonesia merdeka.

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Itulah seruan yang pernah menggema pada tanggal 17 Agustus 1945. Seruan yang membuncahkan pengharapan untuk menjadi bangsa yang berdaulat. Sekarang, apa makna seruan itu bagi kita?

Tahun ini kita, masyarakat Indonesia, diperhadapan pada persoalan dalam negeri yang tidak ringan. Pergolakan kelompok yang mengatasnamakan NII, berita pejabat negeri yang melakukan tindakan korupsi, petinggi-petinggi yang berebutan kekuasaan kepengurusan organisasi sepak bola, anak-anak yang seharusnya bersekolah malah bekerja karena disuruh orang tuanya, berita tentang kriminalitas, pembunuhan serta penindasan, dan masih banyak berita-berita yang lain.

Benarkah kita sudah merdeka? Apa makna berdaulat? Bebas melakukan semau-maunya dan sehabis-habisnya yang penting diri pribadi kaya, senang, dan menang? Bagaimana iman Kristen memaknai dan mengartikan kemerdekaan?

Jemaat yang dikasihi Tuhan

Mari kita berupaya memberi makna baru terhadap arti kata merdeka. Makna yang lebih bisa sesuai dengan situasi negeri kita. Sehingga kata Merdeka menggemakan kebanggaan saat diserukan.

Pemaknaan itu akan bisa terjadi jika kita sebagai masyarakat dan umat beragama berani memulai memaknai ulang konsep ketuhanan. Sebab ketika praktek keagamaan masih dijalankan atas dasar kecurigaan-kecurigaan terhadap pemeluk agama lain dan keegoisan maka yang muncul adalah kepentingan kelompokku dan diriku. Nabi Yesaya dalam pernyataannya telah membantu kita untuk berani melakukan perubahan dalam memaknai kemerdekaan dengan menghadirkan pemaknaan ulang terhadap karya Sang Mesias. Kehadiran-Nya diperuntukkan bagi seluruh bangsa untuk mengembali kan kehidupan ke dalam suasana seperti di firdaus (Yesaya 11:6-9). Sang Mesias tidak digambarkan sebagai yang mengangkat senjata untuk berperang sebagaimana yang diharapkan oleh umat atas kebangkitan kembali dinasti Daud.

Pemazmur pun memberikan penegasan bahwa kehebatan kuasa Allah tidak hanya untuk diri kita (agama, kelompok, suku) tetapi untuk seluruh bangsa. Kalau dihubungkan dengan Indonesia, kasih dan kuasa Allah bukan hanya untuk dinikmati oleh kaum Kristen saja. Melainkan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Dengan demikian kasih dan kuasa Allah diperuntukkan bagi setiap umat untuk membangun negeri ini.

Jadi jika kita secara sembunyi-sembunyi masih berharap negeri ini dipimpin oleh kaum Kristen atau banyak petinggi-petinggi negeri yang beragama Kristen, apa bedanya kita dengan kelompok yang menggelorakan NII? Selama masih ada kecurigaan-kecurigaan dan sentimen serta keegoisan, maka yang digemakan oleh Rasul Rasul Paulus, yaitu hidup rukun dengan semua pemeluk agama akan menjadi retorika belaka. Dan jika itu yang terjadi maka kasih dan kuasa Tuhan tidak lagi menjadi milik anak bangsa, masyarakat Indonesia.

Jemaat yang dikasihi Tuhan

Perubahan paragdima tentang konsep ketuhanan itu harus dimulai dengan hidup yang bersedia rukun dengan sesama. Bekerja sama tanpa harus dibayang-bayangi rasa kecurigaan akan dikristenkan, dsb. Semangat egaliter yang diserukan oleh Rasul Paulus adalah semangat yang harus kita gemakan saat ini: bahwasanya kasih dan kuasa Tuhan adalah untuk kebaikan sesama.

Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Mengubah paradigma sama artinya dengan memutus mata rantai kecurigaan, sentimen, dan keegoisan. Seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yang telah bersedia untuk tidak menuruti keinginan-keinginan umat pada waktu itu. Ketika semangat kesukuan menguat dan bahkan bersepakat untuk membunuh, Tuhan Yesus malah menyingkir dan memproklamirkan spiritualitas yang membangkitkan pengharapan. Kecurigaan, sentimen, dan keegoisan tidak ditanggapi dengan hal yang sama melainkan dengan spiritualitas melayani dan mengasihi. Gambaran yang berbeda dengan yang diharapkan umat Yahudi pada waktu itu. Mereka berharap Mesias datang menjadi Raja yang akan mengembalikan supremasi Raja Daud. Sedangkan Yesus adalah Mesias yang menghadirkan Spiritualitas pelayanan.

Jati diri sebagai Mesias ditampilkan secara berbeda oleh Yesus. Bukan dengan pedang atau berbantah. Melainkan dengan spiritualitas yang bersedia mengasihi dan melayani. Perubahan ini dapat menghantarkan bangsa-bangsa di luar bangsa Israel dan umat di luar suku Yahudi untuk menaruh harapan dan berharap kepada Tuhan Allah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan

Menyambut dan hidup dalam kemerdekaan Indonesia yang ke 66 adalah dengan memperlihatkan wajah Tuhan yang sudah dikenalkan oleh Yesus. Dengan demikian nantinya segala mulut pun memuji bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih dan sumber pengharapan bagi setiap umat manusia. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah          : Yohanes 3:16

Petunjuk Hidup Baru    :

Nast Persembahan      : Markus 12:41-44

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan                        :

Nyanyian Penyesalan            :

Nyanyian Kesanggupan                    :

Nyanyian Persembahan                     :

Nyanyian Penutup       :

Khotbah Jangkep Rebo, 17 Agustus 2011

Tanggap Warsa Kamardikan RI Kaping 66

 

GUSTI ALLAH PUNIKA

TUKING PANGAJENG-AJENGIPUN SADAYA BANGSA

 

Waosan I: Yesaya 11:1-10; Tanggapan: Jabur 117

Waosan II: Rum 15:1-13; Waosan III: Injil Mateus 12:15b-21

 

Ancas:

Pasamuwan kabereg mbangun sesambetan sae kaliyan sadherek-sadherek agami sanes. Ugi kaatag mangertosi bilih beda-beda ingkang wonten ing satengahing masyarakat boten ateges njalari memengsahan, nanging sami mangretosi tanggel jawab mbudidaya tentrem rahayu mawujud ing satengahing Indonesia.

v   Khotbah Jangkep

 

Para sadherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti Yesus,

D

inten punika mujudaken dinten ingkang adi, awit samangke sampun 66 taun anggenipun bangsa kita mardika. Merdeka, merdeka, merdeka! Minangka panguwuh ingkang sampun ngumandhang rikala 17 Agustus 1945. Minangka panguwuh ingkang nglairaken pangajeng-ajeng saha dados tandha bilih bangsa punika gadhah kuwaos nemtokaken hak gesangipun piyambak. Ananging dumugi wekdal punika, punapa panguwuh mardika taksih nggadhahi makna ingkang adi?

Sinaosa sampun mardika nanging kita dipun aben-ajengaken kaliyan prakawis-prakawis ingkang sangsaya adamel trenyuhing manah. Bangsa ingkang nggadhahi kuwaos kangge nemtokaken dhirinipun piyambak, punapa kedah ketingal wonten ing tumindak-tumindak ingkang asor? Prakawis ingkang winastanan alit lan ageng gilir gumantos kalampahan wonten ing satengahing negari punika. Tundhonipun nuwuhaken pitakenan menawi kita ngaken sampun mardika, mardika ingkang kados pundi ingkang kababar ing satengahing bangsa punika?

Taksih asring jumedhul pambudidayanipun satunggaling kelompok ingkang badhe nguwaosi pamarentahan, damel ewah-ewahan ing bab ideologi negari, kadosta NII (Negara Islam Indonesia). Lajeng asring kita pireng pawartos para pamimpin negari tumindak nylingkuhaken arta (korupsi), sami rebatan panguwaos ingkang tundhonipun nuwuhaken crah lan padudon antawisipun kelompok satunggal lan satunggalipun. Ontran-ontran wonten ing bab olahraga, mirungganipun bal-balan ingkang boten rampung-rampung. Asiling para olahragawan badminton ingkang sangsaya dangu sangsaya mlorot kaunggulanipun. Para lare ingkang kedahipun ing wekdal enjang wonten ing papan pasionan nanging malah wonten ing margi saprelu ngemis, nyambut damel ndherek tiyang sepuhipun upaminipun pados wedhi ing lepen. Menawi dipun tangleti kenging punapa boten sekolah, wangsulanipun awit dipun dhawuhi dening tiyang sepuhipun supados mbiyantoni nyekapi kabetahan padintenan. Punapa punika boten damel girising manah kita? Lan taksih wonten malih pawartos ingkang damel girising manah kados ta pawartos padudon, sami-dene mejahi, panganiaya sarta sanes-sanesipun. Ningali kanyataning gesang ingkang makaten punika, punapa ta maknaning mardika tumrap bangsa kita? Punapa mardika punika tegesipun saged tumindak punapa kemawon ngantos nerak pranatan lan sasekecanipun piyambak? Punapa mardika punika tegesipun ugi ngutamekaken dhiri pribadi ngantos pados rejeki kanthi nglirwakaken pranataning masyarakat punapa dene negari? Punapa mardika punika namung kangge kemaremaning pribadi temah gesangipun tiyang sanes punapa malih ingkang saking golongan lan agami sanes boten dipun gatosaken. Boten preduli tiyang sanes sanadyan tiyang sanes ngantos kerapan, sangsara, miskin lan sapiturutipun. Awit saking punika, tumrap kita tiyang Kristen kados pundi anggen kita kedah paring makna bab kamardikan kasebat?

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti Yesus,

Yektinipun umat Kristen tinimbalan mbudidaya lan nuwuhaken makna ingkang anyar murih kababaring makna mardika ingkang sejati. Temah tembung mardika punika boten namung kandheg ing pangucap. Mardika kedahipun nggadhahi makna kababaring kawontenan ingkang saged dipun raosaken dening sesaminipun ingkang migunani lan maedahi. Supados makna anyar sesambetan kaliyan tembung mardika punika saged kababar, mesthi nipun kawiwitan saking gesangipun pasamuwan anggenipun nganyaraken pangretosanipun magepokan kaliyan pamawas bab Gusti Allah. Awit nalika tiyang ngugemi agami sami nggadhahi raos culika dhateng umat agami sanes, nggadhahi sikep bilih piyambakipun ingkang langkung prayogi tinimbang tiyang sanes, pramila ingkang kababar inggih punika namung pandamel ingkang nengenaken kapentinganipun pribadi, kelompok lan golonganipun.

Pangandikanipun Yesaya 11:1-10, paring pambiyantu tumrap kapitadosan kita anggenipun badhe damel ewah-ewahan ing bab mujudaken tembung mardika ingkang sejatosipun. Pangandika kasebat ngatag kita wantun mbikak pangretosan bilih pakaryanipun sang Mesih punika kagem sadaya umat titahipun tanpa mawang kawontenan. Rawuhipun Sang Mesih ing jagad saprelu mitulungi gesanging umat tumuju dhateng kasaenan, temah wangsul malih kados kawontenan ingkang sampun kagambaraken wonten ing taman Pirdus (Yesaya 11:6-9). Sang Mesih wonten ing paseksining nabi Yesaya boten badhe njejegaken kaadilan kanthi tumindak keras, kanthi ngasta gaman lumebet ing paprangan kados ingkang dipun gambaraken dening umat Israel wekdal semanten (kados dene gegambaranipun perang Baratayuda). Panjenenganipun boten badhe njejegaken karajanipun prabu Dawud kanthi paparangan.

Salajengipun pangertosan bilih panguwaosipun Gusti boten namung pinaringaken namung kangge bangsa Israel dipunakeni dening juru masmur. Jabur Masmur 117 paring pangertosan bilih panguwaosipun Gusti Allah punika kangge sadaya bangsa. Kanthi makaten dipun-sambetaken kaliyan kamardikanipun nagari Indonesia pangandikanipun juru masmur punika minangka tambahing pangertosan ingkang sangsaya mbikak paningal kita bilih sih lan panguwaosipun Gusti Allah punika boten ateges namung dipun paringaken kangge pasamuwan utawi tiyang Kristen kemawon, nanging kangge sadaya warganing masyarakat Indonesia. Sadaya sami kaparingan sihipun Gusti kangge mangun negari Indonesia ingkang raharja tanpa mawang punapa agami, golongan punapa dene suku bangsanipun.

Pramila punika menawi wonten ing lebeting manah bok menawi tuwuh pepinginan bilih negari punika kapimpin dening satunggaling tiyang Kristen, utawi kita sami nggadhahi pepinginan supados kathah tiyang Kristen ingkang dados pamimpining negari ingkang saged nulungi pasamuwan sanesipun, punapa punika boten ateges namung nenenganaken pikajengipun piyambak? Lajeng punapa bedanipun gegadhangan kasebat kaliyan tiyang-tiyang ingkang gesangaken pamawas bab NII?

Rasul Paulus lumantar serat Rum 15:1-13 ngendikakaken menawi kita dereng saged luwar saking saking pamawasing agami ingkang ciyut, taksih dipun-reh dening sikep nengenaken pribadi, tumindak culika dhateng umat agami sanes, temtunipun njalari gesang padintenan kita boten badhe ngraosaken tentrem rahayu. Awit ing salebeting gesang sesarengan kedahipun katalesan sikep andhap asor, tentrem rahayu, boten bedak-bedakaken satunggal lan satunggalipun. Sanes tumindak ingkang  pados lenanipun umat sanes temah dipun asoraken. Miturut rasul Paulus supados sih lan panguwaosipun Gusti punika saged tinampi lan dipunraosaken dening sadaya tiyang, satunggal lan satunggalipun kedah sami purun gesang kanthi rukun, andhap asor lan ajen-ingajenan.

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti Yesus,

Ewah-ewahanipun pangretosan bab sih tresnanipun Gusti Allah kedah dipun wiwiti saking gesang ingkang purun lan sumadiya mbangun karukunan kaliyan tiyang sanes, sangkul-sinangkul kaliyan sadherek-sadherek beda agami memayu hayuning bawana. Sangkul-sinangkul  kanthi boten dipun-sarengi sikep culika punapa malih kanthi sesidheman wonten ing manah nggadhang supados pambiyantunipun tiyang Kristen andadosaken tiyang sanes purun manjing Kristen. Pangraos ingkang makaten kedah dipun-singkiraken. Rasul Paulus lumantar seratipun mulang supados ing salebeting gesang sesarengan kaliyan umat sanesipun kedah linandhesan raos urmat-ingurmatan punapa dene ajen-ingajenan. Pangaken bilih sih lan panguwaosipun Gusti punika pinaringaken kangge sadaya tiyang ing salumahing bumi punika dados sarana anggen kita ngudi gesang ingkang kebak ing tentrem rahayu.

Pancen sanes prakawis gampil, malik grembyang ngewahi pamawas ingkang leres magepokan kababaring sih katresnanipun Gusti Allah kangge sadaya manungsa. Punika kedah dipun-wiwiti saking kasanggeman pribadi anggenipun wantun medhot blengguning raos culika, serik punapa dene sikep dhirinipun langkung prayogi katimbang tiyang sanes. Kedahipun tiyang Kristen sami nulad pakaryanipun Gusti Yesus, dene Panjenenganipun sumanggem boten nguja hawa nepsu pribadi utawi namung paring kamaremaning umat wekdal semanten kanthi mbelani tiyang Yahudi kemawon. Nalika satunggaling golongan sami sarujuk anggenipun badhe mejahi Gusti Yesus, Panjenenganipun boten nanggapi, nanging Panjenenganipun malah sumingkir lajeng ngetingalaken cara gesang ingkang saged nuwuhaken pangajeng-ajeng. Raos culika, meri lan nengenaken dhiri pribadi ingkang dipun tindakaken dening sawenehing tiyang Yahudi boten dipun-tanggapi dening Gusti kanthi males tumindakipun tiyang-tiyang kasebat. Nanging Panjenenganipun nanggapi kanthi cara gesang ingkang tetep nresnani lan ngladosi manungsa ingkang mbetahaken sih katresnaning Allah.

Wekdal semanten pakaryanipun Gusti Yesus beda kaliyan ingkang dipun-kajengaken dening tiyang Yahudi. Awit sadaya tiyang Yahudi sami ngajeng-ajeng supados Gusti Yesus mulihaken karajan Israel kados jamanipun prabu Dawud.  Ancas rawuhipun Sang Mesih antawisipun Gusti Yesus kaliyan tiyang Yahudi beda. Awit miturut Gusti Yesus Sang Mesih sejatinipun ngulungaken gesangipun murih kababaring karsanipun Gusti Allah inggih punika kawilujengan tumrap jagad.

Injil Mateus 12:15b-21, Gusti Yesus paring katerangan bilih anggenipun nepangaken jati dhiri minangka Sang Mesih boten kinanthenan pedang lan bedhil, sarta boten remen tukar padu utawi gembar-gembor, utawi sesorah ing margi-margi. Ananging kanthi ngetingalaken manah ingkang kersa nresnani lan ngladosi kagem kababaring kaadilan lan tentrem rahayu. Ewah-ewahan seserepan ing babagan keallahan ingkang sampun katindakaken dening Gusti Yesus, sampun nuntun tiyang-tiyang saking bangsa-bangsa sanes, saking sajawining bangsa Israel sami nampeni pangajeng-ajeng lan maringaken pangajeng-ajeng gesangipun dhumateng Gusti Allah.

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti Yesus,

Napak ing gesang kita sabangsa, sesambetan kaliyan kamardikan negari kita Indonesia kaping 66, sumangga kita sami nulad pakaryanipun Gusti Yesus, minangka umat kagunganipun kita katimbalan ngetingalaken cara gesang ingkang linandhesan sih-katresnan, lados-linadosan, mbudidaya mbabar kaadilan, ngudi tentrem rahayu lan sapiturutipun. Kanthi makaten sageda umat ing salumahing bumi kanthi sora ngucapaken pangaken bilih Gusti Yesus, inggih Gusti Allah ingkang kebak ing sih katresnan,  saha katresnanipun ingkang kababar tumrah tumrap sadya manungsa tanpa wates. Merdeka! Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat              : Yokanan 3:16

Pitedah Gesang Anyar                       :

Nas Pisungsung           : Injil Markus 12:41-44

 

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka         : KPK BMGJ 15:1-3

Kidung Panalangsa     : KPK BMGJ 43:1-3

Kidung Kasanggeman            : KPK BMGJ 141:1-3

Kidung Pisungsung      : KPK BMGJ 315:1-3

Kidung Panutup           : KPK BMGJ 316:1-2

Khotbah Jangkep Minggu, 21 Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Dua puluh Satu (Hijau)

MENJADI SAKSI MESIAS

DI TENGAH BANGSA

 

Bacaan I: Yesaya 51:1-6; Tanggapan: Mazmur 138

Bacaan II: Roma 12:1-8; Bacaan III: Injil Matius 16:13-20

Tujuan:

Jemaat diajak untuk menyadari peran sertanya di tengah bangsa, khususnya menjadi saksi Mesias melalui tindakan hidup yang nyata

v   Dasar Pemikiran

Gereja merupakan bagian dari masyarakat, dan sebagai bagian dari masyarakat gereja wajib untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa. Maka, masih dalam suasana HUT Kemerdekaan RI ke-66 gereja terpanggil untuk menjadi saksi Mesias demi kedamaian serta kesejahteraan bangsa Indonesia. Penyataan menjadi saksi Mesias tampak di dalam tindakan-tindakan benar seperti yang diajarkan melalui bacaan leksionari hari ini.

v   Keterangan Tiap Bacaan

Yesaya 51:1-6 (Pengajaran dan Hukum Tuhan Terang bagi Bangsa-bangsa)

Penulis Yesaya menyampaikan pengajaran bahwa umat Tuhan terpanggil untuk memandang Dia artinya mengarahkan hidup pada Tuhan karena akan hadir kedamaian, berkat, anugerah serta pemulihan dari Tuhan sendiri. Keselamatan yang sesungguhnya akan dinyatakan Tuhan sehingga umat hidup dalam kesejahteraan.

Mazmur 138 (Tuhan itu Tinggi tetapi Melihat yang Hina)

Pemazmur menaikkan syukur atas karya Tuhan kepada umat-Nya. Dia mendengar seru doa umat, Dia berjanji kepada para raja, Dia tidak memandang rendah orang hina, Dia membela umat dari para musuh dan perbuatan tangan-Nya tetap untuk selamanya.

Roma 12:1-8 (Ibadah yang Sejati)

Jemaat Roma dipanggil untuk menghaturkan persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah. Apakah wujudnya? Wujudnya adalah hidup tidak menyerupai dunia yang takabur, menguasai diri, menggunakan talenta pemberian Tuhan dan senantiasa bersukacita. Pengejawantahan persembahan yang benar tidak lain adalah sikap hidup yang juga benar.

Injil Matius 16:13-20 (Mesias, Anak Allah yang Hidup)

Perikop tersebut merupakan pengakuan keberadaan Yesus di mana Dia adalah Mesias yang diutus menyelamatkan umat-Nya. Pengakuan Petrus itu membawa dampak, sehingga dia diberi tanggung jawab menjadi “batu karang” dan “pemegang kunci Kerajaan Sorga”. Menjadi batu karang artinya menjadi dasar atau fondasi pernyataan iman kepada Yesus. Sementara pemegang kunci kerajaan sorga artinya iman Petrus menjadi dasar berdirinya jemaat Tuhan.

Harmonisasi Bacaan

Umat yang mengarahkan hidupnya kepada Tuhan akan mendapatkan anugerah serta kesejahteraan. Hidup yang terarah kepada-Nya merupakan salah satu bentuk pengucapan syukur atas janji Tuhan kepada umat-Nya. Karena itu, umat yang menerima anugerah, kesejahteraan serta pernyataan janji-Nya terpanggil menyatakan tindakan-tindakan yang benar pula. Dan tindakan benar tersebut merupakan kesaksian nyata akan penyelamatan melalui Sang Mesias yang telah diterima umat sehingga umat bertanggung jawab untuk menjadi batu karang serta pemegang kunci Kerajaan Sorga.

Pokok dan Arah Pewartaan

Tuhan telah memberikan keselamatan dan perlindungan bagi umat-Nya, maka sebagai ucap syukur atas keselamatan pemberian Tuhan setiap orang percaya wajib berperan serta di dalam kehidupan berbangsa dengan tindakan-tindakan benar seperti yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan bersama.

v   Khotbah Jangkep

 

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

S

ampai saat ini di negeri kita masih rentan terhadap konflik kaitannya dengan agama atau keyakinan. Misalnya, bulan Februari yang lalu di masa sekelompok massa yang tidak bisa menerima keputusan siang penistaan agama di Temanggung, akibatnya beberapa gereja dirusak dan dibakar massa yang beringas. Satu lagi contoh kebiadaban yang terjadi di negeri kita yaitu penyerangan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Begitu kejamnya kelompok massa dalam kasus-kasus tersebut sehingga harus jatuh korban harta benda maupun nyawa. Padahal, bangsa kita mengakui bahwa kita semua berketuhanan yang Maha Esa. Lalu, di manakah letak iman dan takwa kepada Tuhan tersebut?

