Selengkapnya mengenai bacaan Leksionari 2012 dapat dibaca pada link dibawah ini. dalam bentuk Pdf. GBU
Bahan Bacaan Leksionari Lengkap 2012 ( Januari sampai Desember)
Selengkapnya mengenai bacaan Leksionari 2012 dapat dibaca pada link dibawah ini. dalam bentuk Pdf. GBU
Bahan Bacaan Leksionari Lengkap 2012 ( Januari sampai Desember)
Dalam rangka 31th GKJ Bibisluhur Surakarta, Komisi Pemuda-Remaja akan mengadakan Festival Band Rohani Ekspresif yang akan dilaksanakan pada :
1. Audisi tgl 15 September 2012
2. Grand Final tgl 29 september 2012
Lomba terbuka untuk umum (se Eks Karesidenan Surakarta) memperebutkan Total hadiah Rp. 2.450.000 + Piagam + Trophy.
biaya pendaftaran Rp. 50.000
Hubungi : Sunu 085642061214 atau kantor Gereja (0271) 853931
Klik link dibawah ini untuk membaca Khotbah Jangkep Februari 2012.
Gusti mberkahi
bahan untuk khotbah JANUARI 2012 dapat dibaca dibawah ini.
Minggu tgl 4, 7, 14, 21 dan 28 klik aja dibawah ini
SELAMAT NATAL 2011 DAN SELAMAT TAHUN BARU 2012
apabila anda membutuhkan bahan bacaan leksionari , dari tahun A, B dan C ( juni 2010 sampai november 2013) dapat dibuka pada :
Khotbah Jangkep
BULAN
OKTOBER – 2011
Daftar isi
Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tujuh HPII/HPKD (Merah)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
MANISKAH BUAHMU? ———————————————- 162
Khotbah Jangkep Basa Jawa
Punapa manis woh gesang kita? ————————– 168
Oleh Pdt. R. Tyas Budi Legowo
Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
IDENTITAS KELUARGA KRISTEN : membutuhkan komunitas 173
Khotbah Jangkep Basa Jawa
titikaning brayat kristen: mbetahaken patunggilan 179
Oleh Pdt. R. Tyas Budi Legowo
Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Dua puluh Sembilan (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
keluarga kristen berhiaskan kekudusan —————- 184
Khotbah Jangkep Basa Jawa
brayat kristen kang nengenaken gesang suci —– 190
Oleh Pdt. Kristi
Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Tiga Puluh (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
KELUARGA YANG CANTIK BATIN DAN CANTIK PERILAKU — 194
Khotbah Jangkep Basa Jawa
BRAYAT ENGKANG MUJUDAKEN KAELOKANING GESANG – 201
Oleh Pdt. Oktavianus Heri Prasetya Nugroho
Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Tiga Puluh Satu (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
Keluarga yang menghadirkan Pemimipin sejati—— 206
Khotbah Jangkep Basa Jawa
brayat ingkang nglairaken pemimpin sejati ———- 212
Oleh Pdt. Johan Kristantoro
Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tujuh (Merah)
HP I I & H P K D
MANISKAH BUAHMU?
Bacaan I: Yesaya 5:1-7, Tanggapan Mazmur 80:7-15
Bacaan II: Filipi 3:4b-14, Bacaan III: Injil Matius 21:33-46
v Dasar Pemikiran
Kegiataan Pekabaran Injil dan Perjamuan Kudus bahkan perjamuan makan bersama warga gereja dengan tetangga sekitarnya bisa menjadi sebuah kesatuan yang saling terkait. Untuk itu perlu dilandasi kesediaan memilih hidup dalam keadilan dan kebenaran yang berpihak pada pengembangan kehidupan sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah.
v Keterangan Tiap Bacaan
Yesaya 5:1-7
Dalam Alkitab, Tuhan tidak digambarkan dengan menekankan kesucian, keabsolutan, dan sifat tak terbatas-Nya yang memperlebar jurang antara Tuhan dan manusia. Alkitab menggambarkan Tuhan berinteraksi dengan manusia seperti petani dengan kebun anggurnya. Dengan memilih bangsa Israel bukan berarti Tuhan merendahkan atau meniadakan bangsa-bangsa lain. Israel harus berbuat adil dan benar supaya kehadiran Tuhan nampak dan bisa disaksiakan oleh siapapun.
Mazmur 80:7-15
Tuhan adalah sahabat manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Manusia melibatkan Tuhan sehingga merasa perlu berbicara dengan-Nya. Yang dibicarakan bukan hanya pikiran, tetapi juga perasaan. Umat mengungkapkan uneg-uneg dan respon yang diharapkan dari Tuhan. Kedekatan pemasmur dengan Tuhan tampak melalui ungkapan yang termuat dalam ayat tujuh dan delapan.
Filipi 3:4b-14
Paulus berharap kedatangan Tuhan yang ke dua terjadi ketika dia masih hidup. Maka bagi Paulus yang terpenting adalah ”….mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (ayat 10-11). Banyak hal yang oleh Paulus semula dianggap penting menjadi kurang penting dibanding pengenalannya akan Kristus (ay. 4b-8).
Injil Matius 21:33-46
Bangsa Yahudi itu unik. Tuhan telah memilih bangsa Yahudi, bahkan Yesus diutus ke tengah-tengah mereka. Namun mereka menolak bahkan menyalibkan-Nya. Memang ada juga yang percaya dan menjadi cikal bakal gereja mula-mula. Keadaan ini justru menjadi dasar dikabarkannya Injil ke mana-mana. Meski Tuhan memilih bangsa Yahudi, tetapi mereka tetap sederajat dengan bangsa-bangsa lain. Panggilan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah adalah bagi semua bangsa.
Renungan atas Bacaan
“Selamat Ulang Tahun, ya.” Demikian kalimat yang biasa kita dengar atau ucapkan ketika ada seseorang yang berulang tahun. Mengapa kalimat itu diucapkan? Apakah karena prestasi, kehebatan, atau kebaikan orang yang berulang tahun? Tidak. Kita sedang merayakan kehidupan. Kita menerima hidup orang itu maupun hidup kita sendiri. Kita menerima keberadaan orang itu apa adanya. Kita juga ingin keberadaan kita diterima oleh orang itu apa adanya. Hidup itu sendiri merupakan anugerah yang patut dirayakan.
Ucapan selamat ulang tahun tidak terkait dengan prestasi atau kehebatan seseorang. ”Sebelumnya saya tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Sekarang karena bertepatan dengan ulang tahunmu kamu berprestasi dan berbuat baik padaku, maka saya ucapkan selamat ulang tahun, ya.” Sebuah kalimat yang aneh.
Sebaliknya ucapan selamat ulang tahun justru berdaya guna ketika ditujukan kepada orang yang sedang dalam kelemahan, keterbatasan, kekurangan, atau keterpinggiran. Ucapan itu menjadi sarana untuk berpihak kepada mereka yang membutuhkan persahabatan dan keadilan.
Orang yang relasinya sedang terganggu, bermusuhan, saling berolok-olok atau mencederai sulit mengucapkan selamat ulang tahun. Ucapan selamat ulang tahun adalah ungkapan pulihnya hubungan dalam kehidupan. Orang yang sedang bermasalah merindukan pemulihan itu. ”Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Maz. 80:7-8)
Minggu ini kita merayakan ulang tahun Hari Pekabaran Injil Indonesia dan Hari Perjamuan Kudus Sedunia. Apa maknanya kalau kita merayakannya? Adakah peranan Pekabaran Injil dan Perjamuan Kudus dalam merayakan kehidupan? Atau malah menyebabkan persoalan atau rusaknya hubungan antar orang atau komunitas?
Harmonisasi/Benang Merah Bacaan Leksionari
Tuhan memilih bangsa Israel (Yes 5:7) bukan berarti memandang rendah bangsa lain (Mat 21:43). Bangsa Israel atau umat percaya dipanggil untuk hidup dalam relasi yang benar dengan sesamanya (Mzm 80:7-8), diawali dari kesadaran memilih membela kehidupan yang menampakkan diri dalam kelemahan dan penderitaan (Flp 3:10-11).
Pokok dan Arah pewartaan
Memahami Pekabaran Injil sebagai kesediaan bekerja sama dengan agama/komunitas lain dalam menghadapi problem kehidupan di dunia ini. Kesediaan itu merupakan tanda kehadiran Kerajaan Allah.
v Khotbah Jangkep
Gereja sebagai komunitas terbuka
Orang Kristen terbiasa merayakan Paskah, Pentakosta, maupun Natal. Gereja-gereja tertentu merayakannya dengan mengundang tetangga yang berbeda agama atau budaya. Namun ada juga gereja yang tidak mengadakannya dengan pertimbangan ada orang berbeda agama yang tidak berkenan hadir. Akhirnya dipilih langkah alternatif, yaitu membagi berkat berupa makanan kepada tetangga.
Ada gereja yang mengundang tetangga makan bersama pada perayaan ulang tahun. Seusai ibadah syukur, dilanjutkan kenduri atau makan bersama di lingkungan gereja (di dalam gedung gereja, teras, atau halaman). Dalam kenduri itu, wakil gereja mengajak warga yang hadir memanjatkan doa untuk pelayanan gereja bersama masyarakat demi kesejahteraan bersama. Doa dilanjutkan makan bersama dan ramah tamah diiringi hiburan. Suasana demikian bisa terwujud jika orang Kristen atau gereja memandang dirinya sederajat dengan yang lain. Gereja menjadi komunitas yang terbuka. Ada perjamuan kudus khusus bagi warga gereja, tetapi juga ada perjamuan bersama tetangga sekitar. Gereja menjadi komunitas yang terbuka, tetapi bagaimana memaknai Pekabaran Injil?
Dalam hidup ini orang tidak bisa lepas dari kegiatan memilih. Ketika seseorang memilih baju biasanya sesuai warna favoritnya. Namun jika seseorang menyukai warna merah-jambu, tidak perlu membenci warna yang lain. Ketika sedang berada di warung makan, seseorang tidak mungkin memesan semua makanan dan minuman untuk dirinya sendiri. Dia akan memilih satu jenis makanan dan minuman, tetapi tidak perlu membuang yang lain. Memilih satu dari sekian banyak alternatif adalah sebuah keniscayaan. Tidak bijaksana mengharuskan seseorang memilih seperti pilihan kita atau meniadakan alternatif yang lain.
Tuhan memilih kebun anggur
Di dunia ini ada banyak bangsa. Mengapa Tuhan memilih Israel sebagai kebun anggur-Nya? Apa kehebatan atau keunggulan bangsa Israel dibanding bangsa lain? Alkitab tidak menjelaskannnya. Apakah dengan memilih Israel berarti Tuhan pilih kasih dan menganggap rendah bangsa lain? Tidak harus dimaknai seperti itu. Kita bisa memahami Tuhan seperti manusia, tidak lepas dari aktivitas memilih. Kita memahami keberadaan Tuhan tidak hanya secara sepihak dari sisi Tuhan yang mahasuci, absolut, dan tak terbatas. Keberadaan Tuhan kita pahami dalam kesediaan-Nya berinteraksi dengan manusia. Tuhan rendah hati, berkenan mengambil posisi sejajar dengan manusia, memilih bangsa Israel sebagai kebun anggur-Nya. Dengan demikian hubungan antara Tuhan dan manusia terjembatani.
Seperti seseorang yang memilih jodoh atau pasangan, bukan berarti orang yang tidak dipilih menjadi jodohnya dianggap lebih rendah. Suatu saat, pasangan itu bisa saja menghadapi berbagai persoalan atau tantangan dan memerlukan inspirasi serta pembelajaran dari orang lain yang tidak dipilih sebagai pasangan. Sebagai orang yang berpasangan tentu memiliki harapan. Tuhan telah menggarap dan merawat Israel tak ubahnya seseorang merawat kebun anggur milik sendiri. Tuhan berharap kebun anggur-Nya berbuah. Sayangnya harapan dan kenyataan berbeda. ”Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanaman-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.” (Yes. 5:7).
Keadilan dan kebenaran Tuhan
Buah yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya adalah keadilan dan kebenaran. Keduanya tidak bisa dipisahkan, bagaikan dua sisi keping uang logam. Namun keadilan dan kebenaran yang dijalankan manusia sering berpihak kepada yang kuat dan berpengaruh, bersifat prosedural, dan mengesampingkan rasa keadilan itu sendiri. Ada kesan untuk pelanggaran yang dilakukan oleh rakyat kecil dan miskin, hukum bersikap tegas. Sebaliknya untuk pelanggaran yang dilakukan oleh orang kuat dan berpengaruh, terkesan tumpul. Lebih cepat menjatuhkan vonis kepada orang miskin yang mencuri pisang, semangka, kakao, atau buah randu daripada mengadili para koruptor. Alasannya karena mematuhi prosedur. Keadilan dan kebenaran yang tidak berpihak kepada orang lemah hanya akan menghasilkan kelaliman dan keonaran.
Keadilan dan kebenaran Tuhan berpihak kepada yang lemah dan terluka. Tuhan bukan seperti dewi yang ditutup matanya dan menjaga timbangan tetap seimbang. Tuhan seperti dewi yang membawa timbangan dan matanya terbuka sedikit, tertuju kepada seekor burung kecil yang terluka sayapnya hingga tidak bisa terbang dan hinggap pada salah satu sisi timbangan. Tentu saja timbangan itu bergerak ke arah burung kecil yang terluka itu. Itulah gambaran keadilan dan kebenaran Tuhan yang berpihak kepada yang lemah dan terluka.
Lemah dan terluka adalah gambaran kehidupan. Kehidupan itu cenderung rapuh, tak berdaya, perlu dibela. Sedangkan kekuatan kematian tidak usah dibela seakan sudah berkembang dengan sendirinya. Lihatlah kerinduan Rasul Paulus. Dia ingin bersekutu dengan daya kehidupan, bukan daya kematian. Kehidupan sebagaimana dijalani Yesus Kristus adalah kehidupan yang akrab dengan kelemahan dan penderitaan. ”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3:10-11)
Pekabaran Injil itu membela siapa?
Memahami Pekabaran Injil juga mengenai pembelaan atau keberpihakan. Pekabaran Injil sering dipahami dimaksudkan menyelamatkan jiwa-jiwa. Agama, keyakinan atau budaya lain dianggap lebih rendah dan menghambat orang masuk surga. Apa yang akan terjadi jika kita mengundang orang lain menghadiri perayaan agama kita, sedangkan kita menganggap mereka lebih rendah dan calon penghuni neraka? Tidak heran mereka menganggap kita orang yang aneh. Mereka curiga kepada kita. Kita juga curiga pada mereka, menganggap mereka secara sistematis mempengaruhi orang Kristen pindah agama. Hidup dalam kecurigaan karena kesombongan yang menganggap yang lain lebih rendah perlu pertobatan. Kita diingatkan seruan pertobatan pemazmur. ”Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (Maz. 80:7-8).
Pekabaran Injil perlu dilakukan tanpa meniadakan agama lain. Semua agama menghadapi persoalan ketidakadilan, penderitaan akibat bencana alam atau penyakit berat seperti HIV/AIDS dan ancaman narkoba, kerusakan alam semakin berat, kemiskinan semakin parah. Jika orang Kristen atau gereja tidak memilih untuk terlibat mengatasi masalah-masalah itu, sedangkan agama atau komunitas lain justru lebih peduli, jangan heran kalau ”Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Matius. 21:43)
Kerajaan Allah adalah mengenai membela pengembangan kehidupan saat ini. Kerajaan Allah, yang tadinya dibayangkan jauh di atas sana, telah dihadirkan Yesus di bumi ini. Mengabarkan Injil adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Tanda itu nampak ketika gereja menjadi komunitas yang terbuka. Tidak hanya melayani perjamuan kudus untuk warga gereja, tetapi juga mengadakan perjamuan bersama dengan siapa saja di luar batas tembok gereja. Kehidupan siapa saja dalam keragaman layak untuk dirayakan. Lalu saat gereja kita berulang tahun, tetangga kita dengan nyaring akan berucap, ”Selamat ulang tahun ya.” Amin.
v Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita anugerah : Filipi 3:10-11
Petunjuk hidup baru : Mazmur 80:7-8
Nats Persembahan : Yesaya 5:7
v Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembuka : KJ. 21:1,2
Nyanyian Penyesalan : KJ. 23:1,2,3
Nyanyian Kesanggupan : KJ. 39:1,2,3
Nyanyian Persembahan : KJ. 428: 1-5
Nyanyian Penutup : KJ. 338: 1-4
Khotbah Jangkep Minggu, 2 Oktober 2011
Pekan Biasa Kaping Pitu Likur (Abang)
Dinten Pakabaran Injil ing Indonesia; Dinten Bujana Suci Sajagad
PUNAPA MANIS WOH GESANG KITA?
Waosan I: Yesaya 5:1-7, Tanggapan: Jabur 80:7-15;
Waosan II: Filipi 3:4b-14, Waosan III: Injil Mateus 21:33-46
v Khotbah Jangkep
Greja minangka patunggilan ingkang tinarbuka
| S |
ampun salimrahipun tiyang Kristen mahargya Paskah, Pentekosta punapa dene Natal. Greja-greja tertemtu mahargya kanthi ngulemi tangga tepalih ingkang beda agami lan kabudayan. Nanging wonten greja ingkang boten ngawontenaken kados kasebat jalaran panglimbangipun wonten tiyang beda agami ingkang boten karsa ngrawuhi ing pahargyan dinten riyaya Kristen. Tundhonipun dipun-tetepaken cara sanes inggih punika kanthi mbage berkah dhateng tangga-tepalih.
Wonten greja ingkang ngulemi tangga-tepalih kembul bujana ing wekdal pengetan tanggap warsa kadiwasanipun. Sasampunipun pangibadah ucap sokur kalajengaken kendhuren utawi kembul bujana ing wewengkon greja saged ing nglebet gedhong greja, wonten ing teras, wonten ing latar lan sapiturutipun. Ing adicara kendhuren kasebat, wakiling greja ngatag warga ingkang sami rawuh ngunjukaken pandonga kangge paladosaning greja sesarengan masyarakat murih kababaring karaharjan. Sasampunipun pandonga kalajengaken kembul bujana lan wekdal wawan rembag kanthi mardika sinegahan hiburan sawatawis. Kawontenan makaten punika kawujud menawi tiyang Kristen utawi greja mawas bilih dhirinipun punika tunggal drajat kaliyan tiyang sanes. Greja dados patunggilan utawi pepanthan ingkang tinarbuka. Wonten kembul bujana mirunggan kangge para warganing pasamuwan, nanging ugi wonten kembul bujana sesarengan kaliyan tangga tepalih ing sakiwa-tengening greja. Greja dados patunggilan utawi pepanthan ingkang tinarbuka, nanging kados pundi anggenipun paring makna bab ngabaraken Injil?
Gesangipun boten saged dipun pethal saking tumindak milih. Nalika satunggaling tiyang milih rasukan limrahipun sami kaliyan werni ingkang dipun remeni. Nanging menawi wonten tiyang ingkang remen werni jambon, piyambakipun boten prelu sengit dhateng werni sanesipun. Nalika wonten ing warung, satunggaling tiyang boten badhe pesen sadaya tetedhan lan omben-omben kangge piyambakipun. Tiyang kasebat kedah milih setunggal jinis tetedhan lan omben-omben, lan boten prelu sengit dhateng jinising tetedhan lan omben-omben sanesipun. Miji satunggaling jinis utawi prakawis saking sawarnining jinis ingkang wonten punika prakawis limrah, nanging boten wicaksana menawi lajeng meksa tiyang sanes nampi pilihan kita lan ngicali pilihan sanesipun.
Gusti miji pakebonan anggur
Ing jagad punika kathah sanget jinising bangsa. Kenging punapa Gusti miji Israel dados pakebonan angguripun? Punapa ta kaunggulanipun Israel katandhingaken bangsa sanes? Kitab Suci pancen boten paring katrangan bab kasebat. Punapa kanthi miji Israel ateges Gusti ban cindhe ban ciladan lan ngremehaken bangsa sanes? Temtunipun sampun ngantos dipun-paringi makna ingkang makaten punika. Kita kedah saged mawang Gusti kadosdene manungsa, dene Panjenenganipun boten saged uwal saking tumindak milih utawi miji. Kita nyumerepi kawontenanipun Gusti boten saking satunggal pihak inggih punika Panjenenganipun mahasuci lan tanpa wates panguwaosipun. Kawontenanipun Gusti Allah kedah kita wawas dene Panjenenganipun karsa sesambetan kaliyan manungsa. Gusti karsa andhap asor manahipun, temah karsa nyami warni kaliyan manungsa utawi nyamekaken drajatipun kaliyan manungsa, miji Israel dados pakebonan angguripun Gusti. Kanthi makaten sesambetan antawisipun Gusti lan manungsa kaanyaraken.
Kados dene tiyang ingkang milih jodho utawi sisihan, boten ateges tiyang ingkang boten kapiji dados sisihanipun punika kaanggep remeh utawi asor. Satunggaling wekdal, tiyang sesemahan kasebat nemahi prakawis utawi ruwet renteng lan merlokaken pamawas saha piwulang saking tiyang sanes ingkang boten kapiji dados sisihanipun. Minangka tiyang ingkang sesemahan mesthinipun nggadhahi gegadhangan. Gusti sampun ngreksa lan ngrimati Israel kados dene satunggaling tiyang ngrimati pakebonan angguripun piyambak. Gusti ngajeng-ajeng pakebonan angguripun ngedalaken woh. Emanipun pangajeng-ajeng lan kasunyatan beda. ”Amarga pakebonane anggur Sang Yehuwah Gustine sarwa tumitah iku turune Israel, lan para wong Yehuda iku tetanduran kang diremeni; kang diajeng-ajeng kaadilan, nanging kang ana mung tindak ambek siya, kang diantos-antos kabeneran nanging, kang ana mung kaonaran” (Yes. 5:7).
Kaadilan lan kaleresanipun Gusti
Wohing gesang ingkang kinersakaken dening Gusti tumrap umatipun inggih punika kaadilan lan kaleresan. Kekalihipun boten saged kapethal, kados dene arta logam ingkang boten saged kapethal kalih sisihipun. Nanging kaadilan lan kaleresan ingkang katindakaken dening manungsa asring ngener dhateng ingkang gadhah panguwaos lan pangaribawa, sipatipun keras lan nyingkiraken raos kaadilan. Tuwuh pamawas, panerak ingkang dipun-tindakaken dening rakyat alit lan tiyang miskin kedah dipun-tanduki kanthi pranatan ingkang gumathok. Kosok wangsulipun panerak ingkang dipun-tindakaken dening tiyang kumawaos lan gadhah pangaribawa bab jejeging pranatan kethul. Langkung cepet ndhawahaken pidana dhateng tiyang miskin ingkang mandung gedhang, semangka lan woh randhu katimbang ngadili tiyang ingkang nylingkuhaken arta (utawi koruptor), pawadanipun netepi trap-trapaning pranatan. Kaadilan lan kaleresan ingkang boten mihak dhateng tiyang ringkih badhe nguwohaken ambek siya lan kaonaran.
Kaadilan lan kayektenipun Gusti mihak dhateng tiyang ringkih lan kesrakat. Gusti boten kados dewi ingkang nutup netra lan njagi timbangan supados tetep satimbang. Gusti kados dene dewi ingkang mbekta timbangan lan mripatipun binuka sekedhik, nuju dhateng peksi alit ingkang semplah elaripun temah boten saged mabur lan menclok ing salah satunggaling sisih timbangan kasebat. Temtunipun timbangan punika badhe obah nuju dhateng peksi alit ingkang sakit kasebat. Inggih makaten punika gambaraning kaadilan lan kayektenipun Gusti ingkang mihak dhateng tiyang ingkang ringkih lan nandhang.
Ringkih lan nandhang punika gambaraning gesang. Gesang punika condhong ringkih, boten gadhah daya lan prelu dipun-belani. Dene daya pepejah ingkang boten prelu dipun-belani malah ngrembaka. Mirsanana kangenipun Rasul Paulus. Piyambakipun kepengin makempal kanthi daya gesang, sanes daya pepejah. Gesang kados ingkang dipun lampahi dening Gusti Yesus punika gesang ingkang rumaket kaliyan kawontenan ringkih lan nandhang. ”Kang dakkarepake yaitu wanuh marang Panjenengane lan dayane wungune lan manunggil ing sajrone sangsarane, temahan aku dadi madha rupa lan Panjenengane ana ing sedane, supaya wekasane aku oleh patangen saka ing antarane wong mati” (Filipi 3:10-11).
Pakabaran Injil punika mbelani sinten?
Nyumerepi bab pakabaran Injil punika ugi magepokan kaliyan prakawis mbelani lan mihak. Pakabaran Injil asring dipun wawas milujengaken jiwa-jiwa. Agami, kayakinan utawi budaya sanes kaangep langkung ringkih lan damel randhating tiyang mlebet swarga. Punapa ingkang badhe kalampahan menawi kita ngulemi tiyang sanes ngrawuhi ing pahargyan agami kita, kamangka kita nganggep tiyang kasebat langkung asor drajatipun lan ing mangke badhe manggen ing naraka? Saged kemawon tiyang-tiyang kasebat badhe nganggep kita punika tiyang ingkang boten limrah. Saged kemawon tiyang-tiyang sanes cubriya dhateng kita. Kita ugi cubriya dhateng tiyang sanes, nganggep tiyang sanes ingkang njalari wontenipun tiyang Kristen pindhah agami utawi murtad. Gesang ing salebeting cubriya awit raos gumunggung ingkang nganggep tiyang sanes ingkang langkung asor kedah mratobat. Kita kaengetaken lumantar piwulangipun juru masmur. ”Paduka dadosaken rerebatanipun para tangga-tepalih, saha sami cinampahan ing mengsah-mengsah kawula. Dhuh Gusti Allahipun sarwa ingkang dumadi, kawula mugi sami Paduka pulihaken, mugi karsaa nyunaraken wadana Paduka, temah kawula sami manggih wilujeng” (Jabur Masmur 80:7-8).