Melalui peristiwa-peristiwa memilukan tersebut, saat ini marilah kita merenungkan keberadaan diri kita masing-masing. Sudah sampai sejauh mana peran serta kita baik sebagai pribadi orang percaya maupun sebagai gereja di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Bukankah kita semua menyetujui cita-cita bangsa kita yaitu masyarakat yang adil, makmur, damai serta sejahtera? Apakah kita sudah mengupayakan dengan sungguh-sungguh cita-cita bangsa kita yang demikian?

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

Jika kita belajar bersama dari bacaan hari ini, setidaknya kita bisa menemukan pelajaran yang berharga di mana Tuhan Allah berkarya untuk keselamatan serta kesejahteraan umat-Nya. Allah menghendaki ada suatu tindakan responsif atas karya-Nya yang dinyatakan kepada umat-Nya. Hal tersebut jelas terlihat dalam kesaksian: pertama, Yesaya 51:1-6. Tuhan Allah berjanji akan menyatakan keselamatan dan kesejahteraan kepada umat-Nya namun umat dipanggil untuk mengarahkan hidup kepada Tuhan sehingga kedamaian, berkat, anugerah serta pemulihan akan diberikan kepada umat. Kedua, melalui Mazmur 138 tampak pola pemazmur dalam merespon karya Tuhan yaitu dengan pengucapan syukur, di mana pengucapan syukur dihaturkan karena Tuhan mendengar seru doa umat, Tuhan menyatakan janji-Nya kepada para raja yang tentu berkaitan dengan kejayaan serta kesejahteraan bangsa, Tuhan tidak memandang rendah orang hina artinya Dia akan membela manusia yang direndahkan, Tuhan akan membela umat dari tangan musuh dan perbuatan tangan Tuhan tetap kekal untuk selamanya.  Yang ketiga, respon umat seperti yang diajarkan dalam Roma 12:1-8 tampak di dalam sikap hidup beretika yaitu: hidup dengan tidak menyerupai dunia, mampu menguasai diri, mampu menggunakan talenta pemberian Tuhan serta senantiasa bersukacita. Yang keempat, di dalam Matius 16:13-20 berisi pengakuan tentang Yesus Kristus. Yesus memang pilihan Allah yang diutus untuk menyelamatkan umat-Nya. Pengakuan Petrus tersebut merupakan pengakuan yang pada akhirnya membawa dampak bagi dirinya, di mana Petrus yang mengaku bahwa Yesus adalah Mesias akhirnya terpanggil untuk menjadi batu karang dan juga sebagai pemegang kunci kerajaan sorga. Kata menjadi batu karang tentu mempunyai maksud tertentu, di mana Petrus menjadi soko guru atau fondasi sebuah pernyataan keimanan kepada Tuhan. Petrus menjadi dasar atas pengakuan bahwa Yesus adalah utusan Allah yang akan membawa kebahagiaan, perdamaian, kesejahteraan serta keselamatan bagi umat ciptaan-Nya. Di sisi lain, Petrus juga terpanggil menjadi pemegang kunci kerajaan sorga. Dalam hal ini pemegang kunci kerajaan sorga bukan berarti Petrus penentu kebijakan siapa saja yang diperkenankan masuk kerajaan sorga, namun kata tersebut berarti bahwa melalui Petrus banyak jemaat akan dibangun. Dalam sudut pandang lain, panggilan Tuhan kepada Petrus untuk menjadi batu karang dan pemegang kunci kerajaan sorga dapat diartikan di mana Petrus merupakan pihak yang harus mewartakan kedamaian bagi banyak orang. Karena, inti dari kerajaan sorga adalah kedamaian. Maka, hal kedamaian tersebut menjadi panggilan yang riil bagi Petrus.

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

Masih dalam suasana HUT Kemerdeaan RI ke-66, mari kita merenungkan kembali arti kemerdekaan yang sesungguhnya dikaitkan dengan kenyataan yang terjadi di negeri kita ini. Kata merdeka tidak dapat dilepaskan dari unsur kedamaian. Namun, walaupun kita sebangsa mengaku bahwa kita telah merdeka kenyataannya kemerdekaan yang sesungguhnya belum terjadi. Masih banyak penindasan dan diskriminasi di tengah bangsa kita baik yang dilakukan oleh penguasa maupun komunitas-komunitas yang merasa berkuasa, kasus-kasus konflik horizontal yang hampir selalu dikaitkan dengan isu persoalan antar agama, ideologi berbasis agama tertentu yang dipropagandakan di kalangan generasi penerus bangsa dan persoalan-persoalan lainnya yang terjadi di tengah bangsa kita. Jika kondisi demikian dibiarkan terus menerus terjadi, bagaimana dengan nasib bangsa kita di masa mendatang?

Perenungan firman Tuhan hari ini mengingatkan akan panggilan kita sebagai orang Kristen di mana kita semua adalah saksi Mesias di tengah bangsa. Mengacu pokok teologis bacaan hari ini, pokok teologis yang paling mendasar adalah Allah menyelamatkan umat-Nya. Dari karya penyelamatan tersebut, umat terpanggil untuk mensyukuri anugerah Allah yaitu dengan tindakan hidup yang benar serta senantiasa mengupayakan kedamaian di manapun umat Tuhan berada. Oleh karena itu mari kita meneliti kehidupan kita masing-masing, apakah sebagai pribadi maupun gereja kita sudah menjadi saksi Sang Mesias? Seringkali kita melupakan panggilan mulia tersebut. Melalui arogansi pemikiran teologi, kita merasa bahwa iman kita paling benar dan orang yang berbeda keyakinan dengan kita tidak berhak atas keselamatan yang sifatnya universal. Gereja kurang menyapa masyarakat dengan pelayanan-pelayanannya sehingga akhirnya membuat gereja menjadi komunitas yang eksklusif dan komunitas yang akhirnya akan dimusuhi oleh masyarakat. Bangunan gereja berdiri kokoh, megah dan mewah; sementara di sisi kanan-kiri gereja berdiri bangunan rumah yang kumuh, miskin dan kotor. Suara kenabian gereja yang melempem atas persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, karena gereja lebih suka berlindung di ketiak penguasa. Demikianlah yang sering terjadi, gambaran saksi Mesias yang justru tidak berani memperjuangkan keadilan, kedamaian serta kesejahteraan.

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,

Pokok teologis bacaan Injil mengingatkan bahwa panggilan menjadi batu karang serta pemegang kunci kerajaan sorga dari sudut pandang kita masa kini bukan saja sebagai panggilan Petrus. Namun, panggilan tersebut juga menjadi panggilan kita semua. Tuhan menghendaki agar kita menjadi batu karang artinya menjadi dasar atau fondasi tegaknya harkat dan martabat manusia. Tuhan juga menghendaki kita menjadi pemegang kunci kerajaan sorga artinya kita adalah saksi-Nya yang menghayati serta mengamalkan kedamaian baik dalam karya maupun pelayanan kita. Oleh karena itu, ibadah kali ini menjadi momentum bagi kita untuk berikrar bahwa kita baik sebagai pribadi maupun gereja adalah saksi-saksi Mesias. Menjadi saksi Mesias yang berarti melalui pikiran, perkataan serta perbuatan baik, kita dimampukan untuk membagi damai sejahtera di manapun kita berada atau ditempatkan Tuhan. Sekali lagi, masih dalam suasana HUT Kemerdekaan RI ke-66 marilah kita mempersembah kan karya dan pelayanan kita demi kejayaan negeri ini, melalui tindakan benar yang berlandaskan pada cinta kasih Tuhan yang telah memberi keselamatan serta kemerdekaan bagi kita semua. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah          : Yohanes 5:36

Petunjuk Hidup Baru    : Keluaran 23:1-3

Nas Persembahan       : Mazmur 27:4

 

v   Rancangan Nyanyian Ibadah:

Nyanyian Pembukaan                        : KJ 383:1, 2

Nyanyian Penyesalan            : KJ 37a:1, 2

Nyanyian Kesanggupan                    : KJ 260:1, 2

Nyanyian Persembahan                     : KJ 337:1-

Nyanyian Penutup       : KJ 336:1-4

Khotbah Jangkep Minggu, 21 Agustus 2011

Pekan Biasa Kaping Selikur (Ijo)

GESANG MINANGKA SEKSINIPUN SANG MESIH ING SATENGAHING BANGSA

 

Waosan I: Yesaya 51:1-6; Tanggapan: Jabur Masmur 138

Waosan II: Rum 12:1-8; Waosan III: Injil Mateus 16:13-20

Tujuwan:

Pasamuwan kaatag nglengganani pakaryan lan tanggeljawabipun ing satengahing bangsa mirungganipun dados seksining Sang Mesih kanthi tumindak ingkang leres.

v   Khotbah Jangkep

 

Para sadherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,

W

onten ing negari kita punika dumugi samangke taksih asring kalampahan tuwuhipun prakawis magepokan kaliyan agami utawi kayakinan. Upaminipun, ing wulan Februari kepengker sagolongan tiyang ingkang boten saged nampi putusaning sidang ing pangadilan Temanggung lajeng ngrisak lan ngobong gedhong greja punapa dene papan pasinaon. Conto sanesipun ingkang nedahaken peranganing bangsa punika kecalan raos kamanungsan inggih punika sagolongan tiyang ingkang ngugemi kayakinan Ahmadiyah ing Cikeusik, Pandeglang, Banten dipun-pilara malah wonten ingkang dipun-pejahi dening tiyang-tiyang ingkang boten tanggel jawab. Makaten punika sawatawis tumindak kejem ingkang kalampahan ing satengahing bangsa punika kamangka kita sadaya ngaken bilih kita punika bangsa ingkang nindakaken Pancasila mirungganipun sila kapisan, Ketuhanan Yang Maha Esa. Magepokan kaliyan prakawis-prakawis kala wau, ing pundi kababaring kapitadosan punapa dene mituhunipun umat dhateng Gusti?

Magepokan kaliyan prakawis-prakawis ingkang nrenyuhaken wau, ing samangke sumangga kita ngraos-raosaken kawontenan gesang kita piyambak-piyambak. Punapa kita sampun nindakaken tugas kita minangka pribadi punapa dene pasamuwan ing satengahing gesang sesarengan? Mesthinipun kita sadaya nyarujuki gegadhanganing bangsa kita inggih punika ngener dhateng masyarakat ingkang adil, raharja lan tentrem rahayu. Nanging, punapa kita sampun mbudidaya sesarengan kanthi temen-temen ngudi ingkang dados gegadhanganing bangsa negari kita punika?

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti,

Menawi kita sinau sesarengan waosan ing dinten punika, saboten-botenipun kita saged manggihaken prakawis ingkang wigati inggih punika Gusti Allah makarya mbabar kawilujengan saha karaharjan tumrap umatipun. Gusti Allah ngersakaken wontenipun tanggapan awit saking pakaryanipun kasebat. Lan tanggapaning umat katalesaken lumantar prakawis, setunggal, Yesaya 51:1-6. Gusti Allah prajanji badhe mbabar kawilujengan lan karaharjan tumrap umatipun nanging umat tinimbalan ngudi enering gesang dhateng Gusti temah katentreman, berkah, sih rahmat saha pamulihan badhe kaparingaken dhateng umatipun. Kalih, lumantar Jabur Masmur 138 ngewrat pangucap sokuripun juru masmur anggenipun nanggapi pakaryaning Allah jalaran Panjenenganipun sampun midhangetaken punapa ingkang dados panyuwunanipun umat, Panjenenganipun sampun mratelakaken prajanjinipun dhateng para raja ingkang temtunipun magepokan kaliyan prakawis karaharjan, Panjenenganipun boten ngremehaken tiyang asor tegesipun Gusti Allah badhe mbelani manungsa ingkang dipun-remehaken, Panjenenganipun sampun mbelani umatipun saking tanganipun para mengsah lan pakaryan astanipun Gusti tetep langgeng salaminipun. Tiga, tanggapaning umat kados ingkang kawulangaken ing Rum 12:1-8 kababar ing sikep gesang padintenan kados ta: boten madha rupa kaliyan jagad, saged ngendhaleni dhiri, ngginakaken talenta peparingipun Gusti saha tansah bingah ing sadhengah kawontenan. Dene angka sekawan, wonten ing Injil Mateus 16:13-20 ngewrat paseksi bab Yesus Kristus. Yesus punika pancen utusaning Allah murih kawilujenganing jagad punika. Pangakenipun Petrus punika pangaken ingkang magepokan kaliyan tugas timbalanipun inggih punika dados watu karang lan ugi abdi ingkang nyepeng soroging kraton swarga. Tembung dados watu karang mesthinipun ngener dhateng ancas tartamtu inggih punika Petrus dados saka-guru utawi pandhemen pratelan kapitadosan dhumateng Gusti. Petrus dados tetales pangaken bilih Yesus punika utusaning Allah ingkang mbabar kabingahan, bedhamen, karaharjan saha kawilujengan tumrap sadaya umat titahipun. Ing sisih sanes, Petrus ugi tinimbalan nyepeng soroging kraton swarga. Tembung kasebat boten ateges Petrus ingkang nyepeng kuwaos nemtokaken sinten kemawon ingkang dipun-keparengaken mlebet kraton swarga. Nanging tembung kasebat tegesipun inggih punika bilih lumantar Petrus badhe tuwuh pasamuwan. Menawi dipun-sambetaken kalih pangertosan kasebat tegesipun bilih Petrus tinimbalan dados seksi martosaken tentrem rahayu tumrap tiyang kathah. Awit, underaning kraton swarga inggih punika tentrem rahayu. Mila prakawis tentrem rahayu punika dados timbalan ingkang nyata tumraping Petrus.

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti,

Taksih sambet kaliyan tanggap warga kamardikan negari kita ingkang kaping 66, mangga kita raos-raosaken malih punapa maknanipun kamardikan ingkang sejatosipun kasambetaken kaliyan kasunyatanipun ing satengahing bangsa kita. Tembung mardika punika boten saged dipun-pethal saking prakawis katentreman utawi karahayon. Sinaosa kita sabangsa ngakeni bilih kita sampun mardika nanging kasunyatanipun kamardikan ingkang sejati dereng kababar wonten ing satengahing bangsa kita. Taksih kathah panindhes makaten ugi bedak-bedakaken golongan satunggal lan satunggalipun dadosa ingkang katindakaken dening panguwaos punapa dene golongan-golongan ingkang kumowaos. Prakawis bebencengan antawisipun agami satunggal lan satunggalipun. Piwulang utawi ideologi ingkang kasambetaken kaliyan agami tertemtu kasebaraken dhateng nem-neman ing negari punika. Menawi kawontenanipun kados makaten punika dipun-kendelaken kemawon, kados pundi kedadosanipun bangsa punika ing mangsa ngajengipun?

Pangandikanipun Gusti dinten punika ngengetaken bab timbalan kita minangka tiyang Kristen ingkang kedah nekseni Sang Mesih ing satengahing bangsa kita. Ngener dhateng underaning pangandikanipun Gusti, ingkang wigati inggih punika pamawas bilih Gusti Allah milujengaken umatipun. Saking pakaryan kawilujengan ingkang katindakaken dening Gusti kasebat, umatipun Gusti tinimbalan tansah ngucap sokur awit sih rahmatipun Gusti Allah kanthi tumindak leres saha tansah mbabar katrentreman ing pundi kemawon umat kapapanaken. Awit saking punika sumangga kita naliti gesang kita piyambak-piyambak, dadosa pribadi punapa dene pasamuwan punapa kita sampun estu dados seksi Sang Mesih? Asring kalampahan kita nyupekaken timbalan kasebat. Nalika kita rumaos bilih kapitadosan kita ingkang paling leres katimbang tiyang sanes tundhanipun sikep kita ngremehaken tiyang sanes. Nalika greja kirang celak kaliyan masyarakat temahan paladosan-paladosaning greja punika condhong nggatosaken kabetahanipun piyambak, tundhonipun greja boten dipun-remeni dening masyarakat. Gedhong greja kabangun magrong-magrong kathah wragadipun, kamangka ing sakiwa tengening greja madeg griyanipun tiyang miskin, papa lan sekeng. Greja boten wantun nyuwantenaken kaleresan ningali prakawis-prakawis ingkang magepokan kaliyan masyarakat, awit greja langkung remen pados slamet tumraping dhirinipun piyambak. Tumindak makaten punika saged kemawon katindakaken dening pasamuwanipun Gusti ingkang kedahipun nekseni Sang Mesih. Kedahipun pasamuwan wantun njejegaken kaadilan, bedhamen saha ngudi kababaring karaharjan sesarengan sadaya peranganing bangsa punika.

Para sedherek ingkang kinasih ing patunggilanipun Gusti,

Underaning pangandikanipun Gusti saking Injil dinten punika, ngengetaken kita bab timbalaning gesang kita minangka watu karang saha nyepeng soroging kraton swarga. Timbalan kasebat boten namung timbalanipun Petrus, nanging ugi dados timbalan kita ing jaman samangke lan wonten ngriki. Gusti nimbali kita dados watu karang tegesipun dados dhasar utawi pandhemen jejeging ajining dhiri tumraping sadaya manungsa, sinten kemawon tanpa wates. Gusti inggih nimbali kita nyepeng soroging kraton swarga, tegesipun kita dados seksinipun kanthi ngraos-raosaken saha mbabar bedhamen, dadosa ing pakaryan punapa dene paladosan kita.  Awit saking punika ing pangibadah wekdal samangke, prayogi sanget kadadosaken sarana anggen kita mratelakaken bilih kita sadaya, dadosa sacara pribadi punapa dene pasamuwan punika minangka seksinipun Sang Mesih. Dados seksinipun Sang Mesih ingkang ateges lumantar pangangen-angen, pitembungan punapa dene lampah kita ngudi kautamen. Makaten ugi kita purun andum tentrem rahayu ing pundi kemawon kita kapapanaken dening Gusti. Sepisan malih taksih sambet kaliyan pahargyan tanggap warsa kamardikaning bangsa kita kaping 66 punika kita pisungsungaken karya punapa dene paladosan kita murih santonsaning bangsa kita. Sumangga kita ngudi lampah gesang ingkang leres atetales katresnanipun Gusti ingkang sampun mbabar kawilujengan saha kamardikan tumrap kita sadaya. Gusti mberkahi kita. Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci

Pawartos Sih Rahmat              : Yokanan 5:36

Pitedah Gesang Anyar                       : Pangentasan 23:1-3

Pangatg Pisungsung    : Jabur Masmur 27:4

 

v   Rancangan Kekidungan

Kidung Pambuka         : KPK BMGJ 315:1, 2

Kidung Panalangsa     : KPK BMGJ   74:1, 2

Kidung Kasanggeman            : KPK BMGJ 317:1-3

Kidung Pisungsung      : KPK BMGJ 185:1-

Kidung Pangutusan     : KPK BMGJ 319:1, 3

Khotbah Jangkep Minggu, 28 Agustus 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Dua (Hijau)

UJILAH AKU

Bacaan I: Yeremia 15:15-21; Tanggapan: Mazmur 26:1-8;

Bacaan II: Roma 12:9-21; Bacaan III: Injil Matius 16:21-28

Tujuan :

Memberikan penguatan di tengah himpitan dan persoalan yang muncul karena identitas kita sebagai orang percaya.

v   Dasar Pemikiran:

Maraknya tindakan anarkis yang tidak jarang juga menimpa orang percaya menimbulkan berbagai pertanyaan. Mulai dari pertanyaan mengenai sebab atau alasan terjadinya, serta sikap atau tanggapan saat kejadian ataupun terhadap pelakunya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan kita cari jawabnya.

v   Keterangan Tiap Bacaan

Yeremia 15:15-21

Ayat 15-18 merupakan protes Yeremia kepada Allah karena hidupnya yang saleh penuh penderitaan dan penganiayaan. Ayat 19-21 merupakan jawaban Allah yang mementahkan penilaian Yeremia akan kwalitas hidupnya. Kata “kembali” yang digunakan mengindikasikan bahwa di hadapan Allah Yeremia tidak sebaik penilaiannya. Bacaan ini juga juga mewakili keberadaan bangsa Israel yang saat itu menderita di tanah pembuangan.

Mazmur 26:1-8

Dalam Mazmur ini juga tampak protes Daud yang merasa perlu menuntuk keadilah dari Tuhan. Kemungkinan besar hal ini dilatarbelakangi penganiayaan yang dialaminya dari Saul.

Roma 12:9-21

Rasul Paulus menyampaikan tentang cinta yang sesungguhnya. Cinta kasih harus dilakukan bukan hanya kepada orang yang kita kenal, tetapi juga kepada orang asing, bahkan orang orang yang telah menyakiti kita.

Injil Matius 16:21-28

Di tengah kisah mujizat Yesus serta pengakuan dan kesediaan Petrus membela Yesus, terungkap bahwa Petrus menganggap bahwa semua mujizat itu seharusnya ditutup dengan deklarasi kemesiasan Yesus, yaitu sebagai raja orang Yahudi. Petrus tidak senang ketika Yesus justru mengatakan tentang penderitaan dan penganiayaan yang akan dialami-Nya. Petrus tidak setuju. Bagi Yesus, penggenapan Kemesiasan-Nya harus dilakukan dengan menanggung penderitaan.

Harmonisasi bacaan

Yeremia dan Daud mengalami pergumulan yang sama mengenai penganiayaan yang mereka alami, sedangkan mereka merasa menjadi orang baik. Sementara itu dalam bacaan perjanjian baru kita mendapat pelajaran mengenai sikap terhadap penderitaan dan orang orang yang menganiaya kita.

v   Khotbah Jangkep

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

D

alam kehidupan sebagai orang percaya, tidak bisa kita hindari timbulnya persoalan sebagai konsekwensi dari kepercayaan kita. Persoalan itu bisa dialami sebagai sebuah komunitas maupun individu. Sebagai sebuah komunitas, kita adalah golongan minoritas dan kelihatannya sudah menjadi hal umum kalau golongan minoritas mendapat persoalan karena keminoritasannya. Dalam majalah Inspirasi terbitan BPK Gunung Mulia edisi Maret 2011 halaman 28-29, diturunkan berita mengenai data Gereja-gereja yang mengalami persoalan-persolaan seperti itu. Artikel yang berjudul “Gereja-gereja yang Teraniaya“ memuat data gereja yang disegel pemerintah daerah karena desakan golongan/ormas tertentu. Juga ada yang mengalami pengrusakan dan pembakaran gedung Gereja sehingga terpaksa pindah tempatberibadah. Belum lagi ditambah dengan penganiayaan anggota dan pimpinan jemaat. Selain itu, sulitnya mendapatkan IMB untuk bangunan tempat ibadah.

Semula saya pikir hal-hal tersebut hanya terjadi di tempat lain dan hanya kita baca di koran atau majalah. Tetapi ternyata tidak. Dalam lingkup GKJ, Desember 2010 lalu GKJ Trucuk, Klaten mengalaminya. Gedung gereja akan dibakar orang, bahkan bagian kecil dari pintu sudah mulai terbakar. Tentunya berbagai perasaan terkejut, takut, gelisah, dan lelah bercampur menjadi satu. Jemaat begadang setiap malam untuk bejaga-jaga di gereja. Tidak berhenti di situ, beberapa saat kemudian GKJ Trucuk tergenang banjir. Walau hanya ukuran sentimeter, ternyata membuat repot juga. (cerita ini bisa diganti pengalaman pribadi).

Namun tiidak hanya secara komunitas kita mengalami “pengiayaan“. Dalam kehidupan secara individu kita juga sering mengalaminya. Pernahkah Saudara-saudara mendengar cerita tentang seseorang yang tidak diterima bekerja karena dia beragama tertentu? Atau cerita mengenai seorang CPNS yang sudah mendapatkan SK untuk mengajar di suatu sekolah, tetapi tidak bisa mengajar di sekolah itu karena rekan dan dinas menolak sebab dia beragama Kristen. Aneh bukan? Tapi ini benar benar-benar terjadi.

Peristiwa-peristiwa seperti itu membuat kita bertanya-tanya. Mengapa ini terjadi? Mengapa kita (gereja/orang Kristen) harus mengalaminya? Apa salah kita? Apalagi ketika kita berkesimpulan bahwa kita benar, tidak melakukan kesalahan sama sekali, dan tidak seharusnya mengalami hal itu. Kejadian itu juga memaksa kita bergumul lebih jauh lagi, tentang sulitnya beribadah dengan tenang, atau sekadar menjadi orang Kristen. Mengapa begitu banyak yang tidak senang dengan keberadaan kita? Mengapa begitu sulit menciptakan kedamaian? Apa yang harus kita lakukan dalam keadaan ini? Apa yang harus kita perbuat pada para pelaku penganiayaan?

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Pertanyaan dan pergumulan yang serupa juga dirasakan oleh Yeremia dan Daud dalam bacaan kita. Yeremia merasa dirinya adalah pelayan Allah yang baik. Sebagai pribadi, ia adalah pribadi yang baik, senantiasa mendengarkan kehendak Tuhan, selalu menggumuli firman Tuhan, dan menjauhi perkumpulan-perkumpulan yang tidak dikehendaki Tuhan. Sebagai bangsa, Yeremia memimpin bangsa Israel, bangsa pilihan itu, di tanah pembuangan. Dalam kesadaran akan kwalitas diri yang baik itu, Yeremia menggugat Tuhan mengenai sebab penganiayaan yang ia alami.

Daud juga merasakan hal yang kurang lebih sama. Dia merasa sebagai orang yang benar, tetapi mengalami penganiayaan. Ia dikejar kejar oleh Saul. Hal ini membuat Daud merasa perlu meminta keadilan dari Allah, setimbang dengan kwalitas hidupnya yang baik.

Dalam Yeremia 15:19, Allah memberi jawab akan keluhan Yeremia. Tuhan mengatakan bahwa Yeremia harus kembali. Jika dia mau kembali maka dia akan dipulihkan sebagai utusan Allah. Ada sebuah ironi disini. Ketika Yeremia merasa diri benar dan menggugat Tuhan, ternyata Tuhan mengatakan dia harus kembali. Kata kembali bisa diartikan sebagai bertobat. Bertobat adalah tindakan menyadari kesalahan dan kembali kepada kebenaran. Apa yang dikatakan Allah ini memberikan kesadaran bahwa ternyata sebaik apapun kehidupan kita, tetap tidak sempurna.

Di sini kita belajar tentang semangat koreksi diri. Koreksi diri bukan perasaan bersalah yang mengarah pada rendah diri. Koreksi diri adalah sebuah proses untuk melihat ke dalam diri kita sendiri, menyadari identitas kita, dan keberadaan kita di hadapan Tuhan. Proses ini mengarahkan kita pada sikap rendah hati, menyadari bahwa kebaikan kita selalu bersanding dengan kekurangan kita. Hal ini menyebabkan kita terhindar dari klaim tertentu terhadap keberadaan kita dan orang lain.

Dalam konteks persoalan kita sekarang ini, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk pertama-tama mengoreksi diri dan keberadaan kita (Gereja) di tengah-tengah komunitas. Tentu proses ini bukan bertujuan membawa pada perasaan bersalah dan pantas untuk menderita atau dianiaya. Proses mengoreksi diri ini membawa kita pada rasa mawas diri, senantiasa berusaha memperhatikan dan memperbaiki hubungan kita dengan lingkungan. Terlebih kita kembali kepada Allah, menyadari keadilan dan penyertaan Tuhan dalam kondisi kita sekarang ini, bukannya malah menggugat Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Selanjutnya apa yang harus dilakukan? Bagaimana kita bersikap terhadap para pelaku? Rasul Paulus mengajarkan sebuah sikap yang didasarkan kasih. Kasih yang dimaksud di sini adalah kasih yang sesungguhnya, yang tidak berpura-pura. Ciri-cirinya adalah menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik. Menjauhi yang jahat berarti menjauhi perbuatan jahat, bukan orang jahatnya. Jelas pada ayat selanjutnya, Rasul Paulus mengatakan bahwa kasih harus diberikan kepada siapapun. Bukan hanya kepada yang baik, tetapi kepada yang jahat sekalipun. Bahkan kita diharuskan memberkati, bukan mengutuk, orang yang jahat kepada kita.(ayat 14).

Mengasihi adalah sesatu yang tidak mudah untuk dilakukan ketika yang menjadi obyek kasih kita adalah orang yang telah menyakiti kita. Frasa “kasih janganlah berpura pura“ merupakan pengingat bagi kita bahwa kasih itu harus dilakukan dengan kesungguhan hati, meskipun untuk itu kita harus berkorban. Hal tersebut yang dilakukan oleh Yesus. Mengerjakan kasih, kerajaan Allah, memang memerlukan pengorbanan. Dalam kesadaran Mesianis-Nya, Yesus memahami bahwa melalui penderitaanlah Kemesiasan-Nya genap. Bahkan Yesus memarahi Petrus ketika melarang-Nya berbicara mengenai Mesias yang menderita. Semangat itu yang harus kita teladani.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Penderitaan dalam iman Kristen sering dipandang sebagai hal yang positif, yaitu tidak selalu mendatangkan hal negatif. Penderitaan bisa kita terima sebagai kebahagian, sebuah proses pemurnian. Jadi penderitaan itu kita terima sebagai sebuah kesempatan untuk menguji diri kita sendiri mengenai pengenalan kita akan panggilan sebagai utusan Allah. Sejauh mana kita bisa bertahan tanpa menggerutu atas panggilan kita sebagai orang percaya? Terlebih lagi, ini adalah kesempatan kita untuk meneladan Kristus. Mengasihi dengan kasih yang tidak pura-pura kepada siapapun, bahkan kepada orang yang menganiaya kita. Kita tidak menjadi keras dan tawar hati, tidak kehilangan kasih. Juga jangan pernah lupa akan penyertaan Allah. Dalam penderitaan yang kita alami, Tuhan senantiasa menyertai dan menolong kita. Tuhan akan memulihkan kita jika kita bertahan dan mau kembali kepada Tuhan. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah          : Matius 5 : 10

Petunjuk Hidup Baru    : Matius 5 : 44

Nats Persembahan      : Mazmur 5 : 4

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Nyanyian Pambuka  : KJ no. 222b:1,2,7

Nyanyian Penyesalan : KJ no. 26: 1,2

Nyanyian Kesanggupan        : KJ no. 246:1,2

Nyanyian Persembahan         : KJ no. 367: 1 –

Nyanyian Penutup    : KJ no. 452: 1,4

Khotbah Jangkep Minggu 28 Agustus 2011

Pekan Biasa Kaping Kalih Likur (Ijo)

NAMPENI PANETERING JIWA

 

Waosan I: I Yer 15:15-21, Tanggapan: Jabur 26:1-8,

Waosan II: Rum 12:9-21, Waosan III: Injil Mateus 16:21-28

Tujuwan:

Ngiyataken kapitadosaning pasamuwan ing satengahing kawontenan gesang ingkang awrat.

v   Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang dipun-tresnani lan ugi nresnani Gusti,

I

ng gesang kita padintenan, kita mesti nate ngraosaken momotan gesang. Menawi momotan punika dipun-taliti lan dipun-raosaken, momotan gesang punika tuwuh awit kita punika tiyang pitados. Ing babagan punika momotan gesang saged karaosaken sacara pribadi punapa dene sesarengan minangka pasamuwan. Kita punika pancen dados golongan minoritas, lan kadosipun sampun jamak limrah menawi minoritas punika mesti ngalami prakawis awit madeg dados golongan alit.

Ing babagan panganiaya ingkang karaosaken dening pasamuwan (gereja), Majalah Inspirasi Edisi wulan Maret 2011 kaca 28-29 nyerat bab kawontenan  gereja ingkang ngadhepi prakawis  punika. Pawarta punika dipun serat kanti jejer “Gereja – gereja yang teraniaya.” Ing bab punika,  prakawis ingkang dipun-adhepi dening sawetawis pasamuwan antawisipun ngengingi anggelipun pikantuk IMB,  wontenipun papan pangibadah ingkang dipun-segel pamarintah awit bujukanipun golongan tertemtu temah boten saged dipun-agem mangibadah malih. Gereja gereja ingkang dipun-risak lan ugi wonten ingkang dipun-bakar. Awit bab punika kathah pasamuwan  ingkang kepekso pindah, malah wonten ingkang lajeng mangibadah ing mergi lan trotoar jalan. Boten punika kemawon, boten trimah namung grejanipun ingkang dipun-risak, pimpinan lan warganing pasamuwan ugi wonten ingkang ngantos dipun-aniaya.

(saged dipun-tambah pengalaman pribadi gereja setempat- khususipun ingkang kelampahan ing wulan desember 2010, sawetawis gereja ngalami persoalan punika)

 

Pasamuwan ingkang dipun tresnani Gusti,

Panganiaya ugi dipun-raosaken ing gesang pribadi padintenan. Kita asring mireng cariyos sadherek kita ingkang boten estu pikantuk jabatan utawi pedamelan awit ngrasuk kapitadosan dhumateng GustiYesus.  (Dipun cariosaken pengalaman ingkang gadhah sesambetan raket kaliyan warga pasamuwan)

Pasamuwan kinasih,

Punapa ingkang kelampahan punika saestu nuwuhaken pitakenan ing manah kita. Kenging punapa punika kelampahan? Kenging punapa kita (Greja lan tiyang pitados) ingkang kedah ngalami? Punapa kalepatan kita? Kenging punapa kangge mangibadah kanthi ayem tentrem kemawon kok anggel? Kenging punapa kangelan dados tiyang Kristen punika? Lan malih, pitakenan ingkang langkung wigati, punapa ingkang kedah kita tindakaken tumprap tiyang-tiyang ingkang sampun nganiaya kita punika?

Pitakenan lan raos ingkang sami ugi dipun-raosaken dening sang nabi Yeremia lan Sang Prabu Daud. Yeremia saestu ngraosaken bilih piyambakipun punika sampun saestu ngladosi pasamuwan lan Gusti kanti sae. Jejering pribadi, Yeremia rumaos dados tiyang ingkang tansah nindakaken karsanipun Gusti, tansah mirengaken pangandikanipun Gusti, tansah nyinau pangandikanipun Gusti lan nebih saking pakempalanipun tiyang nasar. Ing salebeting pangaraos bilih gesangipun boten nindakaken kalepatan punika, Yeremia nggigat Gusti. Kenging punapa gesangipun tuwin bangsanipun ngalami panganiaya. Bangsa Israel ingkang dipun-ladosi, bangsa pilihanipun Gusti, kedah gesang ing tanah pangawulan. Sami kados ingkang dipun raosaken Dawud. Dawud ugi rumaos dados tiyang sae lan leres. Nanging kenging punapa taksih kedah sangsara dipun bujeng dening Saul. Dawud malah rumaos prelu nyuwun kaadilanipun Gusti.

Pasamuwan kinasih,

Sacara mirunggan ing Yeremia 15: 19, Gusti paring wangsulan dhateng pitakenanipun Yeremia. Gusti nedahaken bilih Yeremia kedah wangsul, mratobat. Wonten  bab ingkang ngosok-wangsul, ing sasisih Yeremia Rumaos sae, malah rumaos gadhah hak nggigat Gusti adhedhasar kesaenanipun piyambak, nanging Gusti malah ngemutaken Yeremia supados mratobat, lan namung kanthi pamratobat kemawonYeremia lan Israel badhe dipun-pulihaken Gusti.

Pamratobat punika  ngrumaosi kalepatanipun lan wangsul dhateng prakawis ingkang sae.  Punapa ingkang dipun-ngendikakaken Gusti dhateng Yeremia punika ngengetaken bilih kita punika saestu boten sampurna. Satengahing sadaya kesaenan kita, kita tetep boten sampurna. Kita sinau bab mulat sarira, ningali batos kita piyambak. Temtu mulat sarira punika sanes bab ngrumaosi lepat ingkang tumuju dhateng raos asor. Mulat sarira punika prakawis ningali lebeting manah kita, ngrumaosi sinten diri kita dipun abenajengaken kaliyan Gusti. Mulat sarira, koreksi diri ngrahaken diri supados andhap asor, mawas diri. Sae ing gesang masyarakat punapa malih ing sesambetan kita kaliyan Gusti. Tansah ngrumaosi bilih ing sadaya kesaean kita punika ugi wonten kekirangan kita.

Raos mawas diri, waspada lan andhap asor punika badhe nyagedaken kita nindakaken bab ingkang leres ing kawontenan ingkang kita raosaken wedal punika, mirunggan bab kados pundi kita ningali sadaya momotan gesang kita. Lan langkung lebet malih, punika nyagedaken kita nanggapi tiyang-tiyang ingkang sampun nganiaya kita.

Rasul Paulus ing waosan kita mulangaken bab katresnan. Katresnan punika ingkah kedah ndhasari sadaya tumindak kita tuwin ing sadaya kawontena gesang kita ing wedal punika. Katresnan ingkang dipun wulangaken Paulus, sanes katresnan ingkang lamis. Katresnan ingkang boten lamis punika tansah nebihi bab ingkang boten leres, ananging nindakaken ingkang leres.  Nebih saking bab ingkang boten leres punika boten kanti nebihi tiyangipun ingkang tumindak boten leres. Tumindakipun ingkang kita sengiti, nanging manungsanipun kedah kita tresnani. Bab punika cetha ing ayat salajengipun, bilih kita kedah nresnani kanti boten mbedakaken setunggal lan setunggalipun. Kita tresna boten namung dhateng tiyang ingkang sae, nanging ugi dhateng tiyang ingkang “boten sae“  dhateng tiyang wengis kita malah dipun-wulang supados mberkahi sanes malah supata. ( ayat 14 )

Nresnani pancen boten gampil. Punapa malih menawi ingkang kedah kita tresnani punika tiyang ingkang sampun nganiaya kita. Tembung katresnan ditanpa lamis tansah ngemutaken kita, bilih anggen kita nresnani punika kedah kanti tulus, boten lamis, malah sanadyan ngantos tuna. Punika ingkang dipun tindakaken Gusti. Ing salebeting pakaryan  Mesiasipun, Gusti pirsa bilih jejibahan minangka Sang Mesih punika badhe jangkep lumantar kasangsaran ingkang kedah kasandhang awit katresnanipun dhateng manungsa. Mila Gusti lajeng duka dhateng Petrus nalika Petrus sumela atur dhateng Gusti bab piwulang kasangsaranipun Gusti punika.

Pasamuwan kinasih,

Kasangsaran lan momotan gesang ing ajaran kristiani, asring ditingali sacara positif, bilih momotan gesang boten namung mligi nuwuhaken kasangsaran. Prakawis tiningal minangka lampahing pamulihan. Nalika kita ngraosakaen momotan gesang, sumangga dipun tampi dados wujuding pendadaran diri. Punika wewengan mirunggan kangge nulad Gusti. Sinau kangge nelakaken katresnan tulus, sinau ngatag manah supados saged tatag lan tanggon anggen kita ndherek Gusti. Punika wewengan kangge sinau tresna ditanpa lamis dhateng sinten kemawon. Lan setunggal prakawis ingkang kedah kita ugemi. Gusti boten sare, mesti tansah mitulungi lan paring kekiyan dhateng kita. Amin.

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartosing Sih Rahmat                     : Mateus 5 : 10

Pitedah Gesang Enggal                      : Mateus 5 : 44

Pangatag Pisungsung             : Jabur 5 : 4

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka         : KPK-BMGJ no. 15 : 1,2

Kidung Panelangsa     : KPK-BMGJ no. 48 : 1,2

Kidung Kesanggeman            : KPK-BMGJ no. 311 : 1,2

Kidung Pisungsung      : KPK-BMGJ no. 187 : 1,3

Kidung Panutup           : KPK-BMGJ no. 310 : 1,2

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep

 

BULAN

OKTOBER – 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar isi

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 2  Oktober  2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tujuh  HPII/HPKD (Merah)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

MANISKAH BUAHMU? ———————————————- 162

Khotbah Jangkep Basa Jawa

Punapa manis woh gesang kita? ————————– 168

Oleh Pdt. R. Tyas Budi Legowo

 

Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

IDENTITAS KELUARGA KRISTEN : membutuhkan komunitas 173

Khotbah Jangkep Basa Jawa

titikaning brayat kristen: mbetahaken patunggilan 179

Oleh Pdt. R. Tyas Budi Legowo

 

Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua puluh Sembilan (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

keluarga kristen berhiaskan kekudusan —————- 184

Khotbah Jangkep Basa Jawa

brayat kristen  kang nengenaken gesang suci —– 190

Oleh Pdt. Kristi

 

Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober  2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

KELUARGA  YANG CANTIK BATIN DAN CANTIK PERILAKU — 194

Khotbah Jangkep Basa Jawa

BRAYAT ENGKANG MUJUDAKEN KAELOKANING GESANG – 201

Oleh Pdt. Oktavianus Heri Prasetya Nugroho

 

Khotbah Jangkep Minggu, 30  Oktober  2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh Satu (Hijau)

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Keluarga yang menghadirkan Pemimipin sejati—— 206

Khotbah Jangkep Basa Jawa

brayat ingkang nglairaken pemimpin sejati ———- 212

Oleh Pdt. Johan Kristantoro

 

Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tujuh (Merah)

HP I I & H P K D

MANISKAH BUAHMU?

 

Bacaan I: Yesaya 5:1-7, Tanggapan Mazmur 80:7-15

Bacaan II: Filipi 3:4b-14, Bacaan III: Injil Matius 21:33-46

 

v   Dasar Pemikiran

Kegiataan Pekabaran Injil dan Perjamuan Kudus bahkan perjamuan makan bersama warga gereja dengan tetangga sekitarnya bisa menjadi sebuah kesatuan yang saling terkait. Untuk itu perlu dilandasi kesediaan memilih hidup dalam keadilan dan kebenaran yang berpihak pada pengembangan kehidupan sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 5:1-7

Dalam Alkitab, Tuhan tidak digambarkan dengan menekankan kesucian, keabsolutan, dan sifat tak terbatas-Nya yang memperlebar jurang antara Tuhan dan manusia. Alkitab menggambarkan Tuhan berinteraksi dengan manusia seperti petani dengan kebun anggurnya. Dengan memilih bangsa Israel bukan berarti Tuhan merendahkan atau meniadakan bangsa-bangsa lain. Israel harus berbuat adil dan benar supaya kehadiran Tuhan nampak dan bisa disaksiakan oleh siapapun.

 

Mazmur 80:7-15

Tuhan adalah sahabat manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Manusia melibatkan Tuhan sehingga merasa perlu berbicara dengan-Nya. Yang dibicarakan bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan. Umat mengungkapkan uneg-uneg dan respon yang diharapkan dari Tuhan. Kedekatan pemasmur dengan Tuhan tampak melalui ungkapan yang termuat dalam ayat tujuh dan delapan.

 

 

 

Filipi 3:4b-14

Paulus berharap kedatangan Tuhan yang ke dua terjadi ketika dia masih hidup. Maka bagi Paulus yang terpenting adalah ”….mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (ayat 10-11). Banyak hal yang oleh Paulus semula dianggap penting menjadi kurang penting dibanding pengenalannya akan Kristus (ay. 4b-8).

 

Injil Matius 21:33-46

Bangsa Yahudi itu unik. Tuhan telah memilih bangsa Yahudi, bahkan Yesus diutus ke tengah-tengah mereka. Namun mereka menolak bahkan menyalibkan-Nya. Memang ada juga yang percaya dan menjadi cikal bakal gereja mula-mula. Keadaan ini justru menjadi dasar dikabarkannya Injil ke mana-mana. Meski Tuhan memilih bangsa Yahudi, tetapi mereka tetap sederajat dengan bangsa-bangsa lain. Panggilan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah adalah bagi semua bangsa.

 

Renungan atas Bacaan

“Selamat Ulang Tahun, ya.” Demikian kalimat yang biasa kita dengar atau ucapkan ketika ada seseorang yang berulang tahun. Mengapa kalimat itu diucapkan? Apakah karena prestasi, kehebatan, atau kebaikan orang yang berulang tahun? Tidak. Kita sedang merayakan kehidupan. Kita menerima hidup orang itu maupun hidup kita sendiri. Kita menerima keberadaan orang itu apa adanya. Kita juga ingin keberadaan kita diterima oleh orang itu apa adanya. Hidup itu sendiri merupakan anugerah yang patut dirayakan.

Ucapan selamat ulang tahun tidak terkait dengan prestasi atau kehebatan seseorang. ”Sebelumnya saya tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Sekarang karena bertepatan dengan ulang tahunmu kamu berprestasi dan berbuat baik padaku, maka saya ucapkan selamat ulang tahun, ya.” Sebuah kalimat yang aneh.

Sebaliknya ucapan selamat ulang tahun justru berdaya guna ketika ditujukan kepada orang yang sedang dalam kelemahan, keterbatasan, kekurangan, atau keterpinggiran. Ucapan itu menjadi sarana untuk berpihak kepada mereka yang membutuhkan persahabatan dan keadilan.

Orang yang relasinya sedang terganggu, bermusuhan, saling berolok-olok atau mencederai sulit mengucapkan selamat ulang tahun. Ucapan selamat ulang tahun adalah ungkapan pulihnya hubungan dalam kehidupan. Orang yang sedang bermasalah merindukan pemulihan itu. ”Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Maz. 80:7-8)

Minggu ini kita merayakan ulang tahun Hari Pekabaran Injil Indonesia dan Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Apa maknanya kalau kita merayakannya? Adakah peranan Pekabaran Injil dan Perjamuan Kudus dalam merayakan kehidupan? Atau malah menyebabkan persoalan atau rusaknya hubungan antar orang atau komunitas?

 

Harmonisasi/Benang Merah Bacaan Leksionari

Tuhan memilih bangsa Israel (Yes 5:7) bukan berarti memandang rendah bangsa lain (Mat 21:43). Bangsa Israel atau umat percaya dipanggil untuk hidup dalam relasi yang benar dengan sesamanya (Mzm 80:7-8), diawali dari kesadaran memilih membela kehidupan yang menampakkan diri dalam kelemahan dan penderitaan (Flp 3:10-11).