Pakabaran Injil kedah dipun tindakaken tanpa nyengiti agami sanes. Sadaya agami ngadhepi wontenipun tumindak boten adil, panandhang awit bencana alam, sesakit kados dene HIV/AIDS lan pangancaming narkoba kangge nenemam, jagad ingkang sangsaya risak kawontenanipun, kamiskinan sangsaya kathah lan sapiturutipun. Menawi tiyang Kristen utawi greja boten milih ndherek tumut tumandang damel ngrampungi prakawis-prakawis kasebat, kamangka agami lan golongan sanes malah langkung migatosaken dhateng prakawis-prakawis kasebat sampun ngantos eram menawi ”Kratoning Allah bakal kapundhut saka ing kowe lan bakal kaparingake marang sawijining bangsa kang bakal metokake wohe” (Mateus 21:43).
Kratoning Allah punika magepokan kaliyan prakawis mbelani ngrembakaning gesang samangke. Kratoning Allah ingkang sakawit kagambaraken wonten ing nginggil ngrika, sampun dipun-rawuhaken Gusti Yesus ing jagad punika. Ngabaraken Injil punika mbabar tandha-tandha Kratoning Allah. Pratandha punika kababar nalika greja minangka patunggilan purun mbikak manahipun saha pamawasipun. Boten namung ngladosaken bujana suci tumrap warganing pasamuwan, nanging ugi mbabar kembul bujana sesarengan sok sintena ingkang wonten ing sanjawining wates tembok greja. Gesangipun tetiyang ing salebeting kawontenan ingkang beda-beda pantes dipun-regengaken. Temah nalika greja kita mengeti tanggap warsa kadiwasaning pasamuwan, tangga-tepalih kita kanthi suwanten nengsemaken ngucap: “Sugeng tanggap warsa nggih”. Amin.
v Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat : Filipi 3:10-11
Pitedah Gesang Anyar : Jabur Masmur 80:7-8
Pangatag Pisungsung : Yesaya 5:7
v Rancangan Kidung Pamuji:
Kidung Pamuji : KPK. 22:1,2
Kidung Panalangsa : KPK. 49:1-3
Kidung Kasanggeman : KPK. 171:1,2
Kidung Pisungsung : KPK. 319:1-3
Kidung Pangutusan : KPK. 318:1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan/Pembukaan Bulan Keluarga
Identitas Keluarga Kristen: Membutuhkan Komunitas
Bacaan I: Yesaya 25:1-9, Tanggapan: Mazmur 106:1-6, 19-23;
Bacaan II: Filipi 4:1-9, Bacaan III: Injil Matius 22:1-14
v Dasar Pemikiran
Salah satu kelemahan keluarga Kristen adalah tidak menyatu dengan komunitasnya. Sering terdengar keluarga Kristen merasa sendirian tanpa teman saat menghadapi masalah. Khotbah ini kiranya mengingatkan akan pentingnya komunitas bagi keluarga Kristen. Bahkan kebutuhan akan komunitas juga menjadi identitas keluarga Kristen.
v Keterangan Tiap Bacaan
Yesaya 25:1-9
Ada penggambaran yang paralel antara Tuhan, bangsa yang kuat, dan manusia yang lemah. Tuhan menyelamatkan suatu bangsa, bangsa itu memuji Tuhan, Tuhan menjadi perlindungan bagi orang lemah dan miskin serta dari angin ribut dan panas terik. Sifat mementingkan kemampuan sendiri adalah kesombongan. Kehidupan pribadi, bangsa, dan Tuhan terjalin tak terpisahkan, selama manusia menempatkan Tuhan sebagai penyelamat yang meniadakan maut.
Mazmur 106:1-6, 19-23
Umat mengakui perjalanan komunitas mereka di sepanjang sejarah mengalami jatuh bangun. Nenek moyang mereka pernah tidak setia kepada Tuhan, lupa pada kebaikan Tuhan sehingga memilih menyembah berhala. Pengalaman masa lalu itu menjadi pelajaran berharga bagi komunitas umat selanjutnya. Dalam persekutuan, komunitas umat diajak besyukur dan mengingat kepada Tuhan, sekaligus memohon supaya Tuhan mengingat keberadaan mereka.
Filipi 4:1-9
Rasul Paulus menyebut beberapa nama beserta jasa-jasa mereka dalam pelayanannya. Hal itu berguna untuk menjaga supaya dia selalu sadar bahwa pelayanannya bisa berjalan karena dukungan komunitas. Dalam komunitas, orang percaya dimampukan untuk tidak mengandalkan pemikiran sendiri, tetapi terbuka pada damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Umat beroleh kesempatan menjaga pengetahuan iman yang telah diterima dalam kehidupan komunitas.
Injil Mateus 22:1-14
Raja marah saat orang-orang yang diundangnya ke perjamuan kawin tidak mau datang dengan berbagai alasan. Namun raja juga marah saat ada orang yang ikut perjamuan, tetapi mengenakan pakaian yang tidak layak. Perumpamaan diakhiri dengan kalimat, ”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”. Hal ini membuat orang-orang yang merasa sudah terpanggil bertanya, ”Apa yang masih perlu saya benahi dalam menanggapi panggilan Tuhan?”
Renungan atas Bacaan
Hidup merupakan jalinan pola normal dan interupsi. Pola normal adalah kehidupan rutin yang biasa kita jalani dan kita kenal baik. Sedangkan interupsi adalah keadaan tidak terduga yang membawa kita ke wilayah yang tidak kita kenal. Sebagai contoh, sebuah keluarga kesehariannya bekerja, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga. Tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit dan perlu perawatan khusus dengan biaya mahal. Adanya anggota keluarga yang sakit adalah contoh interupsi itu.
Ada seorang rohaniwan bernama Henri Nouwen. Menjelang akhir hayatnya dia bersaksi bahwa hidup rohaninya justru berkembang dengan kesediaan menerima interupsi-interupsi. Suatu saat dia mendapat ancaman bom ketika melakukan aksi damai melawan kebijakan perang. Dia sangat takut, kemudian diajak seorang temannya beristirahat di tengah komunitas orang-orang terbelakang mental. Meski hidup dalam komunitas itu dirasakan berat, tetapi dia bisa belajar artinya menerima kelemahan, keringkihan, dan hanya berharap kepada Allah. Lain waktu dia terserempet mobil hingga harus menjalani operasi yang hampir merenggut nyawanya. Begitu dekat dengan kematian justru menjadikannya damai. Yang membuat hatinya tidak damai adalah rasa cemas jika dia mati tanpa terlebih dulu memaafkan dan dimaafkan orang lain. Berbagai interupsi itu menyadarkan dia untuk semakin membuka mata pada realita dipanggil sebagai anak Allah.
Alkitab menceritakan orang-orang yang sedang berjalan-jalan di tengah keramaian persimpangan jalan. Mereka asyik dengan dunianya sendiri, hingga muncul interupsi yang tidak terduga. Interupsi itu adalah undangan datang ke pesta nikah (Mat. 22:10-12). Bagaimana sikap mereka? Menerima interupsi itu atau menolaknya? Jika menerima interupsi itu, apakah pantas menyikapinya dengan asal-asalan tanpa menghormati pengundangnya? Siapakah pihak yang mengundang? Apa maksud undangan itu?
Harmonisasi Bacaan
Paulus memberi contoh bahwa pelayanannya membutuhkan dukungan komunitas (Fil. 4:2-3,7). Dalam komunitas, umat diajak untuk tidak melupakan Tuhan (Maz. 106:1) dan menghadirkan Tuhan melalui dukungan kepada yang lemah dan miskin (Yes. 25:4). Tuhan memanggil kita untuk mengembangkan kehudupan dalam komunitas (Mat. 22:14).
Pokok dan Arah pewartaan
Keluarga Kristen semakin menyadari bahwa kehidupannya tidak bisa dipisahkan dari komunitas. Komunitas juga terus memperbaharui diri sebagai komunitas pendoa dan penumbuh kembang kehidupan.
v Khotbah Jangkep
Identitas Keluarga Kristen: Membutuhkan Komunitas
Apakah identitas keluarga Kristen? Setiap orang Kristen atau keluarga Kristen bisa memberi jawab, paling tidak berdasarkan pengalaman hidupnya. Melalui khotbah ini dibagikan salah satu sudut pandang pemaknaan mengenai identitas keluarga Kristen yang ditopang oleh tiga hal, yakni:
Untuk melihat ketiga hal itu, bisa beranjak dari cerita nyata berikut ini.
Keluarga membutuhkan komunitas
Suatu hari ada pendeta yang bertemu dengan warga gereja lain. Warga itu merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan pendeta itu. Dia yakin pertemuan itu tidak lepas dari tuntunan Tuhan. Dia pun bercerita tentang keadaan pasangannya yang sedang menderita sakit dan perlu segera dioperasi. Pasangannya tidak patah semangat, yakin bahwa Yesus adalah penyembuh, dan terbuka pada kemungkinan kesembuhan melalui upaya medis. Untuk keperluan persiapan operasi dengan segala kemungkinan termasuk pembiayaannya, warga itu mohon didoakan oleh pendeta. Mereka pun berdoa. Usai berdoa, percakapan dilanjutkan. Pendeta itu menanyakan sudah atau belumnya warga itu bercerita kepada majelis gerejanya mengenai kondisi yang dihadapi keluarganya. Warga itu menyampaikan bahwa ia belum bercerita kepada majelis gerejanya karena tidak merasa yakin akan beroleh jalan keluar. Selama ini dia justru lebih dekat dengan beberapa pemimpin gereja lain dan mendapat wawasan tentang jalan keluar yang dibutuhkan dari mereka. Dia memandang bahwa dia dan keluarganya adalah orang yang lemah dan merasa tidak diperhitungkan dalam komunitasnya, tetapi diterima oleh pemimpin gereja yang lain. Dalam hati, pendeta itu merasa terkejut karena warga yang sedang menghadapi pergumulan berat itu tidak menganggap penting bercerita kepada majelisnya.
Percakapan itu juga menggambarkan kecenderungan banyak orang maupun keluarga Kristen. Ketika menghadapi masalah berat tidak lupa berdoa secara pribadi, bersama keluarga, atau pendeta tetangga. Berdoa dalam keadaan demikian tentu lebih baik daripada sama sekali tidak berdoa. Namun kehidupan doa itu bisa dikembangkan lagi dengan berada atau melibatkan komunitas. Dengan melibatkan komunitas, kita tetap terjaga untuk tidak sombong dan menganggap keberhasilan sebagai perjuangan pribadi. Dengan melibatkan komunitas kita juga tidak menggantungkan pemecahan masalah kepada seseorang yang kita anggap menjadi pahlawan, tetapi jika persoalan teratasi kita bisa merasakan semua itu berkat dukungan komunitas. Kita perlu mencontoh Rasul Paulus. Dalam Filipi 4:2-3 dia mendorong agar setiap warga jemaat merasa perlu hidup sebagai komunitas yang saling mendukung.
Majelis dengan kelemahan manusiawinya adalah sosok yang kehadirannnya menggambarkan adanya komunitas. Tanpa komunitas tidak ada majelis. Sebaiknya tidak perlu menempatkan majelis sebagai pahlawan, melainkan sebagai jembatan antar anggota dalam komunitasnya. Majelis bersama dengan anggota komunitas akan mendukung dalam doa sebagai pembuka pintu pada ”Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7). Berada di dalam komunitas membuat kita terjaga agar tidak mengatasi persoalan dengan mengandalkan kekuatan sendiri atau membayangkan pengatasan masalah hanya seperti yang bisa dipikirkan sendiri.
Komunitas perlu terus diperbaharui
Di tempat lain ada seorang pendeta yang dimintai pertimbangan oleh seseorang yang bukan anggota gerejanya. Orang itu termasuk etnis yang dijadikan kambing hitam pada kerusuhan Mei 1998. Dia memiliki keponakan yang hamil karena pemerkosaan pada kerusuhan Mei 1998. Keponakan beserta keluarganya terpukul dengan keadaan itu. Mengandung janin yang tidak dikehendaki apalagi akibat perkosaan tentu sangat berat. Dengan pertimbangan demikian, orang itu bertanya mengenai bisa tidaknya diterima secara moral atau etis jika janin itu digugurkan. Menanggapi pertanyaan itu, pendeta balik bertanya mengenai kewargaan gereja orang itu. Yang ditanya tidak mau mengatakan kewargaan gerejanya. Dia hanya meminta jawaban boleh atau tidak. Pendeta tidak memberi jawaban.
Mengapa pendeta itu tidak memberi jawaban? Dia menyadari bahwa sebuah komunitas sangat mempengaruhi pertimbangan pengambailan keputusan etis seseorang. Jika komunitas itu tidak mau menerima kehadiran ibu dan bayi yang lahir karena perkosaan, tentu berat bagi calon ibu itu mempertahankan kehidupan. Sebaliknya jika komunitas mau menerima, calon ibu itu bisa mendapat dukungan dan diingatkan oleh komunitasnya untuk tidak mengambil keputusan yang salah. Komunitas yang sehat memilih mengatakan ”ya” kepada kehidupan. Kekuatan kematian yang melumpuhkan semangat hidup dilawan bersama-sama dengan anggota komunitas. Komunitas kita perlu terus kita perbaharui, sehingga menjadi komunitas yang mampu mendukung anggotanya untuk mengatakan ”ya” pada kehidupan. Buah dari komunitas yang terus diperbaharui adalah yang lemah dikuatkan, yang luka disembuhkan, seseorang tidak merasa sendirian menghadapi tantangan dalam hidupnya.
Sekarang kita semakin terbantu untuk memaknai, sabda ”Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.” (Matius 22:12). Ayat itu merupakan bagian cerita tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Kita bisa membayangkan andai raja itu adalah orang tua yang menikahkan anak perempuan semata wayangnya, sedangkan anak perempuannya itu adalah korban perkosaan kerusuhan Mei 1998. Orang yang datang tanpa pakaian pantas adalah gambaran orang yang datang ke pesta itu karena sungkan kalau tidak datang. Sedangkan dalam hati, sebenarnya mereka mencemooh dan menganggap rendah keluarga serta kondisi mempelai yang demikian itu.
Keluarga menemukan kekuatan dalam komunitas
Setiap keluarga tidak bisa memastikan bahwa yang terjadi dalam hidupnya selalu pola yang normal, nyaman dan berada di wilayah yang selama ini sudah dikenal. Suatu saat bisa terjadi interupsi. Interupsi itu tidak terduga, membuat tidak nyaman, dan membawa kita masuk ke dalam wilayah yang sama sekali belum diketahui. Sekali lagi, menghadapi berbagai kemungkinan interupsi itu keluarga membutuhkan komunitas.
Ada seorang warga gereja yang menderita AIDS. Biasanya jika seseorang menderita penyakit itu, dia akan menutup diri. Sakit itu dianggap aib yang menyebabkan penderita maupun keluarganya merasa berat atau malu bila sampai orang lain tahu. Namun warga gereja itu berbeda. Ketika mengetahui bahwa dia menderita AIDS, dia justru terbantu mengatasi kelemahannya itu dengan cara bercerita kepada komunitasnya. Kematian pasti akan mendatangi nya, tetapi dia bisa melawan agar kematian tidak mengalahkan semangat hidupnya. Dia terima kenyataan itu dengan pasrah kepada Tuhan. Keberadaan komunitas turut menjadi tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Tidak mustahil warga gereja itu bisa berkata, ”Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan: marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya !” (Yes. 25:9)
Jika kita meragukan karya Allah dalam hidup keluarga kita, mari mencari Allah dalam kehidupan komunitas. Kita masuk dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh komunitas, baik dalam kelompok/blok/wilayah /pepantan/pasamuwan. Jangan sampai lupa kepada Tuhan seperti diingatkan oleh pemazmur, ”Jangan melupakan Allah yang telah menyelamatkan kita”. Amin.
v Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita anugerah : Yesaya 25:9
Petunjuk hidup baru : Filipi 4:6-7
Nats Persembahan : Matius 22:10-11
v Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembuka : KJ. 393:1-3
Nyanyian Penyesalan : KJ. 459:1-4
Nyanyian Kesanggupan : KJ. 561:1-5
Nyanyian Persembahan : KJ. 447:1-3
Nyanyian Penutup : KJ. 461:1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 9 Oktober 2011
Pekan Biasa Kaping Wolu Likur (Pambukaning Wulan Brayat)
Titikaning Brayat Kristen: Mbetahaken Patunggilan
Waosan I: Yesaya 25:1-9; Tanggapan: Jabur Masmur 106:1-6, 19-23;
Waosan II: Filipi 4:1-9; Waosan III: Injil Mateus 22:1-14
v Khotbah Jangkep
Titikaning Brayat Kristen: Mbetahaken Papan Patunggilan
| P |
unapa ta titikaning brayat Kristen? Saben tiyang Kristen utawi brayat Kristen saged atur wangsulan, saboten-botenipun adhedhasar pangalaman gesangipun. Lumantar khotbah punika kaaturaken satunggaling pamawas magepokan kaliyan maknaning titikan brayat Kristen ingkang kasengkuyung dening tigang prakawis inggih punika:
Magepokan tigang prakawis kasebat, kita gatosaken cariyos nyata punika.
Keluarga mbetahaken patunggilan
Satunggaling wekdal wonten Pandhita ingkang kapanggih kaliyan warga greja sanes. Warga sanes kasebat rumaos bingah lan pitados bilih pepanggihan punika awit saking panuntunipun Gusti. Warga kasebat nyariosaken kawontenan semahipun ingkang nembe nandhang sakit lan prelu enggal dipun-operasi. Semahipun wau boten semplah lan nglokro ananging pitados bilih Gusti Yesus punika ingkang kuwaos nyarasaken lan tinarbuka manahipun tumrap wekdal sarasing sesakit lumantar pambudidayanipun dokter utawi jururawat. Kangge kabetahaning operasi mirungganipun dana, warga kasebat nyuwun dipun-dongakaken dening pandhita. Lajeng kekalihipun sesarengan ndedonga. Sasampunipun ndedonga pirembagan kalajengaken. Pandhita wau ndangu punapa warga kasebat sampun nyariosaken momotanipun dhateng pradata grejanipun piyambak magepokan kaliyan prakawising brayatipun. Warga kasebat mangsuli bilih dereng nyariosaken prakawisipun dhateng pradata grejanipun awit rumaos boten yakin bilih tumindakipun kasebat badhe ndhatengaken margi tumrap karampunganing reruwetipun. Sadangunipun punika warga kasebat malah celak kaliyan para pamimpin greja sanes lan pikantuk wawasan tumrap karampunganing prakawisipun ingkang dipun-betahaken. Warga punika rumaos bilih piyambakipun lan brayatipun punika tiyang papa lan rumaos boten dipun-gatosaken dening patunggilanipun, nanging malah dipun tampi dening pamimpin greja sanesipun. Ing salebeting manahipun, pandhita kasebat rumaos eram awit warga ingkang nembe nemahi kahanan awrat kasebat nggadhahi pamawas bilih cariyos dhateng pradata grejanipun punika boten wonten paedahipun utawi muspra.
Pirembagan kasebat dados gambaran kawotenanipun tiyang utawi brayat Kristen. Nalika nemahi prakawis ingkang awrat boten kesupen ndedonga sacara pribadi, sesarengan brayat, utawi pandhita greja sanes. Pandonga makaten punika langkung prayogi katimbang babarpisan boten ndedonga. Nanging pandonga punika saged dipun-indhakaken kanthi nggandheng sadherek patunggilan. Kanthi ndedonga sesarengan para sadherek patunggilan kita tetep njagi sikeping manah sampun ngantos gumunggung lan gadhah panganggep kasiling sedya awit saking pambudidaya pribadi. Ndedonga sesarengan tiyang sanes punika ngawekani raosing manah bilih karampunganing prakawis gesang amargi satunggaling tiyang, nanging nalika prakawisipun karampungan jalaran pandonga sesarengan ateges tiyang kasebat rumaos saha nglenggana bilih patunggilaning para sedherek anjalari kasembadaning pandonganipun. Kita prelu nuladha Rasul Paulus, dene wonten ing Filipi 4:2-3 Rasul Paulus mbereg supados saben warganing pasamuwan rumaos bilih dados gegelitaning patunggilan ingkang sami dene nyengkuyung.
Pradata kanthi karingkihan kamanungsanipun punika dados pratelan wontenipun patunggilan. Tanpa patunggilan boten wonten pradata. Mila kita boten prelu mapanaken pradata minangka pahlawan, nanging mapanaken pradata minangka wot ing antawisipun warga pasamuwan ingkang katunggil ing satunggaling greja. Pradata sesarengan perangan patunggilan sanesipun badhe nyengkuyung ing pandonga minangka pambuka korining sih rahmat tumrap ”Tentrem rahayu kang saka ing Gusti Allah, kang ngungkuli saliring budi, bakal rumeksa marang ati lan pangangen-angenmu ana ing Sang Kristus” (Filipi 4:7). Wonten ing satunggaling pepanthan utawi patunggilan njalari kita sami dene njagi manah supados boten rumaos kuwagang ngrampungi prakawisipun piyambak utawi namung ngrerancang margining karampungan tanpa wonten asilipun.
Patunggilan prelu tansah dipun anyaraken
Ing papan sanes wonten satunggaling pandhita ingkang dipun suwuni panglimbang dening warga greja sanes. Tiyang kasebat kalebet satunggaling suku bangsa ingkang dados banten nalika wonten ontran-ontran Mei taun 1998. Warga kasebat gadhah penakan ingkang ngandheg amargi dipun ruda-peksa nalika ontran-ontran Mei 1998. Penakan tiyang kasebat punapa dene brayatipun nyanggi momotan ingkang boten entheng. Ngandheg ponang jabang bayi ingkang boten dipun kajengaken punapa malih jalaran dipun ruda-peksa. Magepokan prakawis punika, tiyang kasebat nggadhahi panglimbang menawi jabang bayi ingkang wonten ing kandhetan dipun guguraken, punapa punika tumindak ingkang lepat? Nyalahi pranatan sosial lan nyalahi pranatan salimrahipun? Nanggapi pitakenan ingkang makaten punika, pandhita lajeng pitaken bab warga kasebat kalebet perangan greja punapa? Warga punika boten purun mangsuli greja asalipun. Piyambakipun namung nyuwun panjawab, dipun keparengaken punapa boten ngguguraken kandhetan penakanipun. Pandhita punika boten atur panjawab.
Kenging punapa pandhita kasebat boten mangsuli? Awit piyambakipun rumaos bilih satunggaling pepanthan utawi patunggilan ndayani panglimbang kangge damel pancasan prakawis satunggaling tiyang. Menawi patunggilan kasebat boten purun nampi ibu lan bayi jalaran pangruda-peksa, temtunipun awrat tumraping calon ibu kasebat kangge nglestantunaken gesangipun. Kosok wangsulipun menawi patunggilan punika purun nampi, calon ibu punika badhe pikantuk panyengkuyung, pambereg lan pangatag saking patunggilanipun supados boten milih pancasan ingkang lepat. Patunggilan ingkang prayogi punika menawi nyengkuyung satunggaling pancasan ingkang ngener dhateng kaleresan. Dayaning pepejah ingkang saged damel lumpuhing daya gesang kalawan sesarengan dening gegelitaning patunggilan. Patunggilan kita prelu dipun-anyaraken, temah dados patunggilan ingkang saged nyengkuyung gegelitanipun ngener dhateng kasaenan. Wohing patunggilan ingkang tansah kaanyaraken punika ingkang ringkih badhe kakiyataken, ingkang sakit kasarasaken, ingkang rumaos piyambak badhe dipun rencangi nemahi reridhu ing gesangipun.
Samangke kita kabiyantu nampeni pangandika: ”He, sedulur, kapriye dene sira lumebu ing kene ora nganggo sandhangan pesta? Wong mau meneng bae (Mateus 22:12). Ayat kasebat dados peranganing cariyos ngengingi satunggaling ratu ingkang ngawontenaken pahargyan mantu tumrap putrinipun. Kita saged nggambaraken saupami ratu kasebat putrinipun dados banten pangruda-peksa tiyang kathah wekdal ontran-ontran wulan Mei 1998. Tiyang ingkang sowan tanpa rasukan ingkang murwat punika gambaraning tiyang ingkang sowan ing pesta kasebat jalaran pakewuh menawi boten sowan. Kamangka ing salebeting manahipun, sejatosipun nyaruwe lan ngremehaken brayat saha kawontenan sang temanten ingkang makaten punika.
Brayat manggihaken kakiyatan ing salebeting patunggilan
Saben brayat boten saged mesthekaken bilih punapa ingkang kalampahan ing gesang lampahipun sami kemawon, sekeca lan ing kawontenan ingkang sampun dipun-sumerepi. Saged kalampahan bilih wekdal gesangipun wonten salebeting kahanan ingkang sinigeg. Wekdal ingkang kasigeg punika boten kanyana, boten damel sekeca lan mbekta pamawas kita dhateng kawontenan ingkang boten kita sumerepi. Sepisan malih, nemahi tantangan wekdal ingkang dumadakan kasigeg punika mila brayat perlu kabangun patunggilanipun.
Wonten satungaling warga pasamuwan ingkang ketaman sesakit AIDS. Padatanipun, menawi wonten tiyang ingkang nandhang sesakit makaten punika utawi tiyang ingkang ketaman AIDS ingkang nutup dhirinipun. Sesakit makaten punika dipun-anggep nglingsemi lan njalari ingkang sakit, punapa dene brayatipun nanggel momotan awrat, tumut lingsem menawi kathah tiyang mangretosi kawontenanipun ingkang sakit kasebat. Nanging warga kasebat gadhahi pamawas ingkang beda. Nalika piyambakipun sakit AIDS piyambakipun malah kabiyantu ngawekani karingkihanipun punika kanthi cara cariyos dhateng rencang-rencang patunggilanipun. Pepejah mesthi badhe ndhatengi manungsa, nanging tiyang kasebat saged nglawan supados pepejah boten ngawonaken daya gesangipun. Piyambakipun nampi kasunyatan kanthi pasrah dhateng Gusti. Kawontenan patunggilan kados makaten punika ingkang sinebat tumut tumandang damel mbabar tandha-tandha rawuhipun Gusti ing satengahing gesang sesarengan. Kanthi makaten warga kasebat saged ngucap: ”Iki sanyata Gusti Allah kita, kang kita anti-anti, supaya kita kaganjar slamet. Iya iki Sang Yehuwah kang kita anti-anti; ayo kita padha surak-surak lan suka-suka marga saka pangluwaran kang kaparingake” (Yes. 25:9).