 

Pokok dan Arah pewartaan

Memahami Pekabaran Injil sebagai kesediaan bekerja sama dengan agama/komunitas lain dalam menghadapi problem kehidupan di dunia ini. Kesediaan itu merupakan tanda kehadiran Kerajaan Allah.

 

v   Khotbah Jangkep

 

Gereja sebagai komunitas terbuka

Orang Kristen terbiasa merayakan Paskah, Pentakosta, maupun Natal. Gereja-gereja tertentu merayakannya dengan mengundang tetangga yang berbeda agama atau budaya. Namun ada juga gereja yang tidak mengadakannya dengan pertimbangan ada orang berbeda agama yang tidak berkenan hadir. Akhirnya dipilih langkah alternatif, yaitu membagi berkat berupa makanan kepada tetangga.

Ada gereja yang mengundang tetangga makan bersama pada perayaan ulang tahun. Seusai ibadah syukur, dilanjutkan kenduri atau makan bersama di lingkungan gereja (di dalam gedung gereja, teras, atau halaman). Dalam kenduri itu, wakil gereja mengajak warga yang hadir memanjatkan doa untuk pelayanan gereja bersama masyarakat demi kesejahteraan bersama. Doa dilanjutkan makan bersama dan ramah tamah diiringi hiburan. Suasana demikian bisa terwujud jika orang Kristen atau gereja memandang dirinya sederajat dengan yang lain. Gereja menjadi komunitas yang terbuka. Ada perjamuan kudus khusus bagi warga gereja, tetapi juga ada perjamuan bersama tetangga sekitar. Gereja menjadi komunitas yang terbuka, tetapi bagaimana memaknai Pekabaran Injil?

Dalam hidup ini orang tidak bisa lepas dari kegiatan memilih. Ketika seseorang memilih baju biasanya sesuai warna favoritnya. Namun jika seseorang menyukai warna merah-jambu, tidak perlu membenci warna yang lain. Ketika sedang berada di warung makan, seseorang tidak mungkin memesan semua makanan dan minuman untuk dirinya sendiri. Dia akan memilih satu jenis makanan dan minuman, tetapi tidak perlu membuang yang lain. Memilih satu dari sekian banyak alternatif adalah sebuah keniscayaan. Tidak bijaksana mengharuskan seseorang memilih seperti pilihan kita atau meniadakan alternatif yang lain.

 

Tuhan memilih kebun anggur

Di dunia ini ada banyak bangsa. Mengapa Tuhan memilih Israel sebagai kebun anggur-Nya? Apa kehebatan atau keunggulan bangsa Israel dibanding bangsa lain? Alkitab tidak menjelaskannnya. Apakah dengan memilih Israel berarti Tuhan pilih kasih dan menganggap rendah bangsa lain? Tidak harus dimaknai seperti itu. Kita bisa memahami Tuhan seperti manusia, tidak lepas dari aktivitas memilih. Kita memahami keberadaan Tuhan tidak hanya secara sepihak dari sisi Tuhan yang mahasuci, absolut, dan tak terbatas. Keberadaan Tuhan kita pahami dalam kesediaan-Nya berinteraksi dengan manusia. Tuhan rendah hati, berkenan mengambil posisi sejajar dengan manusia, memilih bangsa Israel sebagai kebun anggur-Nya. Dengan demikian hubungan antara Tuhan dan manusia terjembatani.

Seperti seseorang yang memilih jodoh atau pasangan, bukan berarti orang yang tidak dipilih menjadi jodohnya dianggap lebih rendah. Suatu saat, pasangan itu bisa saja menghadapi berbagai persoalan atau tantangan dan memerlukan inspirasi serta pembelajaran dari orang lain yang tidak dipilih sebagai pasangan. Sebagai orang yang berpasangan tentu memiliki harapan. Tuhan telah menggarap dan merawat Israel tak ubahnya seseorang merawat kebun anggur milik sendiri. Tuhan berharap kebun anggur-Nya berbuah. Sayangnya harapan dan kenyataan berbeda. ”Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanaman-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.” (Yes. 5:7).

 

 

Keadilan dan kebenaran Tuhan

Buah yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya adalah keadilan dan kebenaran. Keduanya tidak bisa dipisahkan, bagaikan dua sisi keping uang logam. Namun keadilan dan kebenaran yang dijalankan manusia sering berpihak kepada yang kuat dan berpengaruh, bersifat prosedural, dan mengesampingkan rasa keadilan itu sendiri. Ada kesan untuk pelanggaran yang dilakukan oleh rakyat kecil dan miskin, hukum bersikap tegas. Sebaliknya untuk pelanggaran yang dilakukan oleh orang kuat dan berpengaruh, terkesan tumpul. Lebih cepat menjatuhkan vonis kepada orang miskin yang mencuri pisang, semangka, kakao, atau buah randu daripada mengadili para koruptor. Alasannya karena mematuhi prosedur. Keadilan dan kebenaran yang tidak berpihak kepada orang lemah hanya akan menghasilkan kelaliman dan keonaran.

Keadilan dan kebenaran Tuhan berpihak kepada yang lemah dan terluka. Tuhan bukan seperti dewi yang ditutup matanya dan menjaga timbangan tetap seimbang. Tuhan seperti dewi yang membawa timbangan dan matanya terbuka sedikit, tertuju kepada seekor burung kecil yang terluka sayapnya hingga tidak bisa terbang dan hinggap pada salah satu sisi timbangan. Tentu saja timbangan itu bergerak ke arah burung kecil yang terluka itu. Itulah gambaran keadilan dan kebenaran Tuhan yang berpihak kepada yang lemah dan terluka.

Lemah dan terluka adalah gambaran kehidupan. Kehidupan itu cenderung rapuh, tak berdaya, perlu dibela. Sedangkan kekuatan kematian tidak usah dibela seakan sudah berkembang dengan sendirinya. Lihatlah kerinduan Rasul Paulus. Dia ingin bersekutu dengan daya kehidupan, bukan daya kematian. Kehidupan sebagaimana dijalani Yesus Kristus adalah kehidupan yang akrab dengan kelemahan dan penderitaan. ”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3:10-11)

 

Pekabaran Injil itu membela siapa?

Memahami Pekabaran Injil juga mengenai pembelaan atau keberpihakan. Pekabaran Injil sering dipahami dimaksudkan menyelamatkan jiwa-jiwa. Agama, keyakinan atau budaya lain dianggap lebih rendah dan menghambat orang masuk surga. Apa yang akan terjadi jika kita mengundang orang lain menghadiri perayaan agama kita, sedangkan kita menganggap mereka lebih rendah dan calon penghuni neraka? Tidak heran mereka menganggap kita orang yang aneh. Mereka curiga kepada kita. Kita juga curiga pada mereka, menganggap mereka secara sistematis mempengaruhi orang Kristen pindah agama. Hidup dalam kecurigaan karena kesombongan yang menganggap yang lain lebih rendah perlu pertobatan. Kita diingatkan seruan pertobatan pemazmur. ”Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Maz. 80:7-8).

Pekabaran Injil perlu dilakukan tanpa meniadakan agama lain. Semua agama menghadapi persoalan ketidakadilan, penderitaan akibat bencana alam atau penyakit berat seperti HIV/AIDS dan ancaman narkoba, kerusakan alam semakin berat, kemiskinan semakin parah. Jika orang Kristen atau gereja tidak memilih untuk terlibat mengatasi masalah-masalah itu, sedangkan agama atau komunitas lain justru lebih peduli, jangan heran kalau ”Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Matius. 21:43)

Kerajaan Allah adalah mengenai membela pengembangan kehidupan saat ini. Kerajaan Allah, yang tadinya dibayangkan jauh di atas sana, telah dihadirkan Yesus di bumi ini. Mengabarkan Injil adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Tanda itu nampak ketika gereja menjadi komunitas yang terbuka. Tidak hanya melayani perjamuan kudus untuk warga gereja, tetapi juga mengadakan perjamuan bersama dengan siapa saja di luar batas tembok gereja. Kehidupan siapa saja dalam keragaman layak untuk dirayakan. Lalu saat gereja kita berulang tahun, tetangga kita dengan nyaring akan berucap, ”Selamat ulang tahun ya.” Amin.

 

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita anugerah          : Filipi 3:10-11

Petunjuk hidup baru    : Mazmur 80:7-8

Nats Persembahan       : Yesaya 5:7

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka  : KJ.   21:1,2

Nyanyian Penyesalan : KJ.   23:1,2,3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ.   39:1,2,3

Nyanyian Persembahan         : KJ. 428: 1-5

Nyanyian Penutup    : KJ. 338: 1-4


Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Pitu Likur (Abang)

Dinten Pakabaran Injil ing Indonesia; Dinten Bujana Suci Sajagad

PUNAPA MANIS WOH GESANG KITA?

 

Waosan I: Yesaya 5:1-7, Tanggapan: Jabur 80:7-15;

Waosan II: Filipi 3:4b-14, Waosan III: Injil Mateus 21:33-46

 

 

v   Khotbah Jangkep

 

Greja minangka patunggilan ingkang tinarbuka

S

ampun salimrahipun tiyang Kristen mahargya Paskah, Pentekosta punapa dene Natal. Greja-greja tertemtu mahargya kanthi ngulemi tangga tepalih ingkang beda agami lan kabudayan. Nanging wonten greja ingkang boten ngawontenaken kados kasebat jalaran panglimbangipun wonten tiyang beda agami ingkang boten karsa ngrawuhi ing pahargyan dinten riyaya Kristen. Tundhonipun dipun-tetepaken cara sanes inggih punika kanthi mbage berkah dhateng tangga-tepalih.

Wonten greja ingkang ngulemi tangga-tepalih kembul bujana ing wekdal pengetan tanggap warsa kadiwasanipun. Sasampunipun pangibadah ucap sokur kalajengaken kendhuren utawi kembul bujana ing wewengkon greja saged ing nglebet gedhong greja, wonten ing teras, wonten ing latar lan sapiturutipun. Ing adicara kendhuren kasebat, wakiling greja ngatag warga ingkang sami rawuh ngunjukaken pandonga kangge paladosaning greja sesarengan masyarakat murih kababaring karaharjan. Sasampunipun pandonga kalajengaken kembul bujana lan wekdal wawan rembag kanthi mardika sinegahan hiburan sawatawis. Kawontenan makaten punika kawujud menawi tiyang Kristen utawi greja mawas bilih dhirinipun punika tunggal drajat kaliyan tiyang sanes. Greja dados patunggilan utawi pepanthan ingkang tinarbuka. Wonten kembul bujana mirunggan kangge para warganing pasamuwan, nanging ugi wonten kembul bujana sesarengan kaliyan tangga tepalih ing sakiwa-tengening greja.  Greja dados patunggilan utawi pepanthan ingkang tinarbuka, nanging kados pundi anggenipun paring makna bab ngabaraken Injil?

Gesangipun boten saged dipun pethal saking tumindak milih. Nalika satunggaling tiyang milih rasukan limrahipun sami kaliyan werni ingkang dipun remeni. Nanging menawi wonten tiyang ingkang remen werni jambon, piyambakipun boten prelu sengit dhateng werni sanesipun. Nalika wonten ing warung, satunggaling tiyang boten badhe pesen sadaya tetedhan lan omben-omben kangge piyambakipun. Tiyang kasebat kedah milih setunggal jinis tetedhan lan omben-omben, lan boten prelu sengit dhateng jinising tetedhan lan omben-omben sanesipun. Miji satunggaling jinis utawi prakawis saking sawarnining jinis ingkang wonten punika prakawis limrah, nanging boten wicaksana menawi lajeng meksa tiyang sanes nampi pilihan kita lan ngicali pilihan sanesipun.

 

Gusti miji pakebonan anggur

Ing jagad punika kathah sanget jinising bangsa. Kenging punapa Gusti miji Israel dados pakebonan angguripun? Punapa ta kaunggulanipun Israel katandhingaken bangsa sanes? Kitab Suci pancen boten paring katrangan bab kasebat. Punapa kanthi miji Israel ateges Gusti ban cindhe ban ciladan lan ngremehaken bangsa sanes? Temtunipun sampun ngantos dipun-paringi makna ingkang makaten punika. Kita kedah saged mawang Gusti kadosdene manungsa, dene Panjenenganipun boten saged uwal saking tumindak milih utawi miji. Kita nyumerepi kawontenanipun Gusti boten saking satunggal pihak inggih punika Panjenenganipun mahasuci lan tanpa wates panguwaosipun. Kawontenanipun Gusti Allah kedah kita wawas dene Panjenenganipun karsa sesambetan kaliyan manungsa. Gusti karsa andhap asor manahipun, temah karsa nyami warni kaliyan manungsa utawi nyamekaken drajatipun kaliyan manungsa, miji Israel dados pakebonan angguripun Gusti. Kanthi makaten sesambetan antawisipun Gusti lan manungsa kaanyaraken.

Kados dene tiyang ingkang milih jodho utawi sisihan, boten ateges tiyang ingkang boten kapiji dados sisihanipun punika kaanggep remeh utawi asor. Satunggaling wekdal, tiyang sesemahan kasebat nemahi prakawis utawi ruwet renteng lan merlokaken pamawas saha piwulang saking tiyang sanes ingkang boten kapiji dados sisihanipun. Minangka tiyang ingkang sesemahan mesthinipun nggadhahi gegadhangan. Gusti sampun ngreksa lan ngrimati Israel kados dene satunggaling tiyang ngrimati pakebonan angguripun piyambak. Gusti ngajeng-ajeng pakebonan angguripun ngedalaken woh. Emanipun pangajeng-ajeng lan kasunyatan beda. ”Amarga pakebonane anggur Sang Yehuwah Gustine sarwa tumitah iku turune Israel, lan para wong Yehuda iku tetanduran kang diremeni; kang diajeng-ajeng kaadilan, nanging kang ana mung tindak ambek siya, kang diantos-antos kabeneran nanging, kang ana mung kaonaran” (Yes. 5:7).

 

Kaadilan lan kaleresanipun Gusti

Wohing gesang ingkang kinersakaken dening Gusti tumrap umatipun inggih punika kaadilan lan kaleresan. Kekalihipun boten saged kapethal, kados dene arta logam ingkang boten saged kapethal kalih sisihipun. Nanging kaadilan lan kaleresan ingkang katindakaken dening manungsa asring ngener dhateng ingkang gadhah panguwaos lan pangaribawa, sipatipun keras lan nyingkiraken raos kaadilan. Tuwuh pamawas, panerak ingkang dipun-tindakaken dening rakyat alit lan tiyang miskin kedah dipun-tanduki kanthi pranatan ingkang gumathok. Kosok wangsulipun panerak ingkang dipun-tindakaken dening tiyang kumawaos lan gadhah pangaribawa bab jejeging pranatan kethul. Langkung cepet ndhawahaken pidana dhateng tiyang miskin ingkang mandung gedhang, semangka lan woh randhu katimbang ngadili tiyang ingkang nylingkuhaken arta (utawi koruptor), pawadanipun netepi trap-trapaning pranatan. Kaadilan lan kaleresan ingkang boten mihak dhateng tiyang ringkih badhe nguwohaken ambek siya lan kaonaran.

Kaadilan lan kayektenipun Gusti mihak dhateng tiyang ringkih lan kesrakat. Gusti boten kados dewi ingkang nutup netra lan njagi timbangan supados tetep satimbang. Gusti kados dene dewi ingkang mbekta timbangan lan mripatipun binuka sekedhik, nuju dhateng peksi alit ingkang semplah elaripun temah boten saged mabur lan menclok ing salah satunggaling sisih timbangan kasebat. Temtunipun timbangan punika badhe obah nuju dhateng peksi alit ingkang sakit kasebat. Inggih makaten punika gambaraning kaadilan lan kayektenipun Gusti ingkang mihak dhateng tiyang ingkang ringkih lan nandhang.

Ringkih lan nandhang punika gambaraning gesang. Gesang punika condhong ringkih, boten gadhah daya lan prelu dipun-belani. Dene daya pepejah ingkang boten prelu dipun-belani malah ngrembaka. Mirsanana kangenipun Rasul Paulus. Piyambakipun kepengin makempal kanthi daya gesang, sanes daya pepejah. Gesang kados ingkang dipun lampahi dening Gusti Yesus punika gesang ingkang rumaket kaliyan kawontenan ringkih lan nandhang. ”Kang dakkarepake yaitu wanuh marang Panjenengane lan dayane wungune lan manunggil ing sajrone sangsarane, temahan aku dadi madha rupa lan Panjenengane ana ing sedane, supaya wekasane aku oleh patangen saka ing antarane wong mati” (Filipi 3:10-11).

Pakabaran Injil punika mbelani sinten?

Nyumerepi bab pakabaran Injil punika ugi magepokan kaliyan prakawis mbelani lan mihak. Pakabaran Injil asring dipun wawas milujengaken jiwa-jiwa. Agami, kayakinan utawi budaya sanes kaangep langkung ringkih lan damel randhating tiyang mlebet swarga. Punapa ingkang badhe kalampahan menawi kita ngulemi tiyang sanes ngrawuhi ing pahargyan agami kita, kamangka kita nganggep tiyang kasebat langkung asor drajatipun lan ing mangke badhe manggen ing naraka? Saged kemawon tiyang-tiyang kasebat badhe nganggep kita punika tiyang ingkang boten limrah. Saged kemawon tiyang-tiyang sanes cubriya dhateng kita. Kita ugi cubriya dhateng tiyang sanes, nganggep tiyang sanes ingkang njalari wontenipun tiyang Kristen pindhah agami utawi murtad. Gesang ing salebeting cubriya awit raos gumunggung ingkang nganggep tiyang sanes ingkang langkung asor kedah mratobat. Kita kaengetaken lumantar piwulangipun juru masmur. ”Paduka dadosaken rerebatanipun para tangga-tepalih, saha sami cinampahan ing mengsah-mengsah kawula. Dhuh Gusti Allahipun sarwa ingkang dumadi, kawula mugi sami Paduka pulihaken, mugi karsaa nyunaraken wadana Paduka, temah kawula sami manggih wilujeng” (Jabur Masmur 80:7-8).

Pakabaran Injil kedah dipun tindakaken tanpa nyengiti agami sanes. Sadaya agami ngadhepi wontenipun tumindak boten adil, panandhang awit bencana alam, sesakit kados dene HIV/AIDS lan pangancaming narkoba kangge nenemam, jagad ingkang sangsaya risak kawontenanipun, kamiskinan sangsaya kathah lan sapiturutipun. Menawi tiyang Kristen utawi greja boten milih ndherek tumut tumandang damel ngrampungi prakawis-prakawis kasebat, kamangka agami lan golongan sanes malah langkung migatosaken dhateng prakawis-prakawis kasebat sampun ngantos eram menawi ”Kratoning Allah bakal kapundhut saka ing kowe lan bakal kaparingake marang sawijining bangsa kang bakal metokake wohe” (Mateus 21:43).

Kratoning Allah punika magepokan kaliyan prakawis mbelani ngrembakaning gesang samangke. Kratoning Allah ingkang sakawit kagambaraken wonten ing nginggil ngrika, sampun dipun-rawuhaken Gusti Yesus ing jagad punika. Ngabaraken Injil punika mbabar tandha-tandha Kratoning Allah. Pratandha punika kababar nalika greja minangka patunggilan purun mbikak manahipun saha pamawasipun. Boten namung ngladosaken bujana suci tumrap warganing pasamuwan, nanging ugi mbabar kembul bujana sesarengan sok sintena ingkang wonten ing sanjawining wates tembok greja. Gesangipun tetiyang ing salebeting kawontenan ingkang beda-beda pantes dipun-regengaken. Temah nalika greja kita mengeti tanggap warsa kadiwasaning pasamuwan, tangga-tepalih kita kanthi suwanten nengsemaken ngucap: “Sugeng tanggap warsa nggih”. Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   : Filipi 3:10-11

Pitedah Gesang Anyar           : Jabur Masmur 80:7-8

Pangatag Pisungsung  : Yesaya 5:7

 

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pamuji           : KPK.   22:1,2

Kidung Panalangsa  : KPK.   49:1-3

Kidung Kasanggeman : KPK. 171:1,2

Kidung Pisungsung   : KPK. 319:1-3

Kidung Pangutusan   : KPK. 318:1-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan/Pembukaan Bulan Keluarga

 

Identitas Keluarga Kristen: Membutuhkan Komunitas

 

Bacaan I: Yesaya 25:1-9, Tanggapan: Mazmur 106:1-6, 19-23;

Bacaan II: Filipi 4:1-9, Bacaan III: Injil Matius 22:1-14

 

 

v   Dasar Pemikiran

Salah satu kelemahan keluarga Kristen adalah tidak menyatu dengan komunitasnya. Sering terdengar keluarga Kristen merasa sendirian tanpa teman saat menghadapi masalah. Khotbah ini kiranya mengingatkan akan pentingnya komunitas bagi keluarga Kristen. Bahkan kebutuhan akan komunitas juga menjadi identitas keluarga Kristen.

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 25:1-9

Ada penggambaran yang paralel antara Tuhan, bangsa yang kuat, dan manusia yang lemah. Tuhan menyelamatkan suatu bangsa,  bangsa itu memuji Tuhan, Tuhan menjadi perlindungan bagi orang lemah dan miskin serta dari angin ribut dan panas terik. Sifat mementingkan kemampuan sendiri adalah kesombongan. Kehidupan pribadi, bangsa, dan Tuhan terjalin tak terpisahkan, selama manusia menempatkan Tuhan sebagai penyelamat yang meniadakan maut.

 

Mazmur 106:1-6, 19-23

Umat mengakui perjalanan komunitas mereka di sepanjang sejarah mengalami jatuh bangun. Nenek moyang mereka pernah tidak setia kepada Tuhan, lupa pada kebaikan Tuhan sehingga memilih menyembah berhala. Pengalaman masa lalu itu menjadi pelajaran berharga bagi komunitas umat selanjutnya. Dalam persekutuan, komunitas umat diajak besyukur dan mengingat kepada Tuhan, sekaligus memohon supaya Tuhan mengingat keberadaan mereka.

Filipi 4:1-9

Rasul Paulus menyebut beberapa nama beserta jasa-jasa mereka dalam pelayanannya. Hal itu berguna untuk menjaga supaya dia selalu sadar bahwa pelayanannya bisa berjalan karena dukungan komunitas. Dalam komunitas, orang percaya dimampukan untuk tidak mengandalkan pemikiran sendiri, tetapi terbuka pada damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Umat beroleh kesempatan menjaga pengetahuan iman yang telah diterima dalam kehidupan komunitas.

 

Injil Mateus 22:1-14

Raja marah saat orang-orang yang diundangnya ke perjamuan kawin tidak mau datang dengan berbagai alasan. Namun raja juga marah saat ada orang yang ikut perjamuan, tetapi mengenakan pakaian yang tidak layak. Perumpamaan diakhiri dengan kalimat, ”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”. Hal ini membuat orang-orang yang merasa sudah terpanggil bertanya, ”Apa yang masih perlu saya benahi dalam menanggapi panggilan Tuhan?”