Menawi kita boten pitados pakaryaning Allah ing gesanging brayat kita, sumangga kita madosi Gusti Allah ingkang rawuh ing satengahing patunggilan kita. Kita lumebet lan dados gegelitan ing sawarnining kegiatan ingkang katindakaken dening patunggilan kita, dadosa ing kelompok, blok, wewengkon, pepanthan punapa dene pasamuwan kita. Sampun ngantos kita kesupen dhumateng Gusti Allah kados piwulangipun juru masmur ”Aja padha nglalekake Gusti Allah kang wus milujengake kita”.
Amin.
v Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat : Yesaya 25:9
Pitedah Gesang Enggal : Filipi 4:6-7
Pangatag Pisungsung : Injil Mateus 22:10-11
v Rancangan Kidung Pamuji:
Kidung Pambuka : KPK BMGJ. 309:1-3
Kidung Panalangsa : KPK BMGJ. 50:1,2
Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ. 129:1,2
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ. 300:1-4
Kidung Pangutusan : KPK BMGJ. 312:1-4
Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Delapan (Hijau)
Keluarga Kristen Berhiaskan Kekudusan
Bacaan I: Yesaya 45:1-7; Tanggapan: Mazmur 96:1-9
Bacaan II: I Tesalonika 1:1-10; Bacaan III: Injil Matius 22:15-22
Tujuan:
Jemaat sadar bahwa mereka hidup di tengah dunia, tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Salah satunya terwujud dalam kehidupan berkeluarga, yaitu mewujudkan kekudusan keluarga dalam hal kesediaan diri bersandar hanya kepada Tuhan.
v Dasar Pemikiran
Keluarga Kristen hidup di tengah-tengah dunia, tetapi tidak boleh sama dengan dunia. Satu hal yang perlu dijaga yaitu kekudusannya, yang terwujud salah satunya dalam kesediaannya mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya Allah.
v Keterangan Tiap Bacaan
Yesaya 45:1-7
Ayat-ayat ini bagian dari Bagian Kedua Kitab Yesaya (Deutero Yesaya) yang berisi kabar baik bagi umat TUHAN di pembuangan. Koresh, sekalipun tidak mengenal Allah, dipilih menjadi alat Allah memberikan keselamatan bagi umat-Nya. Hal itu dilakukan untuk menyadarkan bahwa tidak ada ilah yang dapat mengatasi TUHAN. Ayat-ayat itu juga menggambarkan kehendak Allah untuk mengumpulkan kembali keluarga besar Israel dan beragam cara bisa Ia lakukan.
Mazmur 96:1-13
Nyanyian baru yang dimaksudkan di sini adalah perayaan atas pembebasan baru yang Tuhan lakukan, yaitu pembebasan dari krisis yang terjadi pada tahun 586 SM. Ayat 1-6 memanggil untuk mewartakan kemuliaan Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Ayat 7-9 memanggil bangsa-bangsa untuk menyembah Tuhan. Ayat 10-13 memanggil semua ciptaan untuk mengenal kuasa Tuhan. Ketiga bagian menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan.
I Tesalonika 1:1-10
Bagian awal surat ini merupakan ucapan syukur Rasul Paulus atas kondisi jemaat di Tesalonika. Mereka pada awalnya adalah para penyembah berhala, tetapi menjadi percaya dan menjadi anggota keluarga Kristus. Dalam iman, mereka mewartakan Injil melalui segala perbuatan yang mereka lakukan. Hal itu menggembirakan Rasul Paulus dan menjadi bekal dalam mereka menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali.
Injil Matius 22:15-22
Pertanyaan jebakan pada Yesus ditanggapi dengan jawaban yang mengherankan. Jawaban Yesus ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada negara/penguasa tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan dengan ketaatan kepada Tuhan.
Renungan atas Bacaan
Ada apa dengan keluarga Kristen? Apa bedanya dengan keluarga-keluarga yang lain? Apakah harus berbeda?
Pertanyaan demikian bisa jadi muncul saat membaca judul perenungan kita hari ini. Hal yang pasti adalah, tentu keluarga Kristen berbeda dari keluarga-keluarga yang lain. Jika tidak berbeda, tidak perlu disebut sebagai keluarga Kristen. Cukuplah disebut dengan keluarga. Namun apa bedanya?
Mencari perbedaan – atau lebih tepat kekhasan – dari keluarga Kristen tidak bisa tidak bersumber dari Firman Tuhan yang menjadi pedoman dasar kehidupan orang percaya. Maka ayat-ayat kita hari ini menjadi dasarnya.
Bacaan Yesaya menggambarkan Tuhan yang berkarya dengan cara tak terduga untuk mengumpulkan kembali keluarga-Nya, yaitu orang-orang Israel. Karya Tuhan ini direspon dengan nyanyian baru yang diserukan pemazmur. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang percaya menerima karya (saat itu pembebasan) dan meresponnya dengan pemuliaan, penyembahan hanya kepada Tuhan Sang Pembebas.
Dalam I Tesalonika, Rasul Paulus menggambarkan hal yang senada. Jemaat Kristen telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga mereka merespon dengan iman dan pewartaan Injil melalui sikap hidup mereka.
Tuhan Yesus menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan dengan ketaatan kepada penguasa/negara.
Semua ayat tadi menjadi pedoman bagi orang-orang Kristen, termasuk sebagai keluarga, untuk menjadi berbeda dari dunia. Ketaatan hanya kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan dengan diliputi rasa syukur kepada-Nya.
Harmonisasi Bacaan Leksionari
Teks dari Yesaya, Mazmur, Tesalonika, dan Matius terkait melalui ide mengenai karya Tuhan. Karya itu terwujud dalam pembebasan atau pemeliharaan yang dilakukan-Nya dan harus direspon dengan ketaatan mutlak kepada-Nya sebagai satu-satunya Allah.
Pokok dan Arah Pewartaan
Hidup manusia dalam dunia tidak terlepas dari keluarga. Apapun posisi seseorang dalam keluarga, ia adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga itu. Demikian juga halnya dengan keluarga Kristen.
v Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,
| S |
ekalipun jarang diketahui, hari ini adalah Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober, yaitu tanggal berdirinya Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada tahun 1945. Ide mengenai dirayakannya Hari Pangan Sedunia ini muncul pada tahun 1979 sebagai upaya untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap kemiskinan dan kelaparan. Tema-tema tahunan selalu muncul dan menjadi bahan perenungan seluruh negara anggota PBB. Di antara tema-tema yang ada, yang paling banyak muncul adalah mengenai ketahanan pangan. Hal itu berarti keprihatinan terhadap ketersediaan pangan bagi setiap orang adalah hal utama di dunia ini. Bisa dibayangkan kondisi saat tidak ada cukup makanan bagi setiap orang. Gambaran mengenai orang-orang yang tinggal tulang berbalut kulit, kerusuhan dan penjarahan karena kelaparan dan kemarahan. Yang jelas, akan terjadi peristiwa atau kondisi yang tidak menyenangkan jika kebutuhan akan pangan tidak terpenuhi. (Bisa dibantu dengan menampilkan gambar orang-orang kelaparan atau kerusuhan/penjarahan, baik melalui LCD atau gambar cetak.)
Bagaimana kalau orang-orang yang mengalami kesulitan makan itu membaca bacaan pertama kita dari Yesaya? Mereka mungkin akan berpikir dan berandai-andai, seandainya Tuhan mengirim pembebas seperti Koresh dalam hidup mereka. Seandainya Tuhan membebaskan mereka dari beban kelaparan yang sedang mereka derita. Mungkin sebagian dari orang-orang itu akan merasa bahagia karena merasa punya pengharapan setelah membacanya. Namun sebagian mungkin justru akan semakin marah, sebab Tuhan tidak bertindak seperti yang Dia lakukan kepada Israel melalui Koresh.
Lalu apakah kisah tentang pembebasan yang dilakukan oleh Tuhan hanya menjadi pelipur lara atau bahkan hanya menjadi iming-iming bagi orang yang menderita? Bagaimanakah supaya ayat-ayat bahagia mengenai Tuhan yang membebaskan dan juga nyanyian syukur seperti Mazmur bisa menjadi nyata bagi orang yang kelaparan?
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Jemaat di Tesalonika awalnya adalah penyembah-penyembah berhala. Namun setelah menerima pewartaan dari Rasul Paulus, dalam bimbingan Roh Kudus mereka beriman kepada Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Dalam pembukaan suratnya yang pertama, Rasul Paulus dengan sangat murah hati memuji-muji jemaat di Tesalonika. Pujian itu didasarkan pada kondisi nyata jemaat. Mereka menjadi beriman dan imannya itu tidak berhenti pada hati dan pikiran mereka saja. Mereka tidak hanya berubah dalam hal penyembahan kepada Yang Ilahi, melainkan juga dalam kehidupan keseharian. Rasul Paulus menyebut mereka menjadi teladan bagi jemaat-jemaat yang lain. Rasul Paulus juga menyebut-nyebut mengenai kondisi berat yang dialami oleh jemaat saat itu. Bisa jadi karena mereka berbalik dari berhala mereka dan segala kebiasaan yang ada, mereka mengalami pengucilan atau bahkan penindasan dari orang lain. Hal seperti itu dialami juga oleh banyak jemaat di tempat lain. Apalagi di daerah-daerah yang menjadi bagian kekaisaran yang menuntut Kaisar disembah sebagai allah. Namun dalam kondisi berat seperti itu, mereka tetap menjadi penurut Allah dan menjadi teladan. Jemaat-jemaat di tempat lain pun menjadi kuat pula karena mengetahui saudara-saudara mereka di Tesalonika juga kuat.
Hal seperti inilah, Saudara-saudara, yang bisa menjawab pertanyaan di depan tadi. Hal seperti yang dilakukan oleh jemaat di Tesalonika inilah yang bisa membuat orang melihat dengan nyata kasih dan karya Allah dalam hidup mereka. Hal seperti inilah yang membuat orang yang kelaparan melihat Koresh-koresh lain yang diutus oleh Tuhan. Selanjutnya mereka pun akan bisa menyanyikan nyanyian baru bersama dengan seluruh bangsa karena Tuhan membebaskan mereka, Tuhan berkarya dalam hidup mereka. Dan Koresh-koresh yang lain sedang dan masih terus dipanggil oleh Tuhan untuk bisa menjadi alat karya-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kalau tadi yang kita lihat adalah pengalaman orang Israel, jemaat Tesalonika, dan orang-orang yang tampak jauh dari kita, sekarang bagaimana kondisi di sekitar kita sendiri?
Satu hal yang sangat dekat dengan pangan adalah keluarga. Di dalam keluargalah makanan diterima, dikelola, dan dinikmati bersama. Saat ada banyak makanan, semua merasa kenyang. Demikian pula saat hanya ada sedikit makanan, semua merasa lapar. Di dalam keluarga pula dikenal prioritas dalam hal makanan. Siapa yang harus mendapatkan makanan pertama kali, siapa yang harus menunggu. Siapa yang harus makan lebih banyak dan siapa yang lebih sedikit. Prioritas atau pembagian itu dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing anggota keluarga. Sebagai keluarga, semua saling tahu, sehingga tidak ada rasa iri atau cemburu. Namun siapakah keluarga itu?
Pengertian keluarga ada banyak. Ada orang yang memahami keluarga sebagai keluarga inti saja, yaitu bapak-ibu-anak. Ada juga yang memahaminya sebagai keluarga besar yang mencakup keluarga dari pihak bapak ibu sampai nenek. Namun jika mau berpikir lebih luas, sebenarnya keluarga kita adalah seluruh umat manusia. Semua orang yang dengannya kita berbagi tempat hidup dan sumber daya yang ada di bumi ini. Semua orang yang dengannya kita hidup bersama sebagai ciptaan Tuhan di bumi ini. Jadi, saat kita di sini makan kenyang dan bahkan berlebih, sedangkan di belahan dunia lain ada orang yang kelaparan, apakah itu wujud sebuah keluarga? Saat kita berpikir besok makan dengan sayur dan lauk apa, sedangkan tetangga kita berpikir besok makan atau tidak, apakah itu wujud dari kehidupan sebuah keluarga? Rasanya bukan.
Sebagai keluarga Kristen, sudah selayaknya kita tidak hanya berpikir mengenai diri kita sendiri. Sudah selayaknya kita pun peduli pada orang lain. Hal itulah yang bisa membuat orang-orang yang sedang dalam beban berat bisa memuji seperti Mazmur tanggapan tadi. Namun kadang-kadang orang merasa tidak mampu untuk peduli karena merasa tidak memiliki apa-apa.
Jawaban Yesus pada orang-orang Herodian menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak perlu takut. Ketaatan kepada Tuhanlah yang menjadi kuncinya. Ketaatan itu tidak perlu diperbandingkan aau dipertentangkan dengan ketaatan kepada penguasa negara. Saat orang Herodian menggunakan uang untuk bertanya menjebak Yesus, ada nilai mengenai keberlangsungan hidup dalamnya. Uang adalah alat yang dibutuhkan setiap orang untuk memperoleh kebutuhannya. Secara tersirat, pertanyaan dan jawaban dalam bacaan Injil tadi mengungkapkan sandaran hidup manusia. Haruskah hidup manusia yang membutuhkan uang disandarkan kepada kaisar atau Tuhan? Jawaban Yesus sederhana, tetapi dalam. Keduanya tidak perlu dipertentangkan sehingga ketaatan kepada Tuhan tetap menjadi hal yang mutlak. Tidak perlu merasa tidak memiliki apa-apa. Segala yang kita miliki berasal dari Allah dan harus digunakan semaksimal mungkin untuk menunjang kehidupan. Untuk menjadi Koresh baru di masa kini. Untuk membuat seluruh anggota keluarga kita turut makan bersama. Itulah kekudusan keluarga Kristen yang selalu penuh syukur. Amin.
v Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah : Kolose 2: 6-19
Petunjuk Hidup Baru : Hosea 1: 2-10
Dasar Persembahan : Mazmur 138
v Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembuka : KJ 13: 1-4
Nyanyian Penyesalan : KJ 23: 1-3
Nyanyian Kesanggupan : KJ 375
Nyanyian Persembahan : KJ 293: 1-
Nyanyian Penutup : KJ 453: 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 16 Oktober 2011
Pekan Biasa Kaping Wolu Likur (Ijo)
BRAYAT Kristen KANG NENGENAKEN GESANG SUCI
Waosan I: Yesaya 45:1-7; Tanggapan: Jabur 96:1-9
Waosan II: I Tesalonika 1:1-10; Waosan III: Injil Mateus 22:15-22
Tujuan:
Warganing pasamuwan sadhar, bilih gesang ing donya boten kedah sami kaliyan donya. Wujud ipun kanthi gesang sesemahan, kanthi gesang suci ing tengahing brayat kang tansah sumendhe namung wonten ing Gusti.
v Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus,
| S |
anadyan awis-awis wonten tiyang ingkang pirsa, dinten punika Hari Pangan Sedunia. Hari Pangan Sedunia dipun pengeti saben tanggal 16 Oktober, inggih punika nalika Organisasi Pangan Dunia (FAO) madeg ing taun 1945. Hari Pangan Sedunia dipun pengeti wiwit taun 1979 minangka srana kangge muwuhi raos preduli dhateng kawontenanipun para sedherek ingkang mlarat lan ing salebeting pailan. Saben taun mesthi wonten bab ingkang dipun suraos. Ingkang paling kathah inggih punika bab taksih cekap utawi botenipun tetedhan ing donya punika. Punika ateges, prakawis wonten lan boten wontenipun tetedhan punika dados prakawis ingkang wigati sanget. Saged dipun gambaraken, menawi sampun boten wonten tetedhan ingkang cekap malih. Kathah tiyang kantun balung–kulit lan mesthi inggih saged damel kawontenan rusuh lan penjarahan. Ingkang baken, kawontenan ingkang saestu boten ngremenake. (Saged dipun biyantu lumantar gambar-gambar tiyang ingkang ngalami pailan utawi kerusuhan/penjarahan)
Kados pundi menawi tiyang-tiyang ingkang sami boten kacekapan ing bab tetedhan punika sami maos waosan kita saking Yesaya kala wau? Mbok bilih sami ngajeng-ajeng, kapan anggenipun Gusti ngutus tiyang kados Koresh ingkang badhe ngluwari piyambakipun saking kawontenan ingkang boten ngremenaken punika. Mbok bilih sawetawis tiyang remen maos ayat-ayat punika amargi rumaos pikantuk pangajeng-ajeng. Nanging sawetawis sanesipun mbok bilih malah sami mangkel, amargi rumaos Gusti boten adil amargi boten ngutus tiyang ingkang kados Koresh.
Lajeng punapa inggih cariyos bab pangluwaran ingkang dipun tindakaken dening Gusti namung dados panglipur ingkang lamis utawi iming-iming kangge tiyang-tiyang ing salebeting momotan? Kados pundi supados tiyang-tiyang wau sami saged ngidungaken mazmur kados waosan kita, ingkang isinipun bab kekidungan anyar, pamuji dhateng Gusti ingkang paring pangluwaran?
Pasamuwan ingkang dipun-tresnani dening Gusti,
Ing pambukaning serat, Rasul Paulus atur pamuji awit kawontenaning pasamuwan Tesalonika. Pasamuwan ing Tesalonika suwau sami nyembah brahala. Nanging sasampunipun nampeni pawartos Injil saking Rasul Paulus, lumantar tuntunaning Sang Roh Suci lajeng sami pitados dhateng Gusti. Anggenipun pitados inggih boten namung lelamisan, nanging saestu kawujud ing tumindak nyata. Rasul Paulus mastani pasamuwan Tesalonika minangka tuladha kangge pasamuwan-pasamuwan sanesipun. Wekdal semanten pasamuwan ing Tesalonika ngraosaken kawontenan ingkang awrat.
Karana sampun ngrasuk kapitadosan dhumateng Gusti, nilar panyembahing brahala, tuwin nilar sakathahing pakulinan tata panembah ingkang lami, pasamuwan wau lajeng kasingkiraken lan nampeni panindhes. Bab punka inggih kalampahan ing pasamuwan sanesipun ing laladan ing pundi Kaisar kedah dipun sembah pinangka allah. Sanadyan makaten, kapitadosanipun boten ewah gingsir, tetep santosa. Pasamuwan-pasamuwan ing papan sanes lajeng tumut kasantosakaken amargi nulad dhateng pasamuwan Tesalonika.
Prakawis punika, para sedherek. Ingkang saged dados wangsulan tumrap pitakenan-pitakenan kala wau. Prakawis ingkang dipun tindakaken dening pasamuwan Tesalonika saged damel tiyang ningali pakaryanipun Gusti kanthi nyata. Lelampahan punika saged damel sadherek-sedherek ingkang ngalami pailan sumerep Koresh ingkang dipun utus dening Gusti. Salajengipun sami saged ngidungaken mazmur ingkang enggal ingkang misuwuraken kamulyaning Gusti ingkang tansah makarya.
Pasamuwan ingkang dipun-tresnani dening Gusti,
Menawi kala wau kita ningali pengalamanipun bangsa Israel, pasamuwan ing Tesalonika, lan tiyang-tiyang ingkang tebih, kados pundi kawontenan ing kiwa tengen kita?
Prakawis ingkang celak piyambak kaliyan bab tetedhan punika brayat. Tetedhan dipun-tampi, dipun olah, lan dipun tedha sesarengan ing salebeting brayat. Nalika wonten tetedhan kathah, inggih sedaya sami tuwuk. Nanging nalika namung wonten sekedhik, sadaya ngraosaken luwe. Ing satengahing brayat ugi wonten ingkang dipun tengenaken. Sinten ingkang kedah nampi tetedhan langkung rumiyin, lan sinten ingkang kantun. Sinten ingkang kedah nedha langkung kathah, lan sinten ingkang sekedhik. Sedaya dipun-dum wradin, miturut kabetahanipun piyambak-piyambak. Boten badhe wonten warganing brayat ingkang rumaos meri. Nanging, sinten ta brayat kita punika?
Brayat saged ngemu teges kathah. Wonten ingkang mastani brayat punika namung bapak, ibu, anak. Wonten ugi ingkang mastani brayat punika inggih ngantos simbah. Nanging menawi kita raos-raosaken kanthi saestu, sejatosipun brayat punika inggih sedaya tiyang ingkang gesang lan nedha sesarengan kaliyan kita. Punika ateges, inggih sedaya manungsa ing bumi. Amargi kita sami-sami mapan lan ngadeg ing bumi ingkang sami. Kita sami-sami nedha saking tetuwuhan ingkang tuwuh saking bumi ingkang sami. Dados sedaya tiyang ing bumi punika, brayat kita.
Pitakenanipun, menawi kita saged nedha ingkang eca, nanging sedherek ing pulo sanes boten saged nedha, punapa punika wujuding brayat ingkang sae? Menawi kita ngrancang-rancang punapa ingkang badhe kita tedha mbenjang-enjang, nanging sedherek ing benua sanes mikir mbenjang saged nedha utawi boten, punapa punika inggih mujudaken brayat? Raosipun kok boten.
Minangka brayat Kristen, sampun samesthinipun kita boten namung mikir bab dhiri kita piyambak. Sampun samesthinipun kita tumut migatosaken dhateng tiyang sanes. Prakawis punika ingkang saged damel tiyang-tiyang ingkang saweg kamomotan saged memuji kados dene Mazmur kita kala wau. Nanging kadhang-kala tiyang rumaos boten saged preduli amargi rumaos boten gadhah punapa-punapa.
Paring wangsulanipun Gusti Yesus dhateng para tiyang Herodian nelakaken bilih kita boten sisah kuwatos. Anggen kita mbangun turut dhateng Gusti boten kangge nandhingaken kaliyan anggen kita mbangun turut dhateng pamarintah. Nalika tiyang Herodian ngginakaken arta kangge pitaken (ing sedya kangge mblithuk Gusti), wonten babagan ingkang wigati magepokan kaliyan gesang. Lumantar paring wangsulanipun Gusti, sampun nelakaken bab kadospundi prayoginipun manungsa sumarah, dhumateng Gusti Allah punapa Kaisar. Wangsulanipun Gusti prasaja, ananging lebet. Kekalihipun boten kepareng dipun dadosaken lelawanan, ananging kastyanipun manungsa dhateng Gusti punika ingkang wigati. Boten prelu rumaos boten anggadhahi punapa-punapa. Sedaya ingkang kita gadhahi punika peparingipun Gusti lan kedah kita ginakaken kangge ngrimat gesang. Supados saged dados Koresh ing wekdal sapunika. Kangge dados jalaraning sedaya warga brayat saged nedha sesarengan. Punika wujuding kasucenipun brayat Kristen ingkang tansah kebak ing raos sokur. Amin.
v Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat : Kolose 2: 6-19
Pitedah Gesang Enggal : Hosea 1: 2-10
Pangatak Pisungsung : Jabur 138
v Rancangan Kidung Pamuji:
Kidung Pambuka : KPK BMGJ 7: 1-3
Kidung Panelangsa : KPK BMGJ 46: 1, 2
Kidung Kesanggeman : KPK BMGJ 70: 1,5
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 186: 1-
Kidung Panutup : KPK BMGJ 86: 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Tiga Puluh (Hijau)
KELUARGA YANG CANTIK BATIN DAN CANTIK PERILAKU
Bacaan I Imamat 19:1-2, 15-18, Tangapan: Mazmur 1
Bacaan II I Tesalonika 2:1-8, Bacaan III: Injil Matius 22:34-46
Tujuan
Keluarga-keluarga Kristen terdorong untuk memiliki citra/gambar diri positif sehingga mampu mencintai sesama dengan tulus hati
v Dasar Pemikiran
Mencintai sesama seperti diri sendiri terwujud saat kita memiliki citra diri positif. Perenungan mendalam akan sabda Tuhan mendorong kita memiliki citra diri positif serta menolong untuk menemukan caranya. Bersekutu intim dengan Tuhan dan mencintai titah-Nya adalah awal dari penemuan itu, sekaligus daya yang mengabadikannya.
v Keterangan Tiap Bacaan
Imamat 19: 1-2, 15-18
Allah yang kudus menghendaki Israel hidup kudus, yang berarti memiliki keelokan batin (inner beauty) yang nyata dalam sikap etis yang baik kepada sesama. Hal itu terwujud dengan memandang positif insan sebangsa maupun orang asing (ay. 34), mencintai sesama bahkan saat disakiti, mengikis dendam dan benci, tidak membalas kejahatan, bersikap terbuka kepada sesama seraya mengupayakan kesepakatan damai, bersikap adil dan menghakimi dengan obyektif, berpatok pada kebenaran.
Mazmur 1
Kedalaman relasi pemazmur dengan Allah menggairahkannya untuk mencintai titah Allah dan memegangnya teguh (commitment of spirituality). Allah memurnikan hati dan memampukannya melakukan yang benar di mata-Nya. Meski di tengah tekanan dan celaan orang-orang fasik, Allah membuatnya mampu melakoni hidup jujur dan terpuji (commitment of morality), bertolak belakang dengan laku hidup orang fasik. Itulah bahagia sejati, bukan karena melimpahnya harta dunia.
I Tesalonika 2: 1-8
Rasul Paulus meyakinkan jemaat Tesalonika akan ketulusan pemberitaan Injil yang dilakukannya bersama rekan-rekannya. Mereka sungguh-sungguh mencintai dan mengayomi jemaat yang sedang berjuang menghadapi para penyesat. Rasul Paulus bukan hanya berbagi berita Injil, tetapi juga hidup. Pada saat sama-sama tertekan, mereka mampu saling menolong dan menguatkan (lih. Kis. 16:1-9). Itulah otentisitas hidup dalam cinta di mana mereka saling menopang dengan tulus.
Injil Matius 22: 34-46
Yesus memberi tuntunan untuk mempraktekkan mencinta sesama: seperti mencintai diri sendiri. Artinya, seperti umat memperlakukan diri sendiri, seperti itulah umat memperlakukan sesama. Oleh karena itu, umat perlu terlebih dulu memiliki citra diri (self-image) positif terhadap diri: memandang dan memperlakukan diri secara positif. Dengan demikian umat akan mampu mencintai sesama dengan baik. Namun bila citra diri buruk, buruk pula umat memperlakukan sesama.
Renungan atas Bacaan
Allah ingin agar keluarga Kristen memancarkan kasih kepada sekitar. Namun sungguh prihatin bila kita mendengar banyak keluarga Kristen yang laku hidupnya tidak menjadi berkat, tetapi malah menjadi batu sandungan di tengah masyarakat. Contohnya antara lain adalah pertengkaran antar anggota keluarga, perselisihan dengan tetangga, kinerja buruk dalam dunia kerja, hidup eksklusif dan tidak membaur serta larut dalam arus perilaku molimo: main, maling, mendem, madat lan madon. Hal demikian menjadikan citra keluarga Kristen buruk. Jika orang percaya tidak mampu merawat tubuh, mengolah batin, mengelola kebiasaan, waktu, keluarga, pekerjaan, dan relasinya, bagaimana mampu menunjukkan perhatian kepada sesama? Jika orang percaya tidak mampu mencintai komunitas internalnya, bagaimana bisa menjadi berkat bagi masyarakat?
Citra seperti apa yang seharusnya dibangun? Bagaimana cara memperbaiki citra yang rusak?
Refleksi terhadap bacaan Imamat dan I Tesalonika menyadarkan kita bahwa keluarga Kristen harus memiliki gambar diri positif: cantik batin dan cantik laku. Tulus dan terbuka dalam berelasi, sabar dan mengampuni orang yang menyakiti, rela dan ikhlas menopang sesama, serta tegas dan adil dalam menyatakan kebenaran. Otentik dari kejujuran hati dan tidak munafik, itulah motif yang mesti dipupuk.
Pemazmur mengajak kita untuk mulai dari cinta Allah. Membangun relasi intim dengan menyukai titah-Nya. Seperti akar pohon yang terus mendapat asupan makanan dari air sungai di tepinya, demikianlah orang percaya akan mampu berakar kuat pada titah-Nya. Seperti pohon yang terus mengeluarkan buah, demikianlah orang percaya akan memancarkan kecantikan batin dan laku hidup terpuji. Hanya dengan cinta Allah kita mampu cintai sesama.
Harmonisasi Bacaan Leksionari
Mencintai sesama seperti diri sendiri dimulai dengan memiliki citra diri positif. Imamat menunjukkan citra diri positif yang harus dibangun. Rasul Paulus dan jemaat Tesalonika mewujudkannya dengan saling menopang dalam kesulitan. Bagi pemazmur, cantik laku dan batin dimulai dari cinta Allah. Cinta sesama tidak bisa dipisahkan dari cinta Allah.
Pokok dan Arah Pewartaan
Agar mampu mencintai sesama secara tulus dan otentik, citra diri positif perlu dipupuk. Persekutuan intim dengan Allah dan kecintaan pada titah-Nya memurnikan batin dan memampukan kita hidup kudus.
v Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
| M |
ari kita simak dua cerita di bawah ini.
Bu Arif dan Bu Prihatin bersahabat. Suatu ketika Bu Prihatin mengeluh tentang keluarganya. Ia sedih karena setelah suaminya meninggal, keluarganya mengalami kesulitan ekonomi. Ia juga harus berperan sebagai kepala keluarga yang menopang kedua anaknya. Ia berjualan kue mengitari kampung, tetapi hasilnya tidak seberapa. Ia merasa sebagai orang paling malang sedunia. Ketika mendengar khotbah tentang mengasihi sesama, ia bertanya merasa tidak mungkin melakukannya karena keluarganya sendiri berada dalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Ia memohon saran Bu Arif agar keluarganya tidak selalu diterpa kesusahan. Bu Arif menyarankan untuk membawa sekantong kecil beras dan mendatangi setiap rumah, menanyakan ada tidaknya anggota keluarga di rumah tersebut yang tidak sedang mempunyai masalah. Jika ada, Bu Prihatin bisa memberikan sekantong kecil beras tersebut kepada orang itu. Bu Prihatin heran dan menanyakan maksudnya. Bu Arif hanya tersenyum dan mendorong Bu Prihatin untuk mencobanya. Akhirnya pergilah Bu Prihatin dari rumah ke rumah dan melakukan hal yang disarankan Bu Arif. Apa yang terjadi kemudian? Bu Prihatin kembali ke rumah Bu Arif dengan masih membawa sekantong kecil beras.
Pak Pongah selalu bicara panjang lebar dalam PA. Ia ingin orang lain mengakui bahwa ia pintar. Jika ada orang muda yang mengritisi pendapatnya, ia marah dan mendendam. Bahkan ia berusaha mencari cara untuk mempermalukan orang itu. Ia menghasut orang-orang dengan menyebarkan isu bahwa orang itu banyak hutang dan keluarganya tidak harmonis. Suatu ketika, saat ada PA yang bertema mengasihi sesama, Pak Pongah berpendapat bahwa mengasihi sesama berarti harus mendidik orang muda agar hormat dan mau belajar dari yang lebih tua, lebih tahu, dan lebih berpengalaman. Orang muda harus ditegur agar tidak nglunjak dengan mendebat pendapat orang yang lebih tua.
Bagaimana pendapat saudara tentang Bu Prihatin dan Pak Pongah? Apa yang menyebabkan mereka sulit mengasihi sesama? Mereka memiliki citra diri negatif. Bu Prihatin memandang dan memperlakukan dirinya sebagai orang susah dan perlu ditolong (inferior self-image). Pak Pongah memandang dan memperlakukan dirinya sebagai orang hebat yang mesti dipatuhi semua orang (superior self-image). Orientasi mereka hanya pada kebutuhan dan kepentingan diri (self-oriented). Akibatnya, mereka sulit membuka hati untuk memperhatikan orang lain.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Supaya bisa mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri, kita perlu terlebih dulu memandang dan memperlakukan diri dengan kasih. Kita perlu memiliki citra diri (self-image) positif. Dalam Imamat 19:1-2,15-18, Allah menunjukkan citra diri yang harus dipupuk umat Israel. Allah ingin umat terus menginternalisasikan dalam hatinya bahwa mereka adalah umat yang harus hidup kudus, yang diwujudkan dalam kebaikan hati dengan memandang positif sesama umat Israel maupun orang asing (ay. 34), bahkan juga siapapun yang menyakiti perasaan.
Dalam konteks keluarga dan pergaulan, umat harus menampakkan kebaikan hati itu. Umat harus belajar mengikis rasa dendam dan benci kepada sesama yang menyakiti hati. Umat harus belajar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Daripada di belakang menyebar fitnah dan melakukan pembunuhan karakter, lebih baik bersikap jujur dan terbuka untuk menyelesaikan perselisihan dan mengupayakan damai. Gentle dan ksatria. Umat harus belajar sabar dan mau memaafkan. Dalam konteks dunia peradilan, para penegak hukum harus mengadili dengan obyektivitas tinggi dan berpatok pada kebenaran, teguh pada prinsip, tidak bisa dipengaruhi siapapun, dan berani menghadapi resiko apapun demi kebenaran.
Itu semua adalah ekspresi dari citra diri umat Israel: umat kudus yang cantik batin dan lakunya.
Perilaku cantik terhadap sesama juga dinampakkan Rasul Paulus, rekan-rekan sepelayanannya, dan jemaat di Tesalonika. Kisah Para Rasul 16:1-9 menceritakan Rasul Paulus yang dituduh oleh para penyesat sebagai pengacau yang ingin mengambil keuntungan saat mengabarkan Injil. Inilah upaya pembunuhan karakter terhadap Rasul Paulus. Dalam suratnya, Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada motif uang atau ketenaran dalam memberitakan Injil. Penyelamatan oleh jemaat Tesalonika terhadap dirinya dari kejaran para penyesat, menggairahkan Rasul Paulus untuk berbagi hidup dengan jemaat. Kasih sayang yang tulus dan otentik mewarnai relasi Rasul Paulus dengan jemaat Tesalonika.
Refleksi di atas menolong kita untuk memahami bahwa citra diri bukan sekadar kemasan luar tanpa isi. Banyak orang membangun citra diri positif dengan pura-pura bersikap santun dan membantu orang lain, tetapi hatinya munafik. Motif popularitas, harta, dan kekuasaan menodai perilakunya. Umat Israel dan Rasul Paulus meneladankan sikap etis yang tulus, jujur, terbuka, dan otentik terhadap sesama, tanpa kemunafikan atau agenda tersembunyi di baliknya. Benar-benar tumbuh dari dalam hati dan muncul keluar dalam sikap nyata. Jadi benar-benar cantik batin dan cantik laku.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Pertanyaan yang mendasar adalah: Bagaimana caranya memiliki citra diri positif, cantik batin dan cantik laku? Citra diri positif tidak cukup dibangun dengan cara memikirkan dalam hati dan memunculkan dalam kata. Misalnya, ”Oh, kalau begitu aku harus berpikir terus-menerus bahwa aku adalah orang baik dan penolong. Dan aku harus menunjukkannya dalam sikap nyata.” Ini memang usaha yang baik. Para bijak yang sering muncul di TV juga menyarankan cara berpikir positif seperti itu agar citra diri kita positif dan mempengaruhi perilaku kita menjadi positif. Namun acapkali pondasinya rentan dan lemah. Ketika menerima perlakuan buruk dari orang lain kita tetap terbawa emosi, tersinggung, dan ingin membalas perlakuan itu.
Pemazmur membuka mata kita bahwa pondasi harus dibangun kuat melalui kedalaman relasi dengan Allah-sumber kekuatan-serta mencintai titah-Nya sebagai pegangan laku hidup. Laksana pohon yang terus mendapat asupan makanan dari air sungai, demikanlah pemazmur mendapat asupan titah dan kekuatan untuk melakukannya. Meski pemazmur dikelilingi orang-orang fasik yang mencelanya, tetapi Allah memampukannya untuk tidak memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukannya. Allah menjaga hatinya tetap tulus dan lembut. Dan bagi pemazmur, di situlah letak bahagia sejati.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Milikilah citra diri positif, agar kita memperlakukan sesama positif,
Gemakanlah terus bahwa hati dan laku kita harus cantik,
Mendekatlah pada Allah dan cintailah titahNya,
Karena hanya dengan kekuatanNya,
kita mampu memperlakukan sesama dengan cantik.
Mengakhiri khotbah, mari kita renungkan bersama puisi ini:
Di jalan aku melihat seorang gadis kecil
kedinginan dan menggigil dalam pakaiannya yang tipis,
dengan sedikit berharap akan makanan yang cukup.
Aku marah dan berkata kepada Tuhan:
’Mengapa Kau mengizinkan hal seperti ini?’
’Mengapa Kau tidak melakukan sesuatu?’
Untuk beberapa saat Allah diam.
Namun malam itu, tiba-tiba Dia menjawab:
‘Aku pasti melakukan sesuatu.
Aku menciptakan engkau.’
(Chicken Soup for The Christian Soul 2)
Selamat mencinta. Amin.
v Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah : 1 Petrus 1: 18-19
Petunjuk Hidup Baru : 1 Petrus 3: 15-17
Dasar Persembahan : Ibrani 13: 15-16
v Rancangan Nyanyian Ibadah:
Nyanyian Pembukaan : KJ. 448: 1-4
Nyanyian Penyesalan : KJ. 467: 1-3
Nyanyian Kesanggupan : KJ. 434: 1-2
Nyanyian Persembahan : KJ. 450: 1-4
Nyanyian Penutup : KJ. 424: 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 23 Oktober 2011
Pekan Biasa Kaping Tigang Dasa (Ijo)
BRAYAT INGKANG MUJUDAKEN KAELOKANING GESANG
Waosan I: Kaimaman 19: 1-2, 15-18; Tanggapan: Jabur I;
Waosan II: 1 Tesalonika 2: 1-8; Waosan III: Injil Mateus 22: 34-46
Tujuan :
Brayatipun tiyang Kristen nggadhahi gambaran dhiri ingkang sae satemah kasagedna mujudaken katresnan dhateng sesami kanthi tulusing manah
v Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang kinasih,
| S |
umangga kula aturi raos-raosaken cariyos ing ngandhap punika:
Bu Arif lan Bu Prihatin sampun dangu kekancan sae. Ing sawijining dinten, Bu Prihatin sesambat babagan kawontenan brayatipun ingkang nembe ngalami kesrakatan. Sasampunipun Pak Prihatin seda, piyambakipun kedah nyanggi kabetahaning brayat, kalebet lare-larenipun. Piyambakipun sadeyan roti ing dhusunipun nanging asilipun namung sakedhik. Piyambakipun rumaos minangka tiyang ingkang langkung rekaos tinimbang sedaya tiyang sanes ing alam donya. Nalika mirengaken kotbah babagan “Nresnani Sesami”, piyambakipun nggresula: “Apa mungkin aku bisa nindakake, wong aku dhewe nandhang kesusahan?” Piyambakipun lajeng nyuwun seserepan saking Bu Arif supados brayatipun saged uwal saking kasangsaran. Bu Arif ngaturi supados mbekta beras setunggal kanthong alit lan nyowani saben griya ing dhusunipun saperlu nyuwun pirsa punapa wonten tiyang ing griya-griya punika, ingkang saweg boten ngadhepi prakawis. Bu Prihatin radi bingung. Nanging Bu Arif namung mesem lan nyurung Bu Prihatin supados nyobi nindakaken. Ing salajengipun, Bu Prihatin nyowani saben griya lan nindakaken punapa ingkang dados pitedahipun Bu Arif wau. Punapa ingkang kedadosan ing salajengipun? Bu Prihatin wangsul malih dhateng griyanipun Bu Arif kanthi taksih mbekta berasipun!
Pak Pongah asring ngendikan kathah-kathah wonten ing PA-PA. Piyambakipun kepingin supados ketingal wasis. Menawi wonten tiyang anem ingkang beda pamanggih kaliyan piyambakipun, piyambakipun lajeng duka lan serik dhateng tiyang anem wau. Malah piyambakipun mbudidaya supados saged mirangaken tiyang anem wau. Piyambakipun nyebar warta dhateng tiyang-tiyang bilih tiyang anem wau utangipun kathah lan ing satengahing brayat tansah regejegan. Nalika wonten PA babagan “Nresnani Sesami”, Pak Pongah ngendikan bilih nresnani sesami punika kedah kawujudaken kanthi ndhidhik tiyang-tiyang anem supados ngajeni lan nggadahi suba-sita dhumateng para sepuh lan tiyang-tiyang ingkang langkung wasis. Miturut piyambakipun, boten prayogi menawi tiyang nem nyanggah pamanggihipun para sepuh!
Kados pundi pemanggih Pasamuwan tumrap tindak tandukipun Bu Prihatin lan Pak Pongah? Punapa ingkang ndadosaken Bu Prihatin lan Pak Pongah kangelan nresnani sesami? Wangsulanipun: awit tiyang kekalih wau nggadahi gambaran dhiri ingkang kirang sae! Bu Prihatin nggambaraken dhirinipun minangka ‘tiyang ingkang tansah sisah.’ Pak Pongah nggambaraken dhirinipun minangka ‘tiyang ingkang langkung wasis lan kedah dipun ajeni.’ Ingkang dipun tengenaken namung kabetahan lan kapentinganipun piyambak! Tembenipun, tiyang kekalih wau kangelan migatosaken tiyang sanes!
Pasamuwan ingkang kinasih,
Supados kita saged nresnani sesami kadosdene kita nresnani diri kita piyambak, kita kedah nggadahi gambaran dhiri ingkang sae. Wonten Kaimaman 19: 1-2, 15-18, Gusti Allah nedahaken gambaran dhiri ingkang kedah dipun-gadhahi tiyang Israel. Gusti Allah ngersakaken bangsa Israel supados nggambaraken dhiri minangka ‘bangsa ingkang suci, ingkang nggadahi manah lan tumindak sae dhateng sesami, kalebet dhateng bangsa sanes (ay, 34), ugi kalebet dhateng sedaya tiyang ingkang moyoki bangsa Israel!’
Wonten satengahing gesang bebrayatan lan ing satengahing masyarakat, bangsa Israel kedah mbudidaya ngicalaken raos serik dhateng tiyang ingkang moyoki. Bangsa Israel boten pikantuk males piala kanthi piala! Tinimbang reraosan ing wingking lan nyebar fitnah, langkung prayogi menawi ngudhar raosing manah kanthi jujur lan tinarbuka sarta ngrampungaken prakawis kanthi aben ajengan kaliyan tiyang wau. Kanthi makaten, gesang tentrem rahayu saged kawujudaken! Bangsa Israel kedah sinau supados saged ngapunteni kalepataning tiyang sanes! Tumraping para hakim, Gusti Allah ngersakaken supados para hakim saged mutusaken prakawis kanthi adil, titis, lan boten kapilut dening pambujuking tiyang-tiyang ingkang saweg nggadhahi prakawis ing pengadilan.
Sedaya punika minangka wujuding gambaran dhiri tiyang Israel: ‘bangsa ingkang suci, elok budinipun lan elok tumindakipun!’
Paulus – sinarengan para mitranipun – lan pasamuwan ing Tesalonika ugi mujudaken kaelokaning gesang. Nalika martosaken Injil ing Tesalonika (kacariyosaken ing Lelakone Para Rasul 16: 1-9), Paulus kadakwa damel rerusuh lan ngudi kauntungan dening tiyang-tiyang ingkang serik dhateng pawartosing Injil. Mila wonten ing seratipun, Paulus negesaken bilih piyambakipun boten nggadhahi pangangkah ngudi rajabrana utawi pamujining tiyang sanes nalika martosaken Injil! Paulus rumaos bingah nalika pasamuwan ing Tesalonika pitados dhateng Paulus lan nulungi piyambakipun satemah saged kauwalaken saking pamoyoking tiyang-tiyang ingkang serik wau! Punika ingkang sangsaya ndadosaken Paulus kepingin sesambetan kaliyan pasamuwan kanthi raket lan kanthi tulusing manah, sami tulung tinulung ing bot-repot! Katresnan ingkang sayektos tuwuh ing antawisipun Paulus lan pasamuwan!
Pasamuwan ingkang kinasih,
Sangsaya cetha kangge kita bilih gambaran dhiri punika boten namung ketingal sae ing njawi nanging tanpa isi! Kathah tiyang ingkang ngetingalaken gambaran diri minangka tiyang alus lan remen tetulung, nanging sejatosipun namung lamis. Ingkang dipun-angkah inggih punika pamuji saking tiyang sanes, rajabrana lan kadrajadan! Paulus lan bangsa Israel paring tuladha kadospundi nresnani sesami kanthi jujur lan tulusing manah, tanpa lamis! Anamung mijil saking lebeting manah lan kelair kanthi tumindak nyata! Saestu mujudaken kaelokaning gesang!
Pasamuwan ingkang kinasih,
Bok menawi ingkang dados pitakenan ing manah kita inggih punika: kadospundi patrapipun supados nggadahi gambaran dhiri ingkang sae, elok ing budi lan elok ing tumindak? Boten cekap menawi namung kandheg ing pamikir lan kaucap ing lathi. Contonipun: “Oh, yen ngono aku kudu tansah mikirake yen aku ki wong apik lan seneng tetulung. Lan aku kudu mujudake kanthi tumindak nyata.” Punika pancen pambudidaya ingkang sae! Tiyang-tiyang ingkang wicaksana ing TV asring paring seserepan supados kita nggadahi pikiran sae supados gambaran diri kita sae satemah tindak tanduk kita ugi sae! Namung menawi cekap makaten kemawon, pondhasinipun ringkih! Nalika dipun-poyoki utawi dipun-patrapi siya-siya dening tiyang sanes, kita asring lajeng nepsu, emosi, lan nggadahhi pepinginan males tumindakipun tiyang kadosdene ingkang kita sampun katandukaken dening tiyang sanes dhateng kita!
Juru Mazmur mulang muruk dhateng kita bilih pondhasi kaelokaning gesang kedah dipun-bangun kanthi sesambetan ingkang raket kaliyan Gusti Allah sarta nresnani titahipun Gusti. Kadosdene wit-witan ingkang wonten ing sapinggiring toya ingkang tansah kaparingan tetedhan saking toya punika, makaten ugi Juru Mazmur pinaringan sabdaning Gusti lan kasagedaken nindakaken pangandikanipun. Sinaosa piyambakipun dipun-poyoki dening tiyang duraka, nanging Gusti Allah ngiyataken piyambakipun supados boten males tumindakipun tiyang-tiyang wau kadosdene ingkang dipun-tampeni Juru Mazmur! Gusti Allah njageni supados manahipun tansah tulus lan tansah luhur budinipun! Lan, kangge Juru Mazmur, gesang ingkang kados makaten punika ingkang kasebat rahayu ingkang sejatos!
Para sedherek,
Sumangga kita nggadhahi gambaran dhiri ingkang sae
supados kita ugi saged tumindak sae dhateng sesami,
Sumangga tansah kita lairaken ing manah kita bilih manah lan tindak tanduk kita kedah elok,
Sumangga ngraketaken sesambetan kita kaliyan Gusti Allah lan nresnani titahipun Gusti,
Namung awit saking kekiyatanipun Gusti, kita kasagedaken nresnani sesami kanthi elok
Wasana, sumangga kita sami nggegilut geguritan ing ngandhap punika:
“Neng dalan aku weruh kenya alit
Kadhemen njedhindhil awit klambine kang tipis,
Ngarep-arep sethithik panganan lan omben.
Aku matur dhumateng Gusti:
“Kenging punapa Paduka mendel kemawon?
Kenging punapa Paduka boten tumindak punapa-punapa?”
Sawetara Gusti mendel.
Nanging ing wayah wengi, dumadakan Gusti mangsuli:
‘Aku uwis tumindak.’
Aku nitahake sira.”
(Kapendhet lan kasalin basanipun saking buku Chiken Soup for The Christian Soul 2)
Sugeng nresnani sesami.
Amin.
v Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih rahmat : 1 Petrus 1: 18-19
Pitedhah Gesang Anyar : 1 Petrus 3: 15-17
Pangataking Pisungsung : Ibrani 13: 15-16
v Rancanganing Kidung Pamuji:
Kidung Pamuji : KPK. 25: 1, 3
Kidung Panelangsa : KPK. BMGJ. 50: 1-2
Kidung Kesanggeman : KPK. BMGJ. 165: 1, 4-5
Kidung Pisungsung : KPK. BMGJ. 185: 1-3
Kidung Panutup : KPK. BMGJ. 304: 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011
Pekan Biasa Ke Tiga Puluh Satu (Hijau)
KELUARGA YANG MENGHADIRKAN PEMIMPIN SEJATI
Bacaan I: Mikha 3:5-12; Tanggapan: Mazmur 43;
Bacaan II: I Tesalonika 2:9-13; Bacaan III: Injil Matius 23:1-12
v Dasar Pemikiran
Dunia ini membutuhkan pemimpin sejati. Sudah terlalu banyak sosok pemimpin yang hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya-bahkan malah menindas orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan sejati bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan hadir melalui proses pembentukan. Keluargalah wadah yang tepat untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati.
v Keterangan Tiap Bacaan
Mikha 3:5-12
Nabi Mikha menubuatkan peringatan Tuhan kepada para nabi yang korup dan pemimpin umat yang lalim. Tuhan akan mempermalukan para pemimpin yang menipu dan menindas umat demi mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tuhan akan meninggalkan pemimpin-pemimpin yang seperti itu, dan akan membiarkan mereka mengalami kegagalan.
Mazmur 43
Mazmur ini menggambarkan doa seorang yang mengalami kesesakan akibat penindasan, ketidakadilan, penipuan, dan kecurangan yang menimpanya. Di tengah kesesakannya yang dialaminya itu, ia mengharapkan kasih setia Tuhan mewujud untuk menuntun dan membawanya ke tempat kediaman Tuhan, menyatakan sukacita dan syukurnya.
I Tesalonika 2:9-13
Kesaksian Rasul Paulus tentang pelayanannya bukanlah untuk menyombongkan diri. Kendati pun memang Paulus bekerja keras menghidupi diri sekaligus membiayai pelayanannya, namun ia menyatakan kesalehan dan ketekunannya itu sebagai cara memberi teladan dan memotivasi umat untuk hidup sesuai kehendak Allah. Ia berharap, apa yang diajarkannya dapat diterima sebagai firman Allah.
Injil Matius 23:1-12
Kendati Yesus mengakui otoritas para ahli Taurat dan orang Farisi (“kursi Musa”), namun Ia menyadari, perilaku mereka tak bisa diteladani. Jadi, jalan keluar yang cerdaslah yang Yesus tawarkan: turuti ajarannya, tapi jangan contoh kelakuannya. Bagi Yesus, kepemimpinan bukanlah soal memerintah atau menguasai, melainkan keteladanan. Lebih jauh, Yesus menganjurkan hubungan kesetaraan (relasi egaliter) di antara para pengikut-Nya – layaknya sebuah keluarga. Pemimpin sejati adalah yang mau melayani.
Renungan Atas Bacaan
Siapa sih yang mau dipimpin oleh seorang yang bisanya hanya memerintah ini dan itu? Apalagi kalau yang diberi wewenang untuk memimpin itu hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya sendiri.
Nabi Mikha merasakan situasi yang tidak beres terjadi di tengah umat: para penguasa dan imam hanya mau bekerja dan mengajar kalau ada bayarannya. Bahkan para nabi menyampaikan pesan yang baik-baik hanya kepada mereka yang mau memberi imbalan. Atas pemimpin korup, menipu, dan menindas seperti itu, Nabi menyampaikan peringatan bahwa Tuhan takkan tinggal diam. Para pemimpin yang menipu umat akan dipermalukan, bahkan akan ditinggalkan Tuhan.
Kepemimpinan memiliki dua sisi yang sama penting: ajaran dan teladan. Keduanya harus sinkron. Kalau ajarannya bagus, tapi orang yang mengajarkan tak menunjukkan hidup baik sesuai apa yang diajarkannya, apakah pemimpin seperti itu bisa diteladani? Ajarannya sih boleh diamini dan dituruti, tapi sosok pemimpin seperti itu ya jangan ditiru. Pemimpin yang benar adalah yang tidak mengejar pujian, sanjungan, atau jabatan, melainkan yang mau melayani dan menjadi saudara. Sebagaimana Rasul Paulus, kendati pun hidupnya saleh dan tekun tak bercela, ia tak ingin dipandang sebagai pemimpin atau penguasa. Malahan, ia menerima umat sebagai keluarganya – sebagai anak-anaknya sendiri.
Bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah ada suasana saling melayani satu sama lain? Bukankah sebagai orang tua, sebagai pemimpin, kita justru harus lebih dulu melayani anak-anak kita? Dengan demikian, mereka akan meneladani sikap kita, hingga kelak bisa menjadi pemimpin yang baik di tengah keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakatnya.
Harmonisasi Bacaan Leksionari
Pemimpin adalah pelayan dan teladan, itulah ajaran Yesus. Orang yang disebut pemimpin tapi tak mau melayani, atau hanya mau melayani kalau ada imbalannya, seperti kritik Nabi Mikha, bukanlah pemimpin sejati. Sosok Rasul Paulus yang mandiri, saleh, dan tekun adalah sosok pemimpin yang baik, kendati ia lebih suka disebut sebagai ‘bapa’.
Pokok dan Arah Pewartaan
Keluarga Kristen senantiasa menganut nilai-nilai kasih, keteladanan, dan pelayanan tanpa pamrih. Dengan demikian, sesungguhnya keluarga adalah wadah ideal untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati.
v Khotbah Jangkep
Saudara-saudara terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
| D |
alam pergaulan sehari-hari, kita sering mendengar istilah “jarkoni” – kependekan dari “bisa ujar, nanging ora bisa nglakoni”. Bisa mengajarkan, tetapi tidak bisa menjalankan. Istilah ini biasanya muncul dalam obrolan kita tentang sosok orang yang senang memberikan nasehat atau pengajaran yang baik dan mulia, namun dalam kenyataan, hidupnya sendiri jauh dari apa yang dinasehatkan atau diajarkannya itu.
Apabila seorang yang mendapat predikat “jarkoni” itu menjadi seorang pemimpin, dapat diduga bahwa ia akan menjadi pemimpin yang senang memberi instruksi atau perintah, namun tak pandai menjalankan apa yang diinstruksikan atau diperintahkannya sendiri. Biasanya, pemimpin seperti itu malahan hanya akan menimbulkan kesusahan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jika ini terjadi di kantor, staf atau bawahannya akan merasa tertekan, karena mereka sering disuruh ini-itu, atau dilarang ini-itu, tapi sang pemimpin sendiri tidak melakukan atau mematuhi perintah dan larangannya.
Jemaat Tuhan yang terkasih,
Pada zaman Nabi Mikha, ada situasi yang sangat memprihatinkan terjadi di tengah-tengah umat. Para pemimpin berlaku tidak adil dan memutarbalikkan kebenaran demi mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. Digambarkan oleh Mikha, para imam hanya mau memberikan pengajaran, kalau ada imbalan atau bayarannya. Para nabi merekayasa nubuatan mereka-yang baik-baik disampaikan kepada yang bisa memberi uang, sementara yang jelek-jelek diberikan kepada mereka yang tidak mampu memberi imbalan.
Bisa dibayangkan, betapa kacaunya kehidupan keimanan umat Tuhan saat itu. Umat merasa diperlakukan tidak adil, dicurangi, dan ditindas. Mereka merasa tak berdaya, dan hanya dapat mengharapkan pertolongan dan kasih setia Tuhan. Atas kondisi kepemimpinan yang carut marut seperti itu, Nabi Mikha memberikan peringatan keras. Tuhan tidak akan tinggal diam. Para pemimpin yang korup dan menindas umat akan dipermalukan, bahkan akan ditinggalkan oleh Tuhan dan oleh umat.
Bukan tanpa alasan kalau umat meninggalkan pemimpin yang tak mampu menjadi teladan. Yesus sendiri mengajarkan bahwa antara ajaran dengan keteladanan adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Itulah sebabnya Yesus memperingatkan para murid tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Meskipun apa yang mereka ajarkan baik, namun itu semua tidaklah berguna kalau tidak diwujudkan dalam teladan hidup yang baik. Bahkan, Yesus mengkritik keras para pemimpin agama itu, yang suka mencari sanjungan dan pujian dengan memamerkan hal-hal lahiriah seperti pakaian sembahyang dan sebutan “rabi” atau “guru”.
Lebih jauh, Yesus mengajarkan bahwa suasana yang perlu dibangun di tengah kehidupan umat adalah suasana kekeluargaan dan persaudaraan, di mana ada kerendahan hati dan kesediaan untuk saling melayani. Dalam suasana seperti itulah kepemimpinan hadir melalui keteladanan. Siapa yang paling ikhlas melayani sesamanya, dialah yang layak disebut pemimpin.
Sikap inilah yang ditunjukkan oleh Rasul Paulus kepada umat di kota Tesalonika. Rasul Paulus menyampaikan secara gamblang bahwa sebagai rasul, ia tak mengharapkan imbalan bagi pelayanan atau pengajarannya. Bahkan, walaupun ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan pribadi dan kebutuhan pelayanannya, sama sekali Paulus tak berharap untuk dipandang sebagai seorang pemimpin. Ia lebih suka memanggil umat Tuhan sebagai “saudara”. Bahkan Paulus lebih suka menyebut umat di kota Tesalonika sebagai anak-anaknya. Sebagai satu keluarga. Keluarga Tuhan!
Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Tuhan,
Tidak ada yang lebih kita dambakan dalam kehidupan masyarakat maupun persekutuan kita, selain memiliki pemimpin yang sejati. Pemimpin yang memberikan ajaran-ajaran yang baik, dan di saat yang sama juga menampilkan kehidupan sehari-hari yang baik, yang bisa dicontoh atau diteladani.
Namun, kualitas pemimpin yang demikian bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui proses pendidikan dan pembinaan yang tidak mudah. Ini berarti, kalau seorang pemimpin diharapkan untuk selalu melayani sesamanya, ia harus terlebih dulu terbiasa hidup dalam situasi dan kondisi di mana orang-orang saling melayani. Kalau seorang pemimpin diharapkan untuk bisa menjadi teladan, maka itu berarti ia pun perlu dibesarkan dalam suasana di mana orang-orang saling memberi teladan satu sama lain.
Saudaraku, kalau Yesus mengajarkan kita menjadi saudara satu sama lain, dan Rasul Paulus pun memberikan teladan kepemimpinan dengan menjadi bapak bagi umat di Tesalonika, saya kira kita bisa menyimpulkan, bahwa tak ada wadah lain yang lebih tepat untuk menghadirkan sosok pemimpin sejati, selain keluarga. Dalam keluarga, khususnya keluarga Kristen, setiap anggota keluarga diajar untuk selalu mengamalkan nilai-nilai kasih, keteladanan, dan pelayanan tanpa pamrih: istri melayani suami dengan penuh kasih sayang, suami melindungi istri dengan sepenuh hati, anak pun dibiasakan untuk hormat, patuh, dan melayani kedua orang tuanya dengan penuh kerelaan dan sukacita.
Dalam hal keteladanan, sebagai pemimpin keluarga, ayah dan ibu hendaknya senantiasa memberikan pengajaran dan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Jangan sampai sebagai orang tua kita justru memberi contoh buruk, atau mengatakan kepada anak kita, “Le, aja melu-melu bapak-ibumu iki, bapak-ibumu ora isa dadi tulada.” Dalam keluarga, tidak bisa tidak, anak belajar dari perilaku orang tuanya. Ketika orang tua memberikan contoh perilaku yang tidak baik, maka anak pasti akan menirunya. Sebaliknya, kalau ayah dan ibu memperlihatkan tutur kata, sikap, dan perilaku yang baik, sopan, dan penuh kemurahan hati, maka anak pun juga akan meneladaninya. Dan kebiasaan anak meneladani yang baik dari orang tuanya inilah yang akan membentuk karakternya menjadi pemimpin yang baik kelak di masa depan.
Bapak, Ibu, dan Saudaraku yang terkasih,
Dunia ini membutuhkan pemimpin sejati. Sudah terlalu banyak sosok pemimpin yang hanya bisa memerintah, tapi tak bisa menjalankan apa yang diperintahkannya – bahkan malah menindas orang yang dipimpinnya. Kita merindukan pemimpin yang rendah hati, mau melayani, dan yang kehidupan sehari-harinya bisa kita teladani. Namun demikian, kita menyadari bahwa kepemimpinan sejati bukanlah bawaan sejak lahir, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui proses pendidikan dan pembinaan yang baik.
Keluarga Kristen memiliki potensi untuk menghadirkan sosok pemimpin yang sejati yang kita dambakan bersama. Nah, bagaimana dengan keluarga kita? Sudahkah ada suasana saling melayani satu sama lain? Sebagai suami-isteri dan sebagai orang tua, sudahkah panjenengan dan saya melayani pasangan dan anak-anak kita dengan baik? Sebagai orang tua, sudahkah tutur kata, sikap, dan perilaku kita sehari-hari bisa diteladani oleh anak-anak kita?
Saudaraku, mari membangun keluarga yang Tuhan kehendaki – di mana ada kerelaan untuk saling melayani, di mana ada komitmen untuk saling memberi teladan yang baik. Keluarga yang menghadirkan sosok pemimpin yang sejati. Tuhan pasti memampukan kita. Amin.
v Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah : I Yohanes 1:7-9
Petunjuk Hidup Baru : I Petrus 5:2-4
Dasar Persembahan : I Yohanes 3:16-18
v Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembukaan : KJ 338:1-3
Nyanyian Pengakuan : KJ 467:1-3
Nyanyian Kesanggupan : KJ 466a:1,2,4
Nyanyian Persembahan : KJ 365b:1-… (secukupnya)
Nyanyian Penutup : KJ 451:1-2
Khotbah Jangkep Minggu, 30 Oktober 2011
Pekan Biasa Kaping Tigang Dasa Setunggal (Ijo)
BRAYAT INGKANG NGLAIRAKEN PEMIMPIN SEJATI
Waosan I: Mikha 3:5-12; Tanggapan: Jabur 43;
Waosan II: I Tesalonika 2:9-13; Waosan III: Injil Mateus 23:1-12
v Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus,
| W |
onten ing pasrawungan, asring kita pireng tembung: “jarkoni” cekakan saking “bisa ujar ora bisa nglakoni”. Saged mulangaken nanging boten saged nindakaken. Tembung punika asring pianggih nalika wontening rerembagan ing bab tiyang ingkang remenipun suka pitutur utawi piwulang ingkang sae lan mulya, ananging ing kasunyatan, gesangipun piyambak tebih saking pitutur lan piwulangipun wau.
Manawi tiyang ingkang pikantuk sebatan “jarkoni” wau dados pemimpin, saged kininten bilih piyambakipun badhe dados pemimpin ingkang namung wasis nyukani pitedah, nanging piyambakipun boten wasis nglampahi punapa ingkang dipun tedahaken piyambak. Padatan tiyang ingkang makaten punika badhe ndhatengaken kasisahan piyambak tumraping tiyang ingkang dipun pimpin. Manawi punika kalampahan ing kantor, andhahanipun badhe rumaos kapeteg, jalaran piyambakipun asring dipun dadosaken kengkenan kangge nindakaken maneka warni utawi dipun awisi ing bab ingkang warni-warni, nanging pemimpinipun boten nglampahi lan netepi pranatan lan awisanipun.
Pasamuwan ingkang kinasih,
Ing jamanipun nabi Mikha, wonten kaprihatosan ingkang sinanggi dening umat Israel. Para pamimpinipun tumindak boten adil lan ngingeraken kautamen namung kangge mbujeng dhateng kauntunganing dhiri pribadi. Dipun gambaraken dening nabi Mikha, para imam purun memulang manawi wonten pamrihipun. Para nabi ngrekadaya pameca, pawarta ingkang sae kapratelakaken dhateng ingkang saged nyukani arta, dene pawarta ingkang awon utawi boten sae kaparingaken kangge ingkang boten saged nyukani arta.
Saged dipun-raosaken kados pundi risakipun kapitadosan umat kala samanten. Umat kapatrapan tumindak boten adil, dipun damel tuna tuwin katindhes. Umat lajeng rumaos tanpa daya, umat namung ngandelaken dhateng pitulunganipun Gusti. Tumrap kawontenan ingkang boten nengsemaken wau, nabi Mikha paring pepenget kanthi keras. Gusti boten badhe mendel. Pamimpin ingkang boten adil lan nindhes badhe kadamel kucem, lan katilaraken dening Gusti lan umat.
Boten tanpa pawadan yen umat nilaraken pamimpin ingkang boten saged dados patuladhan. Gusti Yesus mulangaken bilih piwulang kaliyan patuladhan punika kadosdene arta keping ingkang gadhah sisih satunggal anempel ing satunggalipun. Inggih punika sababipun Gusti Yesus ngengetaken para sakabat ing bab para ahli Toret lan tiyang-tiyang Parisi. Sanadyan ingkang kawulangaken punika sae, nanging badhe tanpa gina manawi boten kababar ing patuladhan ingkang sae. Gusti nyaruwe kanthi tajem dhateng para pangagenging agami Yahudi wau, ingkang remen nampi pangalembana kanthi mameraken gebyar tata lair kados ta ngagem ageman pandonga lan remen sinebat “rabi” utawi “guru”
Linangkung saking punika, Gusti mulang bilih swasana ingkang prelu kawangun ing tengahing gesangipun umat inggih punika swasananing brayat lan pasedherekan, ing ngriku wonten andhap asoring manah lan silih-angladosi. Inggih ing swasana ingkang makaten punika, sesipataning pamimpin saged kalairaken lumantar patuladhanipun. Sinten ingkang tuhu iklas ngladosi, inggih punika ingkang pantes dados pamimpinipun.
Patrap ingkang kados makaten punika ingkang kapratelakaken dening Rasul Paul dhateng pasamuwan ing Tesalonika. Rasul Paul nguningakaken kanthi gamblang bilih anggenipun madeg dados rasul boten ngudi dhateng pamrih. Dene manawi piyambakipun leladi kanthi tumemen kangge kabetahanipun piyambak lan pakaryaning paladosanipun, punika kemawon boten kepingin dipun anggep pamimpin. Piyambakipun langkung remen nyebat umatipun Gusti minangka sadherek, dene tumrap pasamuwan ing Tesalonika sinebat para anakipun. Minangka satunggal brayat, inggih punika brayatipun Gusti.
Pasamuwan ingkang kinasih,
Boten wonten ingkang saged langkung saking kita sesuwun wonten ing masyarakat utawi patunggilan kita, kejawi ndarbeni pamimpin ingkang sejati. Pamimpin ingkang mulangaken piwulang sae, ananging inggih sesarengan kababar kanthi sae ing gesang padintenanipun, ingkang saged tinuladha
Ananging patraping pamimpin ingkang kados makaten punika sanes sesipatan ingkang kabekta saking wiwit lairipun, nanging pinangka satunggaling wewangnan ingkang kawangun lumantar wekdal, panggulawenthah inkang boten gampil. Punapa nelakaken bilih satunggaling pamimpin ingajab saged ngladosi sesaminipun. Piyambakipun pancen kedah sampun kulina gesang ing tengahing kawontenan ing pundi sadaya tiyang sami dene kulina silih-angladosi. Manawi satunggaling pamimpin dipun gegadhang saged dados patuladhan, punika ateges piyambakipun prelu dipun agengaken wonten ing swasana ing pundi para tiyangipu sami suka patuladhan.
Pasamuwan ingkang kinasih,
Manawi Gusti Yesus mulang dhateng kita supados samidene nganggep sadherek ing antawis kita, tuwin Rasul Paul paring patuladhan menggahing pamimpin kanthi dados bapakipun pasamuwan ing Tesalonika, kinten kula kita saged mendhet sarinipun, bilih boten wonten wadhah sanesipun ingkang trep kangge mbabaraken papmimpin sejati, kejawi brayat. Wonten ing brayat, mirungga brayat Kristen, saben warganing brayat tansah ginulang lan mbabaraken aosing katresnan, patuladhan, lan paladosan tanpa pamrih. Samidene leladi ing antawising warga brayat, para lare kulina asung pakurmat, mituhu lan ngladosi tiyang sepuhipun kanthi sukarena.
Ing babagan patuladhan, pinangka pamimpining brayat, bapa lan ibu prayoginipun tansah paring piwulang lan patuladhan ingkang sae kangge para putra. Sampun ngantos kalampahan kita tiyang sepuh paring tuladha ingkang awon, utawi ngendika dhateng anak: “Le, aja-melu-melu bapak-ibumu iki, bapak-ibumu ora bisa dadi tuladha.” Wonten ing brayat purun boten purun si anak badhe niru patrap pandamelipun tiyang sepuh. Nalika tiyang sepuh paring tuladha patrap ingkang boten sae, temtu si lare badhe makaten niru wontenipun. Kosok wangsulipun, manawi bapak ibu nelakaken kedaling lesan ing tutur pangandikan, patrap, solah bawa, sopan santun, mbabar manah ingkang adil paramarta, lare badhe nulad. Pakulinanipun anak nulad ingkang prayogi saking tiyang sepuhipun punika ingkang badhe mangun patraping anak dados satunggaling pamimpin ingkang sae benjing ing wekdal ngajeng.
Bapak, Ibu, lan Para Sadherek ingkang kinasih,
Donya punika mbetahaken pamimpin sejati. Sampun kekathahen cakriking pamimpin ingkang namun saged dhawuh, ananging boten saged nindakaken punapa ingkang dipun-dhawuhaken, kepara nindhes tiyang ingkang dipun pimpin. Kita ngajeng-ajeng dhateng pamimpin ingkang andhap asor, purun ngladosi, lan ingkang ing gesang padintenanipun saged tinuladha. Sandyan makaten, kita nglenggana bilih pamimpin sejati boten jumedhul saking lairipun, ananging satunggaling lakuning gesang ingkang kawangun lumantar panggulawenthahing brayat ingkang sae.
Brayat Kristen, ndarbeni wewengan kangge nglairaken stunggaling pamimpin ingkang sejati ingkang dipun ajeng-ajeng dening akathah. Lah, lajeng kadospundi menggahing brayat kita? Punapa sampun wonten sikep samidene lados-linadosan ing antwaising satunggal lan satunggalipun? Minangka tiyang ingkang jejodhoan, minangka tiyang sepuh, punapa sampun kita babar patuladhan ingkang sae lan prayogi? Minangka tiyang sepuh punapa sampun kanthi pangandikan, patrap lan tumindak ing padintenan yekti saged tinuladha dneing para anka kita?
Pasamuwan ingkang kinasih,
Sumangga kita amangun brayat ingkang dipun kersakaken dening Gusti, ing pundi wonten raos rila kangge silih-angladosi, wonten tetangsulaning sedya badhe tansah samidene suka patuladhan ingkang sae. Inggih brayat ingkang sumanggem nyawisaken pamimpin ingkang sejati.
Gusti temtu nyagedaken kita. Amin.
v Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat :
Pitedah Gesang Enggal :
Nats Pisungsung :
v Rancangan Kidung Pamuji :
Kidung Pambuka : KPK
Kidung Panelangsa : KPK
Kidung Kesanggeman : KPK
Kidung Pisungsung : KPK
Kidung Penutup : KPK

Untuk memeriahkan acara Ulang Tahun gereja yang ke 30. diadakan rangkaian acara berupa :
1. Lomba Futsal
2. Lomba Bulu Tangkis
3. KPR
4. Lomba Paduan Suara
5. Aksi Sosial
sebagai penutup pada Tanggal 1 Oktober 2011 diadakan Ibadah raya dan dilanjutkan Pagelaran Wayang Kulit oleh KI. Purbo Asmoro, S.kar, M.Hum dengan lakon BIMO SUCI. dan disiarkan langsung RRI Surakarta.
KHOTBAH JANGKEP
BULAN
SEPTEMBER – 2011
Daftar isi
Khotbah Jangkep Minggu, 4 September 2011
Pekan Biasa Dua Puluh Tiga (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
FIRMAN MENYATAKAN KESALAHAH DAN KEBENARAN 122
Khotbah Jangkep Basa Jawa
PANGANDIKANE GUSTI NEDAHAKEN KESALAHAN LAN KABENERAN -127
Oleh Pdt. Wahyu Nirmala
Khotbah Jangkep Minggu, 11 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua puluh Empat (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
HIDUP UNTUK TUHAN 131
Khotbah Jangkep Basa Jawa
GESANG KANGGE GUSTI 137
Oleh Pdt. Dwi Aryanto
Khotbah Jangkep Minggu, 18 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua puluh Lima (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
HIDUP BERARTI MEMBERI BUAH 140
Khotbah Jangkep Basa Jawa
GESANG NUWUHAKEN WOH 147
Oleh Pdt. Dwi Aryanto
Khotbah Jangkep Minggu, 25 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Enam (Hijau)
Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia
TUHAN MEMIMPIN HIDUPKU 150
Khotbah Jangkep Basa Jawa
GUSTI PEMIMPIN KULA 156
Oleh Pdt. Uri Christian Sakti Labeti
Khotbah Jangkep Minggu, 4 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Tiga (Hijau)
FIRMAN MENYATAKAN
KESALAHAN & KEBENARAN
Bacaan I: Yehezkiel 33:7-11; Tanggapan: Mazmur 119:33-40;
Bacaan II Roma 13:8-14, Bacaan III: Injil Matius 18:15-20
Tujuan:
Jemaat menyadari bahwa mengingatkan saudara seiman adalah bagian tugas pelayanan. Kasih harus menjadi dasar ketika kita mengingatkan sesama, sehingga relasi yang baik bisa dipulihkan dalam persekutuan.
Dasar pemikiran
Saling menjaga dan mengingatkan adalah tugas pelayanan kita. Namun seringkali proses ini malah menimbulkan masalah baru. Kita tidak cukup mempersiapkan diri untuk melakukan itu dan, terlebih lagi, kita seringkali tidak cukup berani untuk melakukannya.
Penjelasan Tiap Bacaan
Yehezkiel 33:7-11
Yehezkiel diingatkan kembali akan tugas panggilannya sebagai penjaga umat Allah, yaitu mengingatkan Israel untuk bertobat dan kembali kepada jalan Allah. Panggilan ini penting karena berkaitan dengan nyawa (kehidupan kekal). Ketika tugas menjaga/mengingatkan itu tidak dilakukan, Allah akan menuntut tanggung jawab Yehezkiel atas kematian umat-Nya. Namun jika sudah dingatkan tetap tidak bertobat, Yehezkiel diselamatkan oleh tindakannya mengingatkan.
Disini kita belajar, bahwa pada titik tertentu kita juga penjaga akan saudara kita. Bahwa kita memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan, tentu dalam kapasitas kita sebagai manusia yang tidak sempurna juga. Seperti juga Tuhan tegaskan bahwa meski Yehezkiel dipanggil sebagai penjaga, dia tetap manusia. Ini terungkap dengan penggunaan kata “kamu“, yang merujuk pada kefanaan manusia. Dengan demikian kita akan mengingatkan sesama tanpa terjatuh pada penghakiman pada sesama, karena pada hakikatnya kita juga sama sama sebagai orang berdosa.
Mzm 119:33-40
Merupakan ungkapan permohonan Daud supaya senantiasa diajar dan dimampukan untuk selalu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam proses ini terlihat Daud sangat mengandalkan Tuhan. Jelas dalam kata-kata ajarlah, buatlah mengerti, biarlah, condongkanlah, dst. Semua kata itu menempatkan Allah sebagai yang aktif untuk melakukan perbuatan tersebut.
Roma 13:8-14
Rasul Paulus mengingatkan mengenai kasih sebagai energi yang mendasari setiap usaha untuk melakukan kehendak Tuhan. Rasul Paulus menganggap jemaat Roma tidak terikat lagi pada hukum taurat, melainkan hukum kasih. Namun Rasul Paulus prihatin karena kehidupan jemaat tidak sesuai dengan hukum kasih (ayat 9). Rasul Paulus memberikan petunjuk praktis untuk menjalankan kasih dan menyatakan bahwa hal itu harus dilakukan segera, tidak ditunda lagi.
Injil Matius 18:15-20
Di sini kita menemukan semacam petunjuk praktis mengenai tugas sebagai penjaga yang mengingatkan sesama. Selain itu juga tentang pentingnya persekutuan, sehingga tindakan mengingatkan harus dilakukan dalam persekutuan yang indah.
Harmonisasi bacaan
Manusia rentan melakukan kesalahan. Oleh karena itu Allah menunjuk hamba-Nya untuk menjaga dan mengingatkan umat-Nya. Perkembangan selanjutnya tugas sebagai penjaga harus juga dilakukan oleh semua orang. Terlebih dalam sebuah persekutuan, harus saling mengintakan.
Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
S
uatu kali ada seorang pejabat tinggi yang dihadapkan pada sebuah pilihan. Dia harus memilih (tentu karena ada kesempatan) korupsi uang milyaran rupiah, atau tidak. Dia kemudian berpikir keras, menimbang-nimbang, sampai akhirnya dia memutuskan untuk melakukan tindakan korupsi. Pertimbangannya demikian, ”Saya selama ini selalu jujur. Sekali-kali bolehlah korupsi. Apalagi jumlahnya lumayan. Lagipula sebentar lagi saya ‘kan pensiun. Yah, mumpung masih ada kesempatan. Nanti kalau sudah pensiun kan tidak bisa lagi.” Ketika memutuskan melakukan korupsi, dia berpikir bahwa dia harus mencuci uangnya, ”Saya harus memberikan sejumlah uang untuk gereja, supaya saya tidak terlalu berdosa.”
Di sisi lain, gereja tempat dia menjadi jemaat sedang membangun dan tentu membutuhkan dana yang besar. Uang sumbangan pejabat itu jumlahnya besar. Tentu akan sangat berguna. Namun di sisi lain pendeta dan jemaat tahu bahwa uang itu adalah hasil korupsi. Nah, bagaimana ini? Diterima atau tidak? Uang itu dibutuhkan. Kalau ditolak, tidak enak juga. Soalnya dia pejabat penting dan anggota jemaat yang aktif. Nanti tersinggung. Sementara kalau harus menolak bagaimana caranya?
Seandainya kita ada dalam posisi jemaat itu kira-kira apa keputusan kita? Sebenarnya kita sudah tahu harus bagaimana, tetapi tentu yang harus menjadi pertimbangannya adalah cara kita melakukannya supaya semua berakhir dengan baik. Pejabat itu menyadari kesalahannya dan tetap mau bersekutu sebagai anggota jemaat. Kira kira bagaimana ya?