 

Renungan atas Bacaan

Hidup merupakan jalinan pola normal dan interupsi. Pola normal adalah kehidupan rutin yang biasa kita jalani dan kita kenal baik. Sedangkan interupsi adalah keadaan tidak terduga yang membawa kita ke wilayah yang tidak kita kenal. Sebagai contoh, sebuah keluarga kesehariannya bekerja, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga. Tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit dan perlu perawatan khusus dengan biaya mahal. Adanya anggota keluarga yang sakit adalah contoh interupsi itu.

Ada seorang rohaniwan bernama Henri Nouwen. Menjelang akhir hayatnya dia bersaksi bahwa hidup rohaninya justru berkembang dengan kesediaan menerima interupsi-interupsi. Suatu saat dia mendapat ancaman bom ketika melakukan aksi damai melawan kebijakan perang. Dia sangat takut, kemudian diajak seorang temannya beristirahat di tengah komunitas orang-orang terbelakang mental. Meski hidup dalam komunitas itu dirasakan berat, tetapi dia bisa belajar artinya menerima kelemahan, keringkihan, dan hanya berharap kepada Allah. Lain waktu dia terserempet mobil hingga harus menjalani operasi yang hampir merenggut nyawanya. Begitu dekat dengan kematian justru menjadikannya damai. Yang membuat hatinya tidak damai adalah rasa cemas jika dia mati tanpa terlebih dulu memaafkan dan dimaafkan orang lain. Berbagai interupsi itu menyadarkan dia untuk semakin membuka mata pada realita dipanggil sebagai anak Allah.

Alkitab menceritakan orang-orang yang sedang berjalan-jalan di tengah keramaian persimpangan jalan. Mereka asyik dengan dunianya sendiri, hingga muncul interupsi yang tidak terduga. Interupsi itu adalah undangan datang ke pesta nikah (Mat. 22:10-12). Bagaimana sikap mereka? Menerima interupsi itu atau menolaknya? Jika menerima interupsi itu, apakah pantas menyikapinya dengan asal-asalan tanpa menghormati pengundangnya? Siapakah pihak yang mengundang? Apa maksud undangan itu?

 

Harmonisasi Bacaan

Paulus memberi contoh bahwa pelayanannya membutuhkan dukungan komunitas (Fil. 4:2-3,7). Dalam komunitas, umat diajak untuk tidak melupakan Tuhan (Maz. 106:1) dan menghadirkan Tuhan melalui dukungan kepada yang lemah dan miskin (Yes. 25:4). Tuhan memanggil kita untuk mengembangkan kehudupan dalam komunitas (Mat. 22:14).

 

Pokok dan Arah pewartaan

Keluarga Kristen semakin menyadari bahwa kehidupannya tidak bisa dipisahkan dari komunitas. Komunitas juga terus memperbaharui diri sebagai komunitas pendoa dan penumbuh kembang kehidupan.

 

v   Khotbah Jangkep

 

Identitas Keluarga Kristen: Membutuhkan Komunitas

Apakah identitas keluarga Kristen? Setiap orang Kristen atau keluarga Kristen bisa memberi jawab, paling tidak berdasarkan pengalaman hidupnya. Melalui khotbah ini dibagikan salah satu sudut pandang pemaknaan mengenai identitas keluarga Kristen yang ditopang oleh tiga hal, yakni:

  1. Doa
  2. Perlawanan pada maut
  3. Komunitas

Untuk melihat ketiga hal itu, bisa beranjak dari cerita nyata berikut ini.

 

Keluarga membutuhkan komunitas

Suatu hari ada pendeta yang bertemu dengan warga gereja lain. Warga itu merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan pendeta itu. Dia yakin pertemuan itu tidak lepas dari tuntunan Tuhan. Dia pun bercerita tentang keadaan pasangannya yang sedang menderita sakit dan perlu segera dioperasi. Pasangannya tidak patah semangat, yakin bahwa Yesus adalah penyembuh, dan terbuka pada kemungkinan kesembuhan melalui upaya medis. Untuk keperluan persiapan operasi dengan segala kemungkinan termasuk pembiayaannya, warga itu mohon didoakan oleh pendeta. Mereka pun berdoa. Usai berdoa, percakapan dilanjutkan. Pendeta itu menanyakan sudah atau belumnya warga itu bercerita kepada majelis gerejanya mengenai kondisi yang dihadapi keluarganya. Warga itu menyampaikan bahwa ia belum bercerita kepada majelis gerejanya karena tidak merasa yakin akan beroleh jalan keluar. Selama ini dia justru lebih dekat dengan beberapa pemimpin gereja lain dan mendapat wawasan tentang jalan keluar yang dibutuhkan dari mereka. Dia memandang bahwa dia dan keluarganya adalah orang yang lemah dan merasa tidak diperhitungkan dalam komunitasnya, tetapi diterima oleh pemimpin gereja yang lain. Dalam hati, pendeta itu merasa terkejut karena warga yang sedang menghadapi pergumulan berat itu tidak menganggap penting bercerita kepada majelisnya.

Percakapan itu juga menggambarkan kecenderungan banyak orang maupun keluarga Kristen. Ketika menghadapi masalah berat tidak lupa berdoa secara pribadi, bersama keluarga, atau pendeta tetangga. Berdoa dalam keadaan demikian tentu lebih baik daripada sama sekali tidak berdoa. Namun kehidupan doa itu bisa dikembangkan lagi dengan berada atau melibatkan komunitas. Dengan melibatkan komunitas, kita tetap terjaga untuk tidak sombong dan menganggap keberhasilan sebagai perjuangan pribadi. Dengan melibatkan komunitas kita juga tidak menggantungkan pemecahan masalah kepada seseorang yang kita anggap menjadi pahlawan, tetapi jika persoalan teratasi kita bisa merasakan semua itu berkat dukungan komunitas. Kita perlu mencontoh Rasul Paulus. Dalam Filipi 4:2-3 dia mendorong agar setiap warga jemaat merasa perlu hidup sebagai komunitas yang saling mendukung.

Majelis dengan kelemahan manusiawinya adalah sosok yang kehadirannnya menggambarkan adanya komunitas. Tanpa komunitas tidak ada majelis. Sebaiknya tidak perlu menempatkan majelis sebagai pahlawan, melainkan sebagai jembatan antar anggota dalam komunitasnya. Majelis bersama dengan anggota komunitas akan mendukung dalam doa sebagai pembuka pintu pada ”Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7). Berada di dalam komunitas membuat kita terjaga agar tidak mengatasi persoalan dengan mengandalkan kekuatan sendiri atau membayangkan pengatasan masalah hanya seperti yang bisa dipikirkan sendiri.

 

 

 

Komunitas perlu terus diperbaharui

Di tempat lain ada seorang pendeta yang dimintai pertimbangan oleh seseorang yang bukan anggota gerejanya. Orang itu termasuk etnis yang dijadikan kambing hitam pada kerusuhan Mei 1998. Dia memiliki keponakan yang hamil karena pemerkosaan pada kerusuhan Mei 1998. Keponakan beserta keluarganya terpukul dengan keadaan itu. Mengandung janin yang tidak dikehendaki apalagi akibat perkosaan tentu sangat berat. Dengan pertimbangan demikian, orang itu bertanya mengenai bisa tidaknya diterima secara moral atau etis jika janin itu digugurkan. Menanggapi pertanyaan itu, pendeta balik bertanya mengenai kewargaan gereja orang itu. Yang ditanya tidak mau mengatakan kewargaan gerejanya. Dia hanya meminta jawaban boleh atau tidak. Pendeta tidak memberi jawaban.

Mengapa pendeta itu tidak memberi jawaban? Dia menyadari bahwa sebuah komunitas sangat mempengaruhi pertimbangan pengambailan keputusan etis seseorang. Jika komunitas itu tidak mau menerima kehadiran ibu dan bayi yang lahir karena perkosaan, tentu berat bagi calon ibu itu mempertahankan kehidupan. Sebaliknya jika komunitas mau menerima, calon ibu itu bisa mendapat dukungan dan diingatkan oleh komunitasnya untuk tidak mengambil keputusan yang salah. Komunitas yang sehat memilih mengatakan ”ya” kepada kehidupan. Kekuatan kematian yang melumpuhkan semangat hidup dilawan bersama-sama dengan anggota komunitas. Komunitas kita perlu terus kita perbaharui, sehingga menjadi komunitas yang mampu mendukung anggotanya untuk mengatakan ”ya” pada kehidupan. Buah dari komunitas yang terus diperbaharui adalah yang lemah dikuatkan, yang luka disembuhkan, seseorang tidak merasa sendirian menghadapi tantangan dalam hidupnya.

Sekarang kita semakin terbantu untuk memaknai, sabda ”Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.” (Matius 22:12). Ayat itu merupakan bagian cerita tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Kita bisa membayangkan andai raja itu adalah orang tua yang menikahkan anak perempuan semata wayangnya, sedangkan anak perempuannya itu adalah korban perkosaan kerusuhan Mei 1998. Orang yang datang tanpa pakaian pantas adalah gambaran orang yang datang ke pesta itu karena sungkan kalau tidak datang. Sedangkan dalam hati, sebenarnya mereka mencemooh dan menganggap rendah keluarga serta kondisi mempelai yang demikian itu.

 

Keluarga menemukan kekuatan dalam komunitas

Setiap keluarga tidak bisa memastikan bahwa yang terjadi dalam hidupnya selalu pola yang normal, nyaman dan berada di wilayah yang selama ini sudah dikenal. Suatu saat bisa terjadi interupsi. Interupsi itu tidak terduga, membuat tidak nyaman, dan membawa kita masuk ke dalam wilayah yang sama sekali belum diketahui. Sekali lagi, menghadapi berbagai kemungkinan interupsi itu keluarga membutuhkan komunitas.

Ada seorang warga gereja yang menderita AIDS. Biasanya jika seseorang menderita penyakit itu, dia akan menutup diri. Sakit itu dianggap aib yang menyebabkan penderita maupun keluarganya merasa berat atau malu bila sampai orang lain tahu. Namun warga gereja itu berbeda. Ketika mengetahui bahwa dia menderita AIDS, dia justru terbantu mengatasi kelemahannya itu dengan cara bercerita kepada komunitasnya. Kematian pasti akan mendatangi nya, tetapi dia bisa melawan agar kematian tidak mengalahkan semangat hidupnya. Dia terima kenyataan itu dengan pasrah kepada Tuhan. Keberadaan komunitas turut menjadi tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tidak mustahil warga gereja itu bisa berkata, ”Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan: marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya !” (Yes. 25:9)

Jika kita meragukan karya Allah dalam hidup keluarga kita, mari mencari Allah dalam kehidupan komunitas. Kita masuk dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh komunitas, baik dalam kelompok/blok/wilayah /pepantan/pasamuwan. Jangan sampai lupa kepada Tuhan seperti diingatkan oleh pemazmur, ”Jangan melupakan Allah yang telah menyelamatkan kita”. Amin.

 

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita anugerah          : Yesaya 25:9

Petunjuk hidup baru    : Filipi 4:6-7

Nats Persembahan       : Matius 22:10-11

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka     : KJ. 393:1-3

Nyanyian Penyesalan            : KJ. 459:1-4

Nyanyian Kesanggupan                    : KJ. 561:1-5

Nyanyian Persembahan                     : KJ. 447:1-3

Nyanyian Penutup       : KJ. 461:1-3


Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Wolu Likur (Pambukaning Wulan Brayat)

 

Titikaning Brayat Kristen: Mbetahaken Patunggilan

 

Waosan I: Yesaya 25:1-9; Tanggapan: Jabur Masmur 106:1-6, 19-23;

Waosan II: Filipi 4:1-9; Waosan III: Injil Mateus 22:1-14

 

 

 

v   Khotbah Jangkep

 

Titikaning Brayat Kristen: Mbetahaken Papan Patunggilan

 

P

unapa ta titikaning brayat Kristen? Saben tiyang Kristen utawi brayat Kristen saged atur wangsulan, saboten-botenipun adhedhasar pangalaman gesangipun. Lumantar khotbah punika kaaturaken satunggaling pamawas magepokan kaliyan maknaning titikan brayat Kristen ingkang kasengkuyung dening tigang prakawis inggih punika:

  1. Pandonga
  2. Nglawan pepeteng
  3. Patunggilan

Magepokan tigang prakawis kasebat, kita gatosaken cariyos nyata punika.

 

Keluarga mbetahaken patunggilan

Satunggaling wekdal wonten Pandhita ingkang kapanggih kaliyan warga greja sanes. Warga sanes kasebat rumaos bingah lan pitados bilih pepanggihan punika awit saking panuntunipun Gusti. Warga kasebat nyariosaken kawontenan semahipun ingkang nembe nandhang sakit lan prelu enggal dipun-operasi. Semahipun wau boten semplah lan nglokro ananging pitados bilih Gusti Yesus punika ingkang kuwaos nyarasaken lan tinarbuka manahipun tumrap wekdal sarasing sesakit lumantar pambudidayanipun dokter utawi jururawat. Kangge kabetahaning operasi mirungganipun dana, warga kasebat nyuwun dipun-dongakaken dening pandhita. Lajeng kekalihipun sesarengan ndedonga. Sasampunipun ndedonga pirembagan kalajengaken. Pandhita wau ndangu punapa warga kasebat sampun nyariosaken momotanipun dhateng pradata grejanipun piyambak magepokan kaliyan prakawising brayatipun. Warga kasebat mangsuli bilih dereng nyariosaken prakawisipun dhateng pradata grejanipun awit rumaos boten yakin bilih tumindakipun kasebat badhe ndhatengaken margi tumrap karampunganing reruwetipun. Sadangunipun punika warga kasebat malah celak kaliyan para pamimpin greja sanes lan pikantuk wawasan tumrap karampunganing prakawisipun ingkang dipun-betahaken. Warga punika rumaos bilih piyambakipun lan brayatipun punika tiyang papa lan rumaos boten dipun-gatosaken dening patunggilanipun, nanging malah dipun tampi dening pamimpin greja sanesipun. Ing salebeting manahipun, pandhita kasebat rumaos eram awit warga ingkang nembe nemahi kahanan awrat kasebat nggadhahi pamawas bilih cariyos dhateng pradata grejanipun punika boten wonten paedahipun utawi muspra.

Pirembagan kasebat dados gambaran kawotenanipun tiyang utawi brayat Kristen. Nalika nemahi prakawis ingkang awrat boten kesupen ndedonga sacara pribadi, sesarengan brayat, utawi pandhita greja sanes. Pandonga makaten punika langkung prayogi katimbang babarpisan boten ndedonga. Nanging pandonga punika saged dipun-indhakaken kanthi nggandheng sadherek patunggilan. Kanthi ndedonga sesarengan para sadherek patunggilan kita tetep njagi sikeping manah sampun ngantos gumunggung lan gadhah panganggep kasiling sedya awit saking pambudidaya pribadi. Ndedonga sesarengan tiyang sanes punika ngawekani raosing manah bilih karampunganing prakawis gesang amargi satunggaling tiyang, nanging nalika prakawisipun karampungan jalaran pandonga  sesarengan ateges tiyang kasebat rumaos saha nglenggana bilih patunggilaning para sedherek anjalari kasembadaning pandonganipun. Kita prelu nuladha Rasul Paulus, dene wonten ing Filipi 4:2-3 Rasul Paulus mbereg supados saben warganing pasamuwan rumaos bilih dados gegelitaning patunggilan ingkang sami dene nyengkuyung.

Pradata kanthi karingkihan kamanungsanipun punika dados pratelan wontenipun patunggilan. Tanpa patunggilan boten wonten pradata. Mila kita boten prelu mapanaken pradata minangka pahlawan, nanging mapanaken pradata minangka wot ing antawisipun warga pasamuwan ingkang katunggil ing satunggaling greja. Pradata sesarengan perangan patunggilan sanesipun badhe nyengkuyung ing pandonga minangka pambuka korining sih rahmat tumrap ”Tentrem rahayu kang saka ing Gusti Allah, kang ngungkuli saliring budi, bakal rumeksa marang ati lan pangangen-angenmu ana ing Sang Kristus” (Filipi 4:7). Wonten ing satunggaling pepanthan utawi patunggilan njalari kita sami dene njagi manah supados boten rumaos kuwagang ngrampungi prakawisipun piyambak utawi namung ngrerancang margining karampungan tanpa wonten asilipun.  

 

Patunggilan prelu tansah dipun anyaraken

Ing papan sanes wonten satunggaling pandhita ingkang dipun suwuni panglimbang dening warga greja sanes. Tiyang kasebat kalebet satunggaling suku bangsa ingkang dados banten nalika wonten ontran-ontran Mei taun 1998. Warga kasebat gadhah penakan ingkang ngandheg amargi dipun ruda-peksa nalika ontran-ontran Mei 1998. Penakan tiyang kasebat punapa dene brayatipun nyanggi momotan ingkang boten entheng. Ngandheg ponang jabang bayi ingkang boten dipun kajengaken punapa malih jalaran dipun ruda-peksa. Magepokan prakawis punika, tiyang kasebat nggadhahi panglimbang menawi jabang bayi ingkang wonten ing kandhetan dipun guguraken, punapa punika tumindak ingkang lepat? Nyalahi pranatan sosial lan nyalahi pranatan salimrahipun? Nanggapi pitakenan ingkang makaten punika, pandhita lajeng pitaken bab warga kasebat kalebet perangan greja punapa? Warga punika boten purun mangsuli greja asalipun. Piyambakipun namung nyuwun panjawab, dipun keparengaken punapa boten ngguguraken kandhetan penakanipun. Pandhita punika boten atur panjawab.

Kenging punapa pandhita kasebat boten mangsuli? Awit piyambakipun rumaos bilih satunggaling pepanthan utawi patunggilan ndayani panglimbang kangge damel pancasan prakawis satunggaling tiyang. Menawi patunggilan kasebat boten purun nampi ibu lan bayi jalaran pangruda-peksa, temtunipun awrat tumraping calon ibu kasebat kangge nglestantunaken gesangipun. Kosok wangsulipun menawi patunggilan punika purun nampi, calon ibu punika badhe pikantuk panyengkuyung, pambereg lan pangatag saking patunggilanipun supados boten milih pancasan ingkang lepat. Patunggilan ingkang prayogi punika menawi nyengkuyung satunggaling pancasan ingkang ngener dhateng kaleresan. Dayaning pepejah ingkang saged damel lumpuhing daya gesang kalawan sesarengan dening gegelitaning patunggilan. Patunggilan kita prelu dipun-anyaraken, temah dados patunggilan ingkang saged nyengkuyung gegelitanipun ngener dhateng kasaenan. Wohing patunggilan ingkang tansah kaanyaraken punika ingkang ringkih badhe kakiyataken, ingkang sakit kasarasaken, ingkang rumaos piyambak badhe dipun rencangi nemahi reridhu ing gesangipun.

Samangke kita kabiyantu nampeni pangandika: ”He, sedulur, kapriye dene sira lumebu ing kene ora nganggo sandhangan pesta? Wong mau meneng bae (Mateus 22:12). Ayat kasebat dados peranganing cariyos ngengingi satunggaling ratu ingkang ngawontenaken pahargyan mantu tumrap putrinipun. Kita saged nggambaraken saupami ratu kasebat putrinipun dados banten pangruda-peksa tiyang kathah wekdal ontran-ontran wulan Mei 1998. Tiyang ingkang sowan tanpa rasukan ingkang murwat punika gambaraning tiyang ingkang sowan ing pesta kasebat jalaran pakewuh menawi boten sowan. Kamangka ing salebeting manahipun, sejatosipun nyaruwe lan ngremehaken brayat saha kawontenan sang temanten ingkang makaten punika.

 

Brayat manggihaken kakiyatan ing salebeting patunggilan

Saben brayat boten saged mesthekaken bilih punapa ingkang kalampahan ing gesang lampahipun sami kemawon, sekeca lan ing kawontenan ingkang sampun dipun-sumerepi. Saged kalampahan bilih wekdal gesangipun wonten salebeting kahanan ingkang sinigeg. Wekdal ingkang kasigeg punika boten kanyana, boten damel sekeca lan mbekta pamawas kita dhateng kawontenan ingkang boten kita sumerepi. Sepisan malih, nemahi tantangan wekdal ingkang dumadakan kasigeg punika mila brayat perlu kabangun patunggilanipun.

Wonten satungaling warga pasamuwan ingkang ketaman sesakit AIDS. Padatanipun, menawi wonten tiyang ingkang nandhang sesakit makaten punika utawi tiyang ingkang ketaman AIDS ingkang nutup dhirinipun. Sesakit makaten punika dipun-anggep nglingsemi lan njalari ingkang sakit, punapa dene brayatipun nanggel momotan awrat, tumut  lingsem menawi kathah tiyang mangretosi kawontenanipun ingkang sakit kasebat. Nanging warga kasebat gadhahi pamawas ingkang beda. Nalika piyambakipun sakit AIDS piyambakipun malah kabiyantu ngawekani karingkihanipun punika kanthi cara cariyos dhateng rencang-rencang patunggilanipun. Pepejah mesthi badhe ndhatengi manungsa, nanging tiyang kasebat saged nglawan supados pepejah boten ngawonaken daya gesangipun. Piyambakipun nampi kasunyatan kanthi pasrah dhateng Gusti. Kawontenan patunggilan kados makaten punika ingkang sinebat tumut tumandang damel mbabar tandha-tandha rawuhipun Gusti ing satengahing gesang sesarengan. Kanthi makaten warga kasebat saged ngucap: ”Iki sanyata Gusti Allah kita, kang kita anti-anti, supaya kita kaganjar slamet. Iya iki Sang Yehuwah kang kita anti-anti; ayo kita padha surak-surak lan suka-suka marga saka pangluwaran kang kaparingake” (Yes. 25:9).

Menawi kita boten pitados pakaryaning Allah ing gesanging brayat kita, sumangga kita madosi Gusti Allah ingkang rawuh ing satengahing patunggilan kita. Kita lumebet lan dados gegelitan ing sawarnining kegiatan ingkang katindakaken dening patunggilan kita, dadosa ing kelompok, blok, wewengkon, pepanthan punapa dene pasamuwan kita. Sampun ngantos kita kesupen dhumateng Gusti Allah kados piwulangipun juru masmur ”Aja padha nglalekake Gusti Allah kang wus milujengake kita”.

Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   : Yesaya 25:9

Pitedah Gesang Enggal          : Filipi 4:6-7

Pangatag Pisungsung  : Injil Mateus 22:10-11

 

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka      : KPK BMGJ. 309:1-3

Kidung Panalangsa  : KPK BMGJ.   50:1,2

Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ. 129:1,2

Kidung Pisungsung   : KPK BMGJ. 300:1-4

Kidung Pangutusan   : KPK BMGJ. 312:1-4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan (Hijau)

 

Keluarga Kristen Berhiaskan Kekudusan

 

Bacaan I: Yesaya 45:1-7; Tanggapan: Mazmur 96:1-9

Bacaan II: I Tesalonika 1:1-10; Bacaan III: Injil Matius 22:15-22

 

Tujuan:

Jemaat sadar bahwa mereka hidup di tengah dunia, tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Salah satunya terwujud dalam kehidupan berkeluarga, yaitu mewujudkan kekudusan keluarga dalam hal kesediaan diri bersandar hanya kepada Tuhan.