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Dalam bacaan pertama kali ini, Yehezkiel diingatkan mengenai tugas panggilannya sebagai abdi Allah yang menjaga umat-Nya. Bahkah Yehezkiel diingatkan akan pentingnya tugas itu. Tugas itu menyangkut kehidupan. Mengingatkan adalah sebuah upaya menyelamatkan kehidupan umat Allah supaya mereka tidak binasa karena dosanya. Bukan hanya itu saja, perbuatan mengingatkan itu juga terkait dengan kehidupan Yehezkiel sendiri. Jika Yehezkiel tidak mengingatkan orang yang berdosa, Allah akan menuntut tanggung jawabnya.
Dari situ kita juga disadarkan bahwa menjadi tugas kita pula untuk mengingatkan sesama kita supaya selalu ada di jalan Tuhan. Mengingatkan tidak boleh diartikan sebagai sebuah hirarkis, bahwa yang mengingatkan lebih tinggi atau lebih baik. Proses mengingatkan harus dilakukan dalam kesadaran bahwa kita sendiri berpotensi melakukan kesalahan yang sama. Hal ini menjaga supaya kita tidak terjatuh pada penghakiman pada sesama kita. Sama seperti kesadaran Daud yang senantiasa mengharapkan Allah mengajar dan memelihara kehidupan imannya supaya tetap dijalan Allah.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Tindakan mengingatkan bukan hal yang mudah. Salah salah niat baik kita bisa menjadi persoalan baru. Untuk menjaga supaya tidak justru menghasilkan hal yang buruk, kita harus memperhatikan beberapa hal. Pertama-tama, mengingatkan saudara harus didasarkan pada kasih. Kepada jemaat Roma Rasul Paulus mengingatkan mengenai kasih sebagai energi yang harus mewarnai setiap tindakan keseharian. Oleh karena itu kasih harus dilajankan dalam sebuah strategi perbuatan praktis. Paulus menghubungkan hukum taurat dan hukum kasih Tuhan. Bagi Paulus, jemaat Roma tidak lagi terikat pada hukum Taurat, melainkan hukum Kasih. Namun Rasul Paulus merasakan keprihatinan karena kehidupan jemaat tidak sesuai dengan hukum kasih. Hal itu tampak dalam pelaksanaan tindakan yang sudah dikenal dalam hukum taurat, misalnya, perzinahan, pembunuhan, dst (ayt 9). Dengan demikian Rasul Paulus memberikan petunjuk praktis untuk menjalankan kasih. Kasih harus dilakukan dalam tindakan nyata yang sudah dikenal jemaat ada dalam hukum Taurat. Namun Rasul Paulus meberikan penekanan, bahwa hal itu jangan dilakukan hanya sebagai ketaatan semu pada (hukum) pemerintah, tetapi suatu tindakan yang muncul dari sumber kasih yang ada dalam hidup manusia. Begitu pula dalam melakukan panggilan kita mengingatkan sesama, harus didasari dengan kasih yang sesungguhnya.
Lantas bagaimana kita bisa mengingatkan dengan kasih? Mungkin hati kita memang dipenuhi dengan kasih ketika kita mengingatkan sesama. Namun itu saja belum cukup. Kasih tetap harus dilakukan dengan strategi yang benar. Kasih harus memperhatikan aspek psikologi, waktu, dan situasi.
Dalam Injil Matius kita diberikan petunjuk praktis. Sebagai usaha pertama, mengingatkan harus dilakukan secara empat mata. Seandainya belum berhasil, baru melibatkan orang lain. Di sini terlihat aspek kerahasiaan dan adanya penghargaan atas integritas sesorang. Jangan sampai suatu masalah menjadi konsumsi publik. Apalagi dalam budaya Jawa yang sangat terikat dengan budaya malu. Sedikit mungkin orang yang terlibat akan semakin baik untuk menyelesaikan masalah. Seandainya perlu melibatkan orang lain kita juga harus sangat berhati-hati memilih orang. Kalau sudah menyangkut malu, aib yang diketahui orang, akan menjadi sangat sulit untuk memulihkannya.
Oleh karena itu, dalam konteks persekutuan, tujuan akhir yang harus dipegang adalah pulihnya relasi setiap orang dalam sebuah persekutuan. Hal ini nampak dalam Injil Matius. Di situ dijelaskan mengenai persekutuan. Persekutuan yang melibatkan dua orang atau lebih akan lebih bisa menguatkan kehidupan kita. Bukan hanya tentang permintaan pada Tuhan, tetapi juga mengenai persekutauan dua orang atau lebih yang bisa saling mengingatkan satu dengan yang lain
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Hari ini kita dingatkan kembali akan tugas panggilan kita dalam persekutuan bersama, yaitu kita adalah pengingat untuk sesama kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga kehidupan persekutuan kita bersama. Kita diingatkan cara mengingatkan dengan kasih. Kita diingatkan untuk selalu sadar akan keberadaan diri kita yang sama-sama memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, sehingga ketika kita mengingatkan sesama, kita tidak terjatuh pada penghakiman. Ketika kita melakukannya karena kasih, kita pun menjaga kesederajatan dalam persekutan yang telah lebih dulu menerima pengampunan dan kasih Tuhan. Selamat saling menjaga. Tuhan menolong kita. Amin.
Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah :
Petunjuk Hidup Baru :
Nats Persembahan :
Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembuka :
Nyanyian Penyesalan :
Nyanyian Kesanggupan :
Nyanyian Persembahan :
Nyanyian Penutup :
Khotbah Jangkep Minggu, 4 September 2011
Pekan Biasa Kaping Tiga Likur (Ijo)
PANGANDIKANIPUN GUSTI
NEDAHAKEN KESALAHAN LAN KABENERAN
Waosan I: Yehezkiel 33:7-11; Tanggapan: Jabur 119:33-40;
Waosan II: Rum 13:8-14, Waosan III: Injil Mateus 18:15-20
Tujuan:
Pasamuwan paham bilih paring pemut sadherek patunggilan engkang nggadhahi lepat, menika salah satunggiling tugas kita. Katresnan kedah dados dhasar engkang kita tengenaken, saengga sesambetan engkang sae saged mulihaken adeging pasamuwan.
Khotbah Jangkep
Pasamuwan kinasih,
W
onten pejabat ingkang dipun aben-ajengaken dhateng satunggaling pilihan. Piyambak-ipun ing satengahing kawontenan ingkang ndayani nindakaken korupsi. Piyambakipun bingung, milih korupsi punapa boten. Tundhonipun, piyambakipun milih nindakaken korupsi kanthi pamanggih, “Aku yo durung nate korupsi kok, nembe pisan iki. Apa maneh sedhela maneh aku wis arep pensiun, mosok nyambut gawe jujur terus”. Piyambakipun sasampunipun korupsi ugi gadhah pangraos “Wah, kudu cuci uang iki, dosane ben ora kakehan, aku kudu pisungsung“. Nah!… Estu piyambakipun lajeng pisungsung kathah saking arta korupsi kalawau.
Ing sisih sanes pasamuwanipun bapak pejabat punika saweg nindakaken pembangunan lan renovasi gedhong Gereja. Arta pisungsung pejabat kala wau temtunipun saestu dipun betahaken. Pasamuwan pirsa bilih punika hasil korupsi. Nah, kados pundi punika? Dipun tampi punapa boten? Pasamuwan pancen betah arta, punapa malih menawi boten dipun tampi, sami ajrih menawi pejabat punika duka. Harus bagaimana ini?
Pasamuwan kinasih,
Kita minangka pasamuwan lajeng punapa ingkang badhe kita tindakaken? Sejatosipun kita sampun sumerep punapa ingkang kedah kita pilih. Nanging ingkang kedah dipun penggalihaken inggih punika kadospundi nindakaken pilihan punika supados sedayanipun saged sae. Pejabat kala wau boten duka lan malah saged nglengganani kalepatanipun.
Pasamuwan kinasih,
Ing waosan ingkang sepisan kita dipun-engetaken timbalan kita supados saged njagi lan ngemutaken sedherek kita ingkang dhumawah ing dosa supados saged mratobat. Ing waosan punika, Yehezkiel dipun-engetaken peladosanipun anggenipun njagi lan ngemutaken bangsa Israel. Bab ngemutaken lan njagi punika dipun gandhengaken kaliyan prakawis gesang, inggih punika kados pundi Yehezkiel njagi keslametan gesanging bangsa Israel, supados bangsa Israel boten sirna karana tumindak dosanipun. Langkung malih, kewajibanipun Yehezkiel ngemutaken bangsa Israel punika ugi sesambetan kaliyan gesangipun piyambak, awit Gusti badhe mundhut tanggel-jawabipun Yehezkiel anggenipun ngemutaken bangsa Israel ing dosanipun punika dipun tindakaken punapa boten.
Ngemutaken sedherek utawi sesami punika pancen sampun dados kewajiban kita sedaya ing satunggaling pasamuwan, supados sedaya pasamuwan tansah gesang ing salebeting kasetyan ing Gusti, tinebihaken saking sedaya tumindak nasar lan dosa. Tumindaking emut-ingemutaken punika kedahipun boten dados wujuding hirarkis, bilih ingkang ngemutaken punika langkung sae lan langkung inggil papanipun tinimbang ingkang dipun emutaken. Nalika kita ngemutaken tiyang sanes, kedahipun kita inggih ing salebeting pangertosan bilih sejatosipun kita punika ugi saged dhumawah dhateng dosa ingkang sami. Kanthi mekaten kita boten ngemutaken kanthi njeksani sesami kita, awit kita rumaos minangka tiyang dosa. Kados Dawud ingkang tansah nyenyuwun dhateng Gusti supados tansah memulang, lan njagi gesang kapitadosinipun tetep ing marginipun Gusti.
Pasamuwan kinasih,
Ngemutaken punika pancen sanes prakawis ingkang gampil. Menawi klentu ing panampi malah saged nuwuhaken dredah. Awit saking punika, ngemutaken kedah dipun landhesi katresnan. Katresnan punika mujudaken kekiyatan ingkang ndayani sedaya tumindak gesang kita, kalebet anggen kita ngemutaken sesami kita. Katresnan ugi kedah dipun tindakaken mawi cara lan tumindak ingkang leres. Rasul Paulus nggandhengaken bab nindakaken katresnan punika kaliyan angger-angger Toret. Sanadyan pasamuwan ing Rum dipun kuwaosi angger-anggering Toret, nanging dipun kuwaosi angger-angger katresnan, nanging kados pundi angger-angger katresnan punika dipun tindakaken saged dipun ukur kanthi tumindak ingkang ugi sampun dipun serat ing angger-angger Toret. Kanthi kaukur dening angger-angger Toret, cetha bilih gesanging pasamuwan ing Rum punika saestu boten nuhoni kersanipun Gusti. Laku jina, raja pati lsp., kelampahan ing pasamuwan ing Rum (ayat 9). Ing kawontenan punika, Paulus nedahaken bilih katresnan punika kedah dipun tindakaken kanthi tulus ing gesang padintenan. Katresnan sanes namung wujud kasetyan igkang lamis dhateng pamarintah, nanging dados kekiyatan ingkang ndayani sedaya tumindaking pasamuwan ing Rum. Mekaten ugi ing salebeting ngemutaken sesami, kedah dipun landhesi katrenan ingkang tulus.
Lajeng kados pundi kita nindakaken prakawis punika, ngemutaken kanthi tresna. Bok menawi manah kita sampun kebak ing katresnan, nanging punika dereng cekap. Ngemutaken kanthi katresnan ugi kedah dipun tindakaken kanthi cara ingkang trep ugi. Prelu nggatosaken perangan raos-pangraos, wekdal lan kahanan. Ing waosan Mateus bab punika sampun cetha, bilih nalika kita badhe ngemutaken sesami, kita wiwiti kanthi pirembagan empat mata. Nalika punika dereng kasil nembe kita nyuwun pitulunganipun tiyang sanes. (saksi, pasamuwan lsp). Rahasia/wadi dados bab ingkang wigati sanget, masalah ingkang kelampahan sampun ngantos dados konsumsi publik, awit punika saged nuwuhaken raos lingsem tumrap sedherek kita punika. Lan menawi sampun mekaten, manahipun badhe tatu, kecalan kapitadosan dhateng kita lan angel anggenipun badhe dipun-emutaken malih. Pramila ngemutaken sedherek ingkang lepat punika kedahipun matesi tiyang ingkang tumut cawe-cawe. Langkung sakedhik tiyang langkung sae. Mila, menawi empat mata dereng kasil, anggen kita milih tiyang sanes kangge tumut ngemutaken kedah ngatos-atos saestu. Kedah tiyang ingkang saged nyimpen wadi. Temahan anggen kita ngemutaken saged njalari sedherek kita punika wangsul lan ngrumaosi lepat kanthi tentrem, temahan pasamuwan kita ugi kabangun langkung sae malih.
Pasamuwan kinasih,
Sepisan malih kita kedah kengetan, bilih kita punika sami katimbalan njagi gesangipun sesami kita ing pasamuwan, sami anggenipun njagi lan ngemutaken menawi wonten ingkang lepat. Temah pasamuwan kita saged kawangun lan ngrembaka ing salebeting raos tentrem rahayu. Amin.
Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat :
Pitedah Gesang Enggal :
Nats Pisungsung :
Rancangan Kidung Pamuji :
Kidung Pambuka : KPK
Kidung Panelangsa : KPK
Kidung Kesanggeman : KPK
Kidung Pisungsung : KPK
Kidung Penutup : KPK
Khotbah Jangkep Minggu, 11 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Empat (Hijau)
HIDUP UNTUK TUHAN
Bacaan I: Kejadian 50:15-21; Tanggapan: Mazmur 103:1-7, 8-13
Bacaan II Roma 14:1-12; Bacaan III: Injil Matius 18:21-35
Dasar Pemikiran
Manusia mempunyai kecenderungan menjalani hidup dengan seenaknya. Aturan atau larangan cenderung dilanggar. Padahal manusia diciptakan dengan tugas mulia, yaitu menjalani hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Dengan tantangan dari dalam ataupun luar, manusia diajak untuk menjalani hidup untuk Tuhan.
Keterangan Tiap Bacaan
Kejadian 50;12-21
Setelah kematian Yakub, saudara-saudara Yusuf merasa khawatir akan menerima balas dendam karena perbuatan buruk mereka pada masa lalu Yusuf. Namun Yusuf memahami bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Ayat 19 menegaskan hal ini. Ia tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya itu, sebaliknya justru mengingatkan bahwa semuanya itu ada dalam rencana Tuhan yang indah (ayat 20). Yusuf mengampuni saudara-saudaranya.
Mazmur 103:1-13
Mazmur 103 ini merupakan Mazmur pujian yang mengungkapkan betapa Allah adalah Mahapengasih, Mahakudus, dan Mahapengampun. Seringkali dalam kesalahan umat lari dari Tuhan karena malu dan takut. Padahal Tuhan adalah Allah yang tidak pernah menyimpan setiap kesalahan manusia. Terutama untuk setiap mereka yang takut akan Dia dan bersedia menjalani hidup baru dalam pertobatan.
Roma 14:1-12
Jemaat Roma terbagi menjadi dua. Sebagian percaya bahwa di dalam kebebasan Kristen semua larangan lama mengenai makanan dan hari-hari sudah dibuang. Sebagian lagi masih memegangnya. Rasul Paulus menyebut yang pertama sebagai kuat imannya dan yang kedua lemah. Namun Rasul Paulus meminta kepada saudara-saudara yang lebih kuat untuk menerima yang lebih lemah dan tidak tidak terus-menerus menyerang mereka.
Matius 18:21-35
Perumpamaan ini menggambarkan tentang seberapa jauh (bukan serinnyaa) orang harus mengampuni. Kasih Allah yang begitu besar digambarkan sebagai 10.000 talenta, angka yang tidak realitstis dalam cerita manusia, tetapi mempertajam besarnya dosa manusia dan pengampunan Allah. Orang yang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan Allah. Orang yang menerima pengampunan Allah akan membuktikan rasa terima kasihnya dengan mengampuni sesamanya.
Renungan atas bacaan
Dalam perenungan kali ini kita diajak untuk hidup bagi Tuhan. Yusuf yang mau mengampuni saudara-saudaranya menunjukan betapa dia bukan Tuhan. Dia hanya berjalan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Keinginan untuk membalas dendam bukan merupakan pilihan yang diambil oleh Yusuf. Tuhan yang lebih berhak atas setiap perkara yang dijalani oleh umat-Nya.
Dalam menghadapi keanekaan di jemaat Roma, Rasul Paulus mengingat kan supaya jangan saling menghakimi sesama. Ada yang pemikirannya masih legalis ada yang sudah sudah memahami kebebasan Kristen secara lebih jauh. Semuanya itu bertujuan untuk menjalani hidup sesuai dengan kehenak Tuhan, sehingga tidak perlu saling menghakimi satu dengan yang lain.
Penghukuman ataupun penghakiman itu merupakan hak Allah. Dalam perumpamaan di Injil Matius diungkapkan betapa manusia harus mengasihi sesamanya tanpa batasan. Kasih Allah yang mengalir dalam hidup manusia juga tanpa batas. Sudah selayaknya manusia hidup menjalani kehendak Tuhan karena Dialah sumber kasih karunia kita.
Harmonisasi bacaan leksionari
Yusuf memberikan pengampunan kepada saudara-saudaranya karena dia sadar bahwa Allahlah yang berhak atas hidup mereka. Kepada Jemaat di Roma, Rasul Paulus menekankan bahwa tidak ada yang berhak menghakimi sesama. Matius mengungkapkan bahwa Allah Maha-pengampun, sehingga manusia harus pula saling mengampuni.
Pokok dan arah pewartaan
Karena Allah yang punya hidup kita ini, maka selayaknyalah kita berjalan di dalam jalan Tuhan. Jalan pengampunan dan menghargai manusia sebagaimana mereka segambar dan serupa dengan Allah.
Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan
M
enurut Maxwell, dalam buku Etika Bisnis, ada tiga hal yang cenderung dilakukan oleh manusia di dalam mengambil keputusan di dalam hidupnya, satu hal di antaranya ialah Orang akan berbuat apa yang paling leluasa bisa dibuatnya.
Ketika seseorang diperhadapkan kepada dilema, kadang-kadang dia akan diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan menyangkut suatu prinsip atau praktek moral. Dalam kondisi seperti ini, kita cenderung mencari jalan yang paling mudah dan menyenangkan untuk kita, meskipun kita gagal dalam ujian etis pribadi.
Contoh sederhana yang mungkin pernah dialami oleh setiap orang adalah saat berbelanja di supermarket. Setelah melakukan transaksi pembayaran, seringkali tanpa menghitung uang kembalian, kita langsung beranjak dari tempat itu. Sesampai di mobil atau di rumah dan menghitung jumlah pengeluaran dari belanja tadi, kita tahu bahwa jumlah kembalian yang dikeluarkan oleh kasir ternyata berlebih. Apakah yang akan kita lakukan? Kita akan mengembalikannya atau mendiamkannya saja? Kita cenderung untuk merasionalisasikan pilihan kita, ”Ah, hanya kali ini saja. Paling juga mereka tidak tahu.”
Demikian pula sepanjang pola hidup yang kita jalani, kita selalu mempunyai kecenderungan untuk membenarkan tindakan-tindakan dan keputusan kita, meski seringkali salah. Meskipun mungkin masih ada satu dua orang yang bertahan dengan pola hidup yang baik. Pembenaran akan tindakan salah yang kita lakukan seringkali kita lakukan karena kita merasa layak dan pantas untuk melakukannya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Dalam bacaan kita yang pertama diungkapkan mengenai Yusuf, seorang Raja Muda di Mesir tidak mau mengambil kesempatan untuk membalaskan sakit hatinya kepada saudara-saudaranya. Perilaku saudara-saudaranya yang pernah menyakitinya, baik secara fisik maupun mental, tidak membuat Yusuf mencari kesempatan untuk membalas dendam. Ada ungkapan negatif yang berkata ”Pembalasan harus lebih kejam dari perbuatan jahat seseorang”. Maksudnya orang akan merasa puas ketika berhasil membalas dendam pada orang yang pernah berbuat salah padanya. Yusuf telah dijual demi kepuasan hati kakak-kakak yang iri kepadanya. Ia harus berpisah dengan bapa yang dikasihinya. Dari seorang anak yang dilindungi, secepat kilat ia harus menyesuaikan diri untuk bekerja keras menaati peraturan bagi budak. Yusuf mengalami semua itu di Mesir. Kini kakak-kakkanya sudah tak memiliki ”tempat berlindung”. Ayah mereka telah meninggal. Dalam ketakutan, mereka memohon agar Yusuf sudi mengampuni, bahkan demi pengampunan itu mereka siap menjadi budak Yusuf (ayat 18). Namun justru Yusuf menjawab ”Aku inikah pengganti Allah?” (ayat 19). Yusuf yang keseluruhan hidupnya sudah diabdikan untuk Allah tentu tidak lagi memandang pembalasan dendam sebagai hal yang penting dalam hidupnya. Bukan lagi keinginan daging yang berjalan di dalam diri Yusuf, tetapi jalan Tuhan yang sudah menjadi pilihannya. Semua yang terjadi dalam diri Yusuf dikatakannya sebagai rencana Tuhan yang indah (ayat 20). Duka nestapa yang pernah Yusuf alami dijadikan petunjuk bahwa hidup di jalan Tuhan akan senantiasa mendapatkan pertolongan-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Ungkapan pemazmur juga semakin menguatkan kita bahwa Tuhan itu Mahapengampun yang tidak pernah menyimpan kesalahan umat-Nya. Refleksi dari pemazmur ini memampukan kita untuk menyadari betapa Tuhan kita Mahapengampun. Mengapa kita, para pengikut-Nya, seringkali bertindak sebagai hakim atas sesama?
Perkara itu juga yang sedang dihadapi Rasul Paulus dengan jemaatnya di Roma. Jemaat Kristen di Roma terbagi menjadi dua bagian. Sebagian masih menjalani larangan-larangan dari hukum Taurat. Sebagian yang lain sudah meninggalkannya dan menjalani iman Kristen yang sesungguhnya dalam kemerdekaan sebagai orang percaya. Rasul Paulu menyebut yang pertama sebagai lemah iman dan yang kedua sebagai yang lebih kuat. Rasul paulus mengingatkan orang-orang yang telah kuat iman supaya bisa lebih menerima saudara-saudara yang lemah iman dan tidak terus menerus menyerang dengan pemahaman mereka masing masing. Sebab dengan menjalani hukum-hukum atau tidak, tujuan mereka sama, yaitu hidup untuk Tuhan dan berjalan di dalam jalan-Nya. Caranya saja yang berbeda. Perbedaan yang ada bukan kesempatan untuk saling menyerang atau saling menghakimi.
Bacaan kita dalam Matius 18:21-35 berbicara lebih dalam lagi tentang larangan untuk menghakimi sesama. Ketika ada sesorang yang berbuat salah kepada kita, perumpamaan ini mengajarkan untuk bisa memberikan pengam punan yang tak terbatas. Ada orang mengungkapkan ”Sabar itu ada batasnya…” Tentu saja ini ungkapan yang aneh. Kalo sabar ada batasnya tentu itu belum sabar namanya. Perumpamaan tentang pengampunan mengungkap kan mengenai mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali. Hal ini bukan mengenai seringnya atau jumlah mengampuni, melainkan jauhnya. dan ketulusannya.
Kasih Allah yang begitu besar juga digambarkan dalam perumpamaan ini. 10.000 talenta adalah angka yang tidak realistis dalam cerita manusia. Namun angka itu mempertajam besarnya dosa manusia dan pengampunan Allah. Inti dari perumpamaan ini adalah bahwa orang yang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan Allah. Orang yang mendapat pengampunan dari Allah karena tindakan yang telah dilakukan oleh Kristus akan membuktikan rasa terima kasih dan ketergantungannnya kepada Dia dalam perlakuannya terhadap orang lain.
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Hidup untuk Tuhan ternyata bukan perkara yang mudah untuk kita jalani. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan kerelaan untuk menerima sesama apa adanya menjadi perkara yang mutlak ketika kita memilih jalan hidup cara Kristus. Dari bacaan kita hari ini, kita bisa belajar beberapa hal, yaitu:
Jangan berjalan dengan keinginan hati kita. Biarkan Tuhan yang merancang setiap langkah hidup kita, seperti Yusuf yang menyerahkan semua jalan hidupnya pada rencana Tuhan.
Yakini bahwa Tuhan itu Mahapengampun. Dengan demikian kita, umat-Nya, dituntut untuk bisa hidup dengan mengampuni sesama kita.
Jika ada saudara-saudara kita yang lebih lemah iman atau pandangan imannya berbeda dengan kita, jangan menghakimi mereka. Mereka pasti mempunyai alasan menjalani cara hidup yang mereka pilih. Jangan merasa lebih baik dari mereka karena kita pun pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan.
Hidup untuk Tuhan juga berarti rela memberikan pengampunan kepada setiap orang yang bersalah kepada kita. Ingat doa yang sering kita ucapkan, ”Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami” Hal ini bukan mengenai seberapa seringnya kita mengampuni, tetapi seberapa tulus pengampunan yang kita berikan. Tentu saja pengampunan yang dimaksudkan adalah yang tanpa syarat. Jangan menjadi hakim atas sesama kita.
Demikianlah beberapa hal yang bisa pelajari sat ini.Kiranya berkat kasih karunia Kristus memampukan kita menjadi pelaku pelaku firman-Nya. Amin.
Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah : Matius 18 : 3-5
Petunjuk Hidup Baru : Matius 18 : 21-22
Nats Persembahan : Matius 18 : 18
Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembukaan : KJ 1 : 1-2
Nyanyian Penyesalan : KJ 29 : 1-3
Nyanyian kesanggupan : KJ 40 :1-4
Nyanyian Persembahan : KJ 66 : -…
Nyanyian Penutup : KJ 54 : 1,3,4
Khotbah Jangkep Minggu, 11 September 2011
Pekan Biasa Kaping Sekawan Likur (ijo)
GESANG KANGGE GUSTI
Waosan I: Purwaning Dumadi 50:15-21; Tanggapan: Jabur 103: 1-7, 8-13; Waosan II: Rum 14 : 1-12; Waosan III: Injil Matius 18: 21–35
Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang kinasih wonten ing Gusti Yesus Kristus
M
iturut satunggaling winasis inggih punika Maxwell wonten ing buku etika bisnis, dipun-cariyosaken bilih wonten tigang prakawis ingkang asring dipun tindakaken dening manungsa nalika badhe nemtokaken putusan wonten ing gesangipun. Salah satunggal prakawis inggih punika: Tiyang badhe nindakaken punapa ingkang paling gampil saged dipun tindakaken; nalika satunggaling piyantun dipun-aben-ajengaken kaliyan pilihan ingkang awrat lan boten ngremenaken, piyantun punika badhe pados margi ingkang paling gampil lan ngremenaken. Satunggaling tuladha: nalika kita blanja wonten supermarket, sasampunipun mbayar, kita nampi arta susuk saking kasir, lajeng tanpa dipun etang kita wangsul. Ananging sasampunipun dumugi griya lan ngetang arta susuk punika pranyata artanipun langkung kathah kaliyan ingkang kedahipun kita tampi saking kasir. Punapa ingkang badhe kita tindakaken? Dipun-wangsulaken dhateng supermarket utawi kita namung mendel kemawon. ”Wah boten punapa wong namung sepisan punika?” Paling kasiripun boten sumerep. Mekaten ing sauruting lampah gesang ingkang kita tindakaken, kita asring nggadahi pemanggih ngleresaken tumindak-tumindak kita, sanadyan asring boten leres. Ngleresaken tumindak punika asring kita tindakaken amargi kita rumaos pantes nindakaken prakawis punika.
Pasamuwan ingkang kinasih
Wonten ing waosan kita ingkang sapisan dipun-andaraken bilih Yusuf, Senopati wonten ing Mesir boten purun ngginakaken wekdal aji mumpung kangge males raos serik wonten ing manahipun dateng para sadherekipun. Tumindakipun sadherekipun Yusuf ingkang sampun nate damel sakit sacara badan makaten ugi batin, boten ndadosaken Yusuf kepengin males. Yusuf ingkang suwau dipun sade amargi sadherekipun ingkang sami meri dateng tumindakipun tiyang sepuh ingkang boten adil. Sajatinipun Yusuf nggadahi wekdal kangge malesaken prakawis punika. Ananging Yusuf ingkang sedaya gesangipun sampun kapasrahaken dhateng Gusti boten ngraosaken bilih pamales punika prakawis ingkang wigati ing gesangipun. Sanes pepenginaning daging ingkang wonten ing manahipun Yusuf, ananging marginipun Gusti ingkang dados pilihan gesangipun Yusuf. Sedaya ingkang lumampah wonten ing gesangipun dipun raosaken minangka prekawis ingkang endah (ayat 20)
Pasamuwan ingkang Kinasih
Swantenipun sang pemazmur sangsaya ngiyataken kita bilih Gusti punika Gusti ingkang nresnani manungsa, Gusti ingkang kebak pangapunten, ingkang boten nate nyimpen kalepatan umatipun. Pangraosipun juru mazmur punika paring pepenget dumateng kita bilih Gusti punika kebak pangapunten, ananging kenging punapa kita para kagunganipun asring dados hakim tumrap sesami ?
Prakawis punika ingkang saweg dipun raosaken dening rasul Paul ing Rum. Pasamuwan Rum kaperang dados kalih perangan: wonten ingkang taksih nindakaken awisan lan toret, wonten ingkang sampun nindakakaen gesang tata Kristen saleresipun, wonten ing kamardikan minangka tiyang pitados. Rasul Paul ngengetaken supados saged nampi para sadherek ingkang dereng kiyat kapitadosanipun lan boten nyerang pemanggih saking sadherek ingkang dereng kiyat imanipun punika. Amargi kanthi nindakaken paugeraning toret utawi boten, eneripun punika sami, inggih punika lumampah wonten ing marginipun Gusti, gesang kangge Gusti, ananging ngginakaken pranatan ingkang beda. Pamanggih ingkang boten sami, sanes wewengan kangge ngawonaken lan njeksani sesami.
Pasamuwan ingkang kinasih
Waosan kita wonten ing injil Mateus ngandharaken prakawis ingkang langkung lebet, babagan njeksani sesami. Nalika wonten tiyang ingkang tumindak lepat kita kedah paring pangapunten kanthi boten wonten watesipun. Waosan punika boten namung ngandharaken babagan cacahipun pangapunten ananging kadospundi kita paring pangapunten kanthi tulusing manah. Sih-rahmatipun Gusti ingkang tanpa wates dipun-andharaken wonten ing waosan punika.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Gesang lumadi kagem Gusti punika pranyata sanes prakawis ingkang gampil dipun-tindakaken, pasrah sumarah dumateng Gusti lan rila nampi sesami punapa wontenipun punika dados prakawis ingkang kedah kita tindakaken nalika milih cara gesang kados Sang Kristus. Saking waosan kita dinten punika, kita saged sinau sawetawis bab ingkang wigati, kadosta ;
1. Sampun ngantos lumampah namung ngginakaken pepenginan kita piyambak, sumarah dhumateng Gusti lan karsanipun ingkang damel rancangan tumrap lampah gesang kita, kados Yusuf ingkang masrahaken sadaya lampah gesangipun dhateng Gusti.
2. Gusti punika kebak pangapunten, pramila kita umatipun dipun-atag saged gesang ingkang kebak pangapunten dhateng sesami.
3. Menawi wonten sedherek ingkang nggadhahi pemanggih ingkang beda, gegayutan kaliyan kapitadosanipun, sampun ngantos kita njeksani. Sampun rumaos langkung sae lan langkung prayogi tinimbang sadherek kita punika.
4. Gesang loumadi kagem Gusti, punika ateges rila paring pangapunten kangge sedaya tiyang ingkang nggadhahi kalepatan dhateng kita. Boten babagan cacahipun kita paring pangapunten, ananging kados pundi kita paring pangapunten kanthi tulusing manah.
Punika sawatawis bab ingkang wigati ingkang saged kita tindakaken nalika kita milih margi gesang kagem Gusti kita. Amin
Rancangan Waosan Kitab Suci:
Pawartos Sih Rahmat : Matius 18 : 3-5
Pitedah Gesang Anyar : Matius 18 : 21-22
Pangatag Pisungsung : Matius 18 : 18
Rancangan Kidung Pamuji:
Kidung Pambuka : KPK BMGJ 28 : 1-5
Kidung Panelangsa : KPK BMGJ 47 : 1-2
Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ 75 : 1-2
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 23 : 1…
Kidung Panutup : KPK BMGJ 167 :1-2
Khotbah Jangkep Minggu, 18 September 2011
Pekan Biasa Ke Dua Puluh Lima (Hijau)
HIDUP BERARTI MEMBERI BUAH
Bacaan I : Yunus 3:10-4:11;Tanggapan: Mazmur 145:1-8
Bacaan II: Filipi 1:21-30, Bacaan III: Injil Matius 20:1-16
Dasar Pemikiran
Kehidupan orang percaya selalu diperhadapkan kepada pilihan untuk terus berbuah atau berhenti dan menikmati hidup ini untuk dirinya sendiri. Buah yang dihasilkan seseorang muncul karena kasih karunia Tuhan. Meski kadang kita menilai anugerah Tuhan itu tidak adil karena keadilan Tuhan tidak terjangkau oleh olah pikir manusia.
Keterangan Tiap Bacaan:
Yunus 3:10-4:11
Perkiraan Yunus bahwa Tuhan akan mengampuni Niniwe benar-benar terjadi. Yunus merasa marah. Dalam kemarahannya, Yunus diberi pencerahan melalui pohon jarak yang disukainya sekalipun bukan ia yang menumbuhkan. Kasih Tuhan kepada Niniwe melebihi hal itu. Kasih-Nya tampak saat Tuhan mengampuni Niniwe, bangsa yang mau berbuah pertobatan.
Mazmur 145:1-8
Daud Sang Pemazmur mengungkapkan betapa besarnya kasih Tuhan kepada setiap angkatan dan generasi usia yang memiliki pergumulan berbeda-beda. Kasih Tuhan dirasakan dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda pula. Kesaksian atas kasih Tuhan diungkapkan dalam sebutan-sebutan sebagai Allah yang adil (ayat 7), pengasih dan penyayang (8a), serta sabar dan setia (8b). Allah diagungkan karena karya yang dirasakan oleh manusia.
Filipi 1:21-30
Menyatakan bahwa pemenjaraan dirinya membantu kemajuan Injil karena Kristus diberitakan di mana pun ia berada. Ia tahu hanya ada dua kemungkinan, yaitu bebas dari penjara atau mati. Namun dengan mengaca pada masa lalu dan kini, ia bersukacita. Kesaksian ini menguatkan jemaat di Filipi untuk terus mewartakan kasih karunia Allah sebagai buah pelayanan untuk Tuhan, seperti Rasul Paulus yang walaupun dipenjara tetap berbuah.
Injil Matius 20:1-16
Secara matematis, perumpamaan ini tidak adil. Namun keadilan Tuhan tidak bisa diukur dengan hitungan manusia. Anugerah Tuhan tidak bisa diperhitungkan seperti upah. Setiap orang mencapai tingkatan moral dan rohani yang berbeda-beda. Namun tidak ada yang berhak menuntut lebih dari yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan memberikan sesuai janji-Nya (ayat 13). Tuhan memiliki kebebasan dan kedaulatan untuk melakukan yang berkenan kepada-Nya.
Renungan atas bacaan
Dalam bacaan pertama terungkap betapa Tuhan Mahapengasih. Sejahat apapun Ninewe, tetapi karena pertobatan yang mereka lakukan Tuhan tidak jadi memberikan penghukuman atasnya. Justru Yunus yang protes tentang hal ini. Dia merasa pewartaannya sia-sia karena ternyata Tuhan lebih memilih mengampuni Niniwe daripada menghukumnya. Panggilan kepada Yunus untuk berbuah ditanggapi dengan penolakan karena Yunus tahu pasti apa yang akan terjadi jika Niewe bertobat. Yunus gemas karena Tuhan tetap mau mengampuni orang jahat.
Mazmur juga mengungkapakan betapa Tuhan Mahakasih. Kesaksian tentang kasih Tuhan ini diberikan oleh setiap generasi usia yang pernah hidup di dunia ini. Allah adalah Allah yang adil, pengasih, penyabar, dan setia.
Dalam penjara, Rasul Paulus masih tetap bisa memberi kesaksian bahwa kasih Tuhan tetap dia rasakan. Kesaksian Rasul Paulus ini menguatkan jemaat Filipi untuk terus bertumbuh dan berbuah. Rasul Paulus hanya memiliki pilihan untuk terus hidup atau mati dalam penjara. Namun pilihan itu tidak merisaukannya karena setiap langkah hidupnya adalah berbuah untuk kemuliaan Tuhan.
Kasih Allah tidak terbatas hanya untuk sekelompok orang, tetapi juga untuk semua orang. Bacaan Injil mengingatkan bahwa anugerah bukan upah. Allah yang murah hati memberikan anugerah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Tak seorang pun memiliki hak untuk mempertanyakan keadilan-Nya. Masih adakah upah yang layak kita minta sebagai hasil pelayanan kita? Adakah kita menyadari bahwa kesempatan hidup dan melayani-Nya adalah anugerah?
Harmonisasi bacaan leksionari
Allah tahu pasti yang dia lakukan untuk umat-Nya. Hidup dan berbuah bagi sesama muncul dalam bacaan pertama. Pemazmur merefleksikan bahwa Allah adalah adil, pengasih, penyabar, dan setia. Kesadaran untuk terus berbuah dalam hidup juga dirasakan oleh Rasul Paulus dalam pergumulannya di penjara. Injil lebih menekankan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuah dan seharusnya dikembangkan sesuai dengan kebisaan kita.
Pokok dan arah pewartaan
Masing masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal yang kita miliki dipakai Tuhan untuk mendatangkan berkat bagi sesama. Berbuahlah untuk sesama melalui segala hal yang kita bisa lakukan.
Khotbah Jangkep
Jemaat yang dikasihi Tuhan
S
uatu hari seorang anak yang biasanya malas membantu orang tuannya, tiba-tiba menjadi sangat rajin dan bersemangat membersihkan rumah. Di akhir minggu itu ibunya menemukan secarik kertas bertuliskan jumlah jam kerja dan rincian upah yang seharusnya diterima anaknya. Esok paginya anaknya terkejut karena menemukan balasan surat ibunya yang berisi daftar seluruh kebutuhan hidupnya sejak ia berusia 1 tahun: susu, makan, pakaian, uang jajan, sepatu, sekolah, tas, buku, obat di waktu sakit, dll. Anak itu tidak menyadari bahwa kesempatan menjadi anak dalam keluarga adalah anugerah yang tidak dapat dibandingkan dengan upah sebesar apapun.
Cerita di atas mengungkapkan betapa kita pun seringkali berlaku demikian. Kita tidak menyadari betapa kita sudah merasakan anugerah yang berlimpah dari Tuhan, bahkan kita masih menuntut ini dan itu. Kita beranggapan Tuhan tidak adil karena tidak pernah menjawab doa-doa kita. Padahal setiap detak jantung dan tarikan nafas kita adalah anugerah Tuhan. Kita seringkali melupakan berkat berlebih yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Kita lebih banyak menuntut kepada Tuhan sehingga kita lupa untuk berbuah dalam hidup kita. Kita lupa untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Bacaan kita memperlihatkan protes Yunus yang begitu keras terhadap kebaikan Tuhan yang diberikan kepada bangsa yang jahat. Yunus sudah menyadari dari awal mula mengenai hal itu sehingga dia memilih untuk melarikan diri dari tugas panggilan Tuhan. Yunus melawan perintah Tuhan karena Dia tahu pasti bahwa tugas perutusannya akan sia-sia. Nabi Yunus diperintahkan untuk memberitakan penghukuman dan dia tahu bahwa Tuhan pasti tidak akan menghukum Niniwe. (4:1). Dalam bacaan kita terlihat bahwa perkiraan Yunus sungguh-sungguh terjadi. Ketika bangsa Niniwe bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah membatalkan penghukuman untuk bangsa itu (3:10). Betapa jengkelnya Yunus mengetahui hal itu. Dalam kemarahannya Yunus diberi sebuah peringatan oleh Tuhan dengan pohon jarak yang melingkupinya. Selanjutnya pohon jarak itu dimakan ulat dan mati sehingga tidak bisa lagi melindungi Yunus dari panas. Yunus marah karena pohon jarak yang menaunginya mati. Dari sini Tuhan menunjukkan bahwa pohon jarak saja begitu disayangi oleh Yunus. Apalagi bangsa Niniwe yang banyak itu, tentu Tuhan tidak akan membinasakannya begitu saja. Kasih Allah nampak dari pengampunan-Nya atas Niniwe, bangsa yang mau berbuah pertobatan dalam hidupnya. Yunus tidak rela hal itu terjadi. Kenapa bangsa yang jahat tidak dihukum saja? Tuhan tidak adil!
Sebaliknya Daud Sang Pemazmur mengungkapkan betapa besarnya kasih Tuhan. Tiap angkatan, tiap generasi usia, dalam pergumulannya yang berbeda-beda, senantiasa merasakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Bentuk dan cara kasih Tuhan itu juga berbeda beda. Setiap angkatan menyaksikan karya Tuhan di dalam hidupnya dan mereka pun bersaksi sesuai dengan pergumulan hidup yang mereka alami. Ia adalah Allah yang adil (ayat 7), pengasih dan penyayang (8a), sabar dan setia (8b). Allah diagungkan karena karya yang dirasakan oleh manusia, meski kadang manusia belum bisa memahaminya, karena keterbatasan yang ada. Dengan hati yang bening manusia bisa memahami betapa Tuhan itu Mahakasih dan Mahaadil. Sehingga manusia bisa senantiasa bersyukur akan segala perkara jika menyadari kasih Allah yang besar itu.
Kesaksian hidup Rasul Paulus juga mengingatkan kepada kita mengenai kasih karunia Tuhan yang senantiasa mengalir dalam hidup. Surat Filipi ditulis ketika Rasul Paulus ada di dalam penjara. Dia mengetahui keprihatinan masyarakat Kristen Filipi atas dirinya. Karena itu seperti sering terdapat dalam surat-suratnya, ia mengirimkan berita mengenai dirinya. Ia menceritakan bahwa pemenjaraan dirinya telah membantu kemajuan injil. Kristus diberitakan di mana pun ia berada dan ia tetap memandang kemungkinan-kemungkinan berkaitan dengan pemenjaraannya, yaitu bebas, dan melayani lebih lanjut, atau mati. Dengan menunjuk pada masa lampau, masa kini, dan kemungkinan-kemungkinan pada masa datang, ia dapat berkata ”Aku bersukacita”.
Pada ayat 21-23, Rasul Paulus menimbang-nimbang dua kemungkinan dalam hidupnya, yaitu bebas atau mati. Dengan dua pilihan itu Rasul Paulus tetap dapat bersukacita. Terus hidup di dunia ini adalah hidup dalam kegembiraan Kristus yang mantap dan selanjutnya akan ada pekerjaan yang subur dalam pelayanannnya kepada Tuhan. Di lain pihak ia tahu bahwa kematian adalah melulu keuntungan karena di seberang kematian adalah kesemertaan hadirat Kristus. Dengan kesaksian hidup Paulus ini, dia menguatkan jemaat Filipi untuk terus berjuang mewartakan kasih karunia Allah. Dia yang ada di dalam penjara masih bisa menghasilkan buah-buah pelayanan untuk Tuhan. Demikian juga seharusnya jemaat Filipi yang masih bebas dapat terus berjuang mengjasilkan buah-buah pekabaran Injil kepada sesama.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kalau direnungkan dengan hitungan matematis, bacaan Injil kali ini sangat menjengkelkan. Orang-orang yang bekerja mulai pagi dan mulai sore mendapatkan upah yang sama. Sama sekali tidak adil! Demikian mungkin pikir kita. Namun memang keadilan Tuhan tidak bisa diukur dengan hitungan manusia. Perumpamaan ini menceritakan sistem ekonomi yang tidak masuk akal untuk mengutarakan kebenaran kerajaan sorga. Perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur mengajak kita berpikir tentang anugerah yang tidak dapat diperhitungkan seperti upah. Dikisahkan bahwa tuan rumah sebagai pemilik kebun anggur berinisiatif mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Berapapun upah yang diberikan kepda para pekerja sepenuhnya berdasarkan atas keputusannya. Kepada sekelompok pekerja pertama yang bekerja dari pagi hingga malam, ia sepakat memberi upah sedinar sehari. Kemudian ia berulang kali mendapati orang-orang yang menganggur dan ia minta bekerja di kebunnya. Mereka pasti tidak akan mendapatkan upah bila menganggur sepanjang hari, jadi kesempatan bekerja adalah anugerah. Ketika malam tiba, tuan rumah tersebut memberikan upah kepada setiap pekerja mulai dari yang terakhir sampai yang bekerja dari pagi. Para pekerja yang bekerja dari pagi sampai malam protes atas tindakan tuan tersebut karena memberikan upah yang sama kepada semua pekerja. Tuan rumah itu mengatakan bahwa mereka menerima sesuai kesepakatan, jadi protes mereka tidak beralasan. Jika yang mereka permasalahkan adalah upah yang diberikan kepada pekerja lainnya, maka sepenuhnya itu adalah hak tuan itu.
Perumpamaan ini menunjukan bahwa setiap orang dalam rumah itu menerima apa yang dibutuhkannya (sedinar adalah upah sehari seorang pekerja) dan itu mengumpamakan hidup yang kekal. Ini adalah pemberian Allah yang selalu memanggil manusia, dengan perbedaan tingkat moral dan kesempatan rohani, untuk melayani-Nya. Oleh karena itu, tidak seorang pun dapat menuntut dari pada-Nya lebih dari yang diberikan-Nya kepada setiap orang lain. Tidak ada ketidakadilan dalam segala yang dilakukan Allah sebab Ia memberikan sesuai dengan yang dijanjikan-Nya (ay 13). Ia memiliki kebebasan dan kedaulatan untuk melakukan yang berkenan kepada-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Setelah merenungkan bersama ayat-ayat bacaan kita, apakah yang bisa kita pelajari? Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan.
1. Berkarya dan melayanilah dengan tulus, hasilkan buah buah pertumbuhan dalam hidup kita. Jangan pernah protes kepada Tuhan karena anugerah yang Dia berikan kepada sesama.
2. Dalam keterbatasan yang kita miliki, kita diajak untuk terus berbuah bagi-Nya. Berjuang dengan setiap talenta yang kita miliki adalah kehendak Tuhan. Jangan menyerah sebelum Dia memanggil kita.
3. Allah murah hati. Dia memberikan anugerah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Jangan pernah protes dengan keadilan Allah. Masih adakah upah yang layak kita minta sebagai hasil pelayanan kita jika kita menyadari bahwa kesempatan hidup dan melayani-Nya pun adalah sebuah anugerah?
Yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi terdahulu. Itu adalah rahasia Tuhan yang mungkin tidak pernah kita mengerti. Namun yang pasti kita diajak untuk terus bertumbuh di dalam kasih karunia-Nya. Berikan yang terbaik untuk Tuhan dan Dia akan menganugerahkan semuanya untuk kita. Carilah dahulu Kerajaan Surga maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33). Amin.
Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah : Matius 19 : 28-29
Petunjuk Hidup Baru : Matius 20 : 26-28
Nats Persembahan : Matius 19 : 21
Rancangan Nyanyian Pujian:
Nyanyian Pembukaan : KJ 13 :1,2,4
Nyanyian Penyesalan : KJ 395 : 1-2
Nyanyian kesanggupan : KJ 387 : 1-3
Nyanyian Persembahan : KJ 450 : 1-…
Nyanyian Penutup : KJ 416 : 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 18 September 2011
Pekan Biasa Kaping Selangkung (ijo)
GESANG NUWUHAKEN WOH
Waosan I: Yunus 3 : 10 – 4 : 11; Tanggapan: Jabur 145 : 1-8;
Waosan II: Filipi 1 : 21 – 30; Waosan III: Injil Mateus 20 : 1-16
Khotbah Jangkep
Pasamuwan ingkang Kinasih
I
ng satunggaling dinten, wonten lare ingkang padatanipun boten purun mbiyantu tiyang sepuhipun, dumadakan dados sregep lan semangat ndherek reresik satunggaling griya. Wonten ing pungkasaning minggu ibunipun nampi serat saking lare punika ingkang wosipun peprincening upah ingkang dipun-tampi dening lare punika awit nyambut damel kanthi sregep wonten satunggaling griya wau. Dinten candhakipun lare punika kaget, awit nampi serat saking ibunipun, ingkang wosipun peprincen kabetahan lare punika wiwit alitipun: susu, tetedhan, rasukan, arta jajan, sepatu, sekolah, tas, obat nalika sakit lsp. Lare punika boten ngrumaosi bilih wekdal gesang wonten ing brayat punika minangka sih rahmat, ingkang boten saged dipun-tandhingaken kaliyan upah punapa kemawon. Cariyos wonten ing nginggil sejatosipun gegambaran saking kita minangka manungsa. Kita asring boten ngrumaosi bilih sih-rahmatipun Gusti tansah lumintu wonten ing gesang kita, ananging kita taksih nyuwun mawarni-warni kabetahan. Kita arsing rumaos Gusti boten adil awit boten nate mangsuli pandonga-pandonga kita. Kamangka berkahipun Gusti sampun lumintu ing gesang kita. Kita langkung katah ndheseg dhumateng Gusti matemah kita kesupen kangge ngwedalaken woh wonten ing gesang kita, ngaturaken ingkang paling sae dhateng Gusti lan sesami.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Wonten ing waosan kitab Yunus kita saged nampeni kados pundi Yunus nglairaken raos boten lega dhateng Gusti awit sih-rahmatipun Gusti ingkang dipun paringaken dhateng bangsa Ninewe. Bangsa ingkang suwau tumindak boten sae, ananging lajeng mratobat, Yunus boten rila menawi bangsa punika boten kaukuman. Yunus rumaos bilih Gusti Allah boten adil awit paring sih-rahmat tumprap bangsa ingkang boten mbangun-turut dhateng pangandikanipun Gusti. Mbok bilih raos kados makaten ugi nate kita raosaken, kenging punapa tiyang ingkang tumindak boten sae taksih kaparingan gesang? Kenging punapa boten dipun-pejahi kemawon? Yunus nyuwun supados punapa ingkang dipun tindakaken punika wonten asilipun, sabotenipun bangsa Ninewe kaparingan paukuman.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Paseksi saking Rasul Paul ugi ngengetaken dhateng kita bilih sih-rahmatipun Gusti punika tansah lumintu wonten ing gesang kita. Ing salebetipun kinunjara Rasul Paul paring paseksi, bilih prakawis punika ndadosaken Rasul Paul sangsaya mangertosi Injil Kratoning Swarga kedah kawartosaken. Rasul Paul nenimbang kalih prakawis wonten ing gesangipun inggih punika luwar saking pakunjaran punapa pejah. Kanthi pilihan ingkang wonten punika Rasul Paulus tetep saged saos sokur. Kanthi paseksi punika rasul Paul nenangi pasamuwan Filipi suados tansah wartosaken sih-rahmatipun Gusti. Rasul Paul ingkang kinunjara taksih saged nuwuhaken woh peladosan kagem Gusti punapa malih pasamuwan Filipi, ingkang taksih mardika, kedahipun ugi langkung greget nuwuhaken woh kabar kabingahan dhateng sesami.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Waosan Injil menawi kita raos-raosaken kanthi petangan matematika temtu kemawon badhe ndamel jengkel. Ingkang sami nyambut damel wiwit enjing ngantos sonten, lan ingkang nyambut damel namung wiwit sonten pranyata nampi upah ingkang sami. Wah..boten adil punika ..mbok bilih mekaten pemanggih kita. Ananging panen bilih keadilanipun Gusti boten saged dipun-ukur kanthi ukuranipun manungsa. Pasemon punika nyariosaken sistem ekonomi ingkang boten masuk akal kangge ngandharaken babagan Kratoning swarga. Pasemon punika ngatag kita supados ngraosaken babagan sih rahmatipun Gusti ingkang boten saged dipun etang kados upah. Pasemon punika ngandharaken bilih saben tiyang wonten ing griya punika nampi punapa ingkang dipun-betahaken lan punika gesang langgeng. Gusti Allah maringi punapa ingkang kaprasetyakaken dhateng manungsa, lan boten wonten satunggaling tiyang ingkang saged ndheseg dhateng Gusti babagan prakawis punika.
Pasamuwan ingkang Kinasih
Sasampunipun kita raosaken waosan kita punika, wonten sawetawis bab ingkang saged kita sinau, inggih punika :
1. Nyambut damel lan lelados kanthi tulus, lan sami ngangsalaken woh ingkang gesang wonten ing gesang kita. Sampun ngantos nguningakaken raos boten lega dhumateng Gusti awit sih rahmatipun ingkang kaparingaken dhateng sedaya tiyang.
2. Wonten ing gesang kita ingkang winates, kita kaatag supados saged tansah ngangsalaken woh kagem Gusti, peparing ingkang kita gadhahi punika sangu kangge peladosan kita ngantos pungkasaning gesang.
3. Gusti Allah punika mahamirah, panjenenganipun paring sih-rahmat dhateng sedaya tiyang. Sampun ngantos kita kirang legawa dhateng kaadilanipun Gusti. Kita raosaken bilih wekdal gesang lan lelados punika ugi wujud sih-rahmatipun Gusti kangge kita.
Sumangga kita saged tansah ngwedalaken woh kagem Gusti lan sesami. ”Ananging Kratoning Allah lan kasampurnane, iku padha upayanen disik, nuli samubarang iku mau kabeh bakal diparingake marang kowe” ( Mat 6 :33) Amin
Rancangan Waosan Kitab Suci :
Pawartos Sih Rahmat : Mateus 19 : 28 – 29
Pitedah Gesang Anyar : Mateus 20 : 26-28
Pangatag Pisungsung : Mateus 19 : 21
Rancangan Kidung Pamuji :
Kidung Pambuka : KPK BMGJ 38 :1-3
Kidung Panelangsa : KPK BMGJ 133 : 1-2
Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ 178 : 1,3
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 187 : 1-…
Kidung Panutup : KPK BMGJ 155 : 1-3
Khotbah Jangkep Minggu, 25 September 2011
Pekan Biasa Kedua Puluh Enam (Hijau)
TUHAN MEMIMPIN HIDUPKU
Bacaan I: Yehezkiel 18:1-4, 25-32; Tanggapan: Mazmur 25:1-9
Bacaan II: Filipi 2:1-13; Bacaan III: Injil Matius 21:23-32
Tujuan:
Jemaat menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi pemimpin
di dalam hidupnya. Dan iman yang demikian tampak dalam tindakan hidup yang benar.
Dasar Pemikiran
Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan akal budi. Akal budi pemberian Tuhan tersebut seharusnya menjadi sarana bagi manusia untuk menentukan pilihan kepada siapa dia menyerahkan iman percayanya. Justru pilihan yang tepat dan benar akan mendatangkan karunia untuk dirinya.
Keterangan Tiap Bacaan
Yehezkiel 18:1-4, 25-32 (Perbaharui Hatimu dan Rohmu)
Israel adalah umat pilihan Allah yang diselamatkan Allah sendiri. Namun, tindakan mereka sungguh tidak bijak. Kebaikan Allah dibalas dengan tindakan keji serta mereka mempersalahkan Allah. Walaupun tindakan Israel tidak bijaksana, Allah tetap menyatakan kasih-Nya yaitu dengan mengundang Israel bertobat sehingga dengan pertobatan tersebut Israel tetap hidup.
Mazmur 25:1-9 (Tuhan Membimbing Orang yang Rendah Hati)
Dengan rendah hati pemazmur menaikkan doanya di mana doa itu berisi pujian kepada Tuhan atas kekuasaan-Nya, permohonan agar hidupnya senantiasa dibimbing Tuhan, pertobatan atas dosa masa lalu serta pengharapan bahwa Tuhan akan membimbing orang yang rendah hati di mana kehidupan mereka patuh dan setia kepada Tuhan.
Filipi 2:1-13 (Menganggap Orang Lain lebih Penting)
Inti pokok dalam pengajaran bacaan kedua ini adalah penyataan atas keyakinan bahwa Tuhan memimpin hidup umat-Nya. Manifestasi keyakinan tersebut tampak dalam tindakan seperti sehati sepikir, tidak mencari keuntungan pribadi, menaruh pikiran serta perasaan seperti Kristus, dan tindakan benar lainnya.
Injil Matius 21:23-32 (Kemampuan Berdiplomasi)
Dialog Yesus dengan imam-imam kepala serta tua-tua Yahudi mengandung makna pengajaran, yaitu: 1. Tentang kuasa. Kuasa dari mana yang menguasai manusia itu tergantung dari iman atau kepercayaannya sendiri. Artinya kuasa itu dari Tuhan atau dari kekuatan lain, hanya dirinyalah sendiri yang berhak atas pengakuan tersebut. 2. Tentang penyerahan diri. Perumpamaan yang dipakai Yesus tersebut berisi suatu pengajaran bahwa manusia yang dipandang rendah atau yang tidak punya harga diri sekalipun ketika dia menyerahkan dirinya kepada Tuhan pasti akan mendapatkan anugerah. Sebaliknya, manusia yang merasa bahwa dirinya benar (menurut pikirannya sendiri) belum tentu mendapatkan anugerah khusus dari Tuhan.
Harmonisasi Bacaan
Belajar dari pengalaman Israel, walaupun mereka adalah umat pilihan Allah tetapi sayang mereka hidup menuruti bisikan kedagingan mereka sendiri sehingga mereka cenderung memberontak kepada Allah. Padahal sikap seperti pemazmur yang mau merendahkan diri dan menghambakan diri kepada Tuhan jauh lebih bijak. Dan sikap merendahkan diri serta menjadi hamba tersebut termanifestasikan di dalam tindakan-tindakan benar seperti yang diajarkan dalam Kitab Filipi, sehingga pada akhirnya dia akan mampu menyatakan iman kepercayaannya seperti yang diajarkan Yesus di dalam Injil di mana manusia mengakui kekuasaan Tuhan dan dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan maka anugerah akan melimpah di dalam kehidupannya.
Pokok dan Arah Pewartaan
Umat percaya harus mampu menggunakan pilihannya dengan benar, di mana Tuhan menjadi pemimpin atas hidupnya. Dengan menghambakan diri kepada Tuhan tampaklah tindakan-tindakan benar yang nyata sebagai tanda ucap syukur umat kepada Tuhan. Hanya dengan mengakui kekuasaan Tuhan dan menyerahkan diri kepada-Nya, maka anugerahlah yang menaungi kehidupan umat Tuhan.
Khotbah Jangkep
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
T
ahukah saudara berapa rupiah yang diterima oleh para abdi dalem keraton yang mau menghambakan dirinya kepada sang ratu? Honor yang diterima oleh para abdi dalem keraton bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah atau bahkan jutaan. Namun, mereka yang hampir setiap hari mengayuh sepeda dari rumah mereka masing-masing menuju keraton, ada juga yang naik kendaraan umum, belum lagi mereka membeli minuman sendiri untuk sekedar menghilangkan rasa dahaga; mereka rela dibayar dalam hitungan belasan ribu rupiah. Mereka mengimani bahwa dekat dengan sang ratu di mana sang ratu tersebut sebagai pemimpin atau pengayomnya, maka mereka akan mendapatkan berkat yang tidak bisa terkatakan dan tidak bisa terbeli. Dekat dengan sang pemimpin dalam hal ini ratu, bagi abdi dalem adalah sebuah kebanggaan dan juga sebuah anugerah khusus. Dalam arti unsur spiritual yang menjadi pokok utama alasan rakyat jelata menghambakan dirinya menjadi abdi dalem keraton. Oleh karena itu mereka tetap setia menjadi abdi dalem, walaupun secara hitungan materiil mereka tidak akan mungkin menjadi kaya dengan honor yang mereka terima tiap bulan.
Hal tersebut menarik untuk kita perhatikan di mana para abdi dalem rela memberikan seluruh keberadannya untuk sang ratu. Jika abdi dalem saja mau menghambakan diri kepada sang ratu, bagaimanakah dengan diri kita? Apakah kita sudah menghambakan diri sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai sang penguasa dan pemimpin bagi kita?
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Mari kita belajar bersama dari kesaksian Firman Tuhan yang kita dengarkan hari ini. Pertama, dari Yeheskiel 18:1-4, 25-32. Kesaksian tersebut memuat kisah Israel yaitu umat pilihan Allah yang menolak untuk menghambakan diri kepada Tuhan. Mereka justru melakukan tindakan-tindakan yang jahat. Kebaikan Tuhan ditanggapi dengan tindakan Israel yang tidak bijaksana. Mereka merasa bahwa tindakan Tuhan atas diri mereka tidak tepat. Mereka melakukan kecurangan-kecurangan. Jelas sekali bagaimana Israel hanya mendengarkan suara hatinya sendiri, tanpa peduli akan kasih Tuhan kepada mereka. Walaupun Israel menanggapi kasih Tuhan dengan tindakan yang jahat bagaikan air susu dibalas air tuba, namun Tuhan tetap mengasihi Israel dengan memberi mereka kesempatan untuk bertobat. Kedua, dari kesaksian pemazmur dalam Mazmur 25:1-9, dia mengajarkan satu tindakan bijak yaitu dengan menaikkan pujian karena kekuasaan Tuhan atas dirinya. Pemazmur mengimani bahwa Tuhan menjadi pemimpin atas dirinya maka dia memohon agar hidupnya senantiasa dibimbing Tuhan, memohon karunia pengampunan atas dosa yang dilakukannya di masa lalu serta berpengharapan bahwa Tuhan akan membimbing orang yang mau merendahkan hati dengan jalan patuh dan setia kepada Tuhan. Ketiga, dari kesaksian Filipi 2:1-13 di sana kita menemukan manifestasi dari iman di mana Tuhan sebagai pemimpin kehidupan umat-Nya. Menghambakan diri kepada Tuhan itu berarti hidup dalam damai sejahtera. Dan orang yang di dalam hatinya didiami oleh damai sejahtera tampak di dalam tindakan-tindakan keseharian yaitu di dalam hidup bersama menekankan sikap sehati sepikir, tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, mempunyai pikiran serta perasaan seperti Kristus dan tindakan benar lainnya. Selanjutnya, ketiga pengajaran tersebut ditegaskan dengan pengajaran dari Injil Matius 21:23-32. Dialog antara Yesus dengan imam-imam kepala serta tua-tua Yahudi menjadi sebuah sarana pengajaran tentang kuasa dan penyerahan diri. Tentang kuasa, manusia berhak menentukan atas dirinya sendiri kuasa siapakah yang dipercaya atau diimaninya. Memang di dunia ini ditawarkan berbagai kuasa yang dapat dijadikan pegangan hidup atau pemimpin bagi manusia. Memang selain Tuhan manusia dapat menggantungkan harapannya kepada kuasa-kuasa yang ada di dunia ini. Namun bagi orang percaya tidaklah bijak jika yang menjadi penguasa atau pemimpin dalam kehidupannya bukan Tuhan. Persis seperti yang dilakukan Israel, di mana mereka telah diselamatkan oleh Allah namun mereka menanggapi kasih karunia Allah tersebut dengan tindakan-tindakan yang jahat. Maka, kesaksian Matius tersebut menjadi pengajaran yang inspiratif bahwa sebagai umat Tuhan sangatlah bijak jika kita mengakui hanya Tuhanlah yang menjadi pemimpin atas kehidupan kita. Hal berikutnya yang terkandung dalam pengajaran Matius tersebut adalah tentang penyerahan diri. Yesus dengan tegas mengkritik sikap para petinggi agama Yahudi yang percaya kepada Allah, namun kecenderungan sikap percaya mereka adalah semu. Sementara di sisi lain manusia yang kehilangan harga diri seperti pemungut cukai dan perempuan sundal sekali pun justru percaya kepada Tuhan. Yesus mengatakan bahwa pemungut cukai dan perempuan sundal yang justru berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pernyataan Yesus tersebut mengandung maksud bahwa manusia-manusia dari kelas marginal mau menghambakan dirinya kepada Tuhan dengan serius. Maka merekalah yang berhak menerima karunia khusus dari Tuhan melebihi manusia-manusia dari golongan priayi atau elite.
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Di awal khotbah tadi kita dihadapkan pada sebuah kesetiaan para abdi dalem keraton. Demikian pula ketika kita bertanya pada diri kita masing-masing: Apakah Tuhan sudah menjadi pemimpin atas kehidupan kita, sehingga hidup kita hanya bergantung pada-Nya sepenuhnya? Ketika Tuhan menjadi pemimpin atas hidup kita, sikap hidup seperti apa yang kita nyatakan dalam kehidupan sehari-hari? Belajar dari Firman Tuhan saat ini, ketika kita mengakui bahwa Tuhan adalah pemimpin atas hidup kita itu berarti bahwa tidak ada pihak lain selain Tuhan yang menguasai hidup kita sepenuhnya. Pemimpin kita bukan uang, sehingga kita tidak menghambakan diri pada uang. Pemimpin kita bukan akal budi kita sendiri, namun Tuhan yang kita imani dan kita percaya sebagai sumber kekuatan bagi kita. Pemimpin kita bukan teknologi, sehingga Tuhan senantiasa menjadi sumber pengetahuan bagi kita. Dan pemimpin kita bukanlah nafsu manusiawi kita, namun Tuhan Sang Khalik yang menjadi penguasa atas hidup dan mati kita.
Jika kita mengakui bahwa Tuhan adalah pemimpin kita berarti bahwa perilaku keseharian menampakkan kepemimpinan Tuhan tersebut. Ketika Tuhan menjadi pemimpin atas hidup kita maka angan-angan atau pikiran kita mengarah pada kebenaran, bukan senantiasa merancang kejahatan-kejahatan yang baru. Ketika Tuhan menjadi pemimpin atas diri kita maka tutur kata kita membawa kedamaian, penguatan, penghiburan serta semangat bagi sesama; bukannya tutur kata yang melecehkan, menindas, memfitnah serta menyakiti hati sesama kita. Ketika Tuhan menjadi pemimpin atas tubuh kita maka kita mempersembahkan tubuh kita bagi kemuliaan Tuhan dengan karya pelayanan yang nyata, bukannya menyerahkan kepada dosa.
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Melalui Firman yang kita cermati bersama, maka saat ini kita terpanggil untuk meneliti kembali kehidupan kita. Jika saat ini kita merasa bahwa pengakuan atas kepemimpinan Tuhan tersebut hanya sekedar pengakuan tanpa didasari kepercayaan yang sungguh-sungguh dan juga pengakuan yang tanpa termanifestasikan di dalam tindakan hidup yang nyata; maka baiklah kita bertobat. Selagi masih ada waktu untuk kita memperbaiki diri kita masing-masing, niscaya Tuhan memampukan kita untuk melaksanakan niat baik tersebut. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rancangan Bacaan Alkitab:
Berita Anugerah : Ibrani 2:10.
Petunjuk Hidup Baru : Roma 8:14-15.
Nas Persembahan : Mazmur 48:15.
Rancangan Nyanyian Ibadah:
Nyanyian Pembukaan : KJ 18:1, 4
Nyanyian Penyesalan : KJ 39:1, 2
Nyanyian Kesanggupan : KJ 412:1, 2
Nyanyian Persembahan : KJ 407:1-
Nyanyian Penutup : KJ 413:1, 2
Khotbah Jangkep Minggu, 25 September 2011
Pekan Biasa Kaping Nem Likur (Ijo)
GUSTI PEMIMPIN KULA
Waosan I: Yehezkiel 18:1-4, 25-32; Tanggapan: Jabur Masmur 25:1-9
Waosan II: Filipi 2:1-13; Waosan III: Injil Matius 21:23-32
Ancas/Tujuwan:
Pasamuwan nglenggana bilih namung Gusti ingkang dados pamimpin tumrap gesangipun. Lan kapitadosan ingkang makaten punika kababar wonten ing tumindak leres ing gesang padintenan.
Khotbah Jangkep
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
P
unapa panjenengan pirsa pinten blanjanipun para abdi dalem kraton ingkang kathi setya ngabdi dhateng ratu? Blanjan ingkang dipun tampi dening abdi dalem kasebat etanganipun sanes atusan ewu rupiah utawi yutan. Nanging para abdi dalem tetep setya anggenipun ngabdi katitik saben dinten nunggang sepedha utawi kendaraan umum saking griyanipun tumuju kraton, dereng malih kedah tumbas omben nalika ngorong, nilar padamelan wonten griya tumuju kraton lan nindakaken ayahan leladi sanesipun. Tiyang-tiyang makaten punika rila legawa nampi blanjan ingkang cacahipun namung welasan ewu rupiah. Tiyang-tiyang punika sami pitados bilih celak kaliyan ratu saha mitados sang ratu dados pamimpinipun, mila piyambak ipun badhe tampi berkah mirunggan ingkang boten saged dipun-jlentrehaken raosipun. Celak ratu sarta saged ngladosi ratu punika satunggaling kamareman lan ugi berkah mirunggan ingkang boten dipun-tampi dening sadaya tiyang. Sarehning pangabdenipun para abdi dalem punika magepokan kaliyan prakawis kapitadosan saha kamaremaning batos, mila tiyang-tiyang punika sami setya nglabuhi sang ratu kanthi pangabden saha paladosanipun, sinaosa petangan kadonyan anggenipun dados abdi dalem punika dipun-lenggana boten badhe njalari piyambakipun sugih.
Prakawis punika prelu kita gatosaken mirungganipun pangabdenipun para abdi dalem ingkang misungsungaken gesangipun tumrap sang ratu. Menawi abdi dalem kraton kemawon purun ngabdi kanthi tumemen dhateng sang ratu, lajeng kados pundi kaliyan kita? Punapa kita ugi sampun ngabdi kanthi temen-temen dhumateng Gusti inggih Ratuning gesang? Punapa kita estu mitadosi bilih Sang Ratu Sejati ingghi punika Gusti Allah minangka pamimpin tumraping kita?
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
Sumangga kita sesarengan sinau saking paseksi pangandikanipun Gusti ingkang kita tampi ing dinten punika. Setunggal saking Yeheskiel 18:1-4, 25-32. Paseksi kasebat ngewrat cariyosipun Israel inggih umatipun Gusti ingkang boten purun ngabdi sawetahipun dhumateng Gusti Allah. Israel malah remen tumindak dursila. Kasaenanipun Gusti tinanggapan kanthi tumindakipun Israel ingkang boten wicaksana. Israel rumaos bilih pakaryaning Allah tumrap dhirinipun punika boten prayogi, mila Israel lajeng dados awon sikepipun lan remen damel dosa. Cetha sanget kados pundi Israel namung nggega pikajengipun piyambak tanpa preduli dhateng katresnanipun Gusti tumrap Israel. Sinaosa Israel nanggapi katresnanipun Gusti kanthi sikep awon, nanging Gusti tansah nresnani Israel lan nimbali supados purun mratobat. Kalih, paseksining juru masmur ing Jabur Masmur 25:1-9. Juru masmur mulang satunggaling kawicaksanan inggih punika kanthi ngunjukaken pepujen awit kababaring panguwaosipun Gusti wonten ing gesangipun juru masmur. Juru masmur pitados bilih Gusti dados pamimpin ing gesangipun mila piyambakipun nyuwun supados gesangipun tansah tinuntun dening Gusti, nyuwun pangapuntening dosa kalepatan ingkang sampun katindakaken saha nggadhahi pangajeng-ajeng bilih Gusti badhe nuntun tiyang ingkang purun andhap asor kanthi mituhu lan setya dhumateng Gusti. Tiga, paseksining Filipi 2:1-13. Ing ngriku kita manggihaken kasunyataning kapitadosan ingkang ketingal wonten ing tandang-tandukipun umat jalaran Gusti dados pamimpinipun. Ngabdi dhumateng Gusti punika ateges gesang winengku ing tentrem rahayu. Lan manungsa ingkang ing manahipun makuwon tentrem rahayu badhe ketingal wonten ing tindak tanduk padintenanipun inggih punika: kanthi sikep ngudi tunggal rasa, tunggal budi, boten pados kauntungan tumrap dhirinipun piyambak, nggadhahi raos pangraos kadosdene Sang Kristus lan tumindak leres sanesipun. Salajengipun, tigang piwulang kasebat katandhesaken kanthi piwulang saking Injil Mateus 21:23-32. Pirembaganipun Gusti Yesus kaliyan pangajenging imam lan pinisepuhing Yahudi ngewrat piwulang bab kuwaos lan sikep anggenipun umat masrahaken gesang.
Magepokan kaliyan panguwaos, manungsa punika gadhah hak nemtokaken sinten ingkang dipun-pitadosi lan dipun-bekteni. Pancen jagad punika nawekaken mawarni-warni panguwaos ingkang saged dipun-angge cepenganipun manungsa. Pancen kajawi Gusti manungsa saged ngajeng-ajeng saking kakiyatan-kakiyatan sanes ingkang wonten ing jagad punika. Nanging tumraping tiyang pitados temtu boten wicaksana menawi ingkang dados panguwaos utawi pamimpinipun punika sanes Gusti. Sami kaliyan ingkang dipun-tindakaken dening Israel, sinaosa sampun dipun-wilujengaken dening Gusti nanging Israel nanggapi kanthi tumindak-tumindak ingkang asor. Mila, paseksi ing Mateus punika, dados satunggaling piwulang ingkang ngengetaken umatipun Gusti supados dados wicaksana kanthi ngakeni bilih namung Gusti ingkang dados pamimpin tumrap gesangipun.
Prakawis candhakipun ingkang kawrat ing Mateus inggih punika bab pasrahing gesang. Gusti Yesus melehaken sikepipun para pangajenging imam Yahudi ingkang pitados dhateng Gusti Allah, nanging sikepipun condhong lelamisan. Kamangka ing sisih sanes wonten manungsa ingkang kecalan ajining dhiri inggih punika para juru-mupu-beya lan ugi wanita tuna-susila malah pitados dhateng Gusti Allah kanthi tumemen. Gusti Yesus mratelakaken bilih juru-mupu-beya lan wanita tuna-susila gadhah hak mlebet kratoning Allah. Pratelanipun Gusti punika ngewrat makna bilih manungsa-manungsa saking golongan miskin papa nanging malah purun mratobat lan ngabdi dhateng Gusti kanthi tumemen. Mila tiyang-tiyang punika ingkang gadhah hak nampi berkah mirunggan nglangkungi para priyayi ingkang rumaos paling suci, paling leres, paling sugih lan sapiturutipun.
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
Ing wiwitaning khotbah kita kaabenajengaken kaliyan kawontenan kasetyanipun pada abdi dalem kraton. Samangke kedahipun tuwuh pitakenan ing salebeting manah kita: Punapa Gusti punika estu dados pamimpin tumrap gesang kita? Satemah kita gumantung sawetahipun ingkang bab pangrehipun Gusti. Nalika Gusti dados pamimpin tumrap kita, sikep kados punapa ingkang kedah kita babaraken wonten ing gesang padintenan kita? Nyinau saking pangandikanipun Gusti samangke, nalika kita ngakeni bilih Gusti punika pamimpin tumraping gesang kita punika ateges bilih boten wonten pihak sanes kajawi namung Gusti ingkang nguwaosi gesang kita sawetahipun. Pamimpin kita sanes arta, temah kita ngabdi dhateng mammon. Pamimpin kita sanes nalar bebuden kawasisan, nanging Gusti ingkang paring samudayanipun tumrap kita lan Panjenenganipun punika tuking gesang kita. Pamimpin kita sanes kamajenganing jaman, nanging Gusti ingkang dados sumbering kawruh kita. Lan pamimpin kita sanes pepinginaning kadagingan, nanging namung Gusti ingkang murba ing dumadi ingkang dados panguwaos saha pamimpin tumrap kita sarta kuwaos ing bab gesang punapa dene pejah kita. Menawi kita ngakeni bilih Gusti minangka pamimpin kita ateges bilih tumindak padintenan kita kedah mratelakaken kapamimpinanipun Gusti. Nalika Gusti dados pamimpin tumrap gesang kita mila pangangen-angen kita kaeneraken dhateng kaleresan, boten saben wekdal namung ngrancang piawon. Nalika Gusti dados pamimpin tumrap dhiri kita mila pitembungan kita kedah mbabar katentreman, pambereg, panglipuran saha pangatag tumrap sesami. Sanes pitembungan ingkang ngremehaken, nindhes, mitenah saha damel goreh manahipun sesami. Nalika Gusti dados pamimpin kita mila kedah kita pisungsungaken kagem Gusti, boten malah kita ulungaken dhateng dosa.
Para sedherek ingkang kinasih wonten ing patunggilanipun Gusti,
Lumantar pangandikanipun Gusti ingkang kita tampi sesarengan, mila samangke kita tinimbalan naliti gesang kita piyambak-piyambak. Menawi kita nglenggana bilih anggen kita ngakeni Gusti minangka pamimpin kita punika namung medal saking lathi kemawon dereng nandhes ing salebeting manah lan pangaken kita kasebat dereng kababar wonten ing tumindak gesang ingkang nyata mila kita mratobat. Mumpung taksih wonten wekdal kangge ndandosi karingkihan kita, pitados bilih Gusti mesthi paring kasagedan tumrap kita salebeting nglampahi gesang anyar lan ngudi krenteg ingkang sae kasebat. Gusti mberkahi kita sadaya. Amin.
Rancangan Waosan Kitab Suci
Pawartos Sih Rahmat : Ibrani 2:10
Pitedah Gesang Anyar : Rum 8:14-15
Nas Pisungsung : Jabur Masmur 48:15
Rancangan Nyanyian Ibadah
Kidung Pambuka : KPK BMGJ 2:1,
Kidung Panalangsa : KPK BMGJ 42:1, 2
Kidung Kasanggeman : KPK BMGJ 196:1, 2
Kidung Pisungsung : KPK BMGJ 129:1-
Kidung Panutup : KPK BMGJ 336:1, 2