 

v   Dasar Pemikiran

Keluarga Kristen hidup di tengah-tengah dunia, tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Satu hal yang perlu dijaga yaitu kekudusannya, yang terwujud salah satunya dalam kesediaannya mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya Allah.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Yesaya 45:1-7

Ayat-ayat ini bagian dari Bagian Kedua Kitab Yesaya (Deutero Yesaya) yang berisi kabar baik bagi umat TUHAN di pembuangan. Koresh, sekalipun tidak mengenal Allah, dipilih menjadi alat Allah memberikan keselamatan bagi umat-Nya. Hal itu dilakukan untuk menyadarkan bahwa tidak ada ilah yang dapat mengatasi TUHAN. Ayat-ayat itu juga menggambarkan kehendak Allah untuk mengumpulkan kembali keluarga besar Israel dan beragam cara bisa Ia lakukan.

 

Mazmur 96:1-13

Nyanyian baru yang dimaksudkan di sini adalah perayaan atas pembebasan baru yang Tuhan lakukan, yaitu pembebasan dari krisis yang terjadi pada tahun 586 SM. Ayat 1-6 memanggil untuk mewartakan kemuliaan Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Ayat 7-9 memanggil bangsa-bangsa untuk menyembah Tuhan. Ayat 10-13 memanggil semua ciptaan untuk mengenal kuasa Tuhan. Ketiga bagian menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.

 

I Tesalonika 1:1-10

Bagian awal surat ini merupakan ucapan syukur Rasul Paulus atas kondisi jemaat di Tesalonika. Mereka pada awalnya adalah para penyembah berhala, tetapi menjadi percaya dan menjadi anggota keluarga Kristus. Dalam iman, mereka mewartakan Injil melalui segala perbuatan yang mereka lakukan. Hal itu menggembirakan Rasul Paulus dan menjadi bekal dalam mereka menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali.

 

Injil Matius 22:15-22

Pertanyaan jebakan pada Yesus ditanggapi dengan jawaban yang mengherankan. Jawaban Yesus ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada negara/penguasa tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan dengan ketaatan kepada Tuhan.

 

Renungan atas Bacaan

Ada apa dengan keluarga Kristen? Apa bedanya dengan keluarga-keluarga yang lain? Apakah harus berbeda?

Pertanyaan demikian bisa jadi muncul saat membaca judul perenungan kita hari ini. Hal yang pasti adalah, tentu keluarga Kristen berbeda dari keluarga-keluarga yang lain. Jika tidak berbeda, tidak perlu disebut sebagai keluarga Kristen. Cukuplah disebut dengan keluarga. Namun apa bedanya?

Mencari perbedaan – atau lebih tepat kekhasan – dari keluarga Kristen tidak bisa tidak bersumber dari Firman Tuhan yang menjadi pedoman dasar kehidupan orang percaya. Maka ayat-ayat kita hari ini menjadi dasarnya.

Bacaan Yesaya menggambarkan Tuhan yang berkarya dengan cara tak terduga untuk mengumpulkan kembali keluarga-Nya, yaitu orang-orang Israel. Karya Tuhan ini direspon dengan nyanyian baru yang diserukan pemazmur. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang percaya menerima karya (saat itu pembebasan) dan meresponnya dengan pemuliaan, penyembahan hanya kepada Tuhan Sang Pembebas.

Dalam I Tesalonika, Rasul Paulus menggambarkan hal yang senada. Jemaat Kristen telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga mereka merespon dengan iman dan pewartaan Injil melalui sikap hidup mereka.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan dengan ketaatan kepada penguasa/negara.

Semua ayat tadi menjadi pedoman bagi orang-orang Kristen, termasuk sebagai keluarga, untuk menjadi berbeda dari dunia. Ketaatan hanya kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan dengan diliputi rasa syukur kepada-Nya.

 

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Teks dari Yesaya, Mazmur, Tesalonika, dan Matius terkait melalui ide mengenai karya Tuhan. Karya itu terwujud dalam pembebasan atau pemeliharaan yang dilakukan-Nya dan harus direspon dengan ketaatan mutlak kepada-Nya sebagai satu-satunya Allah.

 

Pokok dan Arah Pewartaan

Hidup manusia dalam dunia tidak terlepas dari keluarga. Apapun posisi seseorang dalam keluarga, ia adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga itu. Demikian juga halnya dengan keluarga Kristen.

 

v   Khotbah Jangkep

 

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,

S

ekalipun jarang diketahui, hari ini adalah Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober, yaitu tanggal berdirinya Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada tahun 1945. Ide mengenai dirayakannya Hari Pangan Sedunia ini muncul pada tahun 1979 sebagai upaya untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap kemiskinan dan kelaparan. Tema-tema tahunan selalu muncul dan menjadi bahan perenungan seluruh negara anggota PBB. Di antara tema-tema yang ada, yang paling banyak muncul adalah mengenai ketahanan pangan. Hal itu berarti keprihatinan terhadap ketersediaan pangan bagi setiap orang adalah hal utama di dunia ini. Bisa dibayangkan kondisi saat tidak ada cukup makanan bagi setiap orang. Gambaran mengenai orang-orang yang tinggal tulang berbalut kulit, kerusuhan dan penjarahan karena kelaparan dan kemarahan. Yang jelas, akan terjadi peristiwa atau kondisi yang tidak menyenangkan jika kebutuhan akan pangan tidak terpenuhi. (Bisa dibantu dengan menampilkan gambar orang-orang kelaparan atau kerusuhan/penjarahan, baik melalui LCD atau gambar cetak.)

Bagaimana kalau orang-orang yang mengalami kesulitan makan itu membaca bacaan pertama kita dari Yesaya? Mereka mungkin akan berpikir dan berandai-andai, seandainya Tuhan mengirim pembebas seperti Koresh dalam hidup mereka. Seandainya Tuhan membebaskan mereka dari beban kelaparan yang sedang mereka derita. Mungkin sebagian dari orang-orang itu akan merasa bahagia karena merasa punya pengharapan setelah membacanya. Namun sebagian mungkin justru akan semakin marah, sebab Tuhan tidak bertindak seperti yang Dia lakukan kepada Israel melalui Koresh.

Lalu apakah kisah tentang pembebasan yang dilakukan oleh Tuhan hanya menjadi pelipur lara atau bahkan hanya menjadi iming-iming bagi orang yang menderita? Bagaimanakah supaya ayat-ayat bahagia mengenai Tuhan yang membebaskan dan juga nyanyian syukur seperti Mazmur bisa menjadi nyata bagi orang yang kelaparan?

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Jemaat di Tesalonika awalnya adalah penyembah-penyembah berhala. Namun setelah menerima pewartaan dari Rasul Paulus, dalam bimbingan Roh Kudus mereka beriman kepada Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Dalam pembukaan suratnya yang pertama, Rasul Paulus dengan sangat murah hati memuji-muji jemaat di Tesalonika. Pujian itu didasarkan pada kondisi nyata jemaat. Mereka menjadi beriman dan imannya itu tidak berhenti pada hati dan pikiran mereka saja. Mereka tidak hanya berubah dalam hal penyembahan kepada Yang Ilahi, melainkan juga dalam kehidupan keseharian. Rasul Paulus menyebut mereka menjadi teladan bagi jemaat-jemaat yang lain. Rasul Paulus juga menyebut-nyebut mengenai kondisi berat yang dialami oleh jemaat saat itu. Bisa jadi karena mereka berbalik dari berhala mereka dan segala kebiasaan yang ada, mereka mengalami pengucilan atau bahkan penindasan dari orang lain. Hal seperti itu dialami juga oleh banyak jemaat di tempat lain. Apalagi di daerah-daerah yang menjadi bagian kekaisaran yang menuntut Kaisar disembah sebagai allah. Namun dalam kondisi berat seperti itu, mereka tetap menjadi penurut Allah dan menjadi teladan. Jemaat-jemaat di tempat lain pun menjadi kuat pula karena mengetahui saudara-saudara mereka di Tesalonika juga kuat.

Hal seperti inilah, Saudara-saudara, yang bisa menjawab pertanyaan di depan tadi. Hal seperti yang dilakukan oleh jemaat di Tesalonika inilah yang bisa membuat orang melihat dengan nyata kasih dan karya Allah dalam hidup mereka. Hal seperti inilah yang membuat orang yang kelaparan melihat Koresh-koresh lain yang diutus oleh Tuhan. Selanjutnya mereka pun akan bisa menyanyikan nyanyian baru bersama dengan seluruh bangsa karena Tuhan membebaskan mereka, Tuhan berkarya dalam hidup mereka. Dan Koresh-koresh yang lain sedang dan masih terus dipanggil oleh Tuhan untuk bisa menjadi alat karya-Nya.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kalau tadi yang kita lihat adalah pengalaman orang Israel, jemaat Tesalonika, dan orang-orang yang tampak jauh dari kita, sekarang bagaimana kondisi di sekitar kita sendiri?

Satu hal yang sangat dekat dengan pangan adalah keluarga. Di dalam keluargalah makanan diterima, dikelola, dan dinikmati bersama. Saat ada banyak makanan, semua merasa kenyang. Demikian pula saat hanya ada sedikit makanan, semua merasa lapar. Di dalam keluarga pula dikenal prioritas dalam hal makanan. Siapa yang harus mendapatkan makanan pertama kali, siapa yang harus menunggu. Siapa yang harus makan lebih banyak dan siapa yang lebih sedikit. Prioritas atau pembagian itu dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing anggota keluarga. Sebagai keluarga, semua saling tahu, sehingga tidak ada rasa iri atau cemburu. Namun siapakah keluarga itu?

Pengertian keluarga ada banyak. Ada orang yang memahami keluarga sebagai keluarga inti saja, yaitu bapak-ibu-anak. Ada juga yang memahaminya sebagai keluarga besar yang mencakup keluarga dari pihak bapak ibu sampai nenek. Namun jika mau berpikir lebih luas, sebenarnya keluarga kita adalah seluruh umat manusia. Semua orang yang dengannya kita berbagi tempat hidup dan sumber daya yang ada di bumi ini. Semua orang yang dengannya kita hidup bersama sebagai ciptaan Tuhan di bumi ini. Jadi, saat kita di sini makan kenyang dan bahkan berlebih, sedangkan di belahan dunia lain ada orang yang kelaparan, apakah itu wujud sebuah keluarga? Saat kita berpikir besok makan dengan sayur dan lauk apa, sedangkan tetangga kita berpikir besok makan atau tidak, apakah itu wujud dari kehidupan sebuah keluarga? Rasanya bukan.

Sebagai keluarga Kristen, sudah selayaknya kita tidak hanya berpikir mengenai diri kita sendiri. Sudah selayaknya kita pun peduli pada orang lain. Hal itulah yang bisa membuat orang-orang yang sedang dalam beban berat bisa memuji seperti Mazmur tanggapan tadi. Namun kadang-kadang orang merasa tidak mampu untuk peduli karena merasa tidak memiliki apa-apa.

Jawaban Yesus pada orang-orang Herodian menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak perlu takut. Ketaatan kepada Tuhanlah yang menjadi kuncinya. Ketaatan itu tidak perlu diperbandingkan aau dipertentangkan dengan ketaatan kepada penguasa negara. Saat orang Herodian menggunakan uang untuk bertanya menjebak Yesus, ada nilai mengenai keberlangsungan hidup dalamnya. Uang adalah alat yang dibutuhkan setiap orang untuk memperoleh kebutuhannya. Secara tersirat, pertanyaan dan jawaban dalam bacaan Injil tadi mengungkapkan sandaran hidup manusia. Haruskah hidup manusia yang membutuhkan uang disandarkan kepada kaisar atau Tuhan? Jawaban Yesus sederhana, tetapi dalam. Keduanya tidak perlu dipertentangkan sehingga ketaatan kepada Tuhan tetap menjadi hal yang mutlak. Tidak perlu merasa tidak memiliki apa-apa. Segala yang kita miliki berasal dari Allah dan harus digunakan semaksimal mungkin untuk menunjang kehidupan. Untuk menjadi Koresh baru di masa kini. Untuk membuat seluruh anggota keluarga kita turut makan bersama. Itulah kekudusan keluarga Kristen yang selalu penuh syukur. Amin.

 

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       :  Kolose 2: 6-19

Petunjuk Hidup Baru :  Hosea 1: 2-10

Dasar Persembahan :  Mazmur 138

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembuka  : KJ 13: 1-4

Nyanyian Penyesalan : KJ 23: 1-3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ 375

Nyanyian Persembahan         : KJ 293: 1-

Nyanyian Penutup    : KJ 453: 1-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Wolu Likur (Ijo)

 

BRAYAT Kristen KANG NENGENAKEN GESANG SUCI

 

Waosan  I: Yesaya 45:1-7; Tanggapan: Jabur 96:1-9

Waosan II: I Tesalonika 1:1-10; Waosan III: Injil Mateus 22:15-22

 

Tujuan:

Warganing pasamuwan sadhar, bilih gesang  ing donya boten kedah sami kaliyan donya. Wujud ipun kanthi gesang  sesemahan, kanthi gesang suci ing tengahing brayat kang tansah sumendhe namung wonten ing Gusti.

 

 

v   Khotbah Jangkep

 

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus,

S

anadyan awis-awis wonten tiyang ingkang pirsa, dinten punika Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia dipun pengeti saben tanggal 16 Oktober, inggih punika nalika Organisasi Pangan Dunia (FAO) madeg ing taun 1945. Hari Pangan Sedunia dipun pengeti wiwit taun 1979 minangka srana kangge muwuhi raos preduli dhateng kawontenanipun para sedherek ingkang mlarat lan ing salebeting pailan. Saben taun mesthi wonten bab ingkang dipun suraos. Ingkang paling kathah  inggih punika bab taksih cekap utawi botenipun tetedhan ing donya punika. Punika ateges, prakawis wonten lan boten wontenipun tetedhan punika dados prakawis ingkang wigati sanget. Saged dipun gambaraken, menawi sampun boten wonten tetedhan ingkang cekap malih. Kathah tiyang kantun balungkulit lan mesthi inggih saged damel kawontenan rusuh lan penjarahan. Ingkang baken, kawontenan ingkang saestu boten ngremenake. (Saged dipun biyantu lumantar gambar-gambar tiyang ingkang ngalami pailan utawi kerusuhan/penjarahan)

Kados pundi menawi tiyang-tiyang ingkang sami boten kacekapan ing bab tetedhan punika sami maos waosan kita saking Yesaya kala wau? Mbok bilih sami ngajeng-ajeng, kapan anggenipun Gusti ngutus tiyang kados Koresh ingkang badhe ngluwari piyambakipun saking kawontenan ingkang boten ngremenaken punika. Mbok bilih sawetawis tiyang remen maos ayat-ayat punika amargi rumaos pikantuk pangajeng-ajeng. Nanging sawetawis sanesipun mbok bilih malah sami mangkel, amargi rumaos Gusti boten adil amargi boten ngutus tiyang ingkang kados Koresh.

Lajeng punapa inggih cariyos bab pangluwaran ingkang dipun tindakaken dening Gusti namung dados panglipur ingkang lamis utawi iming-iming kangge tiyang-tiyang ing salebeting momotan? Kados pundi supados tiyang-tiyang wau sami saged ngidungaken mazmur kados waosan kita, ingkang isinipun bab kekidungan anyar, pamuji dhateng Gusti ingkang paring pangluwaran?

 

Pasamuwan ingkang dipun-tresnani dening Gusti,

Ing pambukaning serat, Rasul Paulus atur pamuji awit kawontenaning pasamuwan Tesalonika. Pasamuwan ing Tesalonika suwau sami nyembah brahala. Nanging sasampunipun nampeni pawartos Injil saking Rasul Paulus, lumantar tuntunaning Sang Roh Suci lajeng sami pitados dhateng Gusti. Anggenipun pitados inggih boten namung lelamisan, nanging saestu kawujud ing tumindak nyata. Rasul Paulus mastani pasamuwan Tesalonika minangka tuladha kangge pasamuwan-pasamuwan sanesipun. Wekdal semanten pasamuwan ing Tesalonika ngraosaken kawontenan ingkang awrat.

Karana sampun ngrasuk kapitadosan dhumateng Gusti, nilar panyembahing brahala, tuwin nilar sakathahing pakulinan tata panembah ingkang lami, pasamuwan wau lajeng kasingkiraken lan nampeni panindhes. Bab punka inggih kalampahan ing pasamuwan sanesipun ing laladan ing pundi Kaisar kedah dipun sembah pinangka allah. Sanadyan makaten, kapitadosanipun boten ewah gingsir, tetep santosa. Pasamuwan-pasamuwan ing papan sanes lajeng tumut kasantosakaken amargi nulad dhateng pasamuwan Tesalonika.

Prakawis punika, para sedherek. Ingkang saged dados wangsulan tumrap pitakenan-pitakenan kala wau. Prakawis ingkang dipun tindakaken dening pasamuwan Tesalonika saged damel tiyang ningali pakaryanipun Gusti kanthi nyata. Lelampahan punika saged damel sadherek-sedherek ingkang ngalami pailan sumerep Koresh ingkang dipun utus dening Gusti. Salajengipun sami saged ngidungaken mazmur ingkang enggal ingkang misuwuraken kamulyaning Gusti ingkang tansah makarya.

 

 

Pasamuwan ingkang dipun-tresnani dening Gusti,

Menawi kala wau kita ningali pengalamanipun bangsa Israel, pasamuwan ing Tesalonika, lan tiyang-tiyang ingkang tebih, kados pundi kawontenan ing kiwa tengen kita?

Prakawis ingkang celak piyambak kaliyan bab tetedhan punika brayat. Tetedhan dipun-tampi, dipun olah, lan dipun tedha sesarengan ing salebeting brayat. Nalika wonten tetedhan kathah, inggih sedaya sami tuwuk. Nanging nalika namung wonten sekedhik, sadaya ngraosaken luwe. Ing satengahing brayat ugi wonten ingkang dipun tengenaken. Sinten ingkang kedah nampi tetedhan langkung rumiyin, lan sinten ingkang kantun. Sinten ingkang kedah nedha langkung kathah, lan sinten ingkang sekedhik. Sedaya dipun-dum wradin, miturut kabetahanipun piyambak-piyambak. Boten badhe wonten warganing brayat ingkang rumaos meri. Nanging, sinten ta brayat kita punika?

Brayat saged ngemu teges kathah. Wonten ingkang mastani brayat punika namung bapak, ibu, anak. Wonten ugi ingkang mastani brayat punika inggih ngantos simbah. Nanging menawi kita raos-raosaken kanthi saestu, sejatosipun brayat punika inggih sedaya tiyang ingkang gesang lan nedha sesarengan kaliyan kita. Punika ateges, inggih sedaya manungsa ing bumi. Amargi kita sami-sami mapan lan ngadeg ing bumi ingkang sami. Kita sami-sami nedha saking tetuwuhan ingkang tuwuh saking bumi ingkang sami. Dados sedaya tiyang ing bumi punika, brayat kita.

Pitakenanipun, menawi kita saged nedha ingkang eca, nanging sedherek ing pulo sanes boten saged nedha, punapa punika wujuding brayat ingkang sae? Menawi kita ngrancang-rancang punapa ingkang badhe kita tedha mbenjang-enjang, nanging sedherek ing benua sanes mikir mbenjang saged nedha utawi boten, punapa punika inggih mujudaken brayat? Raosipun kok boten.

Minangka brayat Kristen, sampun samesthinipun kita boten namung mikir bab dhiri kita piyambak. Sampun samesthinipun kita tumut migatosaken dhateng tiyang sanes. Prakawis punika ingkang saged damel tiyang-tiyang ingkang saweg kamomotan saged memuji kados dene Mazmur kita kala wau. Nanging kadhang-kala tiyang rumaos boten saged preduli amargi rumaos boten gadhah punapa-punapa.

Paring wangsulanipun Gusti Yesus dhateng para tiyang Herodian nelakaken bilih kita boten sisah kuwatos. Anggen kita mbangun turut dhateng Gusti boten kangge nandhingaken kaliyan anggen kita  mbangun turut dhateng pamarintah. Nalika tiyang Herodian ngginakaken arta kangge pitaken (ing sedya kangge mblithuk Gusti), wonten babagan ingkang wigati magepokan kaliyan gesang. Lumantar paring wangsulanipun Gusti, sampun nelakaken bab kadospundi prayoginipun manungsa sumarah, dhumateng Gusti Allah punapa Kaisar. Wangsulanipun Gusti prasaja, ananging lebet. Kekalihipun boten kepareng dipun dadosaken lelawanan, ananging kastyanipun manungsa dhateng Gusti punika ingkang wigati. Boten prelu rumaos boten anggadhahi punapa-punapa.  Sedaya ingkang kita gadhahi punika peparingipun Gusti lan kedah kita  ginakaken kangge ngrimat gesang. Supados saged dados Koresh ing wekdal sapunika. Kangge  dados jalaraning sedaya warga brayat saged nedha sesarengan. Punika wujuding kasucenipun brayat Kristen ingkang tansah kebak ing raos sokur. Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat   :          Kolose 2: 6-19

Pitedah Gesang Enggal          :           Hosea 1: 2-10

Pangatak Pisungsung  :          Jabur 138

 

v   Rancangan Kidung Pamuji:

Kidung Pambuka      : KPK BMGJ 7: 1-3

Kidung Panelangsa  : KPK BMGJ 46: 1, 2

Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ 70: 1,5

Kidung Pisungsung   : KPK BMGJ 186: 1-

Kidung Panutup        : KPK BMGJ 86: 1-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh (Hijau)

 

KELUARGA YANG CANTIK BATIN DAN CANTIK PERILAKU

 

Bacaan I Imamat 19:1-2, 15-18, Tangapan: Mazmur 1

Bacaan II I Tesalonika 2:1-8, Bacaan III: Injil  Matius 22:34-46

 

Tujuan

Keluarga-keluarga Kristen terdorong untuk memiliki citra/gambar diri positif sehingga mampu mencintai sesama dengan tulus hati

 

v   Dasar Pemikiran

Mencintai sesama seperti diri sendiri terwujud saat kita memiliki citra diri positif. Perenungan mendalam akan sabda Tuhan mendorong kita memiliki citra diri positif serta menolong untuk menemukan caranya. Bersekutu intim dengan Tuhan dan mencintai titah-Nya adalah awal dari penemuan itu, sekaligus daya yang mengabadikannya.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Imamat 19: 1-2, 15-18

Allah yang kudus menghendaki Israel hidup kudus, yang berarti memiliki keelokan batin (inner beauty) yang nyata dalam sikap etis yang baik kepada sesama. Hal itu terwujud dengan memandang positif insan sebangsa maupun orang asing (ay. 34), mencintai sesama bahkan saat disakiti, mengikis dendam dan benci, tidak membalas kejahatan, bersikap terbuka kepada sesama seraya mengupayakan kesepakatan damai, bersikap adil dan menghakimi dengan obyektif, berpatok pada kebenaran.

 

Mazmur 1

Kedalaman relasi pemazmur dengan Allah menggairahkannya untuk mencintai titah Allah dan memegangnya teguh (commitment of spirituality). Allah memurnikan hati dan memampukannya melakukan yang benar di mata-Nya. Meski di tengah tekanan dan celaan orang-orang fasik, Allah membuatnya mampu melakoni hidup jujur dan terpuji (commitment of morality), bertolak belakang dengan laku hidup orang fasik. Itulah bahagia sejati, bukan karena melimpahnya harta dunia.

 

I Tesalonika 2: 1-8

Rasul Paulus meyakinkan jemaat Tesalonika akan ketulusan pemberitaan Injil yang dilakukannya bersama rekan-rekannya. Mereka sungguh-sungguh mencintai dan mengayomi jemaat yang sedang berjuang menghadapi para penyesat. Rasul Paulus bukan hanya berbagi berita Injil, tetapi juga hidup. Pada saat sama-sama tertekan, mereka mampu saling menolong dan menguatkan (lih. Kis. 16:1-9). Itulah otentisitas hidup dalam cinta di mana mereka saling menopang dengan tulus.

 

Injil Matius 22: 34-46

Yesus memberi tuntunan untuk mempraktekkan mencinta sesama: seperti mencintai diri sendiri. Artinya, seperti umat memperlakukan diri sendiri, seperti itulah umat memperlakukan sesama. Oleh karena itu, umat perlu terlebih dulu memiliki citra diri (self-image) positif terhadap diri: memandang dan memperlakukan diri secara positif. Dengan demikian umat akan mampu mencintai sesama dengan baik. Namun bila citra diri buruk, buruk pula umat memperlakukan sesama.

 

Renungan atas Bacaan

Allah ingin agar keluarga Kristen memancarkan kasih kepada sekitar. Namun sungguh prihatin bila kita mendengar banyak keluarga Kristen yang laku hidupnya tidak menjadi berkat, tetapi malah menjadi batu sandungan di tengah masyarakat. Contohnya antara lain adalah pertengkaran antar anggota keluarga, perselisihan dengan tetangga, kinerja buruk dalam dunia kerja, hidup eksklusif dan tidak membaur serta larut dalam arus perilaku molimo: main, maling, mendem, madat lan madon. Hal demikian menjadikan citra keluarga Kristen buruk. Jika orang percaya tidak mampu merawat tubuh, mengolah batin, mengelola kebiasaan, waktu, keluarga, pekerjaan, dan relasinya, bagaimana mampu menunjukkan perhatian kepada sesama? Jika orang percaya tidak mampu mencintai komunitas internalnya, bagaimana bisa menjadi berkat bagi masyarakat?

Citra seperti apa yang seharusnya dibangun? Bagaimana cara memperbaiki citra yang rusak?

Refleksi terhadap bacaan Imamat dan I Tesalonika menyadarkan kita bahwa keluarga Kristen harus memiliki gambar diri positif: cantik batin dan cantik laku. Tulus dan terbuka dalam berelasi, sabar dan mengampuni orang yang menyakiti, rela dan ikhlas menopang sesama, serta tegas dan adil dalam menyatakan kebenaran. Otentik dari kejujuran hati dan tidak munafik, itulah motif yang mesti dipupuk.

Pemazmur mengajak kita untuk mulai dari cinta Allah. Membangun relasi intim dengan menyukai titah-Nya. Seperti akar pohon yang terus mendapat asupan makanan dari air sungai di tepinya, demikianlah orang percaya akan mampu berakar kuat pada titah-Nya. Seperti pohon yang terus mengeluarkan buah, demikianlah orang percaya akan memancarkan kecantikan batin dan laku hidup terpuji. Hanya dengan cinta Allah kita mampu cintai sesama.

 

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Mencintai sesama seperti diri sendiri dimulai dengan memiliki citra diri positif. Imamat menunjukkan citra diri positif yang harus dibangun. Rasul Paulus dan jemaat Tesalonika mewujudkannya dengan saling menopang dalam kesulitan. Bagi pemazmur, cantik laku dan batin dimulai dari cinta Allah. Cinta sesama tidak bisa dipisahkan dari cinta Allah.

 

Pokok dan Arah Pewartaan

Agar mampu mencintai sesama secara tulus dan otentik, citra diri positif perlu dipupuk. Persekutuan intim dengan Allah dan kecintaan pada titah-Nya memurnikan batin dan memampukan kita hidup kudus.

 

v   Khotbah Jangkep

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

M

ari kita simak dua cerita di bawah ini.

Bu Arif dan Bu Prihatin bersahabat. Suatu ketika Bu Prihatin mengeluh tentang keluarganya. Ia sedih karena setelah suaminya meninggal, keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Ia juga harus berperan sebagai kepala keluarga yang menopang kedua anaknya. Ia berjualan kue mengitari kampung, tetapi hasilnya tidak seberapa. Ia merasa sebagai orang paling malang sedunia. Ketika mendengar khotbah tentang mengasihi sesama, ia bertanya merasa tidak mungkin melakukannya karena keluarganya sendiri berada dalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Ia memohon saran Bu Arif agar keluarganya tidak selalu diterpa kesusahan. Bu Arif menyarankan untuk membawa sekantong kecil beras dan mendatangi setiap rumah, menanyakan ada tidaknya anggota keluarga di rumah tersebut yang tidak sedang mempunyai masalah. Jika ada, Bu Prihatin bisa memberikan sekantong kecil beras tersebut kepada orang itu. Bu Prihatin heran dan menanyakan maksudnya. Bu Arif hanya tersenyum dan mendorong Bu Prihatin untuk mencobanya. Akhirnya pergilah Bu Prihatin dari rumah ke rumah dan melakukan hal yang disarankan Bu Arif. Apa yang terjadi kemudian? Bu Prihatin kembali ke rumah Bu Arif dengan masih membawa sekantong kecil beras.

Pak Pongah selalu bicara panjang lebar dalam PA. Ia ingin orang lain mengakui bahwa ia pintar. Jika ada orang muda yang mengritisi pendapatnya, ia marah dan mendendam. Bahkan ia berusaha mencari cara untuk mempermalukan orang itu. Ia menghasut orang-orang dengan menyebarkan isu bahwa orang itu banyak hutang dan keluarganya tidak harmonis. Suatu ketika, saat ada PA yang bertema mengasihi sesama, Pak Pongah berpendapat bahwa mengasihi sesama berarti harus mendidik orang muda agar hormat dan mau belajar dari yang lebih tua, lebih tahu, dan lebih berpengalaman. Orang muda harus ditegur agar tidak nglunjak dengan mendebat pendapat orang yang lebih tua.

Bagaimana pendapat saudara tentang Bu Prihatin dan Pak Pongah? Apa yang menyebabkan mereka sulit mengasihi sesama? Mereka memiliki citra diri negatif. Bu Prihatin memandang dan memperlakukan dirinya sebagai orang susah dan perlu ditolong (inferior self-image). Pak Pongah memandang dan memperlakukan dirinya sebagai orang hebat yang mesti dipatuhi semua orang (superior self-image). Orientasi mereka hanya pada kebutuhan dan kepentingan diri (self-oriented). Akibatnya, mereka sulit membuka hati untuk memperhatikan orang lain.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Supaya bisa mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri, kita perlu terlebih dulu memandang dan memperlakukan diri dengan kasih. Kita perlu memiliki citra diri (self-image) positif. Dalam Imamat 19:1-2,15-18, Allah menunjukkan citra diri yang harus dipupuk umat Israel. Allah ingin umat terus menginternalisasikan dalam hatinya bahwa mereka adalah umat yang harus hidup kudus, yang diwujudkan dalam kebaikan hati dengan memandang positif sesama umat Israel maupun orang asing (ay. 34), bahkan juga siapapun yang menyakiti perasaan.

Dalam konteks keluarga dan pergaulan, umat harus menampakkan kebaikan hati itu. Umat harus belajar mengikis rasa dendam dan benci kepada sesama yang menyakiti hati. Umat harus belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Daripada di belakang menyebar fitnah dan melakukan pembunuhan karakter, lebih baik bersikap jujur dan terbuka untuk menyelesaikan perselisihan dan mengupayakan damai. Gentle dan ksatria. Umat harus belajar sabar dan mau memaafkan. Dalam konteks dunia peradilan, para penegak hukum harus mengadili dengan obyektivitas tinggi dan berpatok pada kebenaran, teguh pada prinsip, tidak bisa dipengaruhi siapapun, dan berani menghadapi resiko apapun demi kebenaran.

Itu semua adalah ekspresi dari citra diri umat Israel: umat kudus yang cantik batin dan lakunya.

Perilaku cantik terhadap sesama juga dinampakkan Rasul Paulus, rekan-rekan sepelayanannya, dan jemaat di Tesalonika. Kisah Para Rasul 16:1-9 menceritakan Rasul Paulus yang dituduh oleh para penyesat sebagai pengacau yang ingin mengambil keuntungan saat mengabarkan Injil. Inilah upaya pembunuhan karakter terhadap Rasul Paulus. Dalam suratnya, Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada motif uang atau ketenaran dalam memberitakan Injil. Penyelamatan oleh jemaat Tesalonika terhadap dirinya dari kejaran para penyesat, menggairahkan Rasul Paulus untuk berbagi hidup dengan jemaat. Kasih sayang yang tulus dan otentik mewarnai relasi Rasul Paulus dengan jemaat Tesalonika.

Refleksi di atas menolong kita untuk memahami bahwa citra diri bukan sekadar kemasan luar tanpa isi. Banyak orang membangun citra diri positif dengan pura-pura bersikap santun dan membantu orang lain, tetapi hatinya munafik. Motif popularitas, harta, dan kekuasaan menodai perilakunya. Umat Israel dan Rasul Paulus meneladankan sikap etis yang tulus, jujur, terbuka, dan otentik terhadap sesama, tanpa kemunafikan atau agenda tersembunyi di baliknya. Benar-benar tumbuh dari dalam hati dan muncul keluar dalam sikap nyata. Jadi benar-benar cantik batin dan cantik laku.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Pertanyaan yang mendasar adalah: Bagaimana caranya memiliki citra diri positif, cantik batin dan cantik laku? Citra diri positif tidak cukup dibangun dengan cara memikirkan dalam hati dan memunculkan dalam kata. Misalnya, ”Oh, kalau begitu aku harus berpikir terus-menerus bahwa aku adalah orang baik dan penolong. Dan aku harus menunjukkannya dalam sikap nyata.” Ini memang usaha yang baik. Para bijak yang sering muncul di TV juga menyarankan cara berpikir positif seperti itu agar citra diri kita positif dan mempengaruhi perilaku kita menjadi positif. Namun acapkali pondasinya rentan dan lemah. Ketika menerima perlakuan buruk dari orang lain kita tetap terbawa emosi, tersinggung, dan ingin membalas perlakuan itu.

Pemazmur membuka mata kita bahwa pondasi harus dibangun kuat melalui kedalaman relasi dengan Allah-sumber kekuatan-serta mencintai titah-Nya sebagai pegangan laku hidup. Laksana pohon yang terus mendapat asupan makanan dari air sungai, demikanlah pemazmur mendapat asupan titah dan kekuatan untuk melakukannya. Meski pemazmur dikelilingi orang-orang fasik yang mencelanya, tetapi Allah memampukannya untuk tidak memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukannya. Allah menjaga hatinya tetap tulus dan lembut. Dan bagi pemazmur, di situlah letak bahagia sejati.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Milikilah citra diri positif, agar kita memperlakukan sesama positif,

Gemakanlah terus bahwa hati dan laku kita harus cantik,

Mendekatlah pada Allah dan cintailah titahNya,

Karena hanya dengan kekuatanNya,

kita mampu memperlakukan sesama dengan cantik.

 

Mengakhiri khotbah, mari kita renungkan bersama puisi ini:

Di jalan aku melihat seorang gadis kecil

kedinginan dan menggigil dalam pakaiannya yang tipis,

dengan sedikit berharap akan makanan yang cukup.

Aku marah dan berkata kepada Tuhan:

’Mengapa Kau mengizinkan hal seperti ini?’

’Mengapa Kau tidak melakukan sesuatu?’

Untuk beberapa saat Allah diam.

Namun malam itu, tiba-tiba Dia menjawab:

‘Aku pasti melakukan sesuatu.

Aku menciptakan engkau.’

(Chicken Soup for The Christian Soul 2)

 

Selamat mencinta. Amin.

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       : 1 Petrus 1: 18-19

Petunjuk Hidup Baru : 1 Petrus 3: 15-17

Dasar Persembahan : Ibrani 13: 15-16

 

v   Rancangan Nyanyian Ibadah:

Nyanyian Pembukaan            : KJ. 448: 1-4

Nyanyian Penyesalan : KJ. 467: 1-3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ. 434: 1-2

Nyanyian Persembahan         : KJ. 450: 1-4

Nyanyian Penutup    : KJ. 424: 1-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Tigang Dasa (Ijo)

 

BRAYAT INGKANG MUJUDAKEN KAELOKANING GESANG

Waosan I: Kaimaman 19: 1-2, 15-18; Tanggapan: Jabur I;

Waosan II: 1 Tesalonika 2: 1-8; Waosan III: Injil Mateus 22: 34-46

 

Tujuan :

Brayatipun tiyang Kristen nggadhahi gambaran dhiri ingkang sae satemah kasagedna mujudaken katresnan dhateng sesami kanthi tulusing manah

 

 

v   Khotbah Jangkep

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

S

umangga kula aturi raos-raosaken cariyos ing ngandhap punika:

Bu Arif lan Bu Prihatin sampun dangu kekancan sae. Ing sawijining dinten, Bu Prihatin sesambat babagan kawontenan brayatipun ingkang nembe ngalami kesrakatan. Sasampunipun Pak Prihatin seda, piyambakipun kedah nyanggi kabetahaning brayat, kalebet lare-larenipun. Piyambakipun sadeyan roti ing dhusunipun nanging asilipun namung sakedhik. Piyambakipun rumaos minangka tiyang ingkang langkung rekaos tinimbang sedaya tiyang sanes ing alam donya. Nalika mirengaken kotbah babagan “Nresnani Sesami”, piyambakipun nggresula: “Apa mungkin aku bisa nindakake, wong aku dhewe nandhang kesusahan?” Piyambakipun lajeng nyuwun seserepan saking Bu Arif supados brayatipun saged uwal saking kasangsaran. Bu Arif ngaturi supados mbekta beras setunggal kanthong alit lan nyowani saben griya ing dhusunipun saperlu nyuwun pirsa punapa wonten tiyang ing griya-griya punika, ingkang saweg boten ngadhepi prakawis. Bu Prihatin radi bingung. Nanging Bu Arif namung mesem lan nyurung Bu Prihatin supados nyobi nindakaken. Ing salajengipun, Bu Prihatin nyowani saben griya lan nindakaken punapa ingkang dados pitedahipun Bu Arif wau. Punapa ingkang kedadosan ing salajengipun? Bu Prihatin wangsul malih dhateng griyanipun Bu Arif kanthi taksih mbekta berasipun!

Pak Pongah asring ngendikan kathah-kathah wonten ing PA-PA. Piyambakipun kepingin supados ketingal wasis. Menawi wonten tiyang anem ingkang beda pamanggih kaliyan piyambakipun, piyambakipun lajeng duka lan serik dhateng tiyang anem wau. Malah piyambakipun mbudidaya supados saged mirangaken tiyang anem wau. Piyambakipun nyebar warta dhateng tiyang-tiyang bilih tiyang anem wau utangipun kathah lan ing satengahing brayat tansah regejegan. Nalika wonten PA babagan “Nresnani Sesami”, Pak Pongah ngendikan bilih nresnani sesami punika kedah kawujudaken kanthi ndhidhik tiyang-tiyang anem supados ngajeni lan nggadahi suba-sita dhumateng para sepuh lan tiyang-tiyang ingkang langkung wasis. Miturut piyambakipun, boten prayogi menawi tiyang nem nyanggah pamanggihipun para sepuh!

Kados pundi pemanggih Pasamuwan tumrap tindak tandukipun Bu Prihatin lan Pak Pongah? Punapa ingkang ndadosaken Bu Prihatin lan Pak Pongah kangelan nresnani sesami? Wangsulanipun: awit tiyang kekalih wau nggadahi gambaran dhiri ingkang kirang sae! Bu Prihatin nggambaraken dhirinipun minangka ‘tiyang ingkang tansah sisah.’ Pak Pongah nggambaraken dhirinipun minangka ‘tiyang ingkang langkung wasis lan kedah dipun ajeni.’ Ingkang dipun tengenaken namung kabetahan lan kapentinganipun piyambak! Tembenipun, tiyang kekalih wau kangelan migatosaken tiyang sanes!

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Supados kita saged nresnani sesami kadosdene kita nresnani diri kita piyambak, kita kedah nggadahi gambaran dhiri ingkang sae. Wonten Kaimaman 19: 1-2, 15-18, Gusti Allah nedahaken gambaran dhiri ingkang kedah dipun-gadhahi tiyang Israel. Gusti Allah ngersakaken bangsa Israel supados nggambaraken dhiri minangka ‘bangsa ingkang suci, ingkang nggadahi manah lan tumindak sae dhateng sesami, kalebet dhateng bangsa sanes (ay, 34), ugi kalebet dhateng sedaya tiyang ingkang moyoki bangsa Israel!’  

Wonten satengahing gesang bebrayatan lan ing satengahing masyarakat, bangsa Israel kedah mbudidaya ngicalaken raos serik dhateng tiyang ingkang moyoki. Bangsa Israel boten pikantuk males piala kanthi piala! Tinimbang reraosan ing wingking lan nyebar fitnah, langkung prayogi menawi ngudhar raosing manah kanthi jujur lan tinarbuka sarta ngrampungaken prakawis kanthi aben ajengan kaliyan tiyang wau. Kanthi makaten, gesang tentrem rahayu saged kawujudaken! Bangsa Israel kedah sinau supados saged ngapunteni kalepataning tiyang sanes! Tumraping para hakim, Gusti Allah ngersakaken supados para hakim saged mutusaken prakawis kanthi adil, titis, lan boten kapilut dening pambujuking tiyang-tiyang ingkang saweg nggadhahi prakawis ing pengadilan.

Sedaya punika minangka wujuding gambaran dhiri tiyang Israel: ‘bangsa ingkang suci, elok budinipun lan elok tumindakipun!’

Paulus – sinarengan para mitranipun – lan pasamuwan ing Tesalonika ugi mujudaken kaelokaning gesang. Nalika martosaken Injil ing Tesalonika (kacariyosaken ing Lelakone Para Rasul 16: 1-9), Paulus kadakwa damel rerusuh lan ngudi kauntungan dening tiyang-tiyang ingkang serik dhateng pawartosing Injil. Mila wonten ing seratipun, Paulus negesaken bilih piyambakipun boten nggadhahi pangangkah ngudi rajabrana utawi pamujining tiyang sanes nalika martosaken Injil! Paulus rumaos bingah nalika pasamuwan ing Tesalonika pitados dhateng Paulus lan nulungi piyambakipun satemah saged kauwalaken saking pamoyoking tiyang-tiyang ingkang serik wau! Punika ingkang sangsaya ndadosaken Paulus kepingin sesambetan kaliyan pasamuwan kanthi raket lan kanthi tulusing manah, sami tulung tinulung ing bot-repot! Katresnan ingkang sayektos tuwuh ing antawisipun Paulus lan pasamuwan!

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Sangsaya cetha kangge kita  bilih gambaran dhiri punika boten namung ketingal sae ing njawi nanging tanpa isi! Kathah tiyang ingkang ngetingalaken gambaran diri minangka tiyang alus lan remen tetulung, nanging sejatosipun namung lamis. Ingkang dipun-angkah inggih punika pamuji saking tiyang sanes, rajabrana lan kadrajadan! Paulus lan bangsa Israel paring tuladha kadospundi nresnani sesami kanthi jujur lan tulusing manah, tanpa lamis! Anamung mijil saking lebeting manah lan kelair kanthi tumindak nyata! Saestu mujudaken kaelokaning gesang!

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Bok menawi ingkang dados pitakenan ing manah kita inggih punika: kadospundi patrapipun supados nggadahi gambaran dhiri ingkang sae, elok ing budi lan elok ing tumindak? Boten cekap menawi namung kandheg ing pamikir lan kaucap ing lathi. Contonipun: “Oh, yen ngono aku kudu tansah mikirake yen aku ki wong apik lan seneng tetulung. Lan aku kudu mujudake kanthi tumindak nyata.” Punika pancen pambudidaya ingkang sae! Tiyang-tiyang ingkang wicaksana ing TV asring paring seserepan supados kita nggadahi pikiran sae supados gambaran diri kita sae satemah tindak tanduk kita ugi sae! Namung menawi cekap makaten kemawon, pondhasinipun ringkih! Nalika dipun-poyoki utawi dipun-patrapi siya-siya dening tiyang sanes, kita asring lajeng nepsu, emosi, lan nggadahhi pepinginan males tumindakipun tiyang kadosdene ingkang kita sampun katandukaken dening tiyang sanes dhateng kita!

Juru Mazmur mulang muruk dhateng kita bilih pondhasi kaelokaning gesang kedah dipun-bangun kanthi sesambetan ingkang raket kaliyan Gusti Allah sarta nresnani titahipun Gusti. Kadosdene wit-witan ingkang wonten ing sapinggiring toya ingkang tansah kaparingan tetedhan saking toya punika, makaten ugi Juru Mazmur pinaringan sabdaning Gusti lan kasagedaken nindakaken pangandikanipun. Sinaosa piyambakipun dipun-poyoki dening tiyang duraka, nanging Gusti Allah ngiyataken piyambakipun supados boten males tumindakipun tiyang-tiyang wau kadosdene ingkang dipun-tampeni Juru Mazmur! Gusti Allah njageni supados manahipun tansah tulus lan tansah luhur budinipun! Lan, kangge Juru Mazmur, gesang ingkang kados makaten punika ingkang kasebat rahayu ingkang sejatos!

 

 

Para sedherek,

Sumangga kita nggadhahi gambaran dhiri ingkang sae

supados kita ugi saged tumindak sae dhateng sesami,

Sumangga tansah kita lairaken ing manah kita bilih manah lan tindak tanduk kita kedah elok,

Sumangga ngraketaken sesambetan kita kaliyan Gusti Allah lan nresnani titahipun Gusti,

Namung awit saking kekiyatanipun Gusti, kita kasagedaken nresnani sesami kanthi elok

 

Wasana, sumangga kita sami nggegilut geguritan ing ngandhap punika:

“Neng dalan aku weruh kenya alit

Kadhemen njedhindhil awit klambine kang tipis,

Ngarep-arep sethithik panganan lan omben.

Aku matur dhumateng Gusti:

“Kenging punapa Paduka mendel kemawon?

Kenging punapa Paduka boten tumindak punapa-punapa?”

Sawetara Gusti mendel.

Nanging ing wayah wengi, dumadakan Gusti mangsuli:

‘Aku uwis tumindak.’

Aku nitahake sira.”

 

(Kapendhet lan kasalin basanipun saking buku Chiken Soup for The Christian Soul 2)

 

Sugeng nresnani sesami.

Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih rahmat    : 1 Petrus 1: 18-19

Pitedhah Gesang Anyar                     : 1 Petrus 3: 15-17

Pangataking Pisungsung                    : Ibrani 13: 15-16

 

v   Rancanganing Kidung Pamuji:

Kidung Pamuji             :  KPK. 25: 1, 3

Kidung Panelangsa     : KPK. BMGJ. 50: 1-2

Kidung Kesanggeman            : KPK. BMGJ. 165: 1, 4-5

Kidung Pisungsung      : KPK. BMGJ. 185: 1-3

Kidung Panutup           : KPK. BMGJ. 304: 1-3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011

Pekan Biasa Ke Tiga Puluh Satu (Hijau)

 

KELUARGA YANG MENGHADIRKAN PEMIMPIN SEJATI

Bacaan I: Mikha 3:5-12; Tanggapan: Mazmur 43;

Bacaan II: I Tesalonika 2:9-13; Bacaan III: Injil Matius 23:1-12

 

 

v   Dasar Pemikiran

Dunia ini membutuhkan pemimpin sejati. Sudah terlalu banyak sosok pemimpin yang hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya-bahkan malah menindas orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan sejati bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan hadir melalui proses pembentukan. Keluargalah wadah yang tepat untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati.

 

v   Keterangan Tiap Bacaan

 

Mikha 3:5-12

Nabi Mikha menubuatkan peringatan Tuhan kepada para nabi yang korup dan pemimpin umat yang lalim. Tuhan akan mempermalukan para pemimpin yang menipu dan menindas umat demi mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tuhan akan meninggalkan pemimpin-pemimpin yang seperti itu, dan akan membiarkan mereka mengalami kegagalan.

Mazmur 43

Mazmur ini menggambarkan doa seorang yang mengalami kesesakan akibat penindasan, ketidakadilan, penipuan, dan kecurangan yang menimpanya. Di tengah kesesakannya yang dialaminya itu, ia mengharapkan kasih setia Tuhan mewujud untuk menuntun dan membawanya ke tempat kediaman Tuhan, menyatakan sukacita dan syukurnya.

 

I Tesalonika 2:9-13

Kesaksian Rasul Paulus tentang pelayanannya bukanlah untuk menyombongkan diri. Kendati pun memang Paulus bekerja keras menghidupi diri sekaligus membiayai pelayanannya, namun ia menyatakan kesalehan dan ketekunannya itu sebagai cara memberi teladan dan memotivasi umat untuk hidup sesuai kehendak Allah. Ia berharap, apa yang diajarkannya dapat diterima sebagai firman Allah.

 

Injil Matius 23:1-12

Kendati Yesus mengakui otoritas para ahli Taurat dan orang Farisi (“kursi Musa”), namun Ia menyadari, perilaku mereka tak bisa diteladani. Jadi, jalan keluar yang cerdaslah yang Yesus tawarkan: turuti ajarannya, tapi jangan contoh kelakuannya. Bagi Yesus, kepemimpinan bukanlah soal memerintah atau menguasai, melainkan keteladanan. Lebih jauh, Yesus menganjurkan hubungan kesetaraan (relasi egaliter) di antara para pengikut-Nya – layaknya sebuah keluarga. Pemimpin sejati adalah yang mau melayani.

 

Renungan Atas Bacaan

Siapa sih yang mau dipimpin oleh seorang yang bisanya hanya memerintah ini dan itu? Apalagi kalau yang diberi wewenang untuk memimpin itu hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya sendiri.

Nabi Mikha merasakan situasi yang tidak beres terjadi di tengah umat: para penguasa dan imam hanya mau bekerja dan mengajar kalau ada bayarannya. Bahkan para nabi menyampaikan pesan yang baik-baik hanya kepada mereka yang mau memberi imbalan. Atas pemimpin korup, menipu, dan menindas seperti itu, Nabi menyampaikan peringatan bahwa Tuhan takkan tinggal diam. Para pemimpin yang menipu umat akan dipermalukan, bahkan akan ditinggalkan Tuhan.

Kepemimpinan memiliki dua sisi yang sama penting: ajaran dan teladan. Keduanya harus sinkron. Kalau ajarannya bagus, tapi orang yang mengajarkan tak menunjukkan hidup baik sesuai apa yang diajarkannya, apakah pemimpin seperti itu bisa diteladani? Ajarannya sih boleh diamini dan dituruti, tapi sosok pemimpin seperti itu ya jangan ditiru. Pemimpin yang benar adalah yang tidak mengejar pujian, sanjungan, atau jabatan, melainkan yang mau melayani dan menjadi saudara. Sebagaimana Rasul Paulus, kendati pun hidupnya saleh dan tekun tak bercela, ia tak ingin dipandang sebagai pemimpin atau penguasa. Malahan, ia menerima umat sebagai keluarganya – sebagai anak-anaknya sendiri.

Bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah ada suasana saling melayani satu sama lain? Bukankah sebagai orang tua, sebagai pemimpin, kita justru harus lebih dulu melayani anak-anak kita? Dengan demikian, mereka akan meneladani sikap kita, hingga kelak bisa menjadi pemimpin yang baik di tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakatnya.

 

Harmonisasi Bacaan Leksionari

Pemimpin adalah pelayan dan teladan, itulah ajaran Yesus. Orang yang disebut pemimpin  tapi tak mau melayani, atau hanya mau melayani kalau ada imbalannya, seperti kritik Nabi Mikha, bukanlah pemimpin sejati. Sosok Rasul Paulus yang mandiri, saleh, dan tekun adalah sosok pemimpin yang baik, kendati ia lebih suka disebut sebagai ‘bapa’.

 

Pokok dan Arah Pewartaan

Keluarga Kristen senantiasa menganut nilai-nilai kasih, keteladanan, dan pelayanan tanpa pamrih. Dengan demikian, sesungguhnya keluarga adalah wadah ideal untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati.

v   Khotbah Jangkep

 

Saudara-saudara terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

D

alam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar istilah “jarkoni” – kependekan dari “bisa ujar, nanging ora bisa nglakoni”. Bisa mengajarkan, tetapi tidak bisa menjalankan. Istilah ini biasanya muncul dalam obrolan kita tentang sosok orang yang senang memberikan nasehat atau pengajaran yang baik dan mulia, namun dalam kenyataan, hidupnya sendiri jauh dari apa yang dinasehatkan atau diajarkannya itu.

Apabila seorang yang mendapat predikat “jarkoni” itu menjadi seorang pemimpin, dapat diduga bahwa ia akan menjadi pemimpin yang senang memberi instruksi atau perintah, namun tak pandai menjalankan apa yang diinstruksikan atau diperintahkannya sendiri. Biasanya, pemimpin seperti itu malahan hanya akan menimbulkan kesusahan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jika ini terjadi di kantor, staf atau bawahannya akan merasa tertekan, karena mereka sering disuruh ini-itu, atau dilarang ini-itu, tapi sang pemimpin sendiri tidak melakukan atau mematuhi perintah dan larangannya.

Jemaat Tuhan yang terkasih,

Pada zaman Nabi Mikha, ada situasi yang sangat memprihatinkan terjadi di tengah-tengah umat. Para pemimpin berlaku tidak adil dan memutarbalikkan kebenaran demi mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. Digambarkan oleh Mikha, para imam hanya mau memberikan pengajaran, kalau ada imbalan atau bayarannya. Para nabi merekayasa nubuatan mereka-yang baik-baik disampaikan kepada yang bisa memberi uang, sementara yang jelek-jelek diberikan kepada mereka yang tidak mampu memberi imbalan.

Bisa dibayangkan, betapa kacaunya kehidupan keimanan umat Tuhan saat itu. Umat merasa diperlakukan tidak adil, dicurangi, dan ditindas. Mereka merasa tak berdaya, dan hanya dapat mengharapkan pertolongan dan kasih setia Tuhan. Atas kondisi kepemimpinan yang carut marut seperti itu, Nabi Mikha memberikan peringatan keras. Tuhan tidak akan tinggal diam. Para pemimpin yang korup dan menindas umat akan dipermalukan, bahkan akan ditinggalkan oleh Tuhan dan oleh umat.

Bukan tanpa alasan kalau umat meninggalkan pemimpin yang tak mampu menjadi teladan. Yesus sendiri mengajarkan bahwa antara ajaran dengan keteladanan adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Itulah sebabnya Yesus memperingatkan para murid tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Meskipun apa yang mereka ajarkan baik, namun itu semua tidaklah berguna kalau tidak diwujudkan dalam teladan hidup yang baik. Bahkan, Yesus mengkritik keras para pemimpin agama itu, yang suka mencari sanjungan dan pujian dengan memamerkan hal-hal lahiriah seperti pakaian sembahyang dan sebutan “rabi” atau “guru”.

Lebih jauh, Yesus mengajarkan bahwa suasana yang perlu dibangun di tengah kehidupan umat adalah suasana kekeluargaan dan persaudaraan, di mana ada kerendahan hati dan kesediaan untuk saling melayani. Dalam suasana seperti itulah kepemimpinan hadir melalui keteladanan. Siapa yang paling ikhlas melayani sesamanya, dialah yang layak disebut pemimpin.

Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasul Paulus kepada umat di kota Tesalonika. Rasul Paulus menyampaikan secara gamblang bahwa sebagai rasul, ia tak mengharapkan imbalan bagi pelayanan atau pengajarannya. Bahkan, walaupun ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan pribadi dan kebutuhan pelayanannya, sama sekali Paulus tak berharap untuk dipandang sebagai seorang pemimpin. Ia lebih suka memanggil umat Tuhan sebagai “saudara”. Bahkan Paulus lebih suka menyebut umat di kota Tesalonika sebagai anak-anaknya. Sebagai satu keluarga. Keluarga Tuhan!

Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Tuhan,

Tidak ada yang lebih kita dambakan dalam kehidupan masyarakat maupun persekutuan kita, selain memiliki pemimpin yang sejati. Pemimpin yang memberikan ajaran-ajaran yang baik, dan di saat yang sama juga menampilkan kehidupan sehari-hari yang baik, yang bisa dicontoh atau diteladani.

Namun, kualitas pemimpin yang demikian bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui proses pendidikan dan pembinaan yang tidak mudah. Ini berarti, kalau seorang pemimpin diharapkan untuk selalu melayani sesamanya, ia harus terlebih dulu terbiasa hidup dalam situasi dan kondisi di mana orang-orang saling melayani. Kalau seorang pemimpin diharapkan untuk bisa menjadi teladan, maka itu berarti ia pun perlu dibesarkan dalam suasana di mana orang-orang saling memberi teladan satu sama lain.

Saudaraku, kalau Yesus mengajarkan kita menjadi saudara satu sama lain, dan Rasul Paulus pun memberikan teladan kepemimpinan dengan menjadi bapak bagi umat di Tesalonika, saya kira kita bisa menyimpulkan, bahwa tak ada wadah lain yang lebih tepat untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati, selain keluarga. Dalam keluarga, khususnya keluarga Kristen, setiap anggota keluarga diajar untuk selalu mengamalkan nilai-nilai kasih, keteladanan, dan pelayanan tanpa pamrih: istri melayani suami dengan penuh kasih sayang, suami melindungi istri dengan sepenuh hati, anak pun dibiasakan untuk hormat, patuh, dan melayani kedua orang tuanya dengan penuh kerelaan dan sukacita.

Dalam hal keteladanan, sebagai pemimpin keluarga, ayah dan ibu hendaknya senantiasa memberikan pengajaran dan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Jangan sampai sebagai orang tua kita justru memberi contoh buruk, atau mengatakan kepada anak kita, “Le, aja melu-melu bapak-ibumu iki, bapak-ibumu ora isa dadi tulada.” Dalam keluarga, tidak bisa tidak, anak belajar dari perilaku orang tuanya. Ketika orang tua memberikan contoh perilaku yang tidak baik, maka anak pasti akan menirunya. Sebaliknya, kalau ayah dan ibu memperlihatkan tutur kata, sikap, dan perilaku yang baik, sopan, dan penuh kemurahan hati, maka anak pun juga akan meneladaninya. Dan kebiasaan anak meneladani yang baik dari orang tuanya inilah yang akan membentuk karakternya menjadi pemimpin yang baik kelak di masa depan.

 

 

 

 

Bapak, Ibu, dan Saudaraku yang terkasih,

Dunia ini membutuhkan pemimpin sejati. Sudah terlalu banyak sosok pemimpin yang hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya – bahkan malah menindas orang yang dipimpinnya. Kita merindukan pemimpin yang rendah hati, mau melayani, dan yang kehidupan sehari-harinya bisa kita teladani. Namun demikian, kita menyadari bahwa kepemimpinan sejati bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui proses pendidikan dan pembinaan yang baik.

Keluarga Kristen memiliki potensi untuk menghadirkan sosok pemimpin yang sejati yang kita dambakan bersama. Nah, bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah ada suasana saling melayani satu sama lain? Sebagai suami-isteri dan sebagai orang tua, sudahkah panjenengan dan saya melayani pasangan dan anak-anak kita dengan baik? Sebagai orang tua, sudahkah tutur kata, sikap, dan perilaku kita sehari-hari bisa diteladani oleh anak-anak kita?

 

Saudaraku, mari membangun keluarga yang Tuhan kehendaki – di mana ada kerelaan untuk saling melayani, di mana ada komitmen untuk saling memberi teladan yang baik. Keluarga yang menghadirkan sosok pemimpin yang sejati. Tuhan pasti memampukan kita. Amin.

 

 

v   Rancangan Bacaan Alkitab:

Berita Anugerah       : I Yohanes 1:7-9

Petunjuk Hidup Baru : I Petrus 5:2-4

Dasar Persembahan : I Yohanes 3:16-18

 

v   Rancangan Nyanyian Pujian:

Nyanyian Pembukaan            : KJ 338:1-3

Nyanyian Pengakuan : KJ 467:1-3

Nyanyian Kesanggupan        : KJ 466a:1,2,4

Nyanyian Persembahan         : KJ 365b:1-… (secukupnya)

Nyanyian Penutup    : KJ 451:1-2

 

 

 

 

 

Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011

Pekan Biasa Kaping Tigang Dasa Setunggal (Ijo)

 

BRAYAT INGKANG NGLAIRAKEN PEMIMPIN SEJATI

Waosan I: Mikha 3:5-12; Tanggapan: Jabur 43;

Waosan II: I Tesalonika 2:9-13; Waosan III: Injil Mateus 23:1-12

v   Khotbah Jangkep

Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus,

W

onten ing pasrawungan, asring kita pireng tembung: “jarkoni” cekakan saking “bisa ujar ora bisa nglakoni”. Saged mulangaken nanging boten saged nindakaken. Tembung punika asring pianggih nalika wontening rerembagan ing bab tiyang ingkang remenipun suka pitutur utawi piwulang ingkang sae lan mulya, ananging ing kasunyatan, gesangipun piyambak tebih saking pitutur lan piwulangipun wau.

Manawi tiyang ingkang pikantuk sebatan “jarkoni” wau dados pemimpin, saged kininten bilih piyambakipun badhe dados pemimpin ingkang namung wasis nyukani pitedah, nanging piyambakipun boten wasis nglampahi punapa ingkang dipun tedahaken piyambak. Padatan tiyang ingkang makaten punika badhe ndhatengaken kasisahan piyambak tumraping tiyang ingkang dipun pimpin. Manawi punika kalampahan ing kantor, andhahanipun badhe rumaos kapeteg, jalaran piyambakipun asring dipun dadosaken kengkenan kangge nindakaken maneka warni utawi dipun awisi ing bab ingkang warni-warni, nanging pemimpinipun boten nglampahi lan netepi pranatan lan awisanipun.

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Ing jamanipun nabi Mikha, wonten kaprihatosan ingkang sinanggi dening umat Israel. Para pamimpinipun tumindak boten adil lan ngingeraken kautamen namung kangge mbujeng dhateng kauntunganing dhiri pribadi. Dipun gambaraken dening nabi Mikha, para imam purun memulang manawi wonten pamrihipun. Para nabi ngrekadaya pameca, pawarta ingkang sae kapratelakaken dhateng ingkang saged nyukani arta, dene pawarta ingkang awon utawi boten sae kaparingaken kangge ingkang boten saged nyukani arta.

Saged dipun-raosaken kados pundi risakipun kapitadosan umat kala samanten. Umat kapatrapan tumindak boten adil, dipun damel tuna tuwin katindhes. Umat lajeng rumaos tanpa daya, umat namung ngandelaken dhateng pitulunganipun Gusti. Tumrap kawontenan ingkang boten nengsemaken wau, nabi Mikha paring pepenget kanthi keras. Gusti boten badhe mendel. Pamimpin ingkang boten adil lan nindhes badhe kadamel kucem, lan katilaraken dening Gusti lan umat.

Boten tanpa pawadan yen umat nilaraken pamimpin ingkang boten saged dados patuladhan. Gusti Yesus mulangaken bilih piwulang kaliyan patuladhan punika kadosdene arta keping ingkang gadhah sisih satunggal anempel ing satunggalipun. Inggih punika sababipun Gusti Yesus ngengetaken para sakabat ing bab para ahli Toret lan tiyang-tiyang Parisi. Sanadyan ingkang kawulangaken punika sae, nanging badhe tanpa gina manawi boten kababar ing patuladhan ingkang sae. Gusti nyaruwe kanthi tajem dhateng para pangagenging agami Yahudi wau, ingkang remen nampi pangalembana kanthi mameraken gebyar tata lair kados ta ngagem ageman pandonga lan remen sinebat “rabi” utawi “guru”

Linangkung saking punika, Gusti mulang bilih swasana ingkang prelu kawangun ing tengahing gesangipun umat inggih punika swasananing brayat lan pasedherekan, ing ngriku wonten andhap asoring manah lan silih-angladosi. Inggih ing swasana ingkang makaten punika, sesipataning pamimpin saged kalairaken lumantar patuladhanipun.  Sinten ingkang tuhu iklas ngladosi, inggih punika ingkang pantes dados pamimpinipun.

Patrap ingkang kados makaten punika ingkang kapratelakaken dening Rasul Paul dhateng pasamuwan ing Tesalonika. Rasul Paul nguningakaken kanthi gamblang bilih anggenipun madeg dados rasul boten ngudi dhateng pamrih. Dene manawi piyambakipun leladi kanthi tumemen kangge kabetahanipun piyambak lan pakaryaning paladosanipun, punika kemawon boten kepingin dipun anggep pamimpin. Piyambakipun langkung remen nyebat umatipun Gusti minangka sadherek, dene tumrap pasamuwan ing Tesalonika sinebat para anakipun. Minangka satunggal brayat, inggih punika brayatipun Gusti.

Pasamuwan ingkang kinasih,

Boten wonten ingkang saged langkung saking kita sesuwun wonten ing masyarakat utawi patunggilan kita, kejawi ndarbeni pamimpin ingkang sejati. Pamimpin ingkang mulangaken piwulang sae, ananging inggih sesarengan kababar kanthi sae ing gesang padintenanipun, ingkang saged tinuladha

Ananging patraping pamimpin ingkang kados makaten punika sanes sesipatan ingkang kabekta saking wiwit lairipun, nanging pinangka satunggaling wewangnan ingkang kawangun lumantar wekdal, panggulawenthah inkang boten gampil. Punapa nelakaken bilih satunggaling pamimpin ingajab saged ngladosi sesaminipun. Piyambakipun pancen kedah sampun kulina gesang ing tengahing kawontenan ing pundi sadaya tiyang sami dene kulina silih-angladosi. Manawi satunggaling pamimpin dipun gegadhang saged dados patuladhan, punika ateges piyambakipun prelu dipun agengaken wonten ing swasana ing pundi para tiyangipu sami suka patuladhan.

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Manawi Gusti Yesus mulang dhateng kita supados samidene nganggep sadherek ing antawis kita, tuwin Rasul Paul paring patuladhan menggahing pamimpin kanthi dados bapakipun pasamuwan ing Tesalonika, kinten kula kita saged mendhet sarinipun, bilih boten wonten wadhah sanesipun ingkang trep kangge mbabaraken papmimpin sejati, kejawi brayat.  Wonten ing brayat, mirungga brayat Kristen, saben warganing brayat tansah ginulang lan mbabaraken aosing katresnan, patuladhan, lan paladosan tanpa pamrih. Samidene leladi ing antawising warga brayat, para lare kulina asung pakurmat, mituhu lan ngladosi tiyang sepuhipun kanthi sukarena.

Ing babagan patuladhan, pinangka pamimpining brayat, bapa lan ibu prayoginipun tansah paring piwulang lan patuladhan ingkang sae kangge para putra. Sampun ngantos kalampahan kita tiyang sepuh paring tuladha ingkang awon, utawi ngendika dhateng anak: “Le, aja-melu-melu bapak-ibumu iki, bapak-ibumu ora bisa dadi tuladha.” Wonten ing brayat purun boten purun si anak badhe niru patrap pandamelipun tiyang sepuh. Nalika tiyang sepuh paring tuladha patrap ingkang boten sae, temtu si lare badhe makaten niru wontenipun. Kosok wangsulipun, manawi bapak ibu nelakaken kedaling lesan ing tutur pangandikan, patrap, solah bawa, sopan santun, mbabar manah ingkang adil paramarta,  lare badhe nulad. Pakulinanipun anak nulad ingkang prayogi saking tiyang sepuhipun punika ingkang badhe mangun patraping anak dados satunggaling pamimpin ingkang sae benjing ing wekdal ngajeng.

 

 

 

Bapak, Ibu, lan Para Sadherek ingkang kinasih,

Donya punika mbetahaken pamimpin sejati. Sampun kekathahen cakriking pamimpin ingkang namun saged dhawuh, ananging boten saged nindakaken punapa ingkang dipun-dhawuhaken, kepara nindhes tiyang ingkang dipun pimpin. Kita ngajeng-ajeng dhateng pamimpin ingkang andhap asor, purun ngladosi, lan ingkang ing gesang padintenanipun saged tinuladha. Sandyan makaten, kita nglenggana bilih pamimpin sejati boten jumedhul saking lairipun, ananging satunggaling lakuning gesang ingkang kawangun lumantar panggulawenthahing brayat ingkang sae.

Brayat Kristen, ndarbeni wewengan kangge nglairaken stunggaling pamimpin ingkang sejati ingkang dipun ajeng-ajeng dening akathah. Lah, lajeng kadospundi menggahing brayat kita? Punapa sampun wonten sikep samidene lados-linadosan ing antwaising satunggal lan satunggalipun? Minangka tiyang ingkang jejodhoan, minangka tiyang sepuh, punapa sampun kita babar patuladhan ingkang sae lan prayogi? Minangka tiyang sepuh punapa sampun kanthi pangandikan, patrap lan tumindak ing padintenan yekti saged tinuladha dneing para anka kita?

 

Pasamuwan ingkang kinasih,

Sumangga kita amangun brayat ingkang dipun kersakaken dening Gusti, ing pundi wonten raos rila kangge silih-angladosi, wonten tetangsulaning sedya badhe tansah samidene suka patuladhan ingkang sae. Inggih brayat ingkang sumanggem nyawisaken pamimpin ingkang sejati.

Gusti temtu nyagedaken kita. Amin.

 

v   Rancangan Waosan Kitab Suci:

Pawartos Sih Rahmat              :

Pitedah Gesang Enggal                      :

Nats Pisungsung           :

 

v   Rancangan Kidung Pamuji :

Kidung Pambuka         : KPK

Kidung Panelangsa     : KPK

Kidung Kesanggeman            : KPK

Kidung Pisungsung      : KPK

Kidung Penutup           : KPK

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